
Malam itu juga, Rianti diangkut dalam sebuah mobil polisi untuk di bawa ke kantor polisi. Yang bertugas menjaga adalah Toni dan Hardi, petugas polisi yang sebelumnya ditugaskan untuk mengamankan kondisi rumah isolasi. Mereka menempatkan Rianti di kursi belakang, sementara dua polisi itu duduk di kursi depan. Mereka merasa tak khawatir, karena tangan Rianti dalam keadaan diborgol.
Dalam pekatnya malam, mobil itu melaju jalanan yang sepi menuju kota. Mereka melewati kawasan yang jauh dari permukiman, hanya didominasi hutan-hutan kecil di sisi jalan. Pohon-pohon tumbuh rapat, nyaris tanpa pantulan cahaya dari mana pun. Kendaraan juga jarang lewat, sehingga seolah mobil itu hanya satu-satunya kendaraan yang melewati jalan berhutan itu.
Di dalam mobil suasana senyap. Toni dan Hardi tidak saling mengobrol, mereka hanya ingin segera sampai ke kantor polisi. Selama bertugas beberapa hari di rumah isolasi, mereka juga merasa lelah dan jenuh. Mereka ingin segera berkumpul dengan keluarga masing-masing. Yang menyetir mobil adalah Toni, yang terlihat lebih tua beberapa tahun dari Hardi. Sementara rekannya itu hanya diam, duduk di samping Toni, sambil mencari-cari saluran radio mobil. Namun, yang ia dengar hanya suara bergemirisik.
"Jadi kamu yang meracuni kami malam itu?"
Tiba-tiba Hardi membuka pembicaraan, sambil melihat ke arah spion atas. Didapatinya Rianti yang terdiam di bangku belakang, duduk tanpa ekspresi apapun. Ia tak menjawab pertanyaan Hardi. Polisi itu sama sekali tdak menyangka bahwa perempuan yang duduk di kursi belakang itu telah berbuat kekacauan yang menghebohkan warga kota. Di balik wajah cantiknya, tersimpan nafsu kejahatan yang tak terperikan.
"Setelah ini bersiap-siaplah menerima hukuman atas semua yang kamu lakukan. Kupastikan hukuman yang menimpamu pasti berat, dan hakim mungkin tak berbelas kasihan padamu, mengingat yang kamu lakukan sudah terlampau keterlaluan. Kecantikanmu tidak banyak menolong, aku pastikan itu!" lanjut Hardi.
Rianti tetap bergeming mendengar ocehan Hardi. Ia tetap tidak mau bersuara, hanya menatap kosong ke luar jendela yang gelap dan sepi.
"Pak!"
Tiba-tiba Rianti bersuara, sambil melirik ke arah Hardi. Paras mukanya tampak aneh, seperti menahan sesuatu yang tak tertahankan. Ia menatap Hardi dengan tatapan memelas. Hardi emalingkan mukanya ke belakang, balas menatap Rianti dengan penasaran.
"Kamu kenapa?" tanya Hardi.
"Aku ... aku tak tahan lagi, Pak. Aku mau pipis," ucap Rianti sambil memegang bagian bawah tubuhnya.
"Astaga! Tunggu saja nanti di depan, kalau sudah agak terang jalannya, Di sekitar sini hanya ada hutan. Tak ada tempat untuk buang hajat. Tahan dulu. Tunggulah sebentar!" ucap Hardi.
"Tapi ... tapi aku sudah sangat nggak tahan. Ini sudah mau keluar. Nggak apa-apa, aku nanti pipis di semak-semak saja. Kumohon, Pak. aku sudah nggak tahan banget," pinta Rianti.
"Aduh! Sebentar ya!"
Hardi sedikit bingung melihat kondisi itu, kemudian ia menoleh ke arah Toni yang masih fokus menyetir, seolah meminta pendapat.
"Aku akan menepikan mobil di depan, dan kamu bisa pipis di balik semak atau pohon. Kami akan terus mengawasimu," ucap Toni sambil terus menyetir.
__ADS_1
"Iya, Pak. Cepetan! Ini ... ini sudah mau keluar," pinta Rianti.
Mobil itu berhenti di tepi jalan yang dikelilingi hutan kanan dan kirinya. Hardi sejenak merasa bingung, siapa yang akan menjaga Rianti untuk buang air kecil. Sekali lagi ia meminta pendapat Toni.
"Kau awasi saja dia. Jangan lupa bawa senter. Dia nggak mungkin kabur juga di tengah hutan begini. Biar aku yang menjaga mobil di sini. Cepat!" perintah Toni.
Hardi mengangguk. Ia keluar dari mobil, kemudian membuka pintu tengah, mempersilakan Rianti untuk turun dan menyelesaikan hajatnya. Namun, Rianti berdiri dan terdiam.
"Bagaimana aku bisa pipis kalau tanganku terborgol seperti ini, Pak?" tanya Rianti.
Sekali lagi, Hardi tak punya pilihan lain selain membuka borgol yang mengikat tangan Rianti. Wanita itu segera berjalan ke arah gelapnya hutan ketika borgol dibuka, menuju semak belukar yang rimbun, sementara Hardi mengekor di belakangnya dengan menggunakan senter sebagai penunjuk jalan.
"Cepat ya!" perintah Hardi.
"Jangan mengintip ya, Pak!" pesan Rianti.
"Jangan lama-lama!" ulang Hardi.
Hardi tak berkata apa-apa lagi. Ia berusaha untuk tetap fokus menjalankan tugasnya. Sesekali ia melirik ke arah semak yang gelap tempat Rianti membuang hajat. Lima menit sudah ia berdiri tak jauh dari semak itu. Suasana senyap, hanya terdengar binatang hutan menjerit-jerit di kejauhan. Lama-lama, ia merasa curiga juga, karena ia merasa sudah terlalu lama menunggu. Ia menoleh ke arah semak. Sepertinya tak ada pergerakan di semak itu.
"Hei, sudah selesai belum pipisnya? Kamu buang air besar?" tanya Hardi.
Sayangnya pertanyaan itu tak terjawab. Hardi makin curiga. Ia menyorotkan senter yang dibawanya ke arah semak sambil mendekat. Perlahan, ia sibak semak lebat itu, tetapi ia terkejut karena ia tak menemukan siapa-siapa di balik semak.
"Sial!" geram Hardi.
Hardi segera menyorotkan senter ke segala penjuru hutan dengan membabi-buta. Ia tidak pernah menyangka kalau Rianti akan secepat itu menghilang. Ia lupa kalau Rianti sudah berpengalaman kabur di hutan, seperti saat terjadi pembunuhan Anita. Hardi bingung harus mencari di mana, karena ia hanya melihat pohon-pohon besar mengepung. Ia sama sekali tidak tahu ke arah mana Rianti menghilang. Semua di sekitarnya terlihat gelap dan sama.
Ia tidak mau ambil pusing, ia segera bergegas kembali ke arah mobil yang diparkir di tepi jalan. Ia harus segera menginformasikan kepada Toni bahwa tawanan mereka menghilang. Ia khawatir urusan akan jadi panjang kalau kepolisian tahu bahwa Rianti kabur.
"Ton! Ton! Gawat!"
__ADS_1
Hardi segera membuka pintu depan mobil. Namun, ia kembali tercengang, karena ia pun melihat bahwa Toni juga sudah tidak berada di tempatnya, Bukankah tadi ia berkata akan menjaga mobil? Lalu kemana rekan kerjanya itu? Hardi merasa seperti orang bodoh. Ia bingung tak tahu apa yang harus dilakukannya. Yang mana yang harus ia pilih, menelepon Reno atau kantor kepolisian? Ia bingung. Pasti ia akan disalahkan karena peristiwa ini. Ia harus berusaha dulu menemukan Rianti dalam hutan gelap ini.
Pikirannya terasa kacau sekarang. Ia tidak mungkin kembali ke kantor polisi dengan tangan kosng seperti ini. Ia kembali menyisir hutan gelap itu sambil menyorotkan senter ke segenap penjuru. Ia merasa hutan ini terlalu luas, sehingga terasa mustahil untuk menemukan Rianti. Lagipula, wanita itu bisa pergi kemana saja. Sekali ia salah arah, maka pencarian terhadp Rianti akan semakin sulit. Ia tak habis pikir, kemana pula Toni?
Sesaat kemudian ia menyerah dengan kondisi itu. Ia berjalan dengan langkah gontai, kembali ke arah mobil. Mungkin ia harus menelepon seseorang untuk meminta bantuan. Ia hendak masuk ke dalam mobil, tetapi tiba-tiba matanya tertuju pada sesuatu di gelapnya malam. ia tidak yakin dengan apa yang dilihatnya, tetapi ada sesuatu terbaring di pinggir hutan di seberang jalan sana. Tak ada lampu jalan di sekitar situ, sehingga suasana sangat gelap.
Untuk memastikan, setengah berlari ia menyeberang jalan menuju sosok yang terbaring di rerumputan di pinggir hutan. Dia merasa di seberang jalan ini, hutan terasa lebih lebat. Apakah Rianti kabur di dalam hutan seberang jalan ini? ia sama sekali tak punya bayangan. Ia segera menyorotkan senter ke arah sosok yang terbaring itu. Seketika ia terpernjat melihat sosok yang berada di hadapannya.
"To-Toni .... "
***
__ADS_1