Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
351. Botol Minum


__ADS_3

Mariah mengendarai mobil dengan perasaan was-was. Masih terbayang dalam pikirannya, rangkaian kejadian yang terjadi kastil. Yang terakhir adalah pembunuhan yang menimpa Aditya. Ammar mengabarkan kepadanya bahwa Aditya tewas dengan keadaan leher tergorok. Mariah tak habis pikir, manusia biadab mana yang sanggup melakukan itu? Padahal beberapa hari lalu, istri Aditya ditemukan tewas di toilet kolam renang, dan kini suaminya pun dihabisi. Mariah merasakan sesak di dada apabila mengingat kejadian ini. Ia tidak menyangka bahwa dendam yang terkubur beberapa tahun silam, akan kembali bangkit dan membawa malapetaka mengerikan.


Mobil Mariah sudah memasuki kawasan kota. Ritme kendaraan di jalanan sudah mulai ramai lancar. Tujuan utama Mariah adalah sebuah supermarket yang terletak di pusat kota. Supermarket ini selalu ramai dikunjungi karena harganya yang murah dan persediaan barangnya yang lengkap, sehingga para pelanggan hanya perlu belanja di satu tempat saja, tak perlu kemana-mana. Selain itu, tempatnya juga cukup nyaman, dilengkapi dengan kedai kopi kekinian yang berada di samping supermarket. Para pelanggan yang merasa haus atau lelah, bisa beristirahat di kedai itu.


Mariah memarkir kendaraannya di depan supermarket, kemudian masuk ke dalam supermaket yang lumayan ramai pagi itu. Kebanyakan pengunjungnya adalah ibu-ibu, karena supermarket itu menjual aneka kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Mariah selalu menuliskan kebutuhan barang yang ia beli dalam daftar belanjaan agar tidak lupa. Ia mulai menyusur rak demi rak aneka barang, mencari barang yang ia cari. Semua sudah tersedia di sana. Ia menggunakan troli yang agak besar, karena kebutuhannya lumayan banyak hari ini. Selain itu, ia enggan bolak-balik ke kota untuk sering berbelanja, karena jarak yang lumayan jauh.


Setelah mendapatkan semua yang ia perlukan, ia mengantre di kasir, menunggu giliran bayar. Semuanya berjalan sesuai rancana, tak ada yang meleset. Mariah mendapatkan semua yang ia butuhkan dalam waktu relatif cepat. Namun, berbelanja tak bisa dikatakan menyenangkan kalau pikiran tidak tenang. Ia merasa terburu-buru oleh waktu dan terbebani dengan kejadian-kejadian di kastil.  Untuk menghilangkan rasa penat di kepalanya, ia menyempatkan diri untuk memesan segelas es kopi Vietnam di kedai kopi yang bersebelahan dengan supermarket.


Mariah merenung, sembari melihat ke arah para pengunjung supermarket yang keluar-masuk. Beberapa hari di kastil telah membuatnya merasa sangat tertekan. Apalagi, ancaman yang diterimanya jelas-jelas nyata. Ia sedang diburu, seperti seekor ikan besar yang dipancing agar mendekati kail. Sebenarnya bisa saja ia lari dari semua kekacauan ini, menyendiri di dalam rumahnya yang nyaman, Namun, ia punya tanggung jawab moral terhadap teman-temannya. Mau tidak mau, ia harus hadapi psikopat ini. Ia harus secara berani menemui orang ini, sebelum korban makin banyak berjatuhan, karena sejatinya ia lah incaran utama dari si psikopat.


Ia meminum es kopinya perlahan, merasakan aliran cairan manis membasahi kerongkongan yang kering. Ia berusaha mendinginkan apa yang sedang mendidih di otaknya. Memang, kopi ini membuat perasaanya jadi lebih baik. Lama ia tidak bersantai seperti ini.


"Nyonya Ammar Marutami .... "


Terdengar suara memanggilnya dengan panggilan yang jarang sekali ia dengar. Ia tidak pernah mendengar orang memanggilnya dengan sebutan itu, kecuali di acara yang benar-benar resmi. Mariah menoleh ke belakang mendapati seorang perempuan muda berpakaian rapi, dengan riasan agak tebal, tersenyum kepadanya. Paras perempuan itu sangat tidak asing. Mariah mengenali perempuan itu karena sering muncul di program televisi.


"Gilda Anwar!" gumam Mariah.


Sejenak Mariah merasa canggung. Perasaannya langsung merasa kurang nyaman. Jika seorang reporter berita televisi menemui, pasti ia hendak mengorek sebuah informasi atau berita. Ia tak mengenal Gilda secara pribadi, tetapi Mariah cukup tahu sepak-terjang reporter yang gemar menghalalkan segala cara untuk mencari berita. Mariah bersikap waspada. Gestur tubuhnya otomatis melakukan penolakan terhadap Gilda.


"Maaf, saya baru mau pergi," ucap Mariah sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Boleh minta waktunya beberapa menit saja?" tanya Gilda.

__ADS_1


"Sayangnya saya sedang ditunggu seseorang. Maaf!" tolak Mariah.


"Saya tidak akan lama!" desak Gilda.


"Bukan masalah itu, tetapi saya tidak mau membuat seseorang menunggu. Maafkan saya. Lagipula kalau Anda menanyakan informasi apa pun, saya juga tidak punya informasi yang hendak dibagi. Kurasa pertemuan ini akan menyita waktu. Maaf saya harus pergi!"


Mariah tak lagi memberi kesempatan Gilda untuk mengintervensi dirinya. Ia melangkah ke arah tempat parkir mobil dengan agak cepat, tanpa memperdulikan Gilda yang berdiri di dekat meja tempatnya minum tadi.


"Bolehkah saya menulis tentang The Girl Squad?" ucap Gilda tiba-tiba.


Mariah terpaksa menghentikan langkahnya. Dari mana Gilda tahu tentang ini semua?


***


Rosita dan Edwin menyusur jalan setapak yang dikelilingi tanaman teh, menuju ke sebuah bukit. Dari atas bukit itu, mereka dapat melihat hamparan kebun teh di bawahnya. Mereka lupa, bahwa bukit itu berada di titik yang agak jauh dari kastil. Larangan masuk di jalan setapak mereka abaikan begitu saja, dan mereka memilih untuk tetap menerobos. Jalan yang mereka lalui mulai menanjak dan matahari juga kian menyengat.


"Aku membawa minum tadi. Tunggu sebentar!"


Edwin memeriksa tas kecil yang ia bawa dari kastil. Sebelum berangkat jalan-jalan, ia telah menyiapkan sebotol besar air minum untuk menghilangkan haus selama di perjalanan. Namun, ia tampak kebingungan setelah melihat ke dalam isi tas. Ia tidak menemukan air minum yang ia bawa dari kastil.


"Kenapa Win?" tanya Rosita.


"Aku yakin sudah memasukkan air minum ke dalam tas ini. Kok tiba-tiba nggak ada?" tanya Edwin dengan paras kebingungan.

__ADS_1


"Masa sih, Win? Masa ada yang ngambil? Jatuh kali ya!" tebak Rosita.


Wanita itu ikut memeriksa isi tas Edwin, tetapi air minum itu memang tidak ada di dalam tas. Edwin merasa ragu. Mungkin air minum itu terjatuh saat ia berjalan, mengingat ia meletakkan botol minum di bagian luar tas. Selain itu, jalanan yang mereka lalui naik turun, sehingga ada kemungkinan kalau botol itu tergoncang dan jatuh.


"Jatuh di mana ya? Mana haus banget!" keluh Edwin.


"Ya udahlah nggak usah dicari, Win. Kita lanjut jalan aja ke bukit. Ntar aja pas kita pulang baru kita cari. Yuk, kita lanjut jalan aja!" ajak Rosita.


Edwin melihat ke arah Rosita yang wajahnya basah karena keringat. Ia tidak bisa membiarkan istrinya dalam keadaan seperti itu. Ia menggeleng sambil berkata," Kamu tunggulah di sini sebentar, Ros! Aku akan cari botol air minum itu!"


"Eh, nggak usah Win! Aku nggak apa-apa kok," cegah Rosita.


Namun, Edwin tetap bersikeras untuk mencari botol air minum itu. Rosita tak mampu mencegahnya. Ia memilih untuk menunggu sang suami sambil duduk di atas batu yang ada di tepi jalan setapak. Sementara, Edwin kembali menyusur jalan setapak yang menurun, sambil matanya mengawasi jalan, kalau-kalau menemukan botol air yang dimaksud.


"Kemana sih botol itu? Bikin repot aja!" keluh Edwin.


Ia terus menyusur jalan setapak, tetapi botol minum itu tak kunjung didapat. Padahal, ia sudah cukup jauh berjalan. Ia memandang ke arah depan. Di depan sana, sudah hampir dekat dengan jalan raya. Ia menghela napas. rupanya sudah cukup jauh ia berjalan, sampai tak terasa sudah dekat dengan jalan raya.


Sebenarnya ia juga merasa sangat haus. Apalagi, matahari memancarkan sinarnya dengan gagah, sehingga tak ayal Edwin merasa kegerahan. Hanya saja, ia berpura baik-baik saja di hadapan Rosita. Tiba-tiba, ia melihat sebuah botol minum tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Tak salah lagi, itu memang botol minum miliknya. Botol itu agak tersembunyi dekat semak, pantas saja, dari tadi tak terlihat.


Ia mendekati botol itu dengan bersemangat, kemudian memungutnya dari atas tanah. Namun, ia terkejut karena botol minum itu ia temukan dalam keadaan kosong, seolah  isinya dituang begitu saja.


"Kok bisa begini sih?" gumam Edwin.

__ADS_1


Belum sempat ia menyadari apa yang sedang terjadi, tiba-tiba ia merasakan hantaman keras di kepala belakangnya. Sontak ia terhenyak. Matanya berkunang-kunang, Tubuhnya roboh bak sebuah pohon tua yang telah lapuk. Edwin tak bisa merasakan apa-apa lagi sesudahnya!


***


__ADS_2