
Malam makin larut, angin dingin mulai berembus, bergelombang dari arah perkebunan. Hawa dingin mulai menggigit kulit. Namun, di taman samping, lima wanita muda masih berkumpul, seolah tak terpengaruh dengan sekeliling. Pertemuan para wanita di taman samping itu mulai menyisakan ketegangan yang luar biasa di antara mereka. Bagaimana tidak? Secara gamblang, ancaman pembunuhan itu sudah dikirimkan melalui secarik kertas yang diselipkan di bawah pintu kamar Mariah. Mereka masih belum bisa menebak, siapa yang melakukan itu. Apakah Stella atau salah seorang di antara mereka?
"Jadi bagaimana langkah kita? Apa tidak sebaiknya kita minta bantuan Ammar atau Reno?" tanya Lily.
"Tidak! Jangan! Ini masalah kita, jadi kita yang harus bertanggungjawab. Aku tidak takut menghadapi ancaman itu. Sungguh! Kalau memang pelakunya itu salah satu dari kalian yang ada di sini, ayo coba hadapi aku! Aku sudah muak dengan semua permainan licik ini!" ucap Rosita dengan lantang, sambil menatap ke semua teman-temannya yang hadir di situ.
"Kurasa Rosita benar. Biar saja mereka menyelidiki, tetapi jangan sampai rahasia kita ini bocor ke mereka. Karena sejujurnya aku malu dengan masa laluku. Ammar memandangku selama ini sebagai gadis sempurna tanpa cela. Tentu berat bagi dia menerima kalau aku mempunyai masa lalu sekelam itu," tambah Mariah.
"Maaf boleh aku berbicara?" sela Nadine
"Ya silakan Nadine!" kata Mariah.
"Kalau menurutku mending kita nggak usah saling menuduh atau curiga. Tetapi kita harus bekerjasama untuk membekuk si licik ini. Kita nggak boleh jalan sendiri-sendiri, tetapi harus saling membantu dan mendukung. Kalau kita berselisih satu sama lain, maka posisi kita akan mudah untuk dilemahkan," ucap Nadine.
"Nah, aku juga mau bilang begitu. Aku setuju dengan Nadine," sambung Lily.
"Baik. Sekarang kita nggak usah panik. Malam udah sangat larut, dan kita harus kembali ke kamar karena suami-suami kita mungkin akan cemas menunggu kita. Untuk sementara pertemuan ini cukup, nanti mungkin ada pertemuan lanjut, sambil melihat kondisi yang ada. Yang jelas saat ini Aditya sudah menghilang, dan mungkin berada di ruang bawah tanah itu. Apakah ada yang bersedia mencari ke sana?" tanya Mariah.
"Aku ... aku takut, dan rasanya tak mau kembali lagi ke sana. Mungkin yang lain saja," ucap Nadine.
"Mengapa tidak kamu saja yang ke dalam sana, Mariah? Bukankah kamu pemilik kastil ini? Pasti kamu akan lebih paham ruang dalam tanah sana dibandingkan dengan kami," ujar Rosita.
Mariah menggeleng. Bukannya ia tidak mau sebenarnya, tetapi pada kasus pembunuhan para penulis, ia telah disekap beberapa hari di dalam ruang bawah tanah, sehingga hal itu menyisakan trauma yang sangat mendalam baginya. ia bersumpah tak akan bersedia untuk masuk ke dalam ruang bawah tanah lagi. Jangankan untuk masuk ke ruang bawah tanah, mendengar kata ruang bawah tanah saja membuat dada Mariah terasa sesak.
"Maaf, aku nggak bisa," gumam Mariah lirih.
"Kalau begitu serahkan saja urusan Aditya pada polisi-polisi itu, dan kita tunggu saja hasilnya. Karena tak ada seorang pun dari kita yang tahu seluk-beluk ruang bawah tanah. Salah-salah nanti kita tersesat dan malah jadi korban si pembunuh itu," tambah Maya.
Semua terdiam, saling menunggu. Keheningan malam mulai terasa, hanya terdengar suara serangga malam yang berderik-derik. Angin dingin semakin menyayat kulit. Mereka mulai resah. Pertemuan rahasia itu harus diakhiri. Satu-persatu mereka meninggalkan tempat itu dengan perasaan masih diliputi rasa gundah. Mereka berjalan dengan resah, masuk ke dalam kastil yang hening. Mereka masuk ke dalam kamar masing-masing, ingin segera beristirahat.
Setelah berpisah dengan yang lain, Nadine juga masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Ryan tampak tidur di lantai, seperti kelelahan. Ada rasa iba muncul saat melihat suaminya tidur di atas karpet. Ia mengambil selembar selimut dan menutupi tubuh suaminya.
Sementara di kamar lain, Rosita mendapati sang suami yang gelisah karena sudah menunggunya. Edwin berdiri di depan jendela, sambil menatap area luar yang sangat gelap. Rosita jadi tidak enak karena telah membuatnya suaminya khawatir. Ia berusaha menenangkan perasaannya.
"Jangan khawatir, Edwin. Aku keluar bareng-bareng sama yang lain kok. Jadi aman saja," ucap Rosita.
__ADS_1
"Tumben? Memangnya kalian pergi kemana malam-malam begini?" tanya Edwin.
"Mmm, hanya jalan-jalan saja sih di sekitar kastil, sambil cerita-cerita. Ya biasalah ibu-ibu muda. Reuni ini kan memang harusya buat bernostalgia sambil bersenang-senang. Maafkan aku ya Win kalau buat kamu cemas," terang Rosita.
"Tetap jaga diri, Rosita. Kita tak pernah tahu siapa musuh kita sebenarnya. Kadang mereka mengenakan topeng di hadapan kita, tetapi sangat menginginkan kehancuran. Kamu kan tahu di kastil ini situasinya sedang kacau. Kita nggak tahu siapa yang berada di sekitar kita," pesan Edwin.
"Iya Win, makasih sudah mengingatkan. Tapi aku kenal mereka sejak remaja kok, jadi tenang saja ya. Semua akan baik-baik saja. Aku mau bersihin muka dulu, setelah itu kita tidur ya? Aku lelah sekali hari ini, ingin segera istirahat biar besok bisa bangun pagi dan jalan-jalan pagi di sekitar sini. Temani aku ya, Win?"
Edwin hanya mengangguk. Ia mengecek pintu kamar, sebelum berangkat tidur, karena penting sekali memastikan pintu dalam keadaan terkunci di malam hari. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di saat penghuni terlelap. Kejahatan bisa terjadi saat mereka tak sadar. Edwin tidak mau ada kejadian buruk di kastil ini lagi.
Di kamar lain. Mariah merasa sedikit lega karena telah menyampaikan apa yang menjadi kegundahan hatinya kepada teman-temannya. Ia menyisir rambut di depan meja rias, melihat bayangan paras yang cantik terpantul di cermin. Sementara, Ammar melihat gerak-geriknya dengan paras sedikit khawatir.
"Kamu baik-baik saja, Mariah?" tanya Ammar.
"Ya, tentu saja. Aku merasa baik-bak saja. Memangnya ada apa, Ammar?" Mariah masih terus menyisir rambut di depan cermin rias.
"Ada yang ingin kutanyakan kepadamu berkaitan dengan kastil ini, Mariah. Mungkin kamu tahu. Rencananya besok aku akan memeriksa isi ruangan bawah tanah, tetapi Dimas bilang kalau ruangan bawah tanah itu dipenuhi labirin yang membingungkan, sehingga untuk turun ke sana diperlukan semacam peta atau denah. Apakah kastil ini mempunyai cetak biru atau denah ruangan yang bisa kami pelajari, sehingga kami bisa masuk tanpa tersesat?" tanya Ammar.
Mariah meletakkan sisirnya, seraya menoleh ke belakang. Ia berusaha mengingat-ingat, karena harus diakui jarang sekali ia berkomunikasi dengan Anggara. Namun, ia ingat bahwa pamannya itu pernah menunjukkan padanya sebuah denah ruang bawah tanah yang dicetak di kertas kuno berwarna cokelat. Seingatnya, paman menunjukkan kertas itu di ruang baca lantai tiga. tetapi ia tidak yakin apakah sekarang denah itu masih ada atau tidak, karena hal itu terjadi sudah lama sekali, sebelum menikah dengan Ammar. Ia menyampaikan hal itu kepada Ammar.
"Apakah sebelumnya ruang kerja itu selalu terkunci?" tanya Ammar.
"Entahlah. Setahuku selalu terkunci. tetapi aku kan tidak selalu tinggal di sini. Biasanya kunci itu yang urusin adalah Kara. Banyak pula tamu-tamu yang berkunjung di kastil ini sebelumnya. Jadi aku tidak bisa memastikannya," jawab Mariah.
"Baiklah. Besok aku akan mencari denah itu di sana. Semoga ketemu," ucap Ammar.
***
Malam semakin dingin menusuk-nusuk kulit. Juned yang sedang bertugas patroli malam itu. Ia menyisir kawasan belakang kastil, mulai dari pintu belakang yang menghubungkan dengan dapur, kolam renang, gudang, dan tembok belakang. Kawasan di sana selalu gelap dan sepi, sehingga sangat ideal untuk tempat persembunyian. Juned bersikap lebih waspada, sambil merapatkan jaket. Entah mengapa hawa malam ini lebih dingin daripada biasanya. Ia juga memakai penutup kepala, untuk melindungi dari udara dingin. Selain itu, sebelum bertugas, ia selalu membekali diri dengan sebotol kopi hitam. Kafein dari kopi ini mencegahnya dari rasa kantuk yang menyiksa.
Sementara di dalam kastil, Reno juga berjaga-jaga dari segala kemungkinan. namun, ia sadar kastil ini berukuran raksasa, seperti kerajaan yang terabaikan. Kadang ia merasa seperti tersesat di dalam kastil karena banyak lorong dan ruangan yang ada di dalamnya. Ia hanya menghafal jalan menuju kamarnya sendiri, dan ruang-ruang penting, seperti ruang makan dan ruang baca. Selebihnya, banyak ruang yang belum tereksplorasi.
Malam ini, ia melewati lorong menuju ruang baca. Lorong itu tampak gelap. karena lampu memang sengaja dimatikan. Namun, ia melihat ke arah ruang baca yang lampunya menyala. Dalam asumsinya, apabila ruang baca menyala, tentu ada orang yang sedang membaca di dalamnya. Namun, bukankah hari sudah sangat larut? Siapa pula yang menyempatkan untuk membaca di malam seperti ini? Bukankah besok masih ada waktu?
Reno membelokkan diri ke ruang baca, melihat siapa yang sedang berada di dalam sana. Namun, ruangan baca terlihat sepi dan lengang, tak ada tanda-tanda orang di dalam ruangan ini. Lalu mengapa ruangan ini ditinggal dalam keadaan menyala lampunya?
__ADS_1
Ia memutuskan untuk keluar dari ruang baca, tetapi tiba-tiba ia melihat sebuah dinding terbuka, menunjukkan sisi dalam yang gelap. Ia tidak pernah melihat dinding ini sebelumnya. Biasanya tertutup oleh lemari buku. Reno terperanjat. Mungkin ini yang dimaksud dengan jalan rahasia menuju ruang bawah tanah. Tak salah lagi! Seseorang telah membuka tuas jalan rahasia, hingga dinding itu terbuka.
Walau Reno tidak tahu apa yang ada di dalam sana, ia memberanikan diri untuk mencoba melangkah memasuki lorong gelap di balik dinding yang terbuka itu. Ia melihat sebuah lorong memanjang ke depan. Lorong itu agak sempit dan gelap tetapi tampak lurus. Ia menduga jalan rahasia ini sering diguakan si psikopat untuk keluar masuk ke bawah tanah, karena lebih aman apabila dibandingkan kalau lewat tingkap yang ada di dekat dapur.
Ia memasuki lorong gelap itu sambil menyalakan senternya. Sepertinya lorong itu memanjang ke depan, kemudian ia melihat lorong berhenti pada sebuah tangga berundak yang menuju ke bawah. Ya, inilah pertanda bahwa lorong ini akan membawa masuk ke dalam ruangan bawah tanah. Agak ragu Reno menuruni anak tangga itu, tetapi ia ingin sekali memeriksa, ada apa sebenarnya di bawah tanah, apabila lewat dari jalan rahasia ini.
Ia mulai memasuki kawasan lorong yang diapit bilik-bilik. Apabila dibandingkan dengan bilik-bilik yang berada di lorong dekat dapur, bilik-bilik ini terlihat sedikit berukuran lebih luas. Namun, suasana sama-sama menyeramkan. Reno tetap bisa merasakan aura negatif berlama-lama berada di lorong ini. Reno tetap waspada, menggunakan panca indera untuk merasakan apa saja yang ada disekelilingnya.
Dug ... dug ... dug!
Tiba-tiba Reno mendengar seperti suara tembok yang dipukul-pukul. Suara itu terdengar seperti tak jauh, tetapi Reno tidak bisa memastikan dari mana sumbernya. Mungkin hanya halusinasi saja, pikirnya. Ia tak terlalu memikirkan suara ketukan itu, Namun terdengar lagi suara-suara itu, bahkan lebih kencang. Reno mulai merasa tidak nyaman berada di dalamnya. Apakah ada orang lain di ruang bawah tanah ini? Siapa yang mengetuk-ngetuk dinding?
Sebenarnya suara ketukan itu berasal dari sebuah bilik luas yang ditempati Niken. Rupanya sosok misterius itu sudah melepas ikatan si tangan Niken dan juga membuka lakban dari mulutnya. Niken tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Otaknya beraksi untuk berusaha keluar dari dalam bilik. Pintu bilik tak mungkin dibuka begitu saja, karena digembok. Ia mencoba menjebol dinding, karena ia menemukan sebuah batu di ujung ruangan. Ia sengaja mengetuk-ngetuk tembok, untuk mengukur seberapa tebal tembok itu. Siapa tahu pula ada seorang yang lewat dan bisa mendengat ketukannya, sehingg bisa membantunya keluar dari tempat jahanam ini.
Sebenarnya, waktu di kepolisian, ruang bawah tanah ini sering disebut-sebut sebagai tempat angker dan menyeramkan. Bahkan sempat dibuka sebagai tempat wisata untuk ditawarkan kepada orang-orang yang bernyali tinggi. Namun, Niken tidak pernah terbayang kalau kini ia langsung berada di dalam ruang bawah tanah yang menyeramkan ini. Sekarang, hal yang paling diinginkannya adalah segera keluar dari bilik, dan kembali menghirup udara bebas. Ia sudah merasa tertekan berada di bilik.
Di lorong, Reno berjalan penuh waspada. Ia mendengar suara-suara aneh yang menurutnya sudah biasa. Ya, tempat seperti ini sudah dapat dipastikan akan membawa aura-aura negatif yang tak kasat mata. Itulah sebabnya Mariah enggan sekali berada di ruang bawah tanah ini, karena ia mempunyai mata batin yang terbuka, sehingga ia bisa merasakan kehadiran hal-hal yang tak masuk di akal.
"Aaaarrrgh!"
Tiba-tiba, sayup-sayup Reno mendengar suara teriakan yang memilukan. Reno segera bereaksi. ia tahu suara teriakan itu adalah suara pria, tetapi tidak dapat dipastikan dari mana datangnya arah suara teriakan ini. ia melihat ke samping kanan dan kiri, ada beberapa percabangan di lorong ini, bahkan di dalam bilik pun, kadang tersambung dengan bilik lain. Ini benar-benar membingungkan. Suara teriakan tadi sangat jelas terdengar, hanya saja Reno tidak dapat memastikan keberadaannya.
"Siapa yang berteriak di tengah malam begini? Oh, Tuhan. Firasatku mengatakan ada hal yang tak baik di sini. Suara seorang pria. Semoga aku masih bisa menolongnya!" gumam Reno.
Reno membulatkan tekad untuk terus mengikuti langkah kakinya. Ia tidak boleh menyerah begitu saja. Ia menyiapkan pistol di tangan, kalau-kalau terjadi hal-hal yang tak terduga.
"Ada orang di sini?!" pekik Reno dengan suara lantang.
Suara Reno bergema di sepanjang lorong, terdengar di bilik-bilik sekitarnya. Bahkan suara itu tedengar di teling Niken, walau tidak begitu jelas. Ia langsung berjalan menuju pintu baja, berusaha mengintip arah luar, tetapi ia tak bisa melihat apa-apa.
"Tolong! Tolong aku!"
Niken mencoba berteriak, tetapi entah mengapa suaranya hanya mengendap di tenggorokan, tidak bisa terdengar lantang. Tenaganya mulai lemah, dan energinya terkuras untuk mengetuk dinding. ia berusaha untuk berteriak lagi, tetapi terasa lemah. Ia hanya pasrah. Semua kesombongan yang ia bangun sebelum masuk ke dalam kastil perlahan runtuh bak istana pasir yang diterjang ombak.
***
__ADS_1