
Suara teguran Mariah membuat sosok yang baru masuk ke dapur itu terkejut, lalu ia menoleh ke arah sumber suara. Ia tampak salah tingkah, karena tidak mengira kalau ada orang lain di situ. ia berpikir semua orang sudah pada tidur di waktu dini hari seperti ini. Apalagi sekarang ahwa terasa sangat dingin menggigit, tentu akan membuat tidur akan semakin lelap. Sosok itu mengehentikan langkahnya, berpura-pura bersikap biasa.
"Ma-Mariah? Ka-kamu kok belum tidur?" tanya sosok itu.
"Bukan belum tidur, tetapi aku terbangun. Aku sedang mencari Ammar, tetapi aku rasa dia sedang berjaga-jaga di sekitar sini. Terus ngapain pula kamu dini hari begini berada di belakang situ?" tanya Mariah dengan curiga.
"Aku ... aku, eh, aku tadi merasa sangat pengap di kamar, jadi aku jalan sebentar cari angin. Ternyata kalau menjelang Subuh di luar itu sejuk banget ya. Beda seperti udara di dalam kamar," ucap sosok itu sambil tersenyum.
Mariah hanya membalas dengan tersenyum kecil di ujung bibir. Ia tidak mau percaya begitu saja perkataan sosok itu. Sudah jelas dari gerak-gerik dan gestur tubuhnya ada yang disembunyikan. Mariah juga sudah melihat tadi, kalau sosok ini seperti gelisah menunggu seseorang di luar sana.
"Kurasa sebaiknya kamu segera kembali ke kamar. Kamu kan tahu kalau saat ini kondisi sedang tidak aman. Baru saja ada yang melihat sosok misterius berkeliaran di sekitar sini, dan untungnya kamu nggak ketemu dia secara langsung," saran Mariah.
"Oh, iya. Terima kasih, Mariah. Aku akan segera kembali ke kamar. Aku nggak mau ninggalin istriku di kamar sendirian. Kamu benar, situasi sekarang terlalu berbahaya," ucap si sosok.
Mariah mengangguk. Ia tahu bahwa paras sosok pria yang ditemuinya itu tampak memerah, seolah ditelanjangi oleh Mariah karena menahan malu. Ia masih salah tingkah, dengan gerakan mata yang tidak fokus. Mariah sebenarnya merasa gemas melihatnya. Sampai pada akhirnya, ia memutuskan untuk langsung mengatakan hal sebenarnya pada ptia itu, tanpa basa-basi lagi.
"Aku tahu siapa yang kamu tunggu di luar, Ryan. Maaf, bukannya aku turut campur dengan urusan pribadimu, tetapi kamu harus hentikan ini. Aku tak tega melihat istrimu kamu khianati seperti ini. Nadine adalah sahabatku. Sekarang kondisinya sedang tidak baik di dalam kamar, tetapi kamu tinggalkan begitu saja secara diam-diam," ungkap Mariah tanpa basa-basi.
Sosok yang ternyata adalah Ryan itu langsung terdiam, tak mampu berkata apa-apa lagi. Perkataan Mariah yang seolah sebusur anak panah itu langsung merobek-robek kewarasannya. Semua yang dikatakan Mariah memang benar adanya, tetapi ia tak mampu membela diri atau mengelak. Ia hanya terdiam bagi pesakitan yang menunggu peradilan. Ia heran, bagaimana Mariah tahu tentang apa yang dilakukannya di luar? Atau memang dia punya mata batin yang mampu membaca pikiran seseorang?
"Maafkan aku, Mariah," gumam Ryan.
"Aku yang harusnya minta maaf, Ryan. Aku tidak bisa turut campur urusan pribadimu. Aku sayang dengan Nadine tetapi segala keputusan berpulang pada dirimu. Kalian tidak bisa menjalani hubungan pura-pura ini selamanya. Aku yakin, mungkin Nadine tahu, tetapi ia memilih bersabar dan diam. Aku sendiri juga tak membicarakan hal ini padanya, sungguh. Walau aku tahu, aku tak mau membocorkan ini pada Nadine," kata Mariah.
Ryan masih berdiri mematung, tak tahu apa yang harus dikatakannya. Sepertinya banyak yang memenuhi pikiran, tetapi ia bingung bagaimana harus mengungkapkan. Kondisi seperti ini membuat Ryan tidak merasa nyaman. Sebenarnya Mariah merasa iba, kemudian ia mempersilakan Ryan untuk duduk di sebuah kursi tinggi yang menghadap meja dapur.
"Kubuatkan kamu kopi, dan kamu bisa bercerita kalau kamu ada masalah dengan Nadine. Siapa tahu aku bisa membantumu. Kalian baik-baik saja kan?" tanya Mariah sambil membuatkan kopi untuk Ryan.
Ryan masih terdian dengan paras gelisah. Ia melayangkan pandangan ke luar dapur, kemudian menghela napas. Ada sesuatu yang memenuhi rongga pikirannya, sehingga ia seperti tidak bisa fokus. Tak lama, Mariah duduk di hadapan Ryan, menyodorkan secangkir kopi panas kepada pria itu.
"Ryan? Kamu mendengarkan aku kan?" tanya Mariah lagi.
"Oh, iya Mariah. Tentu saja aku mendengarkanmu," jawab Ryan cepat.
"Jadi bagaimana? Apa kau dan Nadine baik-baik saja?"
"Ya, Mariah. Kami baik-baik saja. Aku sangat mencintai Nadine. Tak mungkin aku meninggalkannya begitu saja," ucap Ryan lirih.
"Lalu mengapa kamu masih menemui Maya?"
Deg!
Jantung Ryan berdegup kencang, karena tidak menyangka Mariah akan bertanya langsung seperti itu, tanpa ada basa-basi. Ia hampir tersedak saat meminum kopinya. Sesaat kemudian, ia mencoba mengatur napasnya, sebelum menjelaskan kepada Mariah.
"Aku ... aku memang salah dan berniat untuk mengakhirinya," gumam Ryan.
Mariah hanya mengangguk, tetapi sedikit menyangsikan ucapan Ryan. Ia sendiri juga bingung, mengapa seolah banyak masalah bertumpangtindih dalam waktu bersamaan di kastil ini. Di saat seharusnya mereka fokus bagaimana caranya bisa menghindar dari ancaman pembunuhan, muncul pula masalah-malah pribadi yang cukup mengganggu.
Mariah kehilangan rasa kantuknya seketika. Sedianya, ia hendak kembali ke kamar, untuk kembali beristirahat, tetapi kafein dari kopi yang diminumnya mulai bekerja. Ryan masih terlihat gelisah, seolah kehilangan semua kata yanng hendak ia ungkapkan. Mariah merasa Ryan belum sepenuhnya jujur, masih ada sesuatu yang ia sembunyikan. Mereka berdua saling terdiam untuk beberapa saat.
"Ka-kalian .... "
Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang muncul begitu saja di dapur. Ryan dan Mariah bersamaan menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Nadine yang masih memakai kimono tidur berdiri di dekat pintu masuk. Matanya yang bulat menatap ke arah Ryan, seolah meminta penjelasan. Mariah langsung tanggap, ia tidak mau Nadine salah paham dengan kejadian ini. Ia segera berdiri.
"Tadi Ryan merasa kedinginan di dalam kamar dan ke dapur untuk membuat kopi. Tapi sayang ia kesulitan mencari bubuk kopi. Aku tak sengaja juga berada di dapur, sehingga sekalian saja kubuatkan. Maaf ya, Nadine. jangan khawatir, kami nggak ngapa-ngapain kok. Saking sayangnya Ryan sama kamu, ia tidak mau bangunin kamu. Eh, kamu sudah bangun dini hari begini?" ucap Mariah sambil berusaha tersenyum.
__ADS_1
Nadine hanya mengangguk. Ia sepertinya tidak ingin bicara apa-apa pagi ini. Ryan juga segera tanggap dengan keadaan itu. Ia langsung berdiri dari tempat duduknya, lalu memeluk sang istri dan mengajaknya berlalu dari dapur, meninggalkan Mariah sendirian di sana.
***
Pagi sudah menyapa kawasan kastil dan sekitarnya. Malam yang mencekam telah berlalu, tergantikan dengan suasana pagi yang cerah, dengan kicauan burung di pepohonan. Matahari masih belum tampak, masih bersiap-siap di ufuk timur. Cahayanya yang kemerahan mewarnai langit. Embun masih menempel di dedaunan, sementara cuaca sedikit berkabut. Udara pagi yang kaya oksigen seperti ini membuat badan terasa segar, sangat cocok digunakan untuk berjalan-jalan atau menenangkan pikiran.
Rosita sudah bangun, bersiap-siap di halaman samping dengan mengenakan pakaian olahraga. Ia menunggu suaminya yang sedang bersiap-siap. Rencananya hari ini ia ingin jalan-jalan pagi saja di sekitar kastil. Kejenuhan mulai melanda, apalagi peristiwa-peristiwa menegangkan masih saja terjadi. Rosita hendak melupakan sejenak dengan menikmati suasana pagi di sekitar kastil.
"Kamu mau kemana, Ros?"
Tiba-tiba muncul Lily yang pagi itu juga baru bangun. Ia rupanya ingin juga menikmati udara pagi yang terasa berbeda hari ini. Kabut tebal masih menyelimuti perkebunan, dan juga ia merasakan kandungan oksigen dalam udara terasa berlimpah. Lily masih mengenakan gaun tidurnya, berbalut jaket. Ia menggeliatkan badan ke samping kanan dan kiri, membuang segala penat yang mendera tubuhnya.
"Aku mau jalan-jalan ke sekitar sini sebentar bersama Edwin," ucap Rosita.
"Jalan-jalan sekitar sini? Memangnya kamu sudah mendapat izin dari Pak Reno atau Bang Ammar?" tanya Lily.
"Sekitar sini saja kok, tidak sampai jauh ke hutan atau air terjun. Lagipula hanya menyusur jalan raya dan tempat terbuka. Aku tahulah kalau jalan-jalan di tempat sepi itu berbahaya. Lagipula aku pergi tidak sendirian. Aku akan pergi bersama Edwin, jadi kupikir aman-aman saja," ujar Rosita.
Tak lama, Edwin juga telah siap dengan kaos santai dan celana training. Ia mengenakan topi, sehingga terlihat makin tampan. Lily melepas kepergian pasangan itu dengan senyuman hambar. Kadang ia merasa agak iri apabila ada pasangan yang terlihat berbahagia di depannya. Ia hanya bisa berharap.
Setelah ia mengganti gaun tidurnya, Lily berniat ke dapur untuk memasak sarapan. Mariah memberikan giliran tugas memasak kepadanya, setelah kemarin Maya yang bertugas. Lily menerima tugas itu tanpa banyak protes dan bertanya. Walau kemampuan memasaknya tak terlalu hebat, ia akan mencoba melakukan yang terbaik.
Mariah sudah mengarahkan letak bahan makanan yang harus dimasak pagi ini. Persediaan bahan makanan makin menipis, jadi pagi ini Mariah yang harus ke kota untuk berbelanja, sebab pasokan bahan makanan yang sedianya datang dari Ramdhan, mengalami penundaan.
"Boleh aku ikut denganmu?" tanya Nadine pada Mariah.
"Bukan aku tidak boleh, Nadine. Tetapi Bang Ammar memberi perintah kepada semua penghuni untuk tidak keluar kastil untuk sementara ini. Maaf ya," tolak Mariah.
"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu," gumam Nadine.
"Ya, sedikit."
"Nanti saja sepulang aku dari kota Nadine, rencananya aku juga akan mengadakan pertemuan lagi selepas ini. Kita harus segera bertindak, karena tadi malam sosok itu muncul lagi dia sempat mengejar Lily. Kita harus waspada mengantisipasi ini," ucap Mariah.
"Ya, baik. Nanti malam saja, Mariah!"
Setelah menyelesaikan segala urusan di dapur, Mariah beranjak ke kamar untuk bersiap-siap. Di dalam kamar, Ammar sudah menunggu. Ia menginformasikan bahwa telah terjadi pembunuhan dini hari tadi. Hal yang malang telah menimpa Aditya. Mariah tampak tegang cemas mendengar semua itu. Ketakutan semakin merasuki jiwanya. Sungguh, ia merasa sangat bersalah dengan kejadian ini, tetapi di sisi lain ia juga bingung, karena ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Seolah-olah sang pembunuh ini sedang mengajak main kucing-kucingan.
"Pagi ini kamu harus berangkat ke kota. Setelah selesai urusan belanja, seperti biasa kabarkanlah ke pihak kepolisian untuk menjemput jasad Aditya. Sekaligus temui Dimas tentang perkembangan kasus ini. Sekarang ini kondisi kastil dalam keadaan gawat. KIta nggak tahu lagi yang mana teman dan yang mana lawan. Semua serba abu-abu, aku ingin mendapat informasi penting apa yang dibawa oleh Dimas terkait ini," ucap Ammar.
Mariah hanya mengangguk. Entah kenapa ia merasa tidak tenang. Sebelum berangkat ke kota, Ia memastikan bahwa mobilnya dalam keadaan baik. Ia merasa apa yang terjadi dengan Ramdhan adalah pelajaran yang berharga. Ia memeriksa semua fungsi mobil, baik itu rem dan mesin, dipastikan dalam keadaan baik.
Setelah semua beres, ia pergi melajukan kendaraan menuju ke kota. Tujuan utamanya hari ini adalah supermarket, untuk berbelanja kebutuhan makanan dan yang lain. Ia juga akan berkunjung ke kantot polisi untuk menginformasikan terkait pembunuhan Aditya. Sebenarnya, ada satu tempat lagi yang hendak ia kunjungi. Ia berharap, mendapatkan jawaban atas teka-teki yang berkepanjangan ini.
***
Juned hari ini masih harus masuk ke dalam ruang bawah tanah kembali, untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja. Sambil mengingat nomor urutan bilik yang digunakan untuk menempatkan jasad Aditya, ia menyusuri lorong sambil mengarahkan senter ke segala penjuru. Untuk menghilangkan rasa suntuknya, ia mencoba bersiul-siul. Lorong ini selalu bernunsa seram dan angker, tak heran siapa pun enggan masuk ke dalamnya. Namun, karena tugas, Juned harus masuk.
Namun baru beberapa langkah ia menyusur lorong, tiba-tiba terdengar suara memanggil.
"Juned! Tunggu! Aku ikut!"
Juned memalingkan badan, mendapati Jeremy setengah tergopoh berlari ke arahnya. Juned heran, darimana Jeremy tahu kalau ia akan ke lorong, padahal Reno sudah merahasiakan kejadian ini agar tidak menimbulkan kepanikan. Juned berusaha tenang melihat kedatangan Jeremy.
"Bagaimana keadaan Aditya? Kudengan kalian menemukan mereka?" tanya Jeremy.
__ADS_1
"Kamu dengar dari siapa?" tanya Juned.
"Aku tahu ini rahasia. Tadi pagi pas bangun tidur, aku tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan antara Pak Reno dan Pak Ammar. Mereka berbisik-bisik tentang penemuan Aditya di bawah tanah. Tapi aku tidak terlalu mendengarnya. Makanya aku ikuti kamu, ternyata kamu masuk ke sini. Aku hanya ingin memastikan kondisi Aditya saja. Kemarin dia menemaniku masuk ke dalam ruang bawah tanah. Kuharap kondisinya baik saja," ucap Jeremy.
Juned meggeleng lemah, seraya menatap kosong ke depan. Ia hendak mengatakan yang sebenarnya, tetapi urung. Lebih baik Jeremy melihat kondisi Aditya yang saat ini sudah tak bernyawa di sebuah bilik. Ia tak menjawab pertanyaan Jeremy, sembari melanjutkan langkahnya menyusur lorong.
"Kita kemana?" tanya Jeremy.
"Kita ke tempat Adit," jawab Juned.
"Memangnya di mana dia?" tanya Jeremy lagi.
Juned tak menjawab pertanyaan Jeremy sambil terus melangkah. Sesampai di persimpangan lorong, Juned tiba-tiba merasa sedikit bingung. Ia agak lupa, nomor urutan berapa bilik yang ditempasti jasad Aditya.
"Nomor berapa ya?" gumam Juned.
"Nomor apa?" tanya Jeremy lagi.
"Delapan atau tujuh?"
"Nomor apa sih?"
Duk ... duk ...duk!
Belum lagi mereka sampai di bilik tempat jasad Aditya, tiba-tiba terdengar suara tembok dipukul-pukul. Suara itu sepertinya tak jauh, tetapi mereka tak yakin. Jeremy hampir terlonjak mendengar suara itu. Ia memasang pendengaran dengan baik, untuk lebih meyakinkannya.
"Ada orang memukul-mukul tembok .... "
Jeremy berbisik sambil melihat ke arah Juned. Polisi itu sepertinya tak terlalu tertarik dengan suara itu, karena ia memang sering mendengar suara-suara aneh di lorong. Jangankan suara orang memukul tembok, bahkan kadang suara tepukan tangan atau suara tertawa ia pernah dengar. Ia tidak menanggapi serius ucapan Jeremy.
"Bilik nomor tujuh!" ucap Juned lantang.
Ia bergegas berjalan menuju bilik nomor tujuh dari simpang lorong, tempat jasad Aditya disimpan. Jeremy yang merasa penasaran segera mengikuti langkah Juned. Ia tidak mau ketinggalan, karena lorong yang ia lewati ini sama sekali asing. Ia belum pernah sama sekali melewati lorong ini sebelumnya. Ia tidak mau tersesat di dalam lorong ini sendirian, apalagi ada suara-suara aneh yang misterius di tempat itu.
Sesampai di bilik, Juned membuka pintunya, dan menunjukkan pada Jeremy, kondisi Aditya yang sebenarnya.
"Kamu lihat sendiri kondisi Adit, Jer!"
***
__ADS_1