
Kegelapan menyelimuti villa yang berada di wilayah perbukitan itu. Saking gelapnya, bahkan Ollan tak dapat melihat telapak tangannya. Ia hanya bisa menggigil ketakutan di pojok ruangan. Ia tahu ada seseorang di luar sana yang sedang menunggunya. Bagaimanapun, ia tidak akan keluar. Ia memilih untuk tetap bertahan di dalam kamar sampai polisi datang.
Ia menyambar sebuah selimut di atas tempat tidur, lalu ia gunakan untuk menutupi tubuhnya, Ia hanya mengandalkan cahaya yang berasal dari ponselnya. namun sayang, baterei ponselnya sendiri hanya tinggal 15 persen! Ollan makin panik. Kalau ponsel mati, maka habis sudah. Ia tidak bisa berkomunikasi dengan dunia luar dan tentu saja, ia tak bisa mendapatkan cahaya. Padahal saat ini yang paling ia butuhkan adalah cahaya. Ollan sangat benci dengan kegelapan. Bahkan untuk tidur malam pun ia harus menyalakan lampu.
Duk ... duk ... duk!
Ollan merasa kecut. Suara-suara itu terus terdengar dari arah pintu kamar. Ia berharap agar kunci kamar itu cukup kuat, agar seseorang yang di luar sana tak bisa menerobos masuk. Sungguh, Ollan sebenarnya sangat takut dengan kematian. Memang, pada awalnya ia punya pikiran agar ia dibunuh saja oleh seseorang karena ia merasa tak kuat menanggung beban hidup.. Namun, kali ini situasinya berbeda. Ia merasa sangat gugup.
Beberapa saat kemudian, suasana senyap. Suara ketukan di pintu tiba-tiba berhenti. Ollan belum bisa tenang. Berhentinya suara ketukan, bukan berarti kondisi aman. Mungkin saja sosok itu kini tengah menunggu kelengahannya. Jantungnya masih berdebar keras. Mengapa tak ada polisi yang datang? Ia tidak yakin pesannya dibaca oleh pihak kepolisian.
Perlahan ia berdiri, melihat arah jendela kaca besar. Di luar sana, kondisi tak kalah gelap. ia bingung, harus bersembunyi di mana. Mungkin jalan terakhirnya, ia akan bertahan sampai pagi di dalam kamar ini. Rasa takut masih merayap. Detik demi detik berlalu sangat lama. Ia sungguh ingin pagi segera menjelang, sehingga ia bisa melihat sekeliling dengan lebih jelas.
Ollan kembali memeriksa ponsel. Benar lah, batrei ponsel telah habis. Kini ponselnya telah padam. Tak ada yang dapat ia lakukan kecuali hanya berdiam diri, meringkuk di ujung ruangan. Suasana hening, membuatnya ragu. Apa si sosok misterius itu masih di luar kamar. Perlahan, ia mendekati pintu. Ia ingin memastikan apakah di luar sana benar-benar aman untuk dirinya. Seandainya mungkin, ia ingin berlari secepat kilat menuju mobil, dan pergi sejauh-jauhnya dari villa kuning pucat itu.
Namun beberapa langkah dari pintu, tiba-tiba ia mendengar suara dobrakan. Ollan terhenyak mendengar itu, mundur beberapa langkah.
Braak! Braak!
Rupanya sosok di luar sana tidak menyerah. Ia mengambil semacam linggis untuk membuka paksa pintu kamar. Ollan panik melihat itu. Ia segera kembali ke sudut ruangan, duduk berjongkok sambil menutup mata. Sungguh ia tidak pernah merasa setakut ini. Ia tidak tahu, apakah ia akan bertahan hidup malam ini?
Sudah dapat dipastikan, cepat atau lambat pintu itu akan terbuka kalau dibuka paksa seperti itu. Ollan hanya bisa tercekat, berharap ada suatu keajaiban yang datang. Namun tiba-tiba, keberaniannya muncul di saat kondisi terdesak seperti ini. ia melihat sebuah meja rias yang tak begitu besar. Mungkin meja itu bisa menahan pintu, walau tidak lama. Paling tidak, ia punya waktu untuk mempertahankan diri.
Tanpa membuang waktu, ia menarik meja rias itu untuk menghalangi pintu, sebelum pintu benar-benar terbuka. Kini, yang dipikirkannya adalah cara bagaimana agar ia bisa bertahan hidup walau hanya dalam hitungan menit, yang penting ia tidak mati dengan mudah.
***
Reno dan Dimas segera melajukan mobil membelah kota menuju lokasi yang sudah dibagikan oleh Ollan. Untunglah, malam itu kota tak seberapa ramai, sehinga mereka agak leluasa untuk mengendalikan mobil. Arah yang mereka agak jauh ke luar kota, sekitar satu jam perjalanan.
Kali ini, Dimas yang menyetir mobil, karena polisi itu memang mempunyai ketrampilan menyetir lebih baik dibandingkan Reno. Lagipula, Dimas juga lebih berani dan agresif dalam mengambil keputusan. Beberapa kali mobil harus mengerem secara mendadak karena hampir menabrak kendaraan lain. Reno harus mengingatka rekan kerjanya itu beberapa kali.
__ADS_1
"Ingat Dimas! Kamu belum menikah!" Reno mengingatkan.
"Apa itu ada hubungannya?" tanya Dimas.
"Tentu ada! Tentunya kamu nggak mau mati sebelum menikah kan?"
Dimas hanya tersenyum kecil. Ia tidak bisa banyak bercanda, karena sedang fokus menyetir. Entah mengapa ia sedikit gugup malam itu. Yang ada dalam pikirannya, saat ini adalah nyawa seseorang yang sedang terancam.
"Semoga kita tidak terlambat ya ... " gumam Dimas.
"Rileks saja Dim. Ya, keselamatan seseorang adalah tanggung jawab yang harus kita tunaikan, tetapi bukan berarti menempatkan posisi kita dalam bahaya. Jadi kamu tidak perlu panik seperti itu!" ucap Reno.
"Sebenarnya aku merasa trauma dengan banyak pembunuhan yang telah terjadi. Seolah pembunuh itu bergerak lebih cepat dari kita, dan mengerti apa yang hendak kita lakukan. Aku tidak mau kecolongan, Ren!" kata Dimas.
Ciiitt!
Braak!
Tiba-tiba Dimas menekan rem mobil kuat-kuat, ketika sebuah mobil melintas di depan secara mendadak. Mobilnya otomatis terbanting ke kanan, dan menabrak tong sampah di pinggir jalan hingga isinya berserakan.
"Sabar Dimas!"
"Aku benar-benar tidak bisa berpikir normal saat ini!" keluh Dimas sambil menyeka keringat yang mulai mengucur.
"Biar aku saja yang mengemudi. Kamu tenang dulu. Aku nggak mau celaka gara-gara emosimu nggak stabil!" ucap Reno.
Dimas menepikan mobil, kemudian berpindah ke samping kiri, dan membiarkan Reno mengambil alih kemudi. Ia memang dalam keadaan panik, karena ia sadar sedang berlomba dengan waktu. Bukan tidak mungkin, si pembunuh segera bertindak fatal kalau mereka terlambat tiba di tempat. Namun, Reno kelihatan lebih tenang.
Reno melajukan mobil dengan cepat, tetapi masih terkendali. Karena usianya yang lebih tua beberapa tahun dari Dimas, ia cenderung hati-hati dalam mengambil keputusan. Hal itu lah yang kadang membuat Dimas tak sabar. Ia masih suka meledak-ledak dan terbawa emosi dalam segala tindakan.
__ADS_1
Tak lama, mereka sudah tiba di perbatasan kota, menuju arah villa yang lokasinya berada di areal perbukitan.
"Menurutmu mengapa Ollan pergi ke tempat yang jauh dari keramaian? Apakah dia sedang ada masalah?" tanya Dimas.
"Entahlah. Kalau kulihat dari lokasi yang di-share, tempat ini adalah lokasi villa-villa orang-orang kaya. Kalau akhir pekan, banyak orang menghabiskan waktu di tempat itu. Mungkin saja, Ollan adalah salah satu orang kaya yang mempunyai villa di sana. Siapa yang menduga?" ucap Reno.
"Apapun itu, semoga kita masih bisa bertemu dia dalam keadaan hidup!" punkas Dimas.
Setelah melintasi bukit-bukit, mereka tiba di lokasi yang dbagikan Ollan. Sebuah villa yang gelap-gulita berdiri di punggung bukit yang agak tinggi. Hanya ada pagar pembatas yang rendah, jadi mereka bisa leluasa masuk. Mereka melihat mobil Ollan diparkir di depan villa, tetapi ban kendaraan itu dalam keadaan kempes.
"Itu pasti sabotase!" ucap Reno.
"Gelap sekali villa ini. Apakah tidak ada aliran listrik? Selain itu juga senyap sekali. Jangan-jangan ...."
Dimas mulai berpikiran buruk, bahwa kehadiran mereka terlambat. Dia khawatir telah terjadi sesuatu dengan Ollan. Mereka melangkah ke halaman depan villa dengan sikap waspada. Reno yang selalu sedia senter, menerangi jalan yang memang terlihat sangat gelap.
"Kita masuk lewat depan!" perintah Reno.
Braaak!
Tiba-tiba terdengar suara dentuman keras dari dalam villa. Tanpa membuang waktu lagi, Reno dan Dimas segera masuk ke dalam villa melaui pintu depan. sayang, pintu depan sengaja dikunci dari dalam. Mereka memaksa masuk, tetapi sia-sia. Pintu depan yang terbuat dari kayu itu terkunci kuat.
"Sial!" rutuk Dimas.
***
__ADS_1