Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
166. Tuduhan


__ADS_3

Cahaya mentari menerobos jendela kamar yang sengaja dibiarkan terbuka, ketika Nayya baru saja membuka mata. Baru pertama kali ini, setelah beberapa hari terakhir ia tidak dapat tidur dengan nyenyak. Ranjang yang ia gunakan untuk tidur memang terlihat tidak nyaman, tetapi tentu saja ini jauh lebih baik daripada ranjang busa yang ada di apartemen tempatnya disekap. Ia bersyukur bisa lolos dari cengkeraman sosok misterius itu.


Bagaimanapun, kebebasan yang ia dapat kali ini bukanlah sesuatu yang mudah. Ia harus melewati tekanan luar biasa baik secara fisik atau mental. Nayya duduk di tepi ranjang sambil merapatkan kedua tangan di dada. Cuaca sebenarnya tak begitu dingin, tetapi ia merasa sedikit cemas dengan keadaan dirinya. Ia merindukan kamar pribadinya yang dipenuhi dengan boneka, merindukan masakan ibunya, dan juga merindukan suasana kampus tempat ia kuliah.


Sejenak pikirannya melayang kepada Gerry. Ia berharap pria muda itu baik-baik saja. Sebelumnya, ia tak mengenal baik, tetapi kedekatan selama beberapa hari selama disekap menumbuhkan perasaan senasib dan simpati. Nayya menggelengkan kepalanya, kemudian beranjak untuk melongok ke arah jendela. Tak ada yang menarik di luar sana. Hanya kampung padat yang kumuh.


Tok ... tok ... tok!


Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Nayya segera membuka, mendapati Badi membawa beberapa lembar pakaian yang dilipat rapi di tangannya. Ia menyerahkan pakaian itu kepada Nayya.


“Mandilah, dan pakai pakaian ini. Kurasa baju yang kamu pakai itu kotor dan bau karena lama tidak dicuci. Ini baju milik Tari. Kuharap pas untukmu. Kukira ukuran kalian tak jauh beda,” ucap Badi.


Nayya menerima pakaian itu seraya tersenyum.


“Terima kasih. Maaf, aku merepotkan kalian,” gumam Nayya.


“Kami tidak merasa repot. Jangan khawatir, kami akan melindungimu dari manusia biadab itu. Kamu boleh tinggal selama yang kamu mau. Maaf, mungkin tidak senyaman di rumah sendiri, tapi kami menjamin keamananmu,” ucap Badi.


“Sebenarnya aku merindukan rumah, Bang. Kalau boleh aku ingin pulang saja ke rumah,” lirih Nayya.


“Untuk saat ini jangan dulu, Nayya. Di luar si pembunuh itu masih berkeliaran. Bisa jadi kalau dia tahu bahwa kamu pulang ke rumah, dia akan menculikmu lagi, bisa jadi itu akan membahayakan anggota keluargamu yang lain. Jadi kusarankan, lebih baik kamu di sini dulu. Nanti kalau semua sudah aman, kami sendiri yang akan mengantarmu pulang,” terang pria berwajah sangar itu.


Nayya mengangguk sambil menghela napas, berusaha untuk memahami perkataan Badi. Setelah menerima pemberian pakaian dari Badi, ia berniat untuk mandi. Badi benar, bahwa baju yang dikenakannya terlihat kotor dan bau, karena ia nyaris tak pernah berganti baju. Ia melihat baju pemberian dari Badi. Tumpukan baju yang paling atas adalah sebuah blus warna merah dengan motif polkadot warna putih. Bagian dadanya tampak berpotongan rendah, sehingga mungkin apabila ia pakai akan mempertontonkan bagian dada. Jelas ini bukan baju yang diharapkannya. Namun, kali ini Nayya harus berdamai dengan keadaan. Ini bukan saatnya memilih-milih baju yang cocok. Ia harus memakai baju yang ada.


Selepas mandi dan berganti pakaian milik Tari, Nayya mematut bayangan dirinya di depan cermin tua yang kacanya sudah mulai buram. Ia tampak cantik dan bersih. Ia masih mematut-matut di depan cermin, ketika ada suara yang mengagetkannya.


“Kamu cantik!”


Nayya membalikkan badan, mendapati Badi yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangnya. Nayya sontak tersipu malu. Ia hanya menunduk, tak berani menatap pria itu.


“Ma-maaf Bang ....”


“Mengapa minta maaf? O ya, kamu bisa memasak?” tanya Badi.


“Tidak terlalu pintar, Bang. Kenapa Bang?”


“Kalau kamu tidak berkeberatan, bisakah masak nasi goreng untuk kami? Kami punya bahannya, tetapi tidak bisa memasaknya. Biasanya Tari yang memasak untuk kami. Namun, semenjak dia meninggal, tak ada lagi yang memasak,” ucap Badi.


“Tentu ... tentu, Bang. Aku akan masak untuk kalian. Tak apa Bang,” ucap Nayya.


Badi tersenyum kecil, kemudian mengisyaratkan agar Nayya mengikuti langkahnya menuju dapur. Di dapur yang tak begitu besar, Nayya melihat sebakul nasi yang siap untuk dimasak. Badi mempersilakan Nayya untuk memasak, sementara ia menjumpai Raymond yang sedang duduk di teras sambil menghisap rokok. Pentolan utama The Raymond Brothers itu tampak asyik menikmati tiap hisapan, kemudian mengeluarkan kepulan asap dari mulut. Ia seperti tak mempedulikan kehadiran Badi yang duduk di kursi di dekatnya.


“Jadi bagaimana? Apa ada kabar?” tanya Badi pada Raymond.


“Anak buahku sudah menjelajah penjuru kota, tetapi tidak bisa menemukan sosok itu. Ia seperti hilang ditelan bumi. Apartemen juga sudah diintai, tetapi ia tak kembali ke sana. Demikian pula di rumahnya. Aku juga bingung di mana ia berada. Atau mungkin ia kabur ke luar kota?” ucap Raymond.


“Kabur? Aku tidak berpikir seperti itu sih. Kurasa dia berada di suatu tempat di kota ini, mengkin bersembunyi atau menyamar menjadi warga biasa, dan akan beraksi di saat semuanya lengah,” ucap Badi.


“Jadi di mana menurutmu?”


“Aku sama sekali nggak punya bayangan. Sosok yang kita hadapi ini punya banyak tempat dan ia sangat licin seperti belut. Jangankan kita, polisi bahkan tidak bisa menangkapnya.”

__ADS_1


“Polisi memang tidak bisa apa-apa. Ingat! Kita sudah mengantongi identitas si pembunuh Tari, hanya saja kita belum menemukannya. Aku tidak mau polisi-polisi bodoh mengambil alih apa yang harusnya kita lakukan. Aku yakin, dalam waktu dekat kita pasti bisa membekuk si bajingan itu dengan tangan kita sendiri!” ucap Raymond dengan mata berbinar.


Sementara dari arah dapur sudah mulai tercium aroma bumbu nasi goreng yang harum, membuat semakin lapar perut para pria yang ada di rumah itu.


“Kamu menyuruh dia memasak?” tanya Raymond.


“Bukan, bukan menyuruh tetapi meminta bantuan padanya. Itu pun kalau dia nggak keberatan. Kurasa dia melakukan dengan senang hati,” jawab Badi sedikit gagap.


“Aku harap dia bisa memasak dengan baik,” gumam Raymond sambil tersenyum kecil.


Badi mengangguk cepatl. Raymond masih asyik dengan rokok yang dihisapnya, sambil menatap arah jalan di depan rumah yang lengang pagi itu. Sebuah pemandangan yang biasa di Kampung Hitam. Kampung yang menjadi buah bibir warga kota.


***


Dalam kecemasan yang mendalam, Rasty berusaha untuk tetap tenang. Pagi ini ia memanfaatkan waktu untuk melihat koleksi tanaman hias di samping rumah. Tanaman hias itu ditanam di dalam pot-pot kecil, kemudian disusun rapi di atas rak-rak yang didesain sedemikian rupa. Tanaman itu sengaja ditanam oleh Bu Mariyati di sela-sela waktu senggangnya. Banyak tanaman yang berbunga warna-warni, sehingga tampak sedap dipandang mata.


Rasty sedang mencabut rumput yang tumbuh di sela-sela tanaman ketika Rudi mendekat. Paras pria muda itu tampak cemas. Ia melihat sekeliling untuk memastikan sekitarnya aman.


“Kamu sudah baca pesanku tadi?” tanya Rudi.


Rasty menghentikan aktivitasnya. Ia tidak menyangka Rudi berada di tempat itu. Selama ini, hubungannya dengan Rudi kurang baik semenjak perselingkuhan terang-terangan yang dilakukan pria muda itu bersama Jenny.


“Iya, aku baca!” jawab Rasty dingin.


“Aku mau keluar dari rumah keparat ini!” gumam Rudi.


“Kamu pikir kamu bisa? Sekali kamu keluar, maka semua orang akan berpikir bahwa kamu adalah pembunuhnya. Saranku, kita ikuti saja permainan berdarah ini hingga akhir untuk mengetahui siapa sebenarnya dibalik semua kekacauan ini,” ucap Rasty.


“Siapa yang dapat menjamin bahwa kamu bukan pembunuhnya, Rud? Kamu ingat nggak, Jenny ditemukan tewas dalam keadaan hamil. Bisa saja kamu sengaja menghabisi dia untuk menutupi perbuatan bejatmu itu!” tuduh Rasty.


“Gila! Itu teori yang tergila yang pernah kudengar. Aku nggak akan senekat itu. Yah, aku memang pernah melakukan dengan Jenny, tapi kupastikan Jenny tidak mengandung anakku, karena aku selalu melakukan dengan aman. Aku tidak bodoh!” kilah Rudi.


“Imposibble! Lalu kalau bukan anakmu, itu anak siapa? Kamu pikir siapa orang sebelum kamu yang bercinta dengan Jenny?”


“Aku nggak tau lah! Aku nggak peduli dia melakukan dengan siapa sebelumnya. Aku bukan tipe orang suka mengorek masa lalu orang lain. Yang jelas janin yang dikandung Jenny bukan anakku. Malahan aku mengira semua ini adalah jebakan. Jenny sengaja memacari aku agar ada orang yang bisa bertanggungjawab atas bayinya,” kata Rudi.


Rasty merasa geram dengan jawaban Rudi. Ia masih ingat betapa rasa sakit masih menggores hatinya yang terdalam. Kalau ia mengingat Rudi yang mencampakannya begitu saja, ia merasa sangat marah dan kecewa. Apalagi Rudi juga pernah menyangka bahwa dia adalah pembunuh Jenny yang sebenarnya.


“Maaf Rud! Aku tidak bisa menerima segala pembelaanmu!” sewot Rasty.


“Oke,oke! Terserah apa yang ada di otakmu Rasty. Karena sesungguhnya itu nggak penting. Lupakan saja. Saat ini mari kita fokus dengan keselamatan kita masing-masing. Maafkan aku yang pernah menuduhmu sebagai pembunuh Jenny. Saat itu aku memang sedang dibutakan. Kita harus mengesampingkan perasaan yang ada di antara kita. Kumohon Ras. Hanya kamu satu-satunya yang kupercaya di rumah isolasi ini. Aku curiga pada mereka semua. Kita harus bekerja sama dan saling melindungi,” pinta Rudi.


Rasty terdiam sejenak. Ia harus berani mengakui bahwa di lubuk hati paling dalam ia masih menyayangi pria itu. Kini, hatinya terasa luluh saat Rudi memohon padanya seperti itu. Ia mecoba mengesampingkan segala rasa sakit yang muncul.


“Kamu mau aku melakukan apa?” tanya Rasty kemudian.


“Kuurasa kita tidak bisa bekerja sendiri dalam hal ini, Ras. Tapi aku nggak mau kerja sama dengan yang lain. Kamu lihat Alex? Dia sangat angkuh dan mencurigakan, sok pintar. Aku sangat mencurigainya dan khawatir dia adalah dalang dibalik semua kekacauan ini!” kata Rudi.


“Alex? Bukankah dia terlihat culun?”


“Kamu jangan bodoh, Ras! Kita sebenarnya sedang ditipu oleh tampang culun Alex. Kamu pernah nggak nonton film horror ‘Scream’? Tokoh paling culun dalam film itu ternyata adalah seorang psikopat. Aku kok khawatir Alex juga begitu. Kita harus waspada. Dia adalah orang yang menentang isolasi ini. Aku curiga banget sama dia!” terang Rudi.

__ADS_1


Rasty mengernyitkan dahi, mencoba mencerna penjelasan Rudi. Sebenarnya, apa yang disampaikan Rudi sangat masuk akal, tetapi Rasty tak mengerti motif apa yang ada kalau memang benar Alex pembunuhnya.


“Hai! Kalian lagi apa?”


Terdengar suara tiba-tiba menyapa. Mereka menoleh ke arah suara, mendapati Alex yang tiba-tiba muncul dari halaman belakang. Alex berjalan mendekati mereka. Suasana mendadak canggung. Rudi dan Rasty hanya terdiam.


“Mana yang lain?” tanya Alex.


“Eh, nggak tau sih. Tadi kita cuma berdua saja di sini. Mungkin di tempat lain,” jawab Rudi.


“Kamu dari mana, Lex?” tanya Rasty penuh selidik.


Rasty menatap Alex dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia melihat celana Alex yang sedikit kotor karena lumpur, serta ada duri-duri tanaman yang menempel di celananya. Sepatu kets warna putih yang sedang dipakai juga tampak kotor karena lumpur. Rasty memicingkan mata, sedikit curiga.


“Eh, aku ... aku tadi dari belakang sana, cuma nggak sampai ke kuburan. Aku nggak mau seperti Miranti yang terperosok ke dalam sumur tua. Cuma lihat-lihat saja terus kembali,” terang Alex.


“Kamu nggak dengar ya penjelasan kemarin kalau kita dilarang keluar dari area rumah!” protes Rasty.


“Iya aku dengar. Tapi siapa yang menjamin kalau di dalam rumah juga aman? Toh, Miranti juga tewas di dalam kamarnya sendiri! Sebuah tempat yang dirasa paling aman. Kurasa melarang kita untuk keluar dari area rumah adalah keputusan sepihak yang bodoh. Suasana terkurung seperti ini gampang membuat kita frustasi. Lagian, aku nggak jauh-jauh kok!” kilah Alex.


“Rasty benar, Alex!”


Tiba-tiba Rudi angkat bicara.


“Apa maksudmu?”


“Aturan itu dibuat untuk keselamatan kita bersama, jadi sebaiknya kita patuhi. Jangan seenaknya sendiri, kecuali kalau kamu mau mati setelah ini. Aku sangsi, biasanya orang yang suka menantang maut adalah orang yang nekat atau ....”


Rudi menghentikan kalimatnya sejenak.


“Atau apa?” tanya Alex penasaran.


“Atau dia adalah pelaku sebenarnya!” tandas Rudi.


“Kamu nuduh aku sebagai pembunuhnya? Atas dasar apa?” tanya Alex.


“Aku nggak sedang nuduh kamu, Lex! Itu pandanganku secara umum. Jadi bisa berarti siapa saja. Jangan tersinggung. Kalau kamu memang bukan pelakunya, kamu nggak perlu tersinggung,” kata Rudi.


“Kalimatmu itu sungguh menyudutkan. Hati-hati sebelum menuduh, Rud. Jangan kira kamu juga nggak punya alibi. Jenny adalah kekasihmu yang sedang hamil. Nayya juga kekasihmu. Semua yang mati mengarah kepadamu. Pikirmu polisi bodoh? Lihat saja! ia akan dengan cepat mencidukmu!” balas Alex.


“Wow ... wow! Tenang Lex. Kamu nggak perlu emosi. Kan sudah kubilang tadi kalau aku tidak sedang menuduhmu. Jadi kamu santai saja. Dalam kondisi seperti ini, pikiran kita harus dingin dan jangan panik. Tapi untuk saling percaya, aku nggak akan. Masing-masing yang ada di sini punya alibi masing-masing. Biarkan saja hukum yang bekerja!” ucap Rudi.


“Sudahlah! Aku nggak perlu dengar khotbahmu. Walaupun kamu berkilah, aku tahu kamu sedang nuduh aku. Kamu pikir aku nggak bisa baca dari sorot matamu itu? Kita lihat saja nanti ya, Rud. Siapa di antara kita yang bukan pembunuh!”


Setelah berkata itu, Alex segera pergi meninggalkan Rudi dan Rasty di kebun samping.


“Lihat matanya nggak! Dia kelihatan panik, bukan? Aku makin yakin kalau Alex itu sangat mencurigakan. Hati-hatilah kalau berdekatan dengan dia. Instingku semakin menguat,” kata Rudi.


Rasty tak menanggapi apapun. Ia tak berani berspekulasi. Namun diam-diam, tuduhan Rudi kepada Alex sangat mempengaruhi pikirannya. Rudi berhasil memberikan opini bahwa pelaku pembunuhan ini adalah Alex. Rasty makin bimbang. Atau Rudi memang sengaja menuduh Alex agar ia bisa berlepas diri?


***

__ADS_1


__ADS_2