Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
104. Danau Sunyi


__ADS_3

Dua buah mobil beriring-iringan menyusur jalan gelap nan berliku ke arah luar kota. Suasana gelap, dikepung pepohonan tinggi di kanan-kiri jalan. Mobil itu bergerak perlahan, kemudian berhenti di tepi hutan yang sepi. Angin berdesir agak kencang, mencengkeram kulit. Mobil depan dikemudikan oleh Gerry bersama dengan Alma, Ferdy, Rudi dan Alex. Sedangkan mobil belakang dikemudikan oleh Rasty, dengan penumpang Lena, Miranti, dan Adinda.


Gerry menoleh ke arah Rudi yang duduk di kursi belakang.


“Bener sini ya jalan masuknya?” kata Gerry.


“Iya benar. Lihat ada plangnya!”


Rudi menunjuk ke sebuah plang terbuat dari kayu.


KE DANAU 1 Km.


Semua penumpang bergegas turun. Para laki-laki membuka bagasi, tempat jasad Jenny disimpan. Mereka mengangkat tubuh Jenny yang sudah dibungkus oleh kain sprei itu. Tampak bercak-bercak darah pada kain melebar kemana-mana.


“Tolong bantu angkat! Berat banget!” pinta Rudi.


Alex tampak enggan, karena sebenarnya ia kurang setuju dengan ide gila teman-temannya. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Ia tetap membantu mengangkat jasad Jenny.


“Kita akan jalan sekitar satu kilometer, setelah itu kita akan naikkan mayatnya di atas sampan, lalu kita ceburkan di tengah-tengah danau!” Rudi memberi instruksi.


“Kami nunggu di sini aja ya?” usul Rasty.


“Semua harus ikut! Tidak ada yang boleh tinggal!” ucap Gerry.


Rasty tidak bisa menolak. Setengah hati ia berjalan di belakang para pria, bersama para gadis lain menyusur jalan setapak yang agak becek karena habis hujan. Sontak hal itu merepotkannya, karena ia memakai sepatu dengan hak yang agak tinggi.


“Aku nggak bisa jalan di tempat seperti ini!” keluh Rasty.


“Sudah jangan bawel, Rasty! Kalau emang susah, lepas itu sepatu!” perintah Gerry.


“What? Aku harus jalan di tempat becek seperti ini tanpa alas kaki?”


“Bisa nggak kamu berhenti mengeluh? Ntar kalau aku jengkel, kutenggelamkan sekalian kamu ke danau!” ancam Gerry.


Rasty mendengkus kesal. Sedangkan para gadis lain tidak ada yang bersuara. Mereka terbawa suasana tegang dan takut. Hutan terlihat menyeramkan dan gelap, sedangkan yang membawa senter hanya Ferdy. Mereka harus melangkah dengan sangat hati-hati karena jalan setapak itu licin dan sedikit berlumpur.


“Perhatikan langkah kalian! Jalannya licin. Jangan sampai jatuh atau menginjak ular!” Gerry memberi peringatan.


Setelah beberapa lama berjalan, mereka tiba di tepi sebuah danau yang lumayan luas, dengan kepungan pohon-pohon lebat di sisinya. Suasananya tampak angker karena sangat sunyi. Desir angin jelas terdengar, memainkan suara daun-daun pohon yang saling bergesek.

__ADS_1


Langit terlihat sangat jelas di area terbuka seperti ini. Tampak gelap tanpa awan dengan bintang yang berserak. Sebentar lagi, Subuh menjelang. Jadi mereka harus segera melakukan tugas itu.


Di tepi danau terlihat sebuah sampan kecil yang terombang-ambing dipermainkan arus air. Mayat Jenny di letakkan di tengah sampan. Karena ukurannya terlalu kecil, mereka sepakat yang naik ke atas sampan adalah Gerry dan Rudy, sedangan yang lain menunggu di pinggir.


Segera setelah mayat sudah siap, Gerry dan Rudi mendayung sampan ke tengah danau. Agak susah, karena arus air yang tidak bersahabat. Cukup susah-payah, tetapi pada akhirnya mereka sampai juga ke tengah danau.


“Kamu yakin akan buang mayat ini, Rud?” tanya Gerry.


“Lebih baik kita buang saja daripada harus berurusan dengan polisi!” jawab Rudi.


“Aku mau tanya sesuatu, boleh nggak?” Gerry kembali bertanya.


“Tanya apaan?”


“Kamu yang bunuh Jenny kan?” tembak Gerry.


“Aku? Gila! Nggak lah! Ngapain juga aku bunuh Jenny!” jawab Rudi dengan gusar. Ia merasa jengkel mendapat tuduhan itu.


“Maaf. Aku hanya nebak saja.”


“Tebakanmu itu keterlaluan, Ger! Kalau yang paling masuk akal ya Rasty. Dia kan benci banget sama Jenny!” sanggah Rudi.


“Oke. Oke, Maaf. Karena aku mendengar kabar angin bahwa ....” Gerry menghentikan kalimatnya.


“Jenny tengah hamil dua bulan. Tapi aku nggak tahu bener enggaknya sih. Mungkin gosip aja,” kata Gerry.


“Gila kamu ya! Kalaupun dia hamil, sumpah bukan aku yang buat dia hamil. Aku nggak pernah ngapa-ngapain dia. Sudahlah Ger, jangan membuat opini yang nggak jelas. Setelah ini tidak ada yang boleh seorang pun yang menyebut nama Jenny. Kalau ada yang tanya, bilang tidak tahu!”


“Baiklah,” jawab Gerry.


Setelah dirasa cukup di tengah, kedua anak muda itu mengangkat jasad Jenny, kemudian dengan perlahan mereka memasukkan ke dalam air.


Byuuurrr!


Terlihat gelembung udara yang muncul dari sela-sela kain. Jasad Jenny meluncur cepat ke dalam, tenggelam ke dalam ke air danau yang membekukan tulang.


Setelah misi selesai, mereka mendayung kembali sampan ke tepi danau untuk menemui teman-temannya yang sudah menunggu dengan gelisah. Terutama para gadis, mereka terlihat tidak nyaman berada di tempat yang sebenarnya indah itu.


“Bagaimana?” tanya Ferdy.

__ADS_1


“Beres! Jasad Jenny sudah tenggelam sempurna. Setelah ini kalian sudah bisa tidur dengan nyenyak. Dijamin tak ada lagi yang mempermasalahkan keberadaan Jenny. Daripada kita berurusan dengan pihak berwajib, ini yang terbaik!” kata Rudi.


Semua manggut-manggut, tetapi masih menyimpan keraguan. Mereka berharap agar masalah ini berhenti cukup di sini, tak perlu diungkap lagi.


“Ingat pesanku tadi! Setelah ini semua harus tutup mulut. Tidak ada lagi yang menyebut nama Jenny. Kalau ada yang bertanya, bilang saja tidak tahu. Ini rahasia kita bersembilan. Rahasia ini harus kalian simpan sampai mati. Sebab, jika salah satu saja dari kalian membocorkan, maka kita semua yang akan kena. Polisi tidak akan tinggal diam begitu saja!” tambah Gerry.


“Bisa nggak kita pulang sekarang? Aku nggak nyaman berada di sini,” ucap Adinda.


“Ya, setelah ini kita pulang, melupakan semua yang baru saja terjadi,” ujar Gerry.


Mereka kemudian berjalan beriringan menyusur jalan setapak menuju jalan raya tempat mobil diparkir. Angin dingin menggigit-gigit kulit. Sebentar lagi fajar menyingsing, menyisakan rasa letih yang mendera tubuh. Jauh di dalam hati, mereka merasakan kegalauan yang medalam, tetapi berpura-pura semua akan baik-baik saja.


“Aku khawatir hal buruk akan terjadi,” bisik Alex.


“Apa lagi yang kamu pikirkan, Lex?” tanya Adinda pelan.


“Semua bekas pembunuhan di rumah Gerry harus benar-benar dibersihkan, tak meninggalkan sedikit jejak sedikit pun.”


“Semua akan baik-baik saja, Lex. Setelah ini aku akan berusaha melupakan semua. Ini sangat mengerikan. Aku tak mengenal Jenny dengan baik, tetapi melihat dia mati dengan cara sepeti itu tentu bukanlah hal yang baik,” ucap Adinda.


“Kalian ngomongin apa sih?” Tiba-tiba Lena menyusul dari belakang.


Ia merasa agak takut berjalan di barisan belakang. Paling depan, ia melihat Rudi berjalan agak cepat. Sedangkan Ferdy berada di paling belakang untuk berjaga-jaga.


“Bukan apa-apa kok. Perasaanmu gimana, Len?” tanya Adinda.


“Agak takut juga sih sebenarnya. Tapi, mau gimana lagi? Kurasa ini ide yang paling baik. Semoga setelah ini nggak ada masalah apa-apa lagi. Tapi yang buatku takut, kan kita belum tahu siapa yang bunuh Jenny. Apa jangan-jangan Rasty ya?” bisik Lena.


“Entahlah Len. Dia emang benci sama Jenny. Tapi masa sih Rasty senekat itu?”


“Jangan salah ya Din. Orang kalau sudah gelap mata karena cinta, bisa menghalalkan segala cara. Tapi kuharap sih bukan dia.”


“Kamu kenal dekat nggak sama Jenny?” tanya Dinda.


“Kenal sih. Dia teman satu klub teater sama aku di kampus. Cukup deket juga. Tahu nggak gosipnya dia kan ... ups!” Lena buru-buru menutup mulutnya.


“Dia apa, Len?” tanya Dinda penasaran.


“Ah, nggak apa-apa! Maaf, tadi aku keceplosan!”

__ADS_1


Dinda mengernyitkan kening, berusaha menebak kalimat apa yang hendak diucapkan Lena. Sayangnya Lena memilih untuk tutup mulut. Ia kini terdiam, tak berkata apa-apa lagi.


***


__ADS_2