Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
211. Pengawalan


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Niken berhenti tak jauh dari rumah Anita. Polisi wanita itu sengaja memarkir mobil agak berjarak, agar tak menimbulkan kecurigaan. Sesuai pesan Reno, ia sengaja tak memakai seragam polisi. Ia tampak cantik memamaki blus sederhana dipadu dengan celana jeans warna biru, serta tak lupa kacamata hitam. Ia keluar dari mobil, kemudian menyusuri trotoar menuju rumah Anita.


Situasi jalan tak terlalu ramai, karena di situ adalah kawasan pemukiman kelas menengah. Rumah-rumah yang berderet tak begitu mewah, tetapi tak dapat pula dikatakan sederhana. Deretan pohon-pohon peneduh jalan tumbuh besar, sehingga suasana siang menjelang sore itu tak begitu panas. Tak ada pejalan kaki yang terlihat selain dirinya.


Niken membuka pagar rumah Anita yang tak terkunci, kemudian langsung menuju halaman mungil yang dihiasi taman bunga kecil. Sejenak Anita menengok ke kiri dan ke kanan, memastikan suasana aman. Rumah itu sungguh lengang. Ia berharap Anita masih ada di dalam dan tidak ke mana-mana. Polisi wanita itu memencet bel yang berada di dekat pintu.


Tak lama kemudian, pintu terbuka.


Seorang gadis belia dengan rambut sedikit acak-acakan membika pintu, tampak terkejut melihat kehadiran Niken.


“Anita Wijaya?” tanya Niken.


“I-iya saya Anita Wijaya. Mbak siapa?” tanya Anita ragu-ragu.


“Oh, aku Niken. Sebenarnya aku kesini karena Pak Reno. Dia memintaku untuk melihat keadaanmu, dan kurasa kamu baik-baik saja,” ucap Niken.


“Oh, jadi ... maaf kalau saya tidak sopan. Saya tidak tahu kalau Ibu ini polisi. Ya, tadi Pak Reno memang bilang bahwa dia akan meminta seorang polisi untuk melindungi saya. Saya ... saya bener-bener nggak nyangka kalau ibu ini polisi, karena tidak berseragam dan kelihatan cantik,” ucap Anita sambil tersenyum malu.


“Jadi ... boleh saya masuk ke dalam?”


“Oh tentu saja!”


Anita mempersilakan masuk polisi wanita itu dengan segera. Niken melihat-lihat kondisi dalam rumah, memeriksa kemungkinan dan celah yang mungkin bisa digunakan seseorang untuk menyusup. Ia memeriksa kondisi jendela dan pintu, serta-serta akses masuk lainnya.


“Maaf, Ibu mau minum apa?” tanya Anita.


“Nggak usah terlalu formal, Anita. Jangan panggil Ibu, panggil Mbak atau Kak saja ya. Kamu buat minum apa saja terserah. Oya, tadi saya masuk ke dalam pagar depan tanpa dikunci. Itu sengaja tak dikunci atau bagaimana?"


Niken berbicara sambil memeriksa jendela dapur yang terbuat dari kawat kasa. Menurutnya, kawat kasa ini sangat mudah dilewati. Hanya bermodal gunting, seseorang yang punya niat jahat tentu akan mudah memasuki jendela ini.


“Biasanya memang tak pernah dikunci, Bu. Eh, Kak ... maaf!”


“Tak pernah dikunci? Itu adalah kesalahan pertamamu. Bagaimana kalau yang masuk adalah orang jahat? Kamu tahu sendiri, di lingkungan rumah ini suasananya sangat sepi. Kalaupun kamu berteriak, belum tentu akan ada orang yang mau menolongmu. Kusarankan, kamu kunci pagar depan. Dan jendela dapur ini, sangat mudah untuk dirusak. Mungkin kamu bisa pasang sekat atau apa pun yang menyulitkan seseorang masuk ke dalam,” saran Niken.


“Oh iya, nanti saya akan suruh orang ke sini untuk memperbaiki itu,” kata Anita.


Setelah berkeliling ke dalam rumah, Niken menikmati teh lemon hangat yang disajikan oleh Anita. Keduanya duduk di ruang tamu yang berdesain minimalis.


“Kamu tinggal sendirian di sini?” tanya Niken.

__ADS_1


“Iya, Kak, Saya pendatang dari luar pulau, dan saya tak punya siapa-siapa di kota ini. Hubungan saya dengan Pak Daniel sudah begitu dekat, jadi saat mendengar dia meninggal, saya benar-benar terpukul. Tak habis pikir, mengapa ada orang jahat yang tega menghabisi nyawanya,” ucap Anita dengan sedih.


Niken hanya menghela napas, berusaha memastikan apakah kesedihan itu ungkapan dari dalam hati atau hanya akting saja. Mengingat, saat ini yang ia hadapi adalah seorang artis.


“Kudengar dari Pak Reno bahwa nanti malam kamu ada undangan makan malam di sebuah restoran terkenal di kota ini. Jadi kamu mau datang?” tanya Niken kemudian.


“Tentu, Kak. Aku akan datang karena pertemuan itu penting untuk kelanjutan film yang sedang dibuat. Semoga Pak Govind Punjabi bisa memberikan solusi yang terbaik bagi kami,” ucap Anita.


“Nanti aku akan berpura-pura sebagai tamu restoran, agar bisa leluasa mengawasi kamu, dan tidak menimbulkan kecurigaan. Tapi aku nggak bisa mengajak Pak Reno atau polisi lain, karena wajah mereka sudah dikenali. Jadi mungkin aku akan sendiri saja,” kata Niken.


“Wah, terima kasih ya Kak! Jangan khawatir, pasti aman-aman saja kok. Kan tempatnya di restoran, jadi tempatnya ramai dan banyak orang. Nggak mungkin juga kan ada orang yang berniat jahat di tempat publik seperti itu,” ucap Anita.


“Segala kemungkinan bisa terjadi, Nit. Kita nggak boleh anggap remeh. Biar bagaimanapun aku akan tetap awasi kamu dengan hati-hati. Tak ada yang boleh tahu seorang pun bahwa aku adalah polisi. Kamu juga tak perlu bilang ke siapa pun bahwa kamu mendapat pengawalan khusus,” terang Niken.


Anita mengangguk tanda mengerti. Setelah beberapa lama, Niken berpamitan kepada Anita, untuk selanjutnya bertemu lagi di restoran. Sebelum pergi, Niken benar-benar berpesan kepada Anita untuk waspada dengan segala kemungkinan yang terjadi.


Dari dalam sakunya, Niken mengeluarkan sebuah pistol kemudian menyerahkan pada Anita.


“Gunakan hanya dalam keadaan terdesak saja,” ucap Niken.


“Oh, tidak ... tidak. Saya tidak biasa menggunakan ini. Saya takut. Ini juga menyalahi aturan, Kak. Nanti Kakak dalam masalah kalau sampai diketahui polisi yang lain,” tolak Anita.


Anita menerima pistol itu dengan ragu-ragu. Seumur hidup, baru kali pertama ia memegang pistol. Selama ini ia hanya melihat adegan tembak-menembak dalam film. Sekalipun berakting, ia hanya memerankan adegan drama, tak pernah adegan aksi. Pistol ini terlihat sangat aneh dan berbahaya baginya.


Sejenak kemudian, ia mengangguk. Ia tak perlu mengantar Niken sampai keluar, karena polisi wanita itu menyarankan untuk tetap di dalam. Selepas, kepergian Niken, ia langsung memeriksa apa yang dianalisis oleh Niken tadi. Memang benar, rumahnya memiliki celah yang bisa dimasuki orang lain dengan mudah.


Sayang, Niken tak memeriksa sampai gudang lantai atas, Anita sendiri lupa untuk memeriksa gudang atas. Ia berharap agar semua baik-baik saja sepeninggal Niken. Ia berniat masuk ke dalam kamar sejenak, untuk merebahkan sendiri sebentar. Namun, tiba-tiba di atas meja makan ia melihat secarik kertas yang ditulis dengan spidol hijau. Ia tercengang membaca tulisan yang tertera dalam kertas itu.


Aku sudah di dalam.


***


Sebelum pulang ke rumah, Reno kembali menyempatkan diri untuk memeriksa keadaan Dimas. Ia tak sabar menunggu rekan kerjanya itu untuk kembali membantu dalam memecahkan kasus. Menurutnya, walau Dimas berusia lebih muda daripada dirinya, Dimas adalah sosok yang berani dan cerdas, tetapi kadang meluap-luap emosinya. Bagaimanapun, ia sangat membutuhkan keberadaan Dimas.


Dimas sedang menonton TV saat Reno datang membawa sekotak martabak dan kue terang bulan kesukaan Dimas. Tanpa basi-basi, Reno langsung duduk di ruang tengah tempat Dimas menonton televisi.


“Jadi hanya begini pekerjaanmu?” tanya Reno.


“Aku baru saja menyadari kalau ternyata hidup tanpa ada tekanan itu sangat menyenangkan. Aku terlalu lelah dengan banyak kasus yang terjadi. Jadi biarlah aku menikmati hari-hariku sejenak,” ucap Dimas ambil terus memelototi layar televisi yang menayangkan program siaran berita.

__ADS_1


“Kapan kamu akan kembali bertugas. Besok?” tanya Reno.


“Mungkin besok, lusa, minggu depan, atau entahlah. Sampai mood-ku kembali baik. Oya, bagaimana kabar Niken? Dia sudah ada tugas?”


“Semoga kamu segera baik ya Dim. Sejujurnya aku mulai bingung dengan kasus ini. Daniel mungkin dibunuh oleh salah seorang yang ada di studio film itu dengan motif yang belum pasti. Motif bisa apa saja, karena aku menemukan dugaan lebih dari situ. Kemudian muncul lagi ancaman pembunuhan baru. Aku sudah minta tolong Niken untuk mengatasi ancaman itu, dan aku ingin membuktikan apakah dia sanggup atau tidak,” ucap Reno.


“Hmm, jadi kamu suruh Niken untuk memberi perlindungan pada seeseorang? Begitu maksudmu?” tanya Dimas.


“Ya, dan dia tidak keberatan. Aku melihat profilnya, dia terbiasa menyamar menjadi orang lain. Aku pikir, ini akan sangat bagus karena keberadaannya belum diketahui oleh banyak orang. Mungkin seorang penjahat tak akan tahu keberadaannya sebenarnya diintai,” kata Reno.


“Oke aku mengerti, tetapi kuharap dia tetap aman. Aku tahu dia punya banyak pengalaman. Bagaimanapun seseorang punya titik lemah. Semoga keputusanmu menempatkan Niken untuk mengamankan seseorang akan berjalan baik. Well, Jadi apakah kamu akan melakukan pemangggilan terhadap orang-orang itu?” tanya Dimas.


“Tentu, tapi mungkin aku menunggu sampai besok. Rencananya, jenazah Pak Daniel akan dimakamkan di San Diego Hill, dan hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke acara pemakaman itu. Aku ingin bertemu dengan keluarga Daniel Prawira yang masih tersisa. Mungkin aku bisa menemukan salah satu kepingan misteri di sana,” terang Reno.


“Baiklah, aku besok akan ikut di pemakaman sutradara itu. Sepertinya menarik melihat banyak artis hadir dalam pemakaman, walau tentu saja situasinya berbeda. Mari kita lihat apakah besok semua berjalan lancar!”


Reno mengangguk-angguk. Tak lama, ia berdiri dan melangkah ke dekat jendela. Wajahnya masih tampak murung, seperti ada yang masih mengganjal dalam pikirannya.


“Kamu masih terlihat cemas. Apakah ini ada hubungannya dengan Silvia?” tanya Dimas.


“Bukan. Ini bukan tentang Silvia. Aku masih berpikir bahwa kasus yang akan kuhadapi ini bukan kasus mudah. Baru berselang sebulan sejak kasus Ferdy, kini muncul kasus baru yang melibatan orang banyak lagi. Ini melelahkan. Aku butuh liburan, Dim! Sungguh!” keluh Reno.


Mendengar itu Dimas hanya tertawa. Ia mengambil sepotong martabak, dan mengunyahnya.


“Tak ada kata liburan bagi polisi, Ren! Di manapun kamu berada, jika ada senuah kasus, maka tanggung jawab moralmu sebagai penegak hukum pasti akan terpanggil. Itu sudah insting. Walaupun itu hanya sebuah kasus kecil seperti pencurian jemuran di kampung, sebagai seorang polisi pasti kamu nggak akan tinggal diam. Jadi kupikir, bullshit-lah dengan liburan!”


“Biar gimanapun aku butuh suasana baru, Dim.”


“Oke aku mengerti. Ren. Nanti setelah kasus ini selesai, kita ambil cuti, dan kita akan liburan bersama. Kamu ajak Silvia dan aku ajak ... siapa ya? Haha. Kita bisa menyewa sebuah villa dekat pantai atau gunung, dan kita bisa membebaskan diri dari rutinitas harian ini. Bagaimana?” tawar Dimas.


“Usul yang bagus sih. Kamu mau ajak Gilda?” tanya Reno berseloroh.


“Amit-amit! Nggak akan aku ajak dia,” jawab Dimas sambil tertawa.


“Kalau gitu kita ajak Niken!”


“Bagus! Ide yang bagus!”


***

__ADS_1


__ADS_2