
Reno sampai di rumah lewat tengah malam. Ia memasuki rumah dengan hati-hati, agar istrinya tak terbangun. Di dalam kamar dilihatnya sang istri sudah terlelap di balik selimut. Namun, Reno belum merasa mengantuk malam itu. Setelah mengganti pakaian, ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Ia masih harus menyelesaikan sebelum berangkat tidur.
Ia pergi ke ruang kerja yang letaknya bersebelahan dengan kamar, kemudian menyalakan komputer yang berada di sudut meja. Malam ini juga ia akan mengumpulkan informasi kedekatan Faishal dengan wanita yang diduga adalah kekasihnya. Ia tak bisa menghubungi Gilda, sehingga ia akan mencari informasi dari laman internet.
Sebelum bekerja malam itu, ia sengaja membuat secangkir kopi agar matanya tetap bisa terbuka. Hal itu biasa dilakukan apabila ia harus bekerja lembur. Padahal, tadi ia baru saja minum kopi bersama Dimas di cafe. Kafein membantunya tetap terjaga dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Ia menuliskan nama Faishal Hadibrata di laman pencarian. Banyak media-media online memberitakan tentang aktor ini. Ia dikenal dekat dengan beberapa wanita, baik dari kalangan selebiritas atau bukan. Reno mulai menelisik satu-persatu, kemudian dalam sebuah foto yang berhasil dibidik secara diam-diam, Reno melihat foto seorang wanita yang bersama Faishal. Wanita ini juga pernah Reno lihat di pemakaman Daniel Prawira.
Reno buru-buru mengumpulkan bukti terkait itu. Ia hendak melacak siapa sebenarnya wanita yang bersama Faishal itu, tetapi sedikit media yang memberitakannya. Mungkin ini karena sosok wanita itu bukan dari kalangan artis, sehingga tak terlalu terlihat. Namun, Reno tak menyerah. Selama hampir satu jam ia sibuk menelusuri berita-berita mengenai Faishal.
Sebuah laman online menyebutkan bahwa saat ini Faishal tengah dekat dengan seorang gadis dari kalangan biasa yang bernama Melani. Rupanya nama Melani ini juga cukup dikenal di kalangan artis, karena pernah dekat pual dengan bberapa artis pria. Dalam hati, Reno menertawakan diri sendiri karena tak pernah mengikuti gosip di dunia hiburan, sampai tak pernah mendengar nama Melani ini.
Reno kembali bersemangat mencari tahu tentang wanita ini. Nama lengkapnya Melani Idris, pekerjaannya belum jelas, dan alamatnya juga belum jelas. Yang jelas, saat ia menelusuri berita ini, Melani Idris ada hubungan dekat dengan Faishal. Bahkan, salah satu media gosip mengabarkan bahwa perempuan muda ini tengah hamil.
Setelah mengetahui nama Melani Idris, Reno menelepon kantor kepolisian untuk dihubungkan dengan petugas yang sedang piket di sana. Ia meminta bantuan untuk melacak nama Melani Idris. Dalam waktu sepuluh menit saja, pihak kepolisian sudah memberikan data perempuan ini, seperti yang terekam dalam SIM A yang dipunyai Melani Idris.
Sebenarnya, malam itu juga ia ingin melacak alamat Melani, tetapi ia merasa sangat lelah dan mengantuk. Lagipula, di depan pintu ruang kerjanya, ia melihat Silvia berdiri dengan tatapan kosong ke arahnya.
"Maaf, aku tak mendengarmu pulang." ucap Silvia.
"Tak apa Silvia. Sengaja aku tak membangunkanmu, sebab kulihat kamu begitu lelap. Semua beres kok," ucap Reno sambil tersenyum.
"Hari yang berat ya? Jam segini kamu tidak beristirahat. Lanjutkan saja besok. Nanti kamu sakit kalau bekerja tak kenal waktu seperti ini," ucap Silvia.
"Aku akan baik-baik saja, Sil. Jangan khawatir. Kamu tidur saja terlebih dahulu, nanti aku segera menyusul. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan," kata Reno.
__ADS_1
Silvia mendekati Reno, melihat layar komputer yang sedang dipelototi Reno. Silvia melihat foto Melani yang berada di layar, kemudian tersenyum.
"Bukankah dia Melani Idris?" tanya Silvia.
"Kamu mengenal dia?" tanya Reno.
"Mengenal secara pribadi, tentu saja tidak. Tetapi dia sering muncul di berita gosip kalau dia dekat dengan Faishal Hadibrata. Hubungan mereka menjadi sorotan media karena Melani ini hamil. Begitu sih kata media. Ngomong-omong mengapa kamu mencari berita tentang dia?" tanya Silvia.
Reno tersenyum. Ternyata Silvia lebih tahu mengenai Melani daripada dirinya. Harusnya ia tak perlu duduk di depan komputer berlama-lama untuk mencari tahu tentang Melani.
"Kurasa dia sedang dalam bahaya dan aku akan mencegah agar dia tidak senasib dengan korban sebelumnya," ucap Reno.
"Astaga! Tapi biar bagaimanapun kamu butuh istirahat Ren! Malam ini kamu harus istirahat," ucap Silvia.
Reno mengangguk. Malam ini ia memang berencana hendak beristirahat sejenak, sebelum besok mulai beraksi. Ia hanya mempunyai waktu hanya sampai besok saja, sebelum batas akhir pemecahan teka-teki itu, seperti yang dituliskan di kertas itu.
***
"Aku menemukan kartu ucapan ini di dapur, di dalam rangkaian bunga. Sepertinya ada seseorang yang sengaja menyambut kedatangan kita. Apakah kartu ini mungkin berasal dari Henry?" tanya Melani sambil menyerahkan kartu itu kepada Faishal.
Faishal menerima kartu ucapan itu, kemudian mengernyitkan dahi. Tumben Henry melakukan penyambutan aneh seperti ini. Faishal tersenyum.
"Ya, mungkin Henry yang iseng melakukan ini kepada kita," ucap Faishal sambil tersenyum.
"Wah, seperti di hotel saja ya, disambut dengan menggunakan rangkaian bunga dan kartu selamat datang," ucap Melani sambil meminum teh nya.
__ADS_1
"Ya begitulah. Henry orang baik, tetapi istrinya brengsek. Aku tak pernah suka dengan istrinya yang sok protekstif terhadap Henry. Lagipula, aku merasa Rianti itu adalah orang yang tak berpendidikan. Entahlah, aku tidak suka saja dengan perempuan itu," ucap Faishal.
"Sudahlah, kita tidak perlu membicarakan rumah tangga orang lain. Yang penting kita sekarang kita di sini berdua dan menikmati malam ini. Selepas malam ini, aku mau tidur dan besok mau bangun pagi agar bisa menikmati udara segar perbukitan ini. Aku juga mau jalan-jalan di sekitar sini. Kamu mau kan?" tanya Melani.
"Tentu. Kapan lagi kita bisa bersantai berdua seperti ini?" ucap Faishal.
Mereka segera menyelesaikan acara minum teh itu, seraya mengabaikan kartu ucapan yang Melani dapatkan di dapur. Setelah membersihkan diri, mereka menuju ke kamar tidur dan mematikan lampu-lampu utama. Yang menyala hanya lampu tidur di kamar. Faishal sudah merebahkan diri di kasur, sementara Melani masih duduk di depan meja rias sambil membersihkan muka dengan kapas dan mengoles krim malam di wajah.
"Di sini tenang banget ya Shal! Kayak suasana di kampung, nggak bising kayak di kota. Aku ngerasa nyaman banget di sini," ucap Melani sambil menggosok mukanya.
Tak ada respon dari Faishal. yang terdengar hanya suara napas Faishal yang naik-turun. Rupanya dia merasa lelah, sehingga sekejap saja di sudah tertidur pulas. Melani menoleh ke arah Faishal sambil tersenyum.
"Dasar!" keluhnya.
Setelah urusan dengan wajah beres, ia merapikan alat kosmetik di meja rias, lalu melihat ke arah jendela kaca. Dari jendela itu ia hanya bisa melihat gelap yang meraja, karena malam memang sudah begitu larut. Ia membiarkan Faishal tertidur pulas, sementara dirinya sendiri belum merasa mengantuk. Padahal tadi dia yang mengusulkan untuk tidur cepat, nyatanya ia belum ingin memejamkan mata. Malam itu terasa sangat sepi dan mencekam, sehingga Melani merasa sedikit takut.
Walaupun begitu, ia mencoba merebahkan diri di samping Faishal. Baru saja matanya terpejam, ia mendengar suara aneh dari arah dapur, seperti kran air yang menyala. Padahal ia yakin bahwa tadi ia sudah menutup kran air itu. Ia tidak begitu peduli itu, sampai tiba-tiba ia dikejutkan dengan lampu yang tiba-tiba mati!
***
__ADS_1