Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
LI. Hell Cousin


__ADS_3

Cornellio memicingkan mata, berusaha melihat lebih jelas siapa sebenarnya sosok pembunuh itu dari tempat persembunyiannya. Sayangnya, karena sistem penerangan yang kurang memadai, ia tidak bisa melihat dengan sempurna. Terdengar suara pintu besi dibuka, kemudian sosok itu menghilang begitu saja. Cornellio memberanikan diri keluar dari tempat persembunyian, kembali mengikuti lorong berliku di depannya. Ia tidak tahu kemana lorong ini berakhir, ia hanya mengikuti nalurinya saja untuk terus melangkah.


Setelah berputar-putar, ia malah kembali ke tempat awal. Untuk itu, segera kembali ke atas melewati tingkap yang ada di dapur. Ia menghela napas lega ketika sampai di atas. Tiba-tiba ia mendengar suara yang tak asing menyapanya.


“Apa yang anda lakukan malam-malam begini?” tanya Helen yang tiba-tiba berada di situ.


“Oh, tidak ada Helen. Aku ... aku hanya tertarik ingin melihat ke bawah saja,” elak Cornellio.


“Kurasa anda harus berhati-hati. Situasi kastil ini sedang tak menguntungkan. Rasa ingin tahu yang berlebihan bisa saja mencelakakan. Kusarankan anda segera kembali ke kamar sebelum ada yang melihat anda,” ujar Helen.


Cornellio mengangguk cepat. Ia tak ingin berbasa-basi lagi dengan Helen. Pun ia juga tak menceritakan apa yang dia lihat di ruang bawah tanah. Teringat pesan Ammar, bahwa ia tidak boleh mempercayai penghuni lain, sebab siapa pun bisa menjadi tersangka. Tak ada pilihan lain selain kembali ke kamar.


Setibanya di kamar, ia kembali tak bisa memejamkan mata. Ia merasa was-was. Karena pembunuh itu saat ini sedang berkeliaran di luar sana. Saat semua penghuni memejamkan mata, si pembunuh malah bergerilya untuk mencari mangsa, menunggu lengah penghuni lain.


Ia masih tak habis pikir, bagaimana bisa Mariah Alray berada dalam ruang bawah tanah itu. Nalurinya bangkit untuk menyelamatkan, sayangnya rasa gentar juga hadir. Andai ada Ammar, tentu segalanya akan lebih mudah. Pikirannya kacau, bagaimanapun ia tak bisa membiarkan kejahatan terjadi di depan mata. Segera ia bangun kembali dari ranjangnya, mengambil senjata api yang ada di lemari.


Ia sadar bahwa ia tidak bisa menggunakan senjata itu, tetapi ia harus menyelamatkan seseorang. Bak seorang detektif, ia mengendap keluar kamar perlahan, dengan pistol tergenggam di tangan. Berdasar sumber bacaan yang pernah ia baca, pistol yang ia genggam adalah berjenis revolver magnum. Hanya saja, ia tidak mengerti lebih jauh tentang spesifikasinya. Ia hanya berharap bisa menggunakan senjata itu dengan baik apabila terdesak.


Ia keluar lewat pintu samping, mengendap menuju dapur untuk memastikan apakah Helen masih ada di sana. Rupanya perempuan paruh baya itu sudah tak ada di sana. Setiba di dapur, ia kembali membuka tingkap, turun ke dalam ruangan bawah tanah. Suasana masih hening dan pengap. Tak ada tanda-tanda keberadaan orang lain di tempat itu. Ia segera melaju ke bilik tempat Mariah disekap. Diintipnya kondisi sekitar, terlihat aman.


Bilik tempat Mariah disekap tampak terbuka sedikit, dengan gembok masih tergantung di pintu. Cornellio mengintip dari balik tembok. Ia menduga pasti pembunuh itu sekarang berada di dalam bilik. Segera ia mendekati bilik, dengan pistol tergenggam di tangan. Diintipnya sedikit dalam bilik, tetapi tak ada siapa-siapa di sana.


Di mana Mariah? Pasti pembunuh telah memindahkannya!


Rasa ingin tahunya semakin dalam untuk melihat kondisi dalam bilik yang sudah kosong. Ia berharap agar dapat menemukan sesuatu di dalam sana. Perlahan ia melangkah ke dalam bilik. Hanya ada sebuah meja kayu, dan sarung tangan hitam di atasnya. Sosok Mariah tak ada di tempat itu.

__ADS_1


Blaaam!


Klik!


Tiba-tiba pintu bilik tertutup. Cornellio merasa kaget. Ia menoleh ke belakang, mendapati dirinya terkurung dalam bilik. Ia baru ingat bahwa gembok tadi masih tergantung di pintu. Ia berusaha membuka pintu bilik, tetapi sia-sia! Kini peristiwa yang sama dengan di gudang seolah terulang kembali. Ia terkurung dalam ruang sekali lagi!


Sayup-sayup terdengar suara yang menertawakan kebodohannya,” Lain kali bermainlah dengan cerdas, Cornellio. Selamat tinggal dan semoga kamu membusuk di dalam sana!”


***


Mariah membuka mata perlahan, mendapati dirinya terikat dengan tangan dirantai yang dihubungkan dengan tembok. Kakinya juga terikat dengan tali tambang. Ia mirip seorang tawanan yang siap disiksa. Rasa takut menyeruak. Ia paham ruangan ini jelas berada di bawah kastil. Ia jarang ke rumah pamannya, tetapi pernah mendengar sekilas tentang ruangan-ruangan dalam kastil ini.


Tak ada siapa-siapa di sekeliling, sampai sesosok berjubah hitam menghampiri Mariah sambil tersungging.


“Selamat datang di kediamanku, sepupu!” kata sosok berjubah itu.


“Sepupu? Apa maksudmu?”


“Karena kau adalah anak dari saudara perempuan Anggara Laksono, maka aku layak memanggilmu sepupu. Karena sebenarnya aku adalah anak Anggara Laksono yang menghilang puluhan tahun lalu, dan kini kembali untuk menuntut balas!” ucap sosok itu.


“Aku tidak mengerti kalau paman punya anak!”


“Itu karena paman bodohmu, atau tepatnya ayahku yang jahat itu tidak pernah mengakuiku sebagai anak, bahkan membuang ke sebuah panti. Kemudian ia campakkan ibuku dalam ruang gelap ini bertahun-tahun. Kini aku datang untuk menjemputnya, menolongnya dari segala keterpurukan dengan menghabisi siapa pun yang ada di sini. Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh pamanmu yang kejam itu!” terang sosok berjubah hitam.


“Kau ... kau anak Bibi Anastasia?”

__ADS_1


“Bibi Anastasia? Hahaha. Tentu bukan sepupuku sayang. Anastasia Pratiwi adalah perempuan bodoh yang mudah terbujuk oleh rayuan Anggara Laksono. Aku adalah anak Anjani!”


“Bibi Anjani? Aku tak pernah dengar nama itu!”


“Tentu saja tidak karena Anggara merahasiakannya! Tapi ketahuilah, dia adalah istri sah Anggara Laksono yang mewarisi seluruh kastil beserta isinya. Dan aku adalah pewaris yang sah! Hal ini dirahasiakan bertahun-tahun oleh si tua bangka itu. Kini saatnya aku membuat perhitungan dengannya, dan menuntut kembali hak-hak yang direbut dari tangan ibuku!”


“Aku ... aku sama sekali tidak mengerti. Kupikir aku tidak pernah punya sepupu seorang pembunuh sepertimu. Pasti semua ini karena kegilaanmu saja! Apa yang kamu lakukan itu sungguh sesuatu yang tidak waras. Sadarlah itu!” bujuk Mariah.


Tiba-tiba sosok itu datang mendekat ke arah Mariah.


Plaaak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Mariah.


“Jangan coba-coba memengaruhi pikiranku, sepupu! Aku yang mengendalikan semuanya di sini. Bukan dirimu! Asal kau tahu, mungkin suami tercintamu Ammar sudah tewas dalam kecelakaan mobil yang mengenaskan. Aku sudah sabotase semua rem mobil yang ada di sini, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa memakai. Kita semua akan membusuk di sini, aku tidak peduli!”


“Ammar? Apa yang kamu lakukan padanya?” ucap Mariah dengan suara bergetar. Parasnya berbah cemas, takut kalau-kalau hal buruk terjadi pada semuanya.


“Aku menyingkirkannya dari kastil ini, Mariah! Tak perlu kau tangisi. Kurasa dia sudah mati di bawah jurang sana atau hancur menabrak tebing. Jadi lebih baik kamu tidak berharap padanya lagi!”


“Tidaaak! Pasti kamu bohong! Jangan berani-berani kamu sentuh suamiku!”


“Oya? Lalu kamu mau apa? Membunuhku! Lakukan saja bila kamu bisa!” Sosok itu menyeringai.


Mariah tak dapat menahan air mata. Terbayang di pikirannya, wajah sang suami yang merintih kesakitan karena kecelakaan. Ia hanya tersedu, tak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


“Giliranmu akan datang, Mariah! Tunggu saja!”


***


__ADS_2