Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
103. Ide Gila


__ADS_3

Semua terperanjat dengan penemuan sesosok mayat bersimbah darah di lantai kamar mandi. Rudi langsung dapat mengenali mayat itu adalah Jenny! Ia terkejut melihat pemandangan mengerikan itu. Segera ia tatap Rasty dengan tatapan nanar.


“Kamu ... kamu! Kamu pasti telah membunuhnya!” tuduh Rudi kepada Rasty.


Rasty sama sekali tak menyangka kalau Rudi akan menuduhnya seperti itu. Sontak ia meradang, sambil menggelengkan kepala.


“Kamu jangan sembaranga bicara ya Rud! Aku memang benci sama Jenny, tetapi bukan berarti aku bunuh dia. Bahkan aku nggak ngerti kemana Jenny pergi tadi, sekarang kamu tuduh aku seenaknya!” teriak Rasty.


“Lalu, siapa yang bunuh dia? Satu-satunya yang mungkin bunuh dia saat ini adalah kamu!” ucap Rudy sambil mengarahkan telunjuk ke arah Rasty.


“Kalian berdua diam! Aku nggak peduli siapa yang bunuh Jenny. Tapi kalian telah membawa masalah di rumahku. Sebentar lagi pasti polisi akan datang ke sini. Yang jelas salah satu dari kita adalah pembunuhnya, kaena sekitar sejam lalu aku masih melihat Jenny, pelakunya bukan teman-teman kita yang sudah pulang, tetapi yang masih ada di sini. Salah satu dari kita yang ada di sini adalah pembunuh!” kata Gerry.


Mereka yang hadir saling berpandangan, saling mencurigai. Kebanyakan dari mereka menatap Rasty dengan tatapan menuduh, karena memang gadis itulah yang mempunyai motif paling mungkin. Semua paham, bahwa Rasty menyimpan rasa cemburu mendalam kepada Jenny, karena telah menyerobot Rudi dari dirinya.


“Oke. Oke. Kurasa lebih baik polisi saja yang menangani ini. Bersiap-siaplah! Masing-masing dari kita akan diperiksa setelah ini. Hidup kita bakalan nggak nyaman, karena kita dikejar-kejar rasa bersalah. Bahkan nanti saat kita kembali ke kampus, pasti banyak yang nanya-nanya tentang ini. Cepat atau lambat, berita kematian Jenny ini akan menyebar luas!” kata Alex.


“Sekarang bagaimana? Kita langsung panggil polisi atau bagaimana? Aku nggak akan beritahu orangtuaku yang lagi liburan ke Eropa. Pasti aku akan diusir kalau tahu ada cewek mati di rumah ini,” keluh Gerry.


“Menurutku jangan ada yang sentuh mayat! Nanti sidik jari kalian akan terekam, dan bisa-bisa kita akan dijadikan tersangka!” tambah Ferdy.


“Sekarang pun kita semua adalah tersangka!” ketus Alma yang sedari tadi diam.


“Nggak! Aku nggak mau jadi tersangka! Aku nggak kenal Jenny. Aku nggak ada urusan apapun dengan dia. Aku mau pulang! Aku nggak mau terlibat urusan ini!” ucap Miranti.


“Nggak bisa kayak gitu, Mir. Mau nggak mau, suka atau nggak, kita semua yang ada di sini adalah tersangka. Kita nggak bisa lari dari itu. Karena kita semua ada di sini, nggak peduli kenal atau nggak!” ucap Gerry.


“Udah, udah! Yang menentukan kita tersangka atau bukan adalah polisi. Jadi kalian tenang. Kita akan tunggu polisi memeriksa ini semua. Ger, selaku tuan rumah, kamu harus segera hubungi polisi, sebab kalau nggak nanti kamu bakal juga disalahkan,” kata Alex


Dalam hal ini, Alex kelihatan tegas, tidak seperti apa yang dibayangkan selama ini. Tampilannya sebagai pemuda culun berbanding terbalik. Sebenarnya dia adalah seorang pria muda yang cerdas.

__ADS_1


“Kita nggak bakalan tidur malam ini. Mimpi apa aku. Aku akan telepon ayahku dulu, kalau aku akan pulang terlambat. Dia akan khawatir kalau aku nggak segera pulang,” keluh Lena.


“Len, jangan ceritakan pembunuhan ini pada siapa pun. Hanya kita saja yang tahu sementara ini. Jadi di sini kita ada sembilan orang. Aku, Alma, Dinda, Rasty, Miranti, Ferdy, Rudi, Lena, dan Alex. Kita semua harus tutup mulut. Kita nggak boleh cerita ke siapa pun, kecuali pada polisi karena memang mereka yang berwenang menangani kasus ini. Kalau perlu, kalian nggak usah kuliah dulu selama penyelidikan berlangsung!” saran Gerry.


“Jadi kita nggak boleh pulang dulu nih?” tanya Rasty.


“Jangan Rasty! Kita tunggu sampai polisi datang. Paling tidak nanti kita nggak disalahkan karena meninggalkan TKP, " ujar Gerry


“Aku nggak setuju kita panggil polisi!” Tiba-tiba Rudi bersuara.


Semua mata memandang ke arah Rudi. Mereka heran dengan apa yang dikatakan Rudi barusan.


“Kalau hal ini ditangani polisi, maka akan panjang urusannya. Kita nggak akan bisa beraktivitas, karena polisi akan menginterogasi kita tiap hari. Kalau saranku sih, cukup kita saja yang tahu pembunuhan ini,” ujar Rudi.


“Terus? Mayatnya dikemanain? Jangan ngawur kamu!” ujar Alex.


“Jenny adalah gadis sebatang kara. Ia hanya tinggal dengan neneknya yang sudah tua. Selama ini mendapat kiriman uang dari om dan tantenya di luar kota. Kurasa neneknya tak akan begitu panik dengan kehilangan Jenny. Nanti aku yang bilang padanya kalau Jenny sedang liburan keluar kota bersama teman-teman yang lain. Ideku adalah, kita buang saja mayat Jenny di danau pinggir kota. Danau itu sepi, jarang ada orang ke sana. Mumpung sekarang dini hari, mari kita bawa mayat Jenny ke sana!” usul Rudi.


“Kita pastikan mayat itu tenggelam dalam waktu lama agar nggak mudah ditemukan. Bagaimana?” usul Rudi.


Semua terdiam. Apa yang dikatakan Rudi ada benarnya. Polisi akan membuat urusan menjadi semakin rumit. Mungkin mereka harus menyembunyikan mayat Jenny agar tak menjadi masalah.


“Siapa yang setuju usul Rudi?” tanya Gerry.


Alma mengangkat tangan, diikuti oleh Rasty. Lena terlihat ragu, demikian juga Miranty. Sementara Dinda wajahnya semakin cemas, ia merasa bingung.


Alex menggeleng. Jelas ia tidak menyetujui rencana Rudi. Ferdi juga terlihat ragu, tetapi kemudian ia menggeleng.


“Aku tidak setuju!" ucap Ferdy.

__ADS_1


“Dinda?” tanya Gerry.


Dinda menggeleng. Ia tidak membenarkan cara yang akan dilakukan Rudi. Bagaimanapun ia lebih suka kalau polisi yang akan menangani kasus ini secara langsung. Menurutnya apa yang akan dilakukan Rudi akan membawa dampak psikologis ke depannya. Mungkin mereka akan dihantui rasa bersalah.


“Baik. Kamu nggak setuju. Lena? Miranti?” tanya Gerry.


“Aku setuju saja deh,” ucap Lena kemudian.


“Miranti?”


“Aku nggak peduli! Aku mau pulang!” ucap Mira dengan paras takut.


“Nggak boleh Mir. Kamu udah terlibat di sini. Nggak bisa pergi begitu saja!” ucap Gerry.


Untuk sejenak Miranti berpikir, menimbang baik dan buruknya. Sejujurnya, ia takut berurusan dengan hukum. Kejadian ini mau tidak mau akan menyeretnya ke ranah hukum. Dia membayangkan proses penyelidikan yang panjang, mungkin dia juga akan dipanggil ke pengadilan untuk menjadi saksi.


“Oke. Aku ikut saja!” ucap Miranti.


“Ikut yang mana?” desak Gerry.


“Suara terbanyak,” ucap Miranti.


“Tiga suara tidak setuju, empat suara setuju kalau mayat Jenny kita buang di danau,” kata Gerry.


“Aku setuju mayat Jenny di buang ke danau!” ucap Miranti.


Adinda menahan napas. Ia tidak menyangka teman-temannya akan melaksanakan ide gila yang dilontarkan Rudi. Ia berpikir, sesuatu yang lebih rumit pasti akan terjadi setelah ini.


“Baik, keputusan sudah bulat! Ingat, kita semua terlibat di sini. Jadi semua harus saling menutupi apabila ada polisi bertanya. Tidak ada yang boleh jadi pengkhianat. Suara mutlak setuju kalau mayat Jenny akan kita buang ke danau di pinggir kota. Kita akan laksanakan itu sekarang juga!” ujar Gerry.

__ADS_1


***


__ADS_2