Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XLIII. Escape


__ADS_3

Cornellio mendongak ke atas, mendapati langit-langit gudang mulai membara dan mengepulkan asap tebal. Kengerian mulai meledak-ledak. Asap begitu cepat memenuhi ruangan, menyusup ke indera penciuman siap membakar paru-paru. Kepanikan merayap seketika. Suara langit-langit gudang mulai berderak, seolah hendak runtuh menimpa ruangan.


“Lakukan sesuatu! Kita akan mati terbakar di sini!” pekik Cornellio.


Parasnya memucat, seolah aliran darahnya tersedot habis.


“Tenang, Cornellio! Tenang! Kepanikanmu tidak menyelesaikan masalah. Berpikirlah dengan kepala dingin. Semakin panik, maka semakin buntu otakmu. Pikirkan bagaimana kita bisa keluar dari gudang ini!” perintah Ammar.


“Bagaimana kalau kita dobrak pintu ini saja?”


Dalam keadaan panik, Cornellio berusaha membuka handle pintu.


“Hmm. Aku tidak yakin kekuatan kita akan cukup kuat. Pintu ini terlihat kokoh. Mungkin kita bisa menemukan alat untuk membobol handle pintu ini!” ucap Ammar dengan tenang, tak peduli dengan kepulan asap yang kian pekat


“Alat apa yang kamu butuhkan? Aku akan mencarinya!”


“Biar aku saja! Kamu cari cara saja agar api tak menjilat tubuhmu!”


Ammar bergerak cepat ke rak-rak perlengkapan, berusaha menemukan alat yang tepat untuk menjebol pintu. Diobrak-abriknya segala yang ada di atas rak hingga berhamburan di lantai. Serangan asap kian hebat, mengepul memenuhi celah-celah ruang kosong. Di dekat pintu, Cornellio masih kelabakan mencari cara untuk membuka pintu.


Kraaak!


Tiba-tiba langit-langit dari atas gudang runtuh dengan api yang membara, menimpa rak. Api menjalar tak terkendali membakar apa yang ada di sekitar. Cornellio semakin panik. Ia merasa akan mati dalam keadaan hangus dalam gudang ini. Sementara ia melihat Ammar masih berusaha mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk membuka pintu dengan tenang. Keringat mulai menitik di pelipis Cornellio. Hawa pengap membekap, menyumbat pernapasan. Ia mendadak merasa lemas, pandangannya berkunang-kunang. Ia jatuh ke lantai tanpa bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Bruuk!


Api berkobar, membakar tumpukan kardus dalam gudang. Kobaran begitu cepat membesar, menciptakan hawa panas yang menyengat kulit. Cornellio merasa meleleh seketika, tetapi ia tak dapat bergerak. Ia tak berusaha menghindar ketika kobaran api makin mendekat. Ia tergolek dengan di sudut ruangan. Mukanya memerah bagai kepiting direbus. Ketakutan terpancar nyata di paras. Dunia sekitarnya menghitam, dan ia mulai tak sadarkan diri!


Di tengah kepulan asap yang menggulung, Ammar terbatuk-batuk karena karbondioksida mulai menyusup rongga hidung, mengalir menuju paru-paru. Di tengah kepanikan, ia berusaha tetap waras agar dapat menemukan sesuatu yang tepat untuk membuka pintu. Sayangnya ia tak dapat menemukan apa-apa. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah besi yang tergeletak di bawah rak. Sebuah linggis!


Tanpa pikir panjang diraihnya linggis itu, kemudian menerobos kepulan asap menuju arah pintu. Matanya perih mengeluarkan air. Asap juga mulai meracuni mata. Dilihatnya di sudut ruangan sosok Cornellio sudah tergeletak tak berdaya. Ia berharap agar penulis itu masih bernapas. Namun prioritas utamanya adalah membuka pintu agar oksigen bisa berhembus masuk ke dalam. Saat ini asap mengepung kemana-mana tanpa peduli. Pasokan oksigen nyaris musnah!


Braak!


Braak!


Ammar segera membuka paksa pintu dengan linggis yang ada di tangannya. Penuh perjuangan, karena lidah api semakin menjilat ke seluruh penjuru ruangan. Suara benda bergemeretak karena terbakar terdengar di mana-mana. Ammar terus berjuang. Pilihannya hanya ada dua, lolos dalam keadaan hidup atau mati terpanggang dalam gudang ini!


Tak membuang masa, ia segera menghambur menarik kaki Cornellio. Penulis itu masih tak sadarkan diri ketika diseret menjauhi api. Kini pintu gudang terbuka lebar. Ammar menyeret tubuh Cornellio dengan cepat menjauhi kobaran api. Setelah berada di depan gudang, ia memeriksa denyut jantung pria itu. Masih berdetak, walau terasa lemah. Segera ia pindahkan di area rerumputan di bawah pohon agar terhindar dari kepungan asap.


Sementara jilatan si jago merah kian meluas, melahap seluruh bagian gudang. Api membubung tinggi, dengan asap hitam mengepul mengerikan. Malam yang gelap tampak bercahaya oleh nyala api yang beringas. Gudang itu musnah dalam sekejap. Ammar tak bisa membayangkan apabila semenit lalu masih berada di sana. Mungkin hanya tinggal nama!


***


Dokter Dwi membuka mata. Tubuhnya terasa letih, nyaris tak ada makanan dan minuman yang masuk ke dalam lambung. Ia heran, ikatan di tangan terlepas, demikian juga kakinya. Bahkan ia mendapati dirinya terbaring di ranjang reot, dalam sebuah ruang pengap. Namun suasananya sepi. Tak ada seorang pun berada di situ.


Di meja kecil dekat ranjang ada sepiring makanan dan segelas minuman. Secarik kertas berada di sebelahnya. Tulisan tangan cukup rapi tertera di atasnya.

__ADS_1


‘Makanlah atau mati!’


Demikian isi tulisan itu. Dokter Dwi menghela napas, merasa lega karena ia masih dibiarkan bertahan hidup. Apa maksud dari semua ini? Perutnya terasa lapar, namun tak hasrat sama sekali untuk menyantap makanan di meja itu. Ia berkeliling ruangan, memeriksa apa saja yang ada di situ. Sayangnya, tak ada yang penting dalam ruangan itu. Pintunya juga terkunci. Akses cahaya hanya diperoleh dari bola lampu yang tergantung, dengan cahaya kuning temaram. Dokter itu tidak dapat memastikan apakah sekarang siang atau malam. Suasana terlihat sama. Kebingungan mulai melanda.


Dimanakah aku? Gumamnya dalam hati.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang hendak membuka pintu. Buru-buru dr.Dwi kembali ke ranjangnya, berbaring dan pura-pura memejamkan mata. Jantungnya berdegup kencang. Terdengar suara pintu berderit, dan langkah seseorang masuk ke dalam ruangan. Mata dr.Dwi masih menutup. Ia tak mau sosok itu memergokinya dalm keadaan sadar. Dibukanya sedikit kelopak mata, mendapati sosok berjubah hitam membelakanginya. Aroma bensin menguar dari tubuh sosok itu!


Tampaknya sosok yang baru masuk itu meletakkan jerigen berisi bensin ke dalam ruangan. Dokter Dwi berpikir, apa yang telah ia lakukan dengan jerigen bensin itu? Sungguh, ia tidak bisa melihat jelas wajah sosok berjubah hitam itu. Tak lama, si sosok mendekati diniding tempat deretan foto ditempel. Dokter Dwi sempat melirik, sosok itu mengambil spidol merah, kemudian mencoret foto wajah Cornellio.


Astaga! Cornellio telah mati! Gumam dr.Dwi dalam hati.


Ia kian merasa tegang. Belum habis rasa tegangnya, sosok itu mencoret lagi sebuah foto. Ya, foto Ammar Marutami turut dicoret. Dokter Dwi menahan napas, antara percaya dan tidak. Benarkah polisi kenamaan itu telah tewas di tangan psikopat gila ini?


Tiba-tiba, sosok berjubah hitam itu berbalik, menatap ke arah dr.Dwi dalam-dalam. Ia bergerak mendekat, menggoyang-goyangkan tubuhnya, memaksa dokter itu untuk bangun. Dalam kecemasan, dr.Dwi membuka mata. Kini ia melihat dengan jelas sosok psikopat itu. Seperti dugaannya, sosok psikopat itu fotonya tidak ikut tertempel di dinding. Mata si psikopat menatap tajam, kemudian berbisik lirih.


“Bantu aku ....”


Dokter Dwi masih menyimpan rasa terkejut. Bantuan apa yang diinginkan oleh sosok psikopat ini? Ia tak berani menjawab apa pun. Ia hanya menatap wajah sadis si pembunuh berdarah dingin. Kemudian sosok itu mengambil piring makanan yang ada di atas meja, menyodorkan pada dr.Dwi.


“Makan dan bantu aku!” perintahnya.


***

__ADS_1


__ADS_2