Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
178. Tawaran untuk Gilda


__ADS_3

Wandi berkali-kali melihat jam tangan yang melingkar di lengan. Rupanya, ia mulai bosan dalam mobil sendirian. Sudah hampir satu jam Gilda pergi membuntuti Reno. Tetapi belum ada tanda-tanda ia kembali. Karena penasaran, Wandi akhirnya menelepon ponsel Gilda, untuk memastikan di mana keberadaan wanita itu. Sayangnya, ponsel milik Gilda berbunyi di dalam tas tangan yang sengaja ditinggal di dalam mobil. Jadi, Gilda tidak membawa ponselnya. Wandi mendengkus kesal.


Wanita muda ini kadang membuatnya geram. Ia hampir menghabiskan seluruh waktunya sepanjang hari bersama Gilda dalam menjalankan pekerjaan. Hal inilah yang kadang membuat istri Wandi di rumah merasa cemburu. Mardiyah, istri Wandi, jelas tipikal berbeda apabila dibandingkan dengan Gilda. Wanita sederhana itu nyaris tak pernah merawat dirinya sendiri karena sibuk mengurus anak-anak. Ia hanya berbalut daster bau terasi di rumah, berbeda dengan busana Gilda yang sangat modis. Untungnya, Wandi adalah tipikal suami setia. Dia tak punya perasaan apa-apa terhadap Gilda.


Namun kali ini, ketika Gilda tidak muncul juga, diam-diam ia merasa khawatir juga dengan keberadaan Gilda. Mau tidak mau, terpaksa ia turun dari sambil menggerutu.


“Huh! Dasar wanita! Bikin repot saja!”


Ia merasa kesal karena tadi sebenarnya sudah mengingatkan untuk tidak usah mengikuti Reno. Kini, malah wanita itu pergi tak kembali-kembali. Wandi mulai menyusuri jalan kecil itu dengan gusar. Memang, jalan setapak tak beraspal itu terlihat sunyi, hanya dikelilingi banyak pohon dan tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh liar. Ia penasaran, kemana perginya Gilda di tempat seperti ini?


Pada akhirnya, sampai juga ia di depan rumah isolasi yang bergaya Belanda itu. Sayangnya, rumah itu terlihat sepi seperti tiada penghuni. Ia tidak yakin kalau Gilda masuk ke dalam rumah ini. Jadi kemana perempuan itu pergi? Nalurinya mengatakan bahwa ada hal buruk terjadi pada Gilda. Ia ingin masuk ke dalam rumah itu untuk memeriksa, tetapi pintu pagar terkunci.


Sama seperti yang dipikirkan Gilda, pada akhirnya ia pun memutuskan untuk menelusuri lingkungan sekitar rumah. Ia berjalan menuju sisi belakang rumah yang sunyi. Ia berdiri sambil melepaskan pandangan ke sekeliling. Suasana sangat sepi. Wandi hanya menggelengkan kepala, tidak mungkin Gilda berada di tempat seperti ini. Ia akan mencari di tempat lain.


Namun, baru beberapa langkah ia meninggalkan tempat itu, sayup-sayup ia mendengar suara teriakan minta tolong. Wandi merinding. Jangan-jangan ia salah dengar. Yang benar saja, di tempat sesepi ini ada suara wanita meminta tolong? Apakah dia sedang berhalusinasi? Ia pasang kembali telinganya baik-baik. Suara itu terdengar tidak jauh dan terdengar jelas. Ia seperti mengenali suara itu.


Ya, itu suara Gilda!


“Mbak Gilda!” pekik Wandi.


Pria itu mulai berjalan mengitari kawasan belakang rumah sambil matanya menatap berkeliling. Namun, sosok Gilda tak terlihat, hanya terdengar suaranya saja.


“Wandi! Aku di sini! Tolong aku cepat!”


Wandi kini dapat memastikan arah datangnya suara itu. Buru-buru ia menuju ke sana, mendapati sebuah lubang yang tertutup semak, sehingga nyaris tak terlihat kalau tak benar-benar diperhatikan. Wandi langsung menduga bahwa Gilda terperosok ke dalam lubang itu. Segera ia melongok ke dalam lubang, dan benar saja. ia melihat sosok Gilda yang sedang kesal dengan pakaian kotor berada dalam lubang.


“Wandi! Jangan diam saja! Cepat sana cari pertolongan!” perintah Gilda.


“Pe-pertolongan apa, Mbak? Di sini nggak ada orang kulihat,” jawab Wandi dengan gugup.


Ia masih merasa takjub, bagaimana ceritanya Gilda bisa masuk ke dalam lubang ini?


“Aku nggak peduli gimana caranya pokoknya cari pertolongan. Kalau perlu kamu kembali aja ke kota. Cepat! Lihat nih ... aduh! Bajuku kotor semua tau. Mana ada cacing di sini. Jijik banget. Cepetan! Jangan bengong aja!”


Wandi yang merasa bingung, tak tahu harus meminta pertolongan pada siapa, karena sekitar itu terlihat sepi, tak ada siapa-siapa. Namun, Gilda merengek-rengek di bawah sana, membuatnya merasa tak enak. Pada akhirnya, ia melangkah pergi meninggalkan Gilda. Satu-satunya yang diingat adalah rumah tua itu. Siapa tahu di rumah itu ada yang bisa menolongnya.


***


Pak Paiman sedang membersihkan rumput-rumput dan semak yang sudah tumbuh liar di halaman belakang dengan setengah menggerutu. Rumput-rumput itu tumbuh di sela-sela tanaman hias, sehingga bisa mengganggu pertumbuhannya. Selain itu, rumput dan semak bisa menjadi sarang binatang yang tak diinginkan. Ia menggerutu karena sarung tangan yang biasa ia gunakan untuk berkebun telah diambil seseorang. Terpaksa, ia mencabut tumbuhan-tumbuhan pengganggu itu dengan tangan kosong.


Ia sendiri tak habis pikir, mengapa ada pula orang yang berniat untuk mengambil sarung tangan. Padahal sarung tangan itu hanya biasa dipakai berkebun, sehingga bagian jemarinya kotor dan banyak bekas-bekas tanah di antaranya.


“Mau dibantu, Pak?”

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara Ferdy di sekitar halaman belakang. Ia sedang menyibukkan diri, sembari menunggu pukul sepuluh pagi. Ia tertarik melihat Pak Paiman yang sedang membersihkan rumput.


“Oh Nggak usah Mas Fer. Biar saya sendiri saja. Nanti tangan Mas Fer kotor. Maklum, sarung tangan saya nggak tahu siapa yang ambil. Jadi kalau mau bersih-bersih gini ya repot,” ucap Pak Paiman.


“Nggak apa-apa Pak. Saya biasa juga berkotor-kotor di rumah. Mari saya bantu!”


Ferdy ikut berjongkok di samping sambil mencabut-cabut rumput di sekitar situ. Pak Paiman hanya senyum-senyum melihat itu. Melihat sosok Ferdy yang ganteng, ia teringat akan masa mudanya yang gemilang. Mungkin dia tidak seganteng Ferdy, tetapi banyak pula wanita yang tertarik padanya. Namun, entah kenapa pilihannya jatuh pada Bu Mariyati, perempuan sederhana yang pandai memasak.


Saat mereka asyik bekerja, tiba-tiba terdengar suara pintu yang menghubungkan dengan area belakang rumah digedor dengan kencang.


“Tolong! Tolong! Apa ada orang di sini?”


Terdengar suara pria yang sedang panik menggedor pintu. Mendengar itu, Ferdy memandang ke arah Pak Paiman dengan heran, seolah bertanya siapa yang sedang menggedor pintu belakang itu?


“Siapa ya Pak?” tanya Ferdy.


“Nggak tau, Mas. Setau saya nggak ada yang tinggal di sekitar sini. Nggak mungkin kalau tetangga. Apa perlu dibuka ya?” tanya Pak Paiman.


“Hati-hati loh, Pak. Saya khawatir kalau orang jahat saja sih,” gumam Ferdy.


“Atau ... minta tolong Mas Ferdy bisa panggilkan Pak Reno saja ya? Saya kok khawatir ada apa-apa,” pinta Pak Paiman.


“Oiya, Pak. Kita minta tolong Pak Reno saja,” jawab Ferdy.


“Siapa di sana?” tanya Pak Paiman penuh selidik.


“Oh, syukurlah ada orangnya. Tolong saya, Pak. Teman saya terperosok dalam lubang di belakang sana. Mohon pertolongannya, Pak!” pinta pria yang menggedor pintu itu.


Sayangnya, Pak Paiman tak serta merta percaya begitu saja. ia masih terdiam, tidak melakukan apa-apa, menunggu kedatangan Reno.


Tak lama, Reno datang bersama Ferdy ke tempat itu. Reno sudah mendengar sekilas dari keterangan Ferdy. Ia segera bertindak. Pintu yang menghubungkan dengan lingkungan belakang rumah itu ia buka segera.


Seorang pria dengan paras cemas berdiri di depan pintu, mengharapkan pertolongan dari Reno. Polisi itu seperti pernah melihat sosok pria itu, tetapi lupa di mana.


“Tolong Pak Reno!” ucap pria itu.


“Loh, kamu kok tau nama saya?” tanya Reno.


“Saya ... saya Wandi, Pak. Saya asisten Mbak Gilda,” jawab Wandi dengan sedikit gugup.


“Oh pantesan seperti pernah lihat. Ada apa?” tanya Reno.


“Mbak Gilda, Pak. Terperosok ke dalam lubang di sana. Dia meminta saya untuk mencari pertolongan. Jadi saya ke sini, karena hanya rumah ini satu-satunya yang saya lihat,” ucap Wandi.

__ADS_1


“Gilda? Kok dia bisa sampai terperosok di sana? Apa yang dia lakukan di sini?” tanya Reno dengan heran.


“Nanti saja saya jelaskan, Pak. Lebih baik kita tolong dulu orangnya. Soalnya dia sudah marah-marah di dalam sana. Nanti saya diomelin lagi kalau nggak segera datang,” ucap Wandi takut-takut.


“Kamu nggak usah khawatir, biar aku yang urus Gilda! Ayo Pak Paiman, Ferdy, kita lihat perempuan itu. Aku yakin dia lagi mematai-matai rumah ini sampai nggak sadar kalau ada lubang di bawahnya. Bawa peralatan ya Pak Paiman. Kita sidang dia di dalam rumah!” perintah Pak Reno.


“Waduh, disidang?” Paras Wandi berubah cemas.


“Sudahlah. Kamu tenang saja. Yang penting Gilda selamat kan?”


Wandi tak berani membantah lagi. Tak lama, Pak Paiman sudah siap dengan beberapa peralatan yang memang disiapkan untuk menolong Gilda. Mereka bergerak menuju tempat yang ditunjukkan oleh Wandi.


Sementara di dalam sumur, Gilda sudah mulai tak sabar. Udara sedikit pengap membuatnya tak nyaman. Ia mulai membuka blazer dan mendongak ke atas. Matahari sudah agak naik, bersinar menyilaukan. Ia berkali-kali mengeluh.


“Lama banget sih Wandi. Huh! Di sini banyak cacing dan semut. Bikin jengkel!”


Tiba-tiba, ia melihat serombongan pria di mulut lubang di atas. Salah seorang di antaranya adalah Reno. Gilda agak terkejut. Tak menyangka kalau Reno akhirnya datang ke tempat ini untuk menyambangi. Gilda agak malu, karena ia tertangkap basah membuntuti.


“Apa kabar, Gilda? Apa kamu baik-baik saja?” tanya Reno.


“Eh, aku ... aku ya beginilah! Di sini pengap sih ... “


“Sebenarnya ini adalah pelajaran buat seseorang yang suka mencampuri urusan yang bukan urusannya. Aku nggak tahu apakah sebaiknya menolongmu atau tidak. Atau lebih baik kamu kubiarkan saja di sini sampai malam, biar ketemu dengan yang namanya tikus atau ular. Mau nggak sih?”


“Aduh, tega banget sih Pak Reno. Ini aja udah bikin aku nggak nyaman loh. Pliss..bantuin lah. Udah kesemutan nih kakiku,” pinta Gilda.


“Oke ... oke. Jangan khawatir. Kami akan bantuin kok. Tapi bukan berarti urusan selesai. Setelah kamu lolos dari lubang ini, kita harus menyelesaikan urusan kita. Bagaimana? Masih mau keluar dari lubang ini?” tanya Reno.


“Urusan apa di antara kita Pak? Kok aku nggak paham?” tanya Gilda.


“Gilda, semua perbuatan pasti ada konsekuensinya. Perbuatanmu memata-mataiku, tentu juga ada konsekuensinya. Masuk lubang ini terlalu ringan. Tapi ada konsekuensi lain yang harus kamu bayar karena rasa penasaranmu itu. Kami sudah mengingatkanmu untuk tidak turut campur, toh nyatanya kamu keras kepala. Jadi kita akan membuat perhitungan setelah ini,” ucap Reno.


“Aduh ... kami kan hanya menjalankan tugas, pak. Jangan sadis gitu dong, Pak!” rajuk Gilda.


“Tugas? Tidak Gilda. Kamu terlalu ambisius melaksanakan tugasmu. Semua tugas ada batasannya, dan kamu sudah melampaui batas. Jadi mari kita selesaikan ini,” kata Reno sambil tersenyum sinis.


“Tapi Pak ... “


“Kamu mau keluar nggak sih?”


Gilda mengangguk. Ia pasrah dan tidak punya pilihan lain. Dalam hati, ia masih penasaran, apa sebenarnya yang akan dilakukan polisi itu?


***

__ADS_1


__ADS_2