
Setelah acara konferensi pers itu berakhir, Reno dan Dimas kembali ke dalam kantor. Reno mengambil kembali kertas yang ia temukan di dalam mulut Anita Wijaya saat gadis itu tewas tergantung di pohon durian. Perlahan ia berusaha memahami artinya, kemudian menyerahkan kertas itu pada Dimas yang duduk di hadapannya.
“Kamu baca ini, Dim! Apakah kamu dapat menemukan petunjuk di dalam tulisan ini?”
Saat sebuah bintang meredup, maka tiga siang tiga malam Hermaphrodite akan binasa. Saat Venus menampakkan diri, maka waspadalah dengan sesuatu yang melimpah. Di dalam sebuah ruang hampa udara, tanpa kawan dan handai taulan. Tubuhnya meringkuk beku, sedingin es di Siberia.
“Tulisan apa ini?” tanya Dimas.
Ia menerima kertas dari Reno, seraya mencermati dengan saksama.
“Aku menemukan di mulut Anita saat tergantung di pohon durian. Rupanya si pembunuh sengaja meninggalkan pesan ini agar kita bisa menebak siapa yang terbunuh berikutnya. Kemarin saat Daniel Prawira tewas, aku juga menemukan tulisan di genggaman tangannya. Sebentar aku ambil .... “
Reno mengambil sebuah folder dalam lemari arsip tempat ia menyimpan kertas kecil dari jenazah Daniel Prawira. Ia serahkan pula kertas kedua itu pada Dimas.
“Bandingkan dengan tulisan ini!” kata Reno.
Apabila matahari dan bulan tak bisa bersatu, maka matahari akan padam. Satu bintang akan kembali padam. Bintang muda yang benderang. Bintang kesayangan sang matahari. Bintang pertama dari dua puluh enam bintang. Cahayanya meredup di kebun-kebun para raja. Terombang-ambing tertiup angin. Meronta meregang ajal.
Dimas membandingkan kedua tulisan itu, berusaha memecahkan arti kata-kata yang tersirat di dalamnya. Ia mengernyitkan dahi. Dimas tidak mengikuti kasus dari awal, sehingga ia harus menelusur kasus satu-persatu.
“Setelah peristiwa pembunuhan Anita terjadi, aku baru tahu makna dari tulisan ini. Matahari dan bulan, aku belum tahu arti dari kalimat itu. Yang aku tahu, matahari tentu saja melambangkan Daniel Prawira. Lalu siapa bulan di sini? Matahari padam, pasti ini kematian Daniel. Satu bintang akan kembali padam, ternyata itu adalah Anita. Karena memang dia kesayangan Daniel. Bintang pertama dari dua puluh enam bintang, kurasa ini semacam huruf A dalam 26 abjad. Cahayanya meredup di kebun-kebun para raja, tentu maksudnya Anita yang tewas di kebun durian. Terombang-ambing tertiup angin, karena jasadnya tergantung dan terombang-ambing. Sungguh, kalau saja kita bisa menerjemahkan teka-teki ini dari awal, pembunuhan ini tak perlu terjadi,” ucap Reno.
“Hmm, ya tentu saja. Karena dari teka-teki itu sebenarnya sudah jelas identitas korban dan bagaimana dia dibunuh kan?”
“Nah, sekarang kita beralih ke teka-teki kedua. Saat sebuah bintang meredup, ini kuartikan sebagai kematian Anita. Tiga siang tiga malam? Apakah ini berarti pembunuhan akan dilakukan tiga hari dari sekarang. Kalau memang iya, kita harus bergerak cepat untuk mengenali identitas korban kita selanjutnya. Saat Venus menampakkan diri? Venus ini kan planet ya. Tapi bisa berarti perempuan. Aku belum paham. Venus menampakkan diri? Menurutmu apa Dim?” tanya Reno.
“Venus ... Venus. Hm, Venus adalah planet yang cukup dekat dengan bumi. Dalam susunan tata surya, Venus adalah planet kedua yang dihitung dari jarak ke matahari. Tapi aku belum punya gambaran apa hubungan Venus dengan kasus ini. Bisa jadi seperti yang kamu katakan, bahwa Venus bisa melambangkan perempuan. Biasanya kan kalau laki-laki dilambangkan dengan Mars. Nanti kita selidiki lebih lanjut!” ucap Dimas.
“Waktu kita sempit, Dim! Aku khawatir kalau kita terlambat mengetahui isi teka-teki itu, maka korban akan jatuh lagi. Kita sekarang ini lagi berpacu melawan waktu. Si pembunuh juga sekarang tak tinggal diam. Dia juga sedang merancang pembunuhan berikutnya. Kita harus cepat!”
“Baik. Mari kita beusaha pecahkan ....”
“Sekarang kita beralih ke kata Hermaphrodite. Kamu pernah mendengar nama itu?” tanya Reno.
“Hermophrodite akan binasa. Hmm, kalau dalam ilmu biologi yang pernah kupelajari dulu, hermafrodit ini adalah makhluk hidup yang mempunyai dua jenis kelamin. Tapi biasanya kan hewan, jarang ditemukan pada manusia. Sedangkan dalam mitologi Yunani, Hermaphroditos adalah anak Hermes dan Aphrodite, yang diubah menjadi makhluk berkelamin ganda. Apakah ada manusia yang mempunyai jenis kelamin ganda?” ungkap Dimas.
__ADS_1
“Entahlah. Tapi dugaanku satu. Di dunia nyata ini memang tidak ada makhluk yang berkelamin ganda, hanya yang mirip itu ada,” kata Reno.
“Maksudmu?”
“Maksudku, seorang laki-laki yang mirip perempuan atau sebaliknya. Bisa dikatakan yah ... kayak banci gitu. Menurutmu bagaimana?” tanya Reno.
“Bisa jadi begitu. Bisa jadi korban berikutnya adalah seorang banci. Sekarang mari ke kalimat berikutnya. Waspadalah dengan sesuatu yang melimpah. Apa yang melimpah? Uang, air, udara, atau apa? Ini agak susah diartikan karena artinya cukup luas. Apakah pembunuhan berikutnya akan berkaitan dengan uang, air, atau udara? Ini agak membingungkan. Sedangkan kita tahu, sesuatu yang melimpah di dunia ini banyak!”
“Di dalam sebuah ruang hampa tanpa handai taulan, ini adalah sebuah ruang yang sepi atau bagaimana ya? Ruang tertutup atau seperti apa? Hampa udara, ini berarti ruang yang pengap atau sejenisnya. Tapi ruangan apa?” Reno masih bertanya-tanya.
“Ya, bisa jadi ruang hampa udara. Padahal sebelumnya ia menyebut sesuatu yang melimpah. Jadi tak mungkin yang melimpah itu udara. Mungkin bisa jadi air, karena di dalam air hanya sedikit oksigen dan manusia tak bisa bernapas di dalam air. Apakah ini yang dimaksud dengan hampa?” tebak Dimas.
“Mungkin. Analisismu itu masuk akal. Jadi yang kucatat di sini adalah, mungkin pembunuhan itu akan terjadi tiga hari dari sekarang, ada kaitannya dengan air, korbannya mungkin seorang banci, dan kalimat terakhir adalah .... tubuhnya meringkuk beku sedingin es. Ya, kurasa ini pasti ada hubungannya dengan air. Masalahnya, kita tidak tahu apa air apa yang dimaksud di sini. Bisa jadi air laut, air kolam renang, atau air-air yang lain,” kata Reno.
“Oke ... oke! Kita abaikan dulu masalah air. Sekarang kita fokus pada korbannya saja. Menurutmu siapa banci yang dimaksud di sini? Bukankah ada ratusan banci di kota ini?”
“Tentu jumlah mereka ada ratusan, tetapi yang ada kaitannya dengan Daniel Prawira hanya ada satu. Aku lihat gelagatnya emang mirip perempuan. Caranya bertingkah-laku, berpenampilan serta cara berbicara. Sepertinya memang dia,” kata Reno.
“Siapa?”
“Ollan!”
***
Sejak usia belasan tahun, ia sudah diperkerjakan oleh Henry Tobing sebagai seorang manajer karena Henry Tobing merasa iba melihat pemuda lemah-gemulai hampir mengakhiri hidup karena frustasi tanpa teman dan pekerjaan. Ia sudah bersiap meloncat dari jembatan ketika Henry Tobing melewati jembatan itu.
Ollan adalah pendatang dari Sumatra untuk mengais rezeki di kota ini. Bahkan keluarganya pun tak terlalu perhatian padanya karena kekurangan fisik yang dipunyai. Itulah yang membuat Ollan merasa tertekan. Untunglah, Henry Tobing menyelamatkan hidupnya, bahkan memberi kesempatan untuk menjadi manajer.
Siang itu, Ollan yang baru saja pulang dari pemakaman Daniel Prawira segera bersiap di sebuah apartemen kecil dan murah. Ia menyewa apartemen itu karena harga sewanya memang pas di kantong. Hanya ada 10 lantai apartemen itu dan letaknya agak di pinggir kota, berdekatan dengan Kampung Hitam, kampung yang legendaris di kota itu.
Jadwalnya hari ini adalah ke salon untuk creambath dan sekaligus perawatan kulit muka. Ia menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dengan teliti, tak boleh ketinggalan barang-barang kecil namun berguna, seperti tisu, lip balm, dan bedak agar tak terkesan berminyak kulit mukanya. Ia menyiapkan keperluannya sembari bernyanyi-nyanyi kecil.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, mendendangkan lagu dangdut kesayangannya. Segera ia angkat, karena yang menelepon adalah Rianti Tobing.
“Iya Bu Rianti?” jawab Ollan.
__ADS_1
“Lan, kamu lagi sama Abang nggak hari ini?” tanya Rianti.
“Nggak tuh, Bu. Dari tadi malam Ollan nggak ketemu sama Ban Hen. Memang sih dia sempat mampir Cafe gitu, tapi habis itu kan Ollan pulang, Bu. Sampai siang ini Bang Hen belum juga menelepon,” terang Ollan.
“Masalahnya dia juga nggak pulang ke rumah, Lan. Kamu nggak tahu dia pergi ke mana gitu,” tanya Rianti.
“Waduh, kemana ya Bu? Nggak ngerti juga sih,” jawab Ollan.
“Ya udah Lan. Terima kasih. Eh, kamu mau ke salon kah hari ini?” tanya Rianti.
“Iya Bu. Aku mau ke salon langganan. Ibu mau bareng?” tanya Ollan.
“Boleh ... boleh! Biar aku aja yang jemputin kamu, Lan. Setengah jam lagi ya!”
“Siap Bu!”
***
Di dalam apartemennya yang mewah, Faishal Hadibrata meminum secangkir kopi yang baru saja diseduhnya, sambil mengecek pesan-pesan yang masuk dalam ponselnya. Seorang gadis cantik keluar dari dalam kamarnya, hanya mengenakan kimono tidur bermotif bunga.
“Terganggu dengan berita kematian gadis itu?” tanya wanita berkimono motif bunga itu.
“Ya, rekan kerjaku tewas terbunuh malam tadi. Padahal sebelumnya dia sempat menuduhku bahwa aku mengirim buket bunga berisi bangkai tikus kepadanya. Nggak kusangka, dia beneran terbunuh,” kata Faishal.
“Hmm, kamu bukan yang kirim buket bunga itu ke dia kan?” tanya wanita itu curiga.
“Ya tidak lah, Mel! Gila apa! Kalau aku suka bunuh gadis-gadis, kamu nggak bakalan ada di sini hari ini. Ya, aku memang pecinta gadis-gadis, tetapi aku bukan psikopat seperti kasus Ferdy itu!” Faishal meradang.
“Ya, aku pun tidak bilang kamu psikopat. Mungkin kamu ada urusan yang belum terselesaikan. Semua kan bisa saja terjadi. Eh, tapi aku nggak nuduh kamu sih,” ucap wanita itu.
“Jangan berpikir yang nggak-nggak ya Mel!”
“Oke, jadi gimana? Apa kamu akan menikahi aku?”
“Aku belum tahu. Sejujurnya aku agak benci dengan pernikahan. Mengapa kita tidak menikmati hidup saja tanpa harus ada ikatan pernikahan?” ucap Faishal.
__ADS_1
“Karena kita manusia, Faishal! Bukan binatang yang hanya mengumbar nafsu. Pahami itu!”
***