
Malam masih bergelayut menyelimuti kastil tua di tengah perkebunan teh itu. Semua penghuni pria masih disibukkan dengan pencarian dr.Dwi yang menghilang secara tiba-tiba. Cemas semakin merayap. Di halaman belakang dekat bangunan gudang yang tak terawat, dua penulis pria masih bersikap waspada satu sama lain.
Hans tertawa keras, melihat paras wajah Michael yang tampak cemas. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan masih tergelak. Michael tampak gusar melihat kelakuan pria bertampang dingin tersebut.
“Kamu pikir aku benar-benar akan membunuhmu?” tanya Hans.
“Ini sama sekali tidak lucu, Hans! Kamu tahu, aku tidak mempercayai siapa pun di kastil ini. Mungkin ya, kamu benar-benar pelakunya. Hanya saja, aku tak menduga kamu akan menghabisi secepat itu. Sebab, bisa jadi kamu salah. Aku yang akan menghabisi kamu duluan!” ujar Michael dengan pandangan tajam ke arah Hans.
“Apa maksudmu? Kamu pelaku dari semuanya?”
Paras Hans yang dingin terlihat memucat. Tawa seolah sirna begitu saja. Tatapan Michael sedikit menakutkannya.
“Terimalah kematianmu malam ini, Hans!”
***
Dalam sebuah ruangan pengap, hampir tak ada persediaan oksigen dan diterangi lampu temaram, seorang pria terikat di sebuah kursi dengan mulut terbekap plester hitam. Perlahan ia membuka mata, mendapati dirinya dalam sebuah ruangan asing. Tikus-tikus berukuran raksasa hilir-mudik sambil berdecit-decit dekat kakinya.
Pria itu tak lain adalah dr.Dwi yang baru menyadari telah terperangkap di sebuah ruangan gelap. Terakhir yang diingatnya adalah sebuah lorong di ruang baca. Ternyata, seseorang telah menyekap tanpa ampun. Dalam hati ia bersyukur, ia masih membuka mata dalam keadaan bernyawa walau dalam keadaan terikat.
Ia menyapukan pandangan ke segala arah. Ruangan itu kotor, dengan sisa-sisa makanan yang menjijikkan. Ada sebuah ranjang tua di depannya tampak berantakan. Guntingan-guntingan berita di surat kabar tertempel di memenuhi dinding. Ada pula beberapa foto di sisi dinding yang lain. Ia sangat mengenali foto-foto yang tertempel di sana. Ya, itu foto para penulis yang diundang ke kastil, namun ada pula foto penghuni yang lain.
Foto-foto itu disusun berjajar secara berurutan sesuai dengan urutan kematian! Di ujung paling kiri ia melihat foto Anggara Laksono telah dicoret dengan spidol merah. Segera ia paham maksudnya. Selanjutnya seorang wanita berwajah Eropa Timur. Ia menduga wanita itu adalah Karina Ivanova. Seperti halnya Anggara, fotonya juga dicoret dengan spidol merah.
Deret ketiga adalah foto Yoga yang telah tercoret, serta foto keempat adalah Maira. Foto Maira masih belum tercoret. Ia segera ingat, bahwa Maira berhasil lolos dalam upaya pembunuhan keempat.
Foto kelima adalah milik Rania. Seperti halnya sebelumnya, foto ini juga telah tercoret. Mendadak jantung dr.Dwi berdegup kencang melihat foto selanjutnya. Ya, berikutnya terpampang foto Cornellio Syam. Ini artinya pria itu sedang dalam bahaya. Ingin ia memberitahu kepada penghuni lain tentang keberadaan foto itu, namun apa daya ia tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk menggerakan tangan saja ia tak bisa. Ingin berteriak, mulutnya tertutup dengan plester hitam yang rapat.
Pria itu berusaha menggeser kursi sedikit demi sedikit, tetapi tak ada pergerakan. Ia mulai frustasi. Setidaknya sebelum ia mati, harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan nyawa para penulis lain. Sudah jelas, yang diincar sekarang adalah Cornellio Syam. Tapi, bagaimana cara memberi tahunya?
__ADS_1
Tiba-tiba, ia terperangah. Kembali diamati deretan foto-foto itu. Ia menyadari ada satu foto penghuni yang tak ada di sana. Pastilah ia pelaku dari semua kegilaan ini. Ya, sebuah foto yang tak ikut dipasang dalam deretan kematian tersebut. Ia tak menyangka kalau foto penghuni yang tak terpasangi itu adalah pelakunya!
***
Tiara Laksmi menutup novel yang dibacanya. Sebuah novel romantis milik Adrianna Chen. Belakangan ia sering mondar-mandir ke ruang baca untuk mencari bahan bacaan. Ia sengaja menghindar dengan penghuni yang lain, untuk mengurangi rasa cemas. Untuk menutupi itu, ia berusaha untuk bersikap biasa tanpa rasa khawatir tergambar di parasnya.
“Halo, selamat malam!” sapa Elina Agustin yang tiba-tiba datang begitu saja tanpa permisi.
“Oh, selamat malam. Kamu kan pacarnya Aldo Riyanda ya?” tebak Tiara Laksmi.
“Benar. Aku Elina. Kukira sudah tidak ada orang di ruang baca ini, ternyata masih ada yang membaca di sini. Dalam kamar sendirian membuatku takut, mungkin lebih aman berada di ruang baca ini. Hm, pasti kamu adalah Tiara Laksmi penulis novel dewasa itu, ” kata Elina.
“Darimana kamu tahu aku?”
“Aldo menceritakan padaku masing-masing penghuni kastil ini. Aldo mendeskripsikan salah satunya betul-betul mirip denganmu. Tiara Laksmi, si penulis cerita-cerita erotis!”
“Kurasa itu bukan penilaian buruk. Sudahlah, jangan diambil hati. Pria memang suka berlebihan dalam menggambarkan sesuatu. Lupakan itu, Tiara!”
Elina mengambil tempat duduk di hadapan Tiara Laksmi, mengamati gerak-geriknya yang tengah sibuk membuka lembar-lembar novel tak jelas.
“Kamu sedang membaca? Maaf, aku tak bermaksud mengganggu! Aku hanya mencari teman dan itu akan membuatku merasa sedikit lebih aman,” ucap Elina cepat.
“Aman? Tak ada yang aman di tempat ini, kecuali di rumahmu sendiri. Kamu begitu bodoh memutuskan untuk menyusul kekasihmu ke sini. Tak ada yang dapat kamu temui di sini kecuali kematian!” kata Tiara.
“Aku paham telah memasuki sarang harimau. Tapi toh aku tak bisa kembali lagi. Sudah terlambat. Aku yakin Aldo akan melindungi jika ada apa-apa.”
“Kamu mencintai Aldo?” tanya Tiara Laksmi penasaran.
Elina mengernyitkan kening, mencoba mencerna pertanyaan Tiara Laksmi yang telah masuk ke dalam ranah pribadi. Ia hanya menghela napas, tak menjawab pertanyaan Tiara.
__ADS_1
“Oh, maaf! Begitu bodohnya aku. Seharusnya tak kutanyakan pertanyaan itu. Tentu saja, itu adalah urusan pribadimu Sekali lagi maafkan aku!”
Tiara buru-buru minta maaf. Elina mengangguk dengan senyuman getir. Keduanya terdiam, kehabisan bahan obrolan. Suasana jadi canggung. Tiara Laksmi mengembalikan buku ke dalam rak.
“Hari sudah larut. Aku akan tidur agar besok bisa bangun pagi. Kamu kamu masih ingin tinggal atau kembali ke kamar?” tanya Tiara.
“Aku ingin tinggal beberapa menit, setelah itu aku akan tidur. Terima kasih sudah menanyakan!”
Tiara manggut-manggut, kemudian meninggalkan Elina yang terlihat gelisah.
Sepeninggal Tiara, suasana mendadak menjadi menyeramkan. Suasana ruang baca begitu hening. Ia duduk dengan waspada, berusaha menyapukan pandangan ke segala arah.
Hening semakin merayap. Ia berpikir, menghilangkan kecemasan di ruang baca bukanlah ide yang bagus. Ia harus segera kembali ke kamar. Bagian-bagian lain rumah tampak sepi karena para pria sedang berpencar mencari dr.Dwi. Ia sudah menaiki beberapa anak tangga ketika ada suara memanggil.
“Elina? Kamu belum tidur?”
Elina menoleh. Ia mengenali suara itu. Tentu saja suara Ammar, polisi tampan yang tengah menyelidiki kasus pembunuhan di kastil ini. Pria itu tampak kaget, karena Elina masih berkeliaran di luar ruangan.
“Aku nggak bisa tidur! Maaf!” kata Elina.
“Kusarankan untuk segera tidur. Sangat berbahaya seorang diri di kastil ini,” saran Ammar.
“Terima kasih. Aku akan segera kembali ke kamar untuk beristirahat!”
“Jangan lupa kunci pintu, Elina! Jangan biarkan siapa pun masuk masuk kamarmu!” pesan Ammar.
Elina hanya mengangguk. Segera ia menaiki tangga menuju kamarnya sendiri.
***
__ADS_1