Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
299. Pergumulan.


__ADS_3

Ollan tetap waspada dan menjaga jarak aman dengan Rianti yang sepertinya juga mencari celah untuk memanfaatkan kelengahan. Wanita itu tidak duduk, melainkan berkeliling ruangan sambil memegang sesuatu di balik bajunya. Rupanya, Rianti berhasil mengambil senjata milik Toni, setelah polisi itu berhasil dilumpuhkan. Ollan melihat gelagat Rianti yang kurang baik. Ia tetap menjaga jarak, sekaligus berusaha mengalihkan perhatiannya.


"Tumben Bu Rianti kesini malam-malam? Bukankah kemarin masih di rumah isolasi?" tanya Ollan.


"Aku keluar duluan, Ollan. Karena polisi menyatakan bahwa aku bebas dari segala tuduhan, sehingga mereka mengizinkan aku pulang duluan. Sekarang mereka sedang mencurigai seseorang yang menjadi tersangka kuat dalam kasus ini. Aku kesini untuk memberitahumu agar waspada, sekaligus memastikan kau dalam keadaan baik-baik saja. Ini adalah perintah Pak Reno langsung, jadi aku sempatkan mampir ke sini," dusta Rianti.


Ollan tentu saja tak percaya begitu saja perkataan Rianti, karena sebelumnya ia sudah mendapat informasi dari Pak Reno kalau Rianti berhasil kabur dari penangkapan. Namun, Ollan pura-pura percaya dengan ucapan Rianti, agar wanita itu tak bertindak gegabah.


"Terima kasih Bu Rianti sudah mampir ke sini. Jadi siapa yang mereka curigai sekarang, Bu?" tanya Ollan.


"Siapa lagi kalau bukan Laura? Sejak awal aku sudah curiga kepada perempuan itu. Kali ini ia pasti tak akan lolos. Ia akan segera diringkus oleh polisi. Kuharap perempuan itu bisa segera dihukum seberat-beratnya," ucap Rianti.


Ollan hanya mengangguk. Wajar kalau Rianti menuduh Laura, karena ia memang tak pernah suka dengan artis cantik tersebut. Ollan pura-pura percaya dengan ucapan Rianti.


"Eh, Bu Rianti mau minun sesuatu? Biar saya buatkan teh atau  kopi," ucap Ollan.


"Kalau kamu punya kopi, boleh," jawab Rianti.


Kali ini perempuan itu mengambil tempat di sebuah sofa, sementara Ollan pergi ke dapur yang letaknya masih satu lokasi dengan ruang tengah. Jadi selama di dapur, ia masih bisa mengamati gerak-gerik Rianti. Ollan mengambil teko, kemudian mengisinya dengan air untuk dipanasi. Sambil menyiapkan cangkir dan kopi, matanya tak lepas dari Rianti. Perempuan itu terlihat tak berbahaya, hanya duduk sambil memegangi kepalanya. Bagaimanapun, Ollan tak mau lengah. Ia harus  waspada, kalau-kalau Rianti berbuat nekat.


Ngiiik!


Suara teko berbunyi, pertanda air dalam teko sudah mendidih. Ollan segera berbalik untuk menuang teko ke dalam cangkir yang telah disiapkannya. Namun, baru memegang gagang teko, tiba-tiba ia merasakan sebuah benda menekan bagian pinggangnya. ia mendengar suara Rianti berbisik lirih di telinganya.

__ADS_1


"Jangan berbalik, Ollan! Silakan kau pilih di hari terakhirmu ini. Kau mau mati dengan cepat atau perlahan!" bisik Rianti.


Ollan terperanjat. Ia sama sekali tak menyangka Rianti bergerak secepat itu. Ollan hanya dapat menghela napas, berusaha menghilangkan rasa paniknya. Ia harus mengulur waktu, agar perempuan ini tidak melancarkan aksi brutalnya. Ia sadar, saat ini nyawanya sedang terancam. darahnya berdesir, dan jantung berdetak sangat cepat. Namun, ia menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk tenang.


"A-apa salahku, Bu?" tanya Ollan.


"Apa salahmu? Kamu bertanya apa salahmu? Banyak, Ollan. Kau lah yang paling bersalah dalam hidupku. Kamu telah meracuni otak suamiku untuk menjauhi aku, dan kemudian kau juga merahasiakan hubungan gelap antara Henry dan Laura. Kalau bukan karena kau, maka Henry tak akan pernah berselingkuh. Kau adalah iblis bagi hidupku. Mulut wanitamu itu telah merusak keluargaku, Ollan. Kau lebih bersalah daripada yang lainnya!" geram Rianti.


"Itu tidak benar, Bu. Bang Hen sendiri yang banyak bercerita tentang Laura ke aku. Aku sama sekali nggak tahu-menahu dan tidak turut campur. Lagipula, Laura juga menolak kehadiran Bang Hen. Laura masih menghargai Bu Rianti sebagai sesama perempuan!" Ollan membela diri.


Bagaimanapun, ia harus terus mengajak Rianti terus mengobrol agar perempuan itu lengah dan mengulur waktu. ia mencari akal agar bisa lepas dari ancaman senjata Rianti. Tangannya yang masih memegang gagang teko berisi air panas mulai beraksi. Ia melakukan dengan sangat perlahan, jangan sampai Rianti curiga dengan apa yang dilakukannya.


"Heh! Jangan coba kau bela perempuan sunda*l itu!" pekik Rianti yang mulai tersulut emosi.


"Jangan sembarangan bicara kau, Ollan!"


Kini Ollan sudah dapat memegang gagang teko dengan stabil. Sesaat kemudian ia berbalik cepat, tanpa bisa diduga  Rianti sebelumnya. Ollan melemparkan teko berisi air panas itu ke tubuh Rinati, sehingga wanita itu terpekik. Air terpercik keluar, tetapi tidak semua mengenai tubuh Rianti, karena wanita itu berusaha menghindar. Bagaimanapun, Rianti merasakan rasa panas luar bisa di bagian pergelangan tangannya sehingga hampir saja pistol terlepas dari genggaman.


"Kurang ajar!" geram Rianti sambil sempoyongan menahan sakit di tangan.


Ollan tak mau membuang waktu terlalu lama. Sebelum Rianti berdiri dengan tegak, ia langsung menerkam wanita itu, berusaha merebut pistol dari genggamannya. Tentu saja serangan mendadak ini membuat Rianti semakin murka. Keduanya jatuh di lantai, berguling-guling saling berebut pistol yang ada di tangan Rianti.


"Mampu*s kau jalan*g!" umpat Ollan sambil berusaha sekuat tenaga merebut pistol.

__ADS_1


Bagaimanapun, Rianti juga tak mau kalah, ia terus mempertahankan pistol yang ada dalam genggamannya. Bahkan kakinya menendang-nendang Ollan. Dalam satu kesempatan, Rianti berhasil menarik pelatuk pistol.


Doorr!


Pistol meledak, untungnya pelurunya melenceng, sehingga mengenai langit-langit ruangan. Namun, ledakan itu cukup mengagetkan Ollan, sehingga ia sempat lengah. Bahkan, Rianti berhasil menendang perut Ollan. Setelah itu, Rianti berdiri, sambil mengacungkan pistol ke arah Ollan.


"Kau akan mati Ollan ... kau akan mati hari ini! Jangan coba-coba!" seringat Rianti dengan napas terengah-engah.


Ollan bersikap waspada sambil mengangkat kedua tangannya. Posisi Rianti tepat membelakangi jendela kaca yang menghubungkan dengan balkon luar. Hal itulah yang membuat Ollan sedang berpikir untuk berbuat sesuatu.


"Tidak Rianti! Kamu tidak akan melakukannya. Kamu tidak akan membunuhku. Aku tahu kamu perempuan baik-baik. Hanya keadaan saja yang membuat kamu jadi seperti ini. Kamu orang baik Rianti. Pasti ada kesempatan kedua untukmu. Jangan lakukan hal bodoh itu. Kesalahanmu masih bisa dimaafkan," bujuk Ollan sambil terus waspada.


" Jangan coba menipuku, bodoh!" pekik Rianti sambil menangis.


Ia masih tetap mengacungkan pistol ke arah Ollan. Sementara, Ollan memberanikan diri untuk melangkah setapak demi setapak untuk mendekati Rianti. Perempuan itu kembali  mengangkat senjatanya. Sementara di kejauhan sudah mulai terdengar sirene polisi mendekati tempat kejadian.


"Tetap di tempatmu! Atau kuledakkan kepalamu!" ancam Rianti.


Ollan berhenti sejenak. Kali ini, jarak mereka sudah cukup dekat, sehingga Ollan memberanikan diri untuk kembali menerkam Rinati bagai seekor harimau yang mengamuk. Tubuh Rianti didorongnya kuat-kuat ke arah jendela kaca yang berda di belakangnya. Pistol Rianti terlepas.  Mendadak Ollan merasa sebagai pria sejati. Dorongannya yang begitu kuat bahkan mampu memecahkan jendela kaca, sehingga tubuh Rianti limbung menembus jendela, dan langsung meluncur tanpa ampun dari ketinggian apartemen Ollan.


Praaang!


Kaca jendela berhanburan menjadi pecahan-pecahan kecil, turut meluncur bersama tubuh Rianti ke bawah. Ollan hanya berdiri lemas melihat kejadian itu. Teriakan Rianti melengking memecah malam yang hening. Dalam kegelapan malam, Ollan hanya bisa melihat tubuh wanita itu jatuh di halaman depan apartemen yang terbuat dari beton. Ia melihat kepala wanita pecah dengan darah terpercik di mana-mana!

__ADS_1


***


__ADS_2