
Di pinggiran kota yang tak begitu ramai, terdapat bangunan ruko yang berjajar di pinggir jalan utama. Rata-rata ruko itu terdiri dari dua lantai, dan dibangun dengan nuansa warna-warni. Beberapa ruko menjual kacamata, baju wanita, dan toko kue. Beberapa juga menyediakan layanan jasa salon dan panti pijat. Semuanya berderet rapi, dengan halaman parkir yang cukup luas.
Reno memarkir kendaraannya, kemudian melihat ke salah satu ruko yang terletak di antara toko kue dan toko kacamata. Rupanya ruko itu mnyewakan jasa persewaan kendaraan. Nama yang terpampang di plang cukup jelas terbaca ‘Andika Car Rental’. Nama ini sesuai dengan nama pemilik mobil yang ditunjukkan oleh pihak kepolisian kepadanya.
Reno memasuki ruko yang tampak sepi itu. Hanya ada seorang gadis berambut dikucir yang duduk di belakang meja. Melihat kedatangan Reno, gadis itu tersenyum seraya menyapa.
“Silakan, Pak. Ada yang bisa kami bantu?” tawarnya.
Sapaan itu adalah sapaan standar untuk menawarkan jasa kepada calon konsumen. Reno melihat sekeliling. Ada banyak foto mobil terpajang di dinding, menegaskan bahwa tempat ini memang menyediakan layanan jasa persewaan mobil.
“Maaf Mbak. Saya ingin bertemu dengan pemilik rental mobil ini, apakah bisa?” tanya Reno tegas.
“Maaf, Pak. Apakah Bapak sudah membuat janji sebelumnya?” tanya gadis itu.
“Ini urusan penting, Mbak. Jadi tidak perlu membuat janji sebelumnya. Apakah ada?”
“Kalau boleh tahu, Bapak dari mana?”
“Saya dari kepolisian,” ucap Reno.
“Oh, ba-baik, Pak!”
Mendengar kata ‘kepolisian’, gadis itu agak takut. Segera ia mengambil telepon dan menginformasikan pada pemilik rental mobil bahwa ada tamu yang akan berkunjung. Sejenak kemudian, ia tersenyum ramah.
“Silakan Pak. Naik saja langsung ke lantai dua,” ucap gadis itu dengan ramah. Ia mempersilakan Reno untuk menuju lantai dua dari bangunan ruko.
Reno segera naik ke tangga sempit, menuju sebuah ruangan di ujung lorong. Pintunya tertutup, dan kesan ruangan itu begitu senyap. Ia mengetuk perlahan, sampai seseorang di dalam ruangan mempersilakannya masuk.
Reno masuk ke dalam ruangan yang didesain sebagai sebuah ruang kantor, dengan meja kerja dan kursi untuk menerima tamu. Sementara di belakang meja terdapat rak-rak berisi arsip-arsip yang tersusun rapi. Ruangan itu terasa dingin karena menggunakan pendingin ruangan yang disetel di suhu rendah. Sementara di sisi lain terdapat jendela yang tak ditutup korden, sehingga jalan raya di bawah sana terlihat dengan jelas.
Reno disambut oleh seorang pria berusia sekitar 40 tahun, berwajah bulat, tetapi terlihat dingin. Ia mengernyitkan kening melihat kedatangan Reno. Tadi pegawainya menyampaikan bahwa akan ada tamu dari kepolisian yang akan mengunjunginya. Ini agak mengherankannya, sebab ia tak pernah bersentuhan dengan urusan hukum sebelumnya.
“Maaf, Pak. Saya Reno dari kepolisian, ingin mengkonfirmasi sesuatu kepada Bapak,” ucap Reno dengan ramah.
Pemilik rental mobil itu tampak salah tingkah. Ia segera mempersilakan duduk, walaupun dalam hati ia merasa was-was. Ia penasaran, ada urusan apa gerangan polisi ini mendatangi rental mobilnya?
“Silakan Pak. Apa yang bisa kami bantu?” ucap pemilik rental.
“Begini Pak. Ini terkait dengan sebuah kecelakaan mobil yang terjadi beberapa hari kemarin. Kami berhasil mendapat nomor pelatnya. Nomor itu menunujukkan bahwa pemilik mobil itu adalah Pak Andika. Mobil Honda Civic putih keluaran 2015 dengan nomor plat B 1234 LB, apakah Bapak mengenali mobil itu?” tanya Reno.
“Oh betul ... betul. Saya adalah pemilik mobil itu. Mobil itu tercatat atas nama saya, Pak. Memangnya apa yang terjadi dengan mobil itu, Pak?” tanya Pak Andika penasaran.
“Seperti yang kami informasikan tadi bahwa mobil yang Bapak miliki itu mengalami kecelakaan di dasar jurang arah luar kota. Saat ini mobil sedang berusaha dievakuasi dari tempat kejadian. Kami belum menemukan pengemudi mobil itu, karena mobil ditemukan dalam keadaan kosong. Apakah bapak bisa bantu siapa yang terakhir memakai mobil itu, Pak?” tanya Reno.
__ADS_1
“Oh ya tentu. Sekitar beberapa minggu kemarin seorang wanita menyewa mobil itu, dan membayar lunas di muka. Jadi saya lepas kunci kepada wanita itu, Pak.”
“Bapak mencatat identitas wanita itu, dan apa yang ia gunakan sebagai jaminan?”
“Oh, iya Pak. Saya mencatat semua identitas peminjam mobil di tempat kami, karena kami khawatir akan ada hal-hal buruk, jadi pasti kami catat. Sebentar ya Pak.”
Pak Andika menelopon staff-nya di bawah untuk membawakan buku data peminjaman mobil. Tak lama, gadis yang berada di lantai bawah tadi masuk, sambil membawa buku besar bersampul batik.
“Datanya ada di sini Pak, lengkap dengan fotokopi KTP yang ia bawa,” jawab Pak Andika.
Reno segera melihat data yang ditunjukkan Pak Andika. Data itu sontak membuatnya sangat kaget!
***
Malam menyelimuti sekitar rumah bergaya Belanda. Suasana sontak berubah. Kecemasan merayap di benak-benak para penghuninya. Kegelapan bisa diartikan dengan kejahatan, karena bisa jadi pelaku kejahatan bersembunyi di balik kegelapan. Suasana menjadi muram. Bahkan bintang pun enggan menampakkan diri.
Setelah makan malam, para penghuni memilih untuk mengobrol sebentar sambil menikmati hidangan pencuci mulut yang telah disediakan oleh Bu Mariyati. Tak ada yang beranjak ke kamar, menunggu seseorang untuk memecah kesunyian. Suasana senyap, tanpa suara.
“Ada yang bisa bermain catur?” tanya Dimas.
“Aku!”
“Aku!”
Ferdy, Alex, dan Lena menjawab hampir bersamaan. Mereka bertiga saling berpandangan, tak menyangka kalau ternyata masing-masing mempunyai kemampuan untuk bermain catur. Selama ini mereka hanya saling mengenal sebatas pertemanan biasa, bahkan tak tahu kemampuan terpendam yang disembunyikan masing-masing.
“Permainan catur tidak mudah. Ini adalah permainan penuh strategi dan perlu pemikiran. Tak heran, pemain catur biasanya cerdas dan taktis. Orang-orang Rusia adalah ahli strategi dalam bermain catur, tapi aku lebih percaya bahwa orang Indonesia lebih cerdas dari mereka. Jadi siapa yang terbaik di antara kalian? Aku akan melawannya nanti!” tantang Dimas.
“Kurasa ini akan butuh waktu lama, Pak. Bisa-bisa kita nggak tidur,” ucap Lena.
“Aku siap tidak tidur malam ini!” kata Ferdy.
“Aku juga!” tambah Alex dengan antusias.
Dimas melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya, seraya tersenyum.
“Sekarang masih pukul delapan lewat. Maksimal kita akan bermain sampai pukul dua belas. Di atas itu kalian harus sudah masuk kamar dan beristirahat. Besok pagi-pagi sekali, aku akan menginformasikan tentang jadwal harian yang bisa kalian laksanakan agar hidup kalian tidak terlalu membosankan. Bagaimana?” terang Dimas.
Ferdy mengangguk, menatap Dimas dengan penuh percaya diri, seolah menunjukkan bahwa ia akan mengalahkan polisi itu dalam permainan catur dengan mudah. Dimas tahu arti tatapan itu, ia hanya tersenyum kecil. Dimas masih ingat, saat sekolah menengah dulu, dia adalah raja catur di sekolah. Bahkan guru-gurunya pun dibuat bertekuk lutut padanya. Tatapan Ferdy yang seolah meremehkan dirinya tentu bukanlah ancaman. Bahkan dalam hati, Dimas sangat berambisi untuk menundukkan Ferdy.
Sedangkan Alex tampak dingin seolah tak bereaksi, tetapi Dimas tahu bahwa Alex mempunyai kemampuan yang tak bisa dianggap enteng. Air tenang menghanyutkan, begitu kata peribahasa. Dimas sadar, bahwa Alex mungkin seorang ahli catur yang tak ingin begitu menonjolkan diri.
“Jadi kita yang nggak suka catur ngapain?” celetuk Rasty.
__ADS_1
“Kalian bisa istirahat atau jalan-jalan di sekitar rumah. Ingat! Tidak di luar rumah. Hanya di sekitar rumah dan tetap dalam jangkauan pengawasan. Ini untuk keamanan kalian sendiri!” pesan Dimas.
“Oke!”
Rasty dan Adinda memilih untuk segera keluar rumah untuk mencari udara malam yang cukup sejuk malam itu. Sebenarnya Adinda ingin menghabiskan waktu bersama Ferdy, tetapi pria muda itu lebih memilih bermain catur bersama beberapa teman lain.
“Boleh aku gabung sama kalian?”
Rudi yang merasa sendirian, pada akhirnya memutuskan untuk ikut bergabung bersama Rasty dan Adinda. Ia berpikir bahwa permainan catur sangat membosankan dan buang-buang waktu. Ia tidak suka duduk mematung dan memeras otak, sembari memelototi buah catur yang tersusun berantakan di bidak hitam-putih, menunggu untuk dipindahkan.
“Siapa yang akan bertanding dahulu?” tanya Ferdy tak sabar.
“Bagaimana kalau kamu melawanku dulu?” tantang Lena.
“Siap!”
Mereka berempat pindah ke ruang tamu, memindahkan meja sedemikian rupa agar lebih nyaman untuk bermain. Bidak catur sudah tersusun di atas meja, sementara Bu Mariyati juga sudah menyiapkan kopi untuk menemani permainan hingga larut.
Ferdy menatap Lena penuh ancaman agar mental gadis itu turun. Sayangnya, Lena bukan pula gadis kemarin sore yang takut dengan ancaman. Ia balas menyunggingkan dengan penuh percaya diri. Keduanya sudah duduk berhadapan, sedangkan Dimas dan Alex akan melihat permainan mereka, sembari mereka strategi yang mereka gunakan.
“Setelah kalian bermain, maka aku akan bermain dengan Alex. Masing-masing pemenang akan kembali bertanding. Kalau tidak cukup waktu hari ini maka akan dilanjutkan di lain hari. Sayangnya besok pagi adalah jadwal dari Reno. Jadi mungkin kita akan bertemu di hari berikutnya!”
Semua setuju dengan aturan tak tertulis yang dibuat oleh Dimas.
“Tunggu! Apakah ini hanya sekedar permainan?” tanya Ferdy.
“Apa maksudmu?” Dimas balik bertanya.
“Mungkin Bapak bisa menyediakan semacam penyemangat, seperti hadiah. Kurasa itu perlu agar kami bisa bermain lebih maksimal. Tak perlu hadiah mahal, tetapi agar kompetisi ini lebih menarik. Bagaimana?” usul Ferdy.
“Hmm ... “
Dimas mengeluarkan dompet, dan mengambil selembar uang seratus ribu, kemudian meletakkan di atas meja.
“Kalau menurutku, bagaimana kalau hadiahnya bukan berupa uang? Mungkin hadiahnya bisa berupa previlege atau keuntungan yang bisa dinikmati di rumah ini. Seperti misalnya kesempatan untuk jalan-jalan di luar?” usul Alex.
“Bukanlah itu akan menimbulkan kecemburuan yang lain yang tidak bisa bermain catur?” timpal Lena.
“Oke ... oke. Usul Alex bagus. Uang tidak berguna di rumah isolasi ini. Kalian membutuhkan lebih dari itu. Oke, aku akan memberikan keuntungan untuk pemenang dari kompetisi catur ini. Siapapun yang menang maka akan mendapatkan kesempatan berbelanja di supermarket terdekat dengan pengawasan. Untuk yang lain, tentu kita akan buat kompetisi lain yang sesuai dengan bakat dan minta mereka. Bagaimana?” kata Dimas.
Tanpa berpikir panjang, mereka semua menyetujui usulan Dimas. Aroma kompetisi mulai tercium, sehingga menambah adrenalin masing-masing dari mereka. Kompetisi pun siap dimulai. Ferdy dan Lena sudah berhadapan, saling mengancam.
***
__ADS_1