Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
191. Negosiasi


__ADS_3

Gilda tak bisa bergerak karena dicengkeram kuat oleh sebuah lengan yang kokoh. Ia sangat ketakutan, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Embusan napas bahkan terasa kuat di telinganya, membuat Gilda semakin takut. Ia tidak bisa memastikan siapa sebenarnya yang telah menyekapnya dari belakang.


“Kamu nggak usah takut, Gilda! Aku sangat kenal siapa dirimu. Kamu adalah pemburu berita paling terkenal di kota ini. Aku hanya ingin kamu diam sejenak, karena aku tidak akan menyakitimu.”


Gilda mendengar bisikan suara seorang pria dengan nada berat di telinga. Pria itu segera mengunci pintu kamar, kemudian menghempaskan tubuh Gilda di tempat tidur. Sebenarnya Gilda ingin berteriak, tetapi pria itu memberi isyarat untuk diam. Gilda tak berani berbuat apa-apa.


“Apa kabar, Gilda? Apa kamu mengenalku?” tanya sosok pria itu.


Gilda tak berani menatap paras pria itu terlalu lama. Ia seperti tak asing meliihat wajah pria ini, tetapi ia lupa di mana. Sebagai seorang reporter televisi, sudah barang tentu ia sering bertemu dengan orang baru setiap hari. Ia tidak bisa mengingat satu-persatu orang yang sudah ditemuinya. Ia hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan pria itu.


“Kamu yakin tidak mengenalku?” tanya pria itu sekali lagi.


“Siapa dirimu? Apa yang kamu inginkan dari aku?” cecar Gilda.


“Santai saja, Gilda. Tak perlu panik begitu. Aku ke sini tak membawa niat jahat. Aku kesini untuk mencari seseorang dan tentu saja mungkin akan meringankan tugas polisi. Kamu masih ingat saat ada seorang wanita muda terbunuh di Kampung Hitam beberapa saat lalu?” tanya pria itu.


“Wanita muda terbunuh d kampung hitam? Ya ... ya. Sepertinya aku ingat. Apa hubungannya pembunuhan itu dengan dirimu?” tanya Gilda.


“Aku adalah Badi, kakak dari wanita muda yang terbunuh. Aku masih ingat, saat itu kamu juga tengah meliput berita di sana,” kata Badi.


“Oh, jadi kamu kakak wanita yang terbunuh itu. Lalu apa yang hendak kau lakukan di sini?” selidik Gida.


“Maaf Gilda, sebenarnya aku tidak bisa mengatakannya. Ini adalah misi rahasia. Aku kesini tidak ingin menyakiti siapa pun. Aku kesini untuk menuntut keadilan untuk adikku yang telah dibunuh. Tapi kuharap kamu mau membantuku,” ucap Badi.


“Aku? Memangnya apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanya Gilda penasaran.


“Kamu adalah wanita yang sangat populer di kota ini, Gilda. Tak ada seorang pun yang tak mengenalmu. Apapun yang kamu lakukan sudah pasti menarik perhatian, karena kamu sudah seperti selebriti. Aku ingin kamu dekati si pembunuh itu agar aku dapat menjebaknya. Sebab kalau aku yang mendekati sendiri tentu akan menimbulkan kecurigaan. Kalau dirimu yang melakukan, pasti tidak akan menimbulkan pertanyaan. Gampang bukan?” ujar Badi sambil menatap tajam ke arah Gilda.


Gilda semakin penasaran. Ia ingin menolak perintah Badi, tetapi ia takut, karena ia tahu Badi adalah salah satu anggota The Raymond Brothers. Di masa lalu, kelompok ini dikenal sebagai gerombolan yang sering bertindak kasar. Bahkan polisi pun tidak berdaya menangani mereka. Gilda hanya menghela napas.


“Aku ... aku tidak yakin bisa melakukan itu,” ucap Gilda ragu-ragu.


“Kamu bisa Gilda! Jangan bilang kamu nggak bisa. Aku tahu reputasimu. Bahkan aku juga masa lalumu, saat kamu punya hubungan dengan Dimas. Jangan pura-pra dan sok lugu, Gilda! Aku tahu kamu bisa melakukan itu,” ucap Badi.


“Lalu ... apa untungnya buatku apabila aku mendapatkan si pembunuh itu?”


“Kamu mendapat hak siaran penuh dari aku. Bahkan kamu boleh merekam detik-detik saat aku mengeksekusi pembunuh itu dengan tanganku sendiri. Bukankah kamu menginginkan berita eksklusif? Aku akan senang hati memberikan padamu, dengan syarat yang kusebutkan tadi. Bagaimana?” tawar Badi.


“Sebenarnya aku masih tidak yakin, tapi .... aku akan mempertimbangkannya,” ucap Gilda.


“Nah, sekarang ini posisiku di rumah ini hampir ketahuan. Kalau kamu tidak berkeberatan, biarkan aku menumpang di kamar ini dulu, dan tolong jangan beritahu siapa pun keberadaanku. Apakah kamu keberatan?” ucap Badi.


“Astaga! Aku nggak mau tinggal satu kamar denganmu! Aku tidak akan memberitahu keberadaanmu pada siapapun, tapi jangan tinggal di kamar ini!”


“Aku tahu apa yang ada di pikiranmu, Gilda. Kamu pasti takut denganku. Aku tidak akan melakukan apa-apa kepadamu. Aku bahkan tidak akan menyentuhmu. Sejujurnya, perempuan sepertimu bukanlah tipeku. Jadi kamu nggak perlu khawatir,” ucap Badi sambil menyeringai.


“Tapi masalahnya ... aku nggak mau kamu ada di sini!”


“Kalau begitu kamu akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan berita eksklusif itu, dan biar aku yang melakukan sendiri. Selamat tinggal, Gilda!”

__ADS_1


Badi melangkah dengan santai, hendak meninggalkan Gilda yang duduk di tepi ranjang. Wanita muda itu tampak gusar. Ia segera berdiri.


“Tunggu!”


“Kenapa? Bukankah kamu nggak ingin aku berada di sini?”


Gilda terdiam sejenak, mencoba berpikir lebih dalam. Setelah ia pertimbangkan, tawaran Badi ini sungguh menarik. Tentu berita penangkapan sosok pembunuh tanpa campur tangan polisi akan menajdi berita yang sangat hebat. Ia membayangkan bahwa dia akan menjadi bintang, namanya akan disebut-sebut, bahkan tidak mungkin fotonya akan menghiasi halaman-halaman depan surat kabar. Pada akhirnya dia mengangguk perlahan.


“Oke ... oke. Aku akan lakukan perkerjaan itu,” ucap Gilda lemah.


“Perempuan pintar! Kini aku makin percaya, selain cantik kamu juga cerdas. Aku yakin tugas ini akan dengan mudah kamu lakukan. Ingat! Jangan sampai siapa pun tahu tugas ini. Ini adalah rahasia kita berdua!” kata Badi.


“Sebenarnya aku penasaran, siapa sebenarnya pembunuh itu? Apakah kamu yakin dia pembunuhnya dan bagaimana kamu tahu?” tanya Gilda.


“Aku akan katakan identitas pembunuhnya nanti. Kamu tentu sudah tahu reputasi The Raymond Brothers. Tidak ada yang tak bisa kami lakukan. Pembunuh ini sudah kami kenali berdasarkan kesaksian banyak saksi dari anggota kami yang mengintai diam-diam. Bahkan kami tahu seluk-beluk hidupnya pula. Jadi kami ingin mengeksekusi sendiri si pembunuh ini,” terang Badi.


“Oke ... oke aku percaya! Semoga kamu nggak salah orang dalam mengindentifikasi dia. Jadi siapakah pembunuh itu sebenarnya? Bisakah kamu beritahukan padaku?” tanya Gilda.


Badi hanya menyeringai. Kemudian ia mengeluarkan sebuah foto dari dalam kantongnya.


“Aku mendapatkan foto ini dari seorang sumber yang tak mau disebutkan namanya, yang jelas ia pernah dekat dengan pembunuh itu. Kamu boleh lihat foto ini!”


Badi menyerahkan sebuah foto kepada Gilda. Wanita muda ini terpekik karena kager melihat foto yang diterimanya dari Badi.


“Kamu ... kamu yakin dia pelakunya?” tanya Gilda tak percaya.


“Ya, memang dia pelakunya. Seratus persen aku yakin dia pelakunya!”


“Kamu kenal dekat dengannya?”


“Dekat nggak juga. Tapi aku mengenalnya,” jawab Gilda.


“Itu berita bagus Gilda. Kamu tidak perlu usaha keras untuk menjebaknya. Terserah caramu bagaimana, yang jelas aku ingin si pembunuh dalam keadaan hidup. Kamu harus membawanya kepadaku,” ucap Badi.


“Aku usahakan ....”


***


Di dalam rumah kecil yang terletak di belakang rumah tua bernuansa kuno itu, Bu Mariyati duduk di sebuah kursi dalam keadaan masih tertekan. Ia sama sekali tidak habis pikir ketika sosok asing itu menguncinya dalam balkon. Sebenarnya ia sudah berusaha berteriak, sayangnya taka da seorang pun yang mendengar, karena dalam waktu bersamaan ada kejadian tak terduga di area belakang rumah. Wanita itu ditemani oleh Pak Paiman yang sedang mengelus pundaknya agar ia merasa sedikit lebih tenang.


Dimas duduk di hadapannya. Sebenarnya ia tidak ingin menanyai Bu Mariyati, karena ia tahu wanita itu masih dalam keadaan kurang baik. Namun, ada hal penting juga yang harus ia selesaikan agar masalah ini tidak berlarut-larut.


“Maafkan aku, Bu. Saya harus menanyakan ini padamu. Karena ini penting,” ucap Dimas.


“Iya, Pak. Silakan bertanya. Saya akan jawab sejauh yang saya tahu,” kata Bu Mariyati.


“Jadi seperti yang diceritakan oleh Pak Paiman tadi, bahwa telah terjadi peristiwa luar biasa saat kami kerja bakti. Ada yang memasukkan racun ke dalam salah satu botol minuman yang diminum anak-anak. Ini sangat membuatku geram dan penasaran, siapa sebenarnya yang melakukan perbuatan licik ini?”


“Ya Pak, memang saya yang menyiapkan botol-botol minum itu, karena saya tahu akan ada kegiatan kerja bakti, jadi saya menyiapkan enam botol minuman pagi-pagi, dan semua saya taruh di meja dapur, agar masing-masing bisa mengambil sesuai kebutuhan,” ucap Bu Mariyati.

__ADS_1


“Iya benar Bu. Memang kami meminta para anak perempuan itu yang menyediakan minum. Dan masing-masing mengambil dua botol. Tapi anehnya ada salah satu dari mereka yang mengambil tiga botol. Pertanyaannya dari mana asal satu botol itu?” kata Dimas.


“Maaf Pak! Saya yakin hanya menyiapkan 6 botol. Tidak lebih. Kalau menurut saya, kalau hanya satu botol berisi air minum itu adalah hal yang sangat mudah didapat. Di gudang banyak botol bekas minuman yang kosong, dan seseorang bisa saja mengambil salah satu untuk diisi air,” terang Bu Mariyati.


“Aku sudah menduga itu Bu. Karena botol yang berisi air minum beracun itu saya lihat memang agak berbeda dengan botol lain. Kemasannya seperti sudah lama dipakai. Ini benar-benar menjengkelkan. Perbuatan ini sungguh licik.”


“Jadi ... jadi gimana, Pak?” Pak Paiman ikut bersuara.


“Kalian berdua tidak perlu takut. Besok pagi, Pak Reno akan datang ke rumah ini, dan aku akan kembali mengumpulkan semua penghuni. Aku akan ungkap semuanya. Saat ini bukti-bukti yang kukumpulkan sudah mencukupi. Yang penting kita semua harus waspada agar malam ini tak ada kejadian baru. Aku menduga, pelaku itu nekat menaruh racun di botol gelas itu karena ia tidak beraksi malam hari. Dan menurutku, sebenarnya racun itu bukan ditujukan kepada Rudi, tetapi kepada siapa saja yang kebetulan meminumnya. Rudi hanya sedang tidak beruntung saja, karena ia yang kebetulan minum duluan,” terka Dimas.


“Baik Pak. Nanti malam saya akan bersiaga penuh menjaga kamar anak-anak. Tak boleh ada lagi kejadian malam ini, atau malam-malam selanjutnya. Saya setuju, apapun yang dilakukan penjahat itu harus dihentikan!” Pak Paiman berkata penuh semangat.


“Maaf, pak. Untuk hari ini saya tidak bisa memasak untuk anak-anak. Karena terus terang saya masih kaget dengan kejadian tadi,” ucap Bu Mariyati.


“Tidak apa-apa, Bu. Nanti saya akan pesan makanan dari luar saja untuk mereka. Oya, Pak Paiman. Sekarang mari kita bicarakan siapa sebenarnya penyusup di rumah ini? Apakah dia pencuri biasa yang ingin mengambil barang anak-anak atau bagaimana? Atau ada maksud tersembunyi dari penyusup itu?” tanya Dimas.


Pak Paiman hanya menggeleng, karena ia memang tidak tahu apa-apa.


“Saya sendiri juga tidak tahu, Pak. Kalau saya melihat dari gembok yang rusak itu, sepertinya pelaku penyusupan itu sudah sangat terlatih. Gembok itu dirusak dengan cara yang sangat rapi, sepertinya bukan orang biasa yang melakukan itu,” terang Pak Paiman.


“Hmm, jadi siapa kira-kira yang mendatangi rumah ini? Kok saya jadi penasaran? Apakah kira-kira dia masih berada di dalam rumah atau sudah keluar ya?”


“Begini, Pak. Yang saya ingat dari orang itu, orangnya tinggi besar, dengan bekas berewokan yang habis dicukur, tetapi ... entah mengapa firasat saya orang itu tidak jahat ya, Pak? Dia juga bilang ke saya katanya tidak akan berlaku jahat. Dia hanya mencari seseorang. Kalau dia jahat, mungkin saya sudah dibunuhnya kali Pak!” Bu Mariyati turut menerangkan.


“Mencari seseorang? Nah ini yang menjadi pertanyaan bagi saya. Siapa sebenarnya yang ia cari di sini?”


Pak Paiman dan Bu Mariyat terdiam. Mereka sama sekali tidak punya bayangan, siapa sebenarnya penyusup rahasia ini.


Tiba-tiba di pintu depan, ada Rasty yang mengetuk pintu. Dimas segera membuka pintu. Dilihatnya Rasty yang terlihat bingung.


“Maaf,Pak. Apakah Bu Mariyati ada?” tanya Rasty.


“Ada di dalam, Ras. Kondisinya lagi nggak baik. Kenapa Ras?”


“Kalau gitu ... kita bicara di luar saja ya, Pak!” ajak Rasty.


Dimas menyetujui ajakan Rasty. Ia berpamitan kepada Pak Paiman dan Bu Mariyati, kemudian melangkah mengikuti Rasty yang berjalan ke halaman depan. Dimas merasa penasaran, sepertinya ada sesuatu yang hendak ditunjukkan oleh Rasty. Gadis itu kemudian berhenti di depan sebuah semak di bawah pohon. Bau busuk tercium dari bawah pohon itu, sehingga mereka harus menutup hidung.


Rasty menunjuk bangkai seekor kucing yang mengenaskan di bawah pohon, dengan tubuh yang mulai membusuk, bahkan terdapat belatung di bagian perut bangkai kucing. Semut juga sudah berkerumun di bagian tubuh kucing itu.


“Saya mau menunjukkan bangkai kucing ini Pak pada Bu Mariyati. Karena kemarin Bu Mar lagi mencari-cari kucingnya yang hilang. Jadi kukira ini kucing Bu Mar yang hilang,” kata Rasty.


“Aku pernah lihat kucing ini. Ya, namanya Agung. Dia memang kucing Bu Mar yang hilang itu. Tapi ... kok dia bisa sampai mati seperti ini. Ada bekas busa di mulutnya. Jangan-jangan, dia diracun juga. Mungkin si pembunuh itu menguji racun pada kucing ini sebelum menaburkan pada minuman. Bagaimana menurutmu, Ras?” tanya Dimas.


“Wah, saya nggak berani menyimpulkan Pak. Saya nggak punya gambaran sama sekali mengenai ini. Tapi kalau memang pembunuh itu yang meracuni kucing ini, keji sekali ya dia. Nggak nyangka kalau dia tega meracuni makhluk selucu ini,” ucap Rasty.


“Dalam urusan ini nggak ada lagi tega dan nggak tega, Ras. Dia membunuh gadis yang sedang hamil saja tega, apalagi menghabisi kucing. Dia memang terlahir sebagai seorang pembunuh entah motif apa yang mendasari. Besok, ada Pak Reno. Dan kita akan ungkap siapa sebenarnya yang berada di balik ini semua,” kata Dimas.


“Bapak sudah tahu?” tanya Rasty penasaran.

__ADS_1


Dimas hanya mengangguk sambil tersenyum. Rasty makin penasaran. Ia tidak sabar menunggu besok, saat Dimas dan Reno akan mengungkap siapa sebenarnya pelaku dari semua kekacauan ini.


***


__ADS_2