Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XCVI. Blackout


__ADS_3

Gelap menyelimuti kastil seketika. Tak ada sekerlip cahaya menyinari. Suasana berubah sangat menyeramkan. Angin dingin tiba-tiba berdesir di ruang tengah. Maira terpekik, sedangkan para penghuni lain gelisah. Mereka benar-benar kehilangan penglihatan saking gelapnya. Kengerian perlahan merayap.


“Kurang ajar! Siapa yang melakukan ini!” umpat Hans.


“Tenang! Tenang! Mohon untuk tidak beranjak dari tempat masing-masing! Semuanya akan baik-baik saja asal kita bersama-sama!” ujar Reno, berusaha menenangkan.


“Apakah mati listrik ini dari pusat?” tanya Aldo.


“Kita belum tahu penyebab mati listrik ini apakah dari pusat atau ada sebab lain. Dimas kamu masih berdiri di sana?” tanya Reno.


Dimas yang rencananya akan mencari Tiara dan Adrianna urung melangkah, karena situasi yang tidak memungkinkan.


“Aku di sini Reno! Aku tidak bisa kemana-mana dalam kondisi gelap seperti ini,” ucap Dimas.


“Baik. Aku akan panggil nama kalian satu-persatu. Pastikan kalian tidak kemana-mana dan tetap waspada!” kata Ammar menambahkan.


Ia segera memanggil nama-nama semua penghuni yang berkumpul di ruang tengah. Semuanya menjawab ‘hadir’, kecuali satu orang.


“Helen! Kamu masih di situ?” tanya Ammar.


Tak ada sahutan. Rupanya perempuan paruh baya itu menghilang saat lampu padam. Tak heran, ia menguasai seluk beluk kastil, sehingga bukan perkara sulit untuk meninggalkan ruangan tanpa sepengatahuan yang lain.


“Kemana dia?” bisik Reno.


“Entahlah!” jawab Ammar.


Tiba-tiba ada secercah cahaya yang dinyalakan dari sebuah korek api gas. Cahaya itu dinyalakan oleh Hans yang biasa merokok. Walaupun tidak terlalu terang, paling tidak dapat memberi sedikit penglihatan buat para penghuni kastil lain.


“Di meja ruang makan banyak terdapat lilin hias. Siapa yang mau mengambil? Pakai korek ini saja!” tanya Hans.


“Ada senter di kamarku, tapi aku tidak bisa mengambil juga. Ada yang mau ambil?” tanya Ammar.


“Begini ... begini. Kita belum tahu penyebab padamnya lampu ini. Jadi kita tidak boleh gegabah kesana-kemari. Bisa jadi padamnya lampu ini memang sengaja dibikin seseorang agar kita terpancing untuk keluar dari ruangan ini. Sebaiknya kita waspada dengan segala kemungkinan yang terjadi. Lebih aman kalau semua ada di sini,” ucap Reno.


“Aku setuju dengan Reno. Sebaiknya kita nggak kemana-mana,” sambut Michael.


“Aku nggak setuju!” potong Hans.


Semua mata tertuju pada Hans. Ia masih memegang korek dalam keadaan menyala. Terlihat bayangan raut wajahnya yang dingin.


“Sampai kapan kita berada di ruangan ini? Kita harus mencari sebabnya. Jangan sampai kalah kita dengan pembunuh itu. Kalau kalian tidak ada yang bergerak, maka aku yang akan bergerak!” tambah Hans.

__ADS_1


“Hans, ini demi keselamatanmu!” ucap Maira.


“Aku tidak peduli! Toh dari awal kita semua dirancang akan mati di kastil ini. Hanya masalah waktu saja. Kamu nggak lihat Cornellio. Dua kali dia selamat, dan tetap mati juga di kamarnya sendiri, sebuah tempat yang dikiranya paling aman. Jangan halangi aku! Aku akan ambil lilin di ruang makan, kemudian segera kembali ke sini!” ucap Hans.


“Oke ... oke. Perkataanmu ada benarnya, Hans. Kita memang tidak boleh kalah dengan pengacau itu, tetapi bukan berati kita harus bergerak tanpa otak. Kita harus susun strategi dulu. Bagaimana?” Reno berusaha menengahi.


“Lalu bagaimana menurutmu?” tanya Hans.


“Oke. Kalian harus percaya padaku. Hans, apabila kamu memang mau ambil lilin, lakukan dengan cepat. Jangan menoleh. Aku ada pistol, tetapi aku pakai untuk melindungi penghuni lain yang ada di tempat ini. Dimas, apakah kamu masih di sana?” tanya Reno.


“Ya, Ren. Apa yang harus kulakukan?”


“Apa kamu membawa pistol?”


“Ya, aku membawa pistol saat ini,” kata Dimas.


“Oke. Kamu lindungi Hans saat mengambil lilin, setelah itu ambil sekalian senter di kamar Ammar. Segera kembali. Setelah itu aku akan memeriksa sekering di ruang bawah tanah. Aku harus memastikan penyebab mati listrik ini,” kata Reno.


“Apakah itu tidak terlalu berbahaya?” tanya Maira.


“Ini adalah tugasku Maira. Aku bisa melakukannya walau nyawa sebagai taruhan"


“Tidak! Jangan ada yang keluar dari ruangan ini. Tetaplah bersama. Oke? Aku akan baik-baik saja,” kata Reno.


Setelah berunding sebentar, Hans setuju bahwa dia akan mengambil lilin di meja ruang makan, sementara Dimas melindungi dari belakang. Namun, sesungguhnya dalam hati para penghuni lain, merasa tegang luar biasa. Mereka takut hal buruk akan terjadi. Dalam situasi gelap seperti ini, pergerakan mereka akan terbatas.


***


Ketegangan tak hanya dirasakan di ruang tengah, tetapi juga di kamar tempat para anak muda bersembunyi. Sonya sudah menjerit dan gelisah ketika lampu padam. Tony segera menenangkan.


“Breng*sek! Mengapa pakai acara mati lampu segala! Huh!” gerutu Ringo.


“Sabar Ringo! Nggak ada gunanya mengeluh. Lebih baik kita bersabar sampai lampu kembali menyala!” kata Antony.


“Aku nggak sabar! Aku mau langsung periksa sekering saja,” ucap Ringo tak sabar.


“Jangan! Kamu nggak ngerti seluk-beluk rumah ini. Kamu bisa tersesat dan sulit untuk kembali ke sini!” Antony mengingatkan.


“Aku sudah muak dengan semua ini!” Ringo mulai marah.


“Kamu harus tenang, Ringo. Nggak boleh gegabah. Ingat, lehermu sudah terluka. Jangan sampai kebodohan membinasakanmu!”

__ADS_1


Ringo mondar-mandir di ruangan dengan perasaan gusar. Kemudian ia mengambil senter dari tas ranselnya. Ia tak sabar menunggu lagi.


“Kamu mau kemana?” tanya Sonya.


“Keluar! Aku sudah nggak sabar lagi!” ucap Ringo.


“Ringo! Jangan!” cegah Antony.


“Kamu jangan halangi aku, Ton. Aku mau habisi orang gila itu dengan tanganku. Aku akan memakai ini!”


Ringo mengambil sebuah pisau lipat dari dalam tas. Pisau lipat itu biasa digunakan saat berkemah, karena kegunaannya cukup banyak. Antony terdiam. Ia tak dapat mencegah Ringo, saat ia keluar dari kamar. Sonya menatap kepergiannya dengan perasaan cemas.


***


Dokter Dwi dan Elina berada di ujung lorong saat lampu padam. Gelap juga menyelimuti ruang bawah tanah seketika. Secara reflek, Elina langsung memegang lengan dr. Dwi karena takut. Dokter Dwi menghentikan langkahnya.


“Lampu mati. Hmmm. Perasaanku tiba-tiba jadi tak enak,” gumam dr. Dwi.


“Aku takut, Dok. Kita kembali saja. Sepertinya nggak aman di sini,” ucap Elina.


“Sepertinya di atas sana lampu juga mati. Kita nggak bisa kesana, sampai lampu menyala kembali.”


“Tapi menyalanya kapan?”


“Entahlah. Biasanya tak pernah lampu mati seperti ini. Aku khawatir ada sabotase. Kalau benar, maka ini berbahaya. Para penghuni akan panik dan itu bukan hal baik,” kata dr. Dwi.


“Kita nggak bisa berbuat apa-apa, Dok. Di atas sudah ada polisi, sedangkan kita hanya berdua di sini. Kita harus melindungi diri kita sendiri, karena apapun itu, posisi kita lebih berbahaya. Di atas banyak sesuatu yang bisa dijadikan senjata, tetapi di sini tak ada apapun,” cemas Elina.


“Kamu benar Elina. Sepertinya kita harus mencari tempat aman, tetapi bukan di bilik yang kita tempati tadi. Psikopat itu bisa kembali kesana kapan saja. Jadi kita harus pindah ke tempat lain,” usul dr. Dwi.


“Aku setuju, Dokter”


Mereka beranjak untuk berbalik arah dengan meraba-raba dinding, karena situasi memang sangat gelap. Baru beberapa langkah, tedengar suara langkah kaki. terburu-buru dari arah lorong lain.


“Dokter, aku mendengar suara langkah kaki, Bagaimana ini?” Elina mendadak cemas.


Dokter Dwi segera menghentikan langkah, menajamkan pendengarannya. Suara langkah kaki itu semakin jelas, agak menyeret. Kedengarannya lebih dari satu orang.


“Ya, aku juga mendengar Lin. Kita sembunyi saja. Cepat!” ajak dr. Dwi.


***

__ADS_1


__ADS_2