
Cornellio segera menyelinap di balik pohon besar untuk menunaikan hasrat manusiawinya. Kandung kemihnya terasa penuh, meronta menuntut untuk segera dikosongkan. Sementara Ammar menunggu tak jauh dari tempat itu. Ia tidak mau kecolongan. Bola matanya bergerak waspada menyapu kawasan sekitar gudang. Hanya gelap meraja, tak ada secercah cahaya. Bangunan kastil tampak berdiri angkuh dan menyeramkan. Angin terasa enggan bertiup, menciptakan keheningan yang menyeruak.
Sebentar kemudian, Cornellio keluar dari balik pohon dengan perasaan lega. Ammar juga menarik napas ketika dilihatnya sosok Cornellio. Segera saja mereka kembali memasuki area gudang, menempati posisi masing-masing. Ammar bersembunyi di balik tumpukan-tumpukan kardus yang banyak berserak di situ, sedangkan Cornellio berdiri dengan waspada. Lampu gudang bersinar temaram, menambah suasana mencekam. Tak ada suara apa pun, hening dan senyap. Bahkan Cornellio dapat mendengar hembusan napasnya sendiri.
Sepuluh menit berlalu. Tentu bukan waktu yang singkat untuk berdiri mematung. Penat mulai menjalar di kaki Cornellio. Bosan juga melanda. Sementara rombongan nyamuk berdengung-dengung di sekitar kepala. Perasaan tak nyaman benar-benar menyeruak. Jarum jam sudah merapat di pukul sebelas malam, namun tanda-tanda si pengirim pesan belum juga muncul. Cornellio merasa gelisah.
“Kurasa dia tidak akan datang,” kata Cornellio memecah kesunyian. Rasa bosan yang melanda memaksanya untuk mengeluarkan suara. Bahkan, ia mulai duduk di atas sebuah kaleng cat sambil bertopang dagu.
“Bersabarlah sebentar. Mangsa kita sudah semakin dekat. Kalau dia tertangkap, maka namamu akan terpampang dalam halaman depan surat kabar. Namamu akan dikenal seantero negeri sebagai pria berjasa yang lolos dari maut. Jangan mengeluh! Tunggulah sebentar!”
Ammar menanggapi tanpa menampakkan diri, sementara Cornellio makin gelisah. Pukul sebelas malam telah terlewati, tetapi tak ada seorang pun menampakkan batang hidungnya.
“Persetan dengan segala ketenaran! Aku sudah memiliki semua itu tanpa harus menjadi umpan seorang psikopat gila. Yang kuinginkan sekarang, hanyalah kembali ke kamar atau bercinta dengan seorang gadis!” rutuk Cornellio.
Ammar tertawa. Ia sangat paham bahwa Cornellio mulai tertekan dengan kondisi ini. Mungkin rasa takut juga mulai bercampur aduk dengan gelisah, sehingga membuat pria itu semakin frustasi. Padahal di kondisi seperti ini. Ketenangan sangat dibutuhkan. Gestur tubuh Cornellio menampakkan kalau dia sedang dirundung kerisauan mendalam.
“Kau berfantasi dengan Adrianna?” tanya Ammar.
“Adrianna, cantik dan menggoda tetapi bukan tipeku. Aku suka gadis bermata lebar, tidak sipit seperti Adrianna. Aku tak pernah berfantasi dengan siapa pun!”
“Hmm. Baiklah. Bagaimana dengan pintu gudang? Tadi pintu gudang tidak kamu kunci kan?” tanya Ammar lagi.
__ADS_1
“Tentu saja tidak. Kuncinya masih tergantung di luar. Jadi kalaupun psikopat masuk, pasti kita tahu. Aku lebih khawatir apabila ini hanya candaan saja. Bisa jadi dia beraksi di tempat lain, menyusup kamar para gadis dan menghabisi mereka. Si pembunuh itu sadar bahwa kamu berada di tempat ini,” ujar Conellio dengan cemas.
“Tenang saja! Sebelum berangkat ke sini sudah kuperintahkan kepada seluruh penghuni kastil untuk tetap berada di kamar masing-masing, dan mengunci pintu. Kurasa mereka aman saja sekarang. Tunggu setengah jam lagi, dan aku janji setelah itu kita akan kembali ke kastil!”
Cornellio mendengus. Setengah jam bukanlah waktu yang singkat untuk berdiri tanpa melakukan apapun, apalagi di tempat yang gelap dan sepi seperti ini. Harusnya malam ini ia telah berbaring di ranjangnya yang empuk, atau bisa jadi sudah terlelap dibuai mimpi.
Detik demi detik berlalu. Mereka mengunci mulut, sengaja tak bersuara agar dapat menangkap suara sekecil apapun. Terkadang terdengar suara gemerisik di antara kardus, ternyata suara tikus yang mulai bergerilya di waktu malam. Suara cicak yang berkejaran di dinding-dinding gudang juga sesekali terdengar. Cornellio benar-benar dipasung dalam rasa gelisah yang meruntuhkan keberaniannya. Hawa dingin mulai menyusup ke dalam jaket, membuat Cornellio kian merapatkan tangan ke dalam dada.
“Dingin sekali malam ini,” gumamnya lirih.
Lima belas menit lepas dari pukul sebelas, suara derit pintu membuat jantung Cornellio berdegup lebih kencang. Demikian pula Ammar, ia sudah siaga dengan segala kemungkinan yang terjadi. Sayangnya suara derit pintu gudang itu bukan seseorang yang sedang membuka pintu, sebaliknya pintu gudang sengaja ditutup dari luar. Suaranya begitu jelas, seolah memecah kesenyapan.
Braaaakk!
Bukan hanya ditutup, tetapi seseorang telah mengunci pintu. Cornellio kelabakan didera rasa panik, segera menghambur ke arah pintu. Demikian juga Ammar turut meloncat dari tempat persembunyiannya menyusul Cornellio. Mereka segera membuka pintu yang kini tertutup rapat. Hampir bersamaan mereka membuka pegangan pintu, sayangnya terlambat! Pintu gudang itu kini tak bergerak. Mereka terkunci di dalam gudang.
“Sialan! Kita terkunci! Seseorang telah menjebak kita dan mengunci dari luar!” umpat Cornellio sambil terus memaksa membuka.
“Ya, psikopat itu telah tahu semua rencana kita. Tapi darimana dia tahu? Ataukah semua ini adalah permainannya? Sial! Kini kita terkunci di dalam gudang!” sahut Ammar.
Ia menatap Cornellio penuh tanya. Cornellio hanya menggeleng kesal sambil memukul tembok.
__ADS_1
“Harusnya kita tak pernah pedulikan undangan itu! Harusnya saat ini aku bisa duduk menikmati kopi di ruang tengah!” keluh Cornellio.
“Tenanglah! Tak perlu panik. Terkunci di gudang ini bukanlah masalah karena banyak peralatan di sini untuk membuka pintu ini secara paksa. Yang perlu kita khawatirkan sekarang, apa yang sedang direncanakan psikopat gila itu? Aku justru cemas dia mulai berbuat onar dalam kastil, karena dia bisa menyamar menjadi siapa saja!” ujar Ammar.
“Kalau begitu mari kita buka paksa pintu gudang tua ini! Jangan menunggu waktu lama!”
“Jangan gegabah! Itupun belum menjamin keamanan kita. Saat ini psikopat itu tengah berkeliaran di luar, mungkin sedang menunggu kita keluar untuk dihabisinya. Kita harus menggunakan taktik, tidak boleh panik. Biarkan aku berpikir sebentar!” ujar Ammar.
Mereka saling terdiam selama beberapa menit. Ammar mondar-mandir sambil berpikir serius, sedangkan Cornellio telah dikuasai rasa gelisah. Berkali-kali ia mengusap kening yang mulai menitikkan keringat. Pengap mulai terasa. Cornellio mulai tak sabar. Ingin sekali ia dobrak pintu di depannya, agar ia bisa segera berlari ke kamarnya. Suasana masih terasa tegang, ketika terdengar suara berderak-derak dari atas atap.
“Ada yang berjalan di atas atap?” tanya Cornellio. Ammar hanya menggeleng sembari terus berpikir.
Belum sempat mereka memutuskan apa yang hendak dilakukan, tiba-tiba Cornellion mencium bau seperti benda terbakar. Aromanya cukup menyengat, membuat rasa penasaran kian dalam. Amar juga mencium bau yang sama. Bahkan, indera penciumannya lebih tajam. Ia mampu mendeteksi jenis benda yang terbakar, beserta zat pembakarnya.
“Ini adalah bau kayu yang disiram bensin, kemudian dibakar!” gumam Ammar.
“Dari mana bau ini? Dari luar?” tanya Cornellio.
“Aromanya begitu kuat dan dekat. Sepertinya bukan dari luar tetapi dari ....”
“Dari mana?” potong Cornellio dengan panik. Ia nyaris tak mampu mengontrol emosinya. Baginya malam ini telah menjadi mimpi buruk yang tak berkesudahan.
__ADS_1
“Dari atas!”
***