Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
343. Dakwaan


__ADS_3

Di dalam ruang bawah tanah yang lembap dan dingin, di sebuah bilik yang berukuran agak luas. terdapat sebah ranjang lapuk, wastafel usang, dan tempelan-tempelan berita koran di dinding. Suasananya suram dan sedikit menyeramkan. Di lantainya terdapat bekas ceceran-ceceran darah yang telah mengering. Bahkan ada sebuah ruang toilet pula di sini. Tolilet itu rusak dan tak berfungsi, hanya ada sebuah kran air saja di sana, yang airnya selalu menetes. Di ruangan bilik ini, dahulu pernah ditempati oleh seorang wanita bermata buta, seorang psikopat yang sengaja disembunyikan di dalam bawah tanah. Wanita buta bernama Anjani inilah yang mendorong Tivani aka Tiara untuk melancarkan pembunuhan berantai di lingkungan kastil.


Sebenarnya ruangan rahasia ini dekat dengan ruang baca, sehingga kalau melewati ruang baca, akanl ebih mudah menemukannya. Dibanding bilik-bilik lain, ruangan ini lebih luas, atau boleh dikatakan sebagai bilik utama.Namun, tidak semua orang bisa menemukan bilik rahasia ini, karena aksesnya yang cukup berliku. Bahkan siapa yang pernah mengunjungi bilik ini, tidak ada jaminan bisa menemukan jalan kembali ke bilik ini dengan benar.


Kini ruangan tersembunyi itu kembali dibuka. Setelah sebelumnya Niken ditempatkan di bilik kecil, kini Niken dipindahkan di ruangan itu dalam keadaan mulut tertutup lakban dan tangannya terikat. Hanya saja , kaki tidak terikat, hingga ia bebas berjalan mondar-mandir. Niken sempat berkeliling, sepertinya tak ada barang apa pun yang bisa digunakan untuk pertahanan diri. Hanya ada satu buah meja dan kursi usang. Semuanya berkesan angker dan menyeramkan.


Niken berjalan mendekati dinding kusam yang dipenuhi tempelan-tempelan berita koran yang sudah lama terbit. Rata-rata berita itu tentang kemasyhuran nama Anggara Laksono di masa lalu. Niken membaca sepak-terjang miliarder itu dengan saksama. Lalu di bagian lain, ia juga mendapati deretan foto -foto para penulis yang pernah diundang di kastil. Sebagian dari mereka sudah menjadi korban kesadisan pembunuhan. Niken bergidik. Ia tidak menyangka kalau pada akhirnya ia akan menjadi bagian dari kasus pembunuhan luar biasa ini.


Ia kemudian memeriksa semua bagian ruangan, kalau-kalau ada celah yang bisa digunakan ntuk meloloskan diri. Sepertinya dinding bilik ini sedemikan kuat dan nyaris tidak ada celah. Niken kesal dengan kondisi tangan terikat seperti ini. Apalagi mulutnya juga tertutup. Sejak kemarin sosok itu tidak muncul lagi. Ia khawatir akan dibiarkan membusuk di dalam ruangan ini. Ia tidak merasakan kehadiran orang lain di dalam bilik itu, sehingga bilik utama ini terasa sunyi dan menyeramkan. Banyak bunyi-bunyi aneh yang membuat Niken sedikit takut.


Sementara di bilik lain yang tak jauh dari bilik Niken, Aditya tampak lemah, dengan tangan tergantung di borgol. Kepalanya tertunduk lunglai, bahkan untuk mengangkatnya pun ia tak punya daya upaya. Aditya harus menyimpan energinya sebaik mungkin,karena sejak tadi malam ia belum makan. Kini terasa sekali bahwa energinya mulai terkuras habis.


Waktu yang berjalan terasa lambat bagi Aditya. Ia tidak ingat lagi apakah sekarang pagi, siang, atau malam. Semua terlihat sama di dalam bilik. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menunggu maut menjemput. Ya, dalam pikirannya ia tak akan bertahan hidup hingga lama. Bahkan dalam kondisi lemah dan tidak sadarkan diri, ia pernah bermimpi bahwa Lidya menjemputnya. Wanita itu terlihat cantik dalam balutan gaun putih, seperti bidadari. Sayangnya, semua itu merupaka halusinasi Aditya. Dalam kondisi seperti itu, memang bayangan-bayangan aneh kadang muncul tiba-tiba. Aditya hanya bisa pasrah.


Krieet!


Tiba-tiba pintu bilik dibuka. Sosok berpakaian hitam itu kembali muncul degan membawa sebotol air dan sebuah roti bungkus. Ia membuka lakban yang menutup mulut Aditya kemudian, menyodorkan air minum ke mulut pria itu. Bagai sapi yang kehausan, Adit menenggak air dalam botol itu hingga habis. Setelah itu, sosok itu juga membantu Adit untuk mamakan roti yang ia bawa,


"Aku memang pembunuh, tetapi aku bukan membunuh tanpa alasan. Kamu tahu kesalahanmu, Dit? Nanti akan kucoba ingatkan kesalahan yang pernah kamu lakukan di masa lalu. Sekarang penuhi perutmu dulu agar kau tidak mati kelaparan. Aku ingin kamu mati lebih terhormat daripada sekedar kelaparan!" ucap sosok itu.


"K-kamu siapa?" tanya Aditya dengan lemah.


"Aku adalah bagian dari masa lalumu, Dit. Aku tahu masa mudamu, kau terkenal begitu bersinar, dengan paras tampan yang kau miliki, kau berhasil memikat gadis-gadis cantik, termasuk Lidya. Tetapi sayangnya mereka tak tahu kebusukan hatimu sebenarnya. Kamu  memanfaatkan seorang gadis lugu yang tak tahu apa-apa, kemudian mencoba merusak kesuciannya, setelah kamu campurkn obat tidur dalam minumannya. Apa kau ingat itu. Adit?"


"A-aku tidak mengerti apa yang kau katakan .... "


"Bahkan di saat seperti ini kamu masih mengelak, Dit. Baiklah tidak apa-apa. Keadilan tetap akan ditegakkan dengan caraku sendiri, agar tidak ada lagi orang-orang seperti kamu. Kau tahu Tiara Laksmi  atau Tivani yang menjadi tersangka dalam pembunuhan di kastil ini? Ya, dia adalah inspiratorku. Ketika dunia menyingkirkannya, dia mencoba bersinar dengan caranya sendiri. Kini aku akan bangkit pula, membalaskan dendam sahabatku dan juga orang-orang lain yang terniaya!" ucap sosok yang berpakaian serba hitam itu.


Sayangnya, Aditya tak berhasil mengenali siapa sebenarnya sosok ini, walau ia tahu kalau dari jenis kelamin, sudah pasti perempuan. Namun, ia tidak dapat memastikan siapa yang bersembunyi di balik kostum warna hitam ini. Apalagi kondisi Aditya sedang lemah. Ia tak dapat melihat secara maksimal, karena seolah bayangan di depannya hanya bayangan kabur. Ia tidak mau ambil pusing dengan itu semua.

__ADS_1


Aditya tak lagi berargumen macam-macam. Memang yang dikatakan sosok itu benar. Dalam ingatannya sekarang muncul wajah Suci, gadis lugu yang pernah ia perdaya. Namun, itu semua adalah kenakalannya saat remaja. Ia tidak menyangka kalau ia akan menuai  buah dari kenakalannya itu. Ia hanya pasrah, menunggu apa aja yang akan terjadi.


Sosok itu tak mau berlama-lama di bilik Aditya. Ia segera keluar dan menggembok pintu bilik. Tak lama, ia berjalan menyusuri lorong menuju bilik utama yang ditempati Niken. Ia membuka bilik itu, mendapati Niken yang duduk di tepi ranjang. Mulutnya masih tertutup dan tangannya juga terikat. Sosok itu meletakkan air minum dalam botol plastik dan roti di atas meja, tanpa mengucap sepatah kata pun. Ia hanya memberi isyarat pada Niken, agar memakan makanan yang telah ia bawa.


Niken hanya terdiam. melihat sosok itu tanpa ekspresi. Gerak-geriknya menunjukkan kalau sosok ini sama sekali tidak gugup, bahkan terlihat cekatan, seolah telah sering melakukan tindak kejahatan. Niken mencoba mempelajari gerak--gerik itu, sembari mencari celah untuk melumpuhkannya. Sosok ittu hanya meletakkan makanan dan minumam di meja, kemudian berlalu dari bilik, tanpa mempedulikan Niken. Tak lupa, ia mengunci pintu bilik. Ia kembali menyusuri lorong yang menghubungkan dengan ruang baca, karena lebih mudah dijangkau. Akses dari dalam ruang bawah tanah menuju ruang baca tidak bisa, kecuali pintu rahasia dibuka dari ruang baca. Rupanya si sosok pembunuh itu sudah mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi.


***


Setelah mendapat keterangan seperlunya dari ibu Suci, Dimas undur diri, dan langsung memacu mobil ke kantor polisi untuk mendalami dan mempelajari hubungan antara Suci dengan masing-masing anggota The Girls Squad. Suci tidak pernah membeberkan siapa sebenarnya yang dimaksud 'sahabat' olehnya. Ia juga tidak pernah menyebutkan apakah si penolong itu termasuk juga dalam anggota Girl Squad atau malah orang lain? Semua masih terlihat abu-abu bagi Dimas, masih belum bisa menyimpulkan secara pasti.


Belum lagi sampai ke kantor, tiba-tiba ponselnya berdering. Rupanya telepon dari ibu Suci. Ia memang sengaja meninggalkan nomor kepada beliau, siapa tahu ada hal-hal penting  yang hendak disampaikan. Dimas segera mengangkat panggilan itu.


"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dimas.


"Maaf. Pak. Tadi saya baru membaca buku harian Suci dan saya juga baru tahu kalau ada sesuatu yang selama ini Suci sembunyikan juga dari saya. Ini benar-benar mengejutkan saya .... "


"Suci ... ah, bagaimana saya harus mengatakannya, Pak? Ternyata sebelum ia memutuskan untuk mengakhiri hidup, Suci telah beberapa kali melakukan aksi aborsi, tetapi rupanya belum berhasil .... "


Ibu Suci menghentikan ucapannya sejenak. Ia menghela napas, seolah ada hal berat yang membebani pikirannya.


"Maksud Ibu, Suci hamil, begitu?" Dimas memperjelas ucapan si Ibu.


"Iya, Pak. Suci hamil, mungkin baru berjalan dalam hitungan minggu, tetapi saya sama sekali tidak tahu siapa yang melakukan itu padanya. Suci begitu tertutup, murung, dan tidak bicara apa-apa. Saya sama sekali tidak menyangka ..."


Kali ini Ibu Suci tidak dapat menguasai emosinya. Terdengar suara sesenggukan di seberang. Dimas segera menutup telepon agar ibu Suci mempunyai waktu untuk menenangkan diri. Ibu Suci merasa terpukul dengan rahasia yang selama ini ditutupi oleh putrinya,sehingga mengantar ke kematiannya. Pastilah semua ibu pasti merasa terpukul apabila mengetahui putrinya mengalami hal seperti itu.


Dimas merasa semua menjadi lebih membingungkan. Informasi terbaru dari ibu Suci seolah menambah panjang daftar tersangka yang ada. Jadi siapa yang melakukan hal itu kepada Suci? Apakah ada kaitan antara kehamilan Suci dengan rentetan pembunuhan yang terjadi di kastil? Pertanyaan-pertanyaan itu yang saat ini Dimas coba cari jawabannya.


Suasana siang terasa sangat panas dan gerah, ketika ia sedang dalam perjalanan ke kantor.  Ia membelokkan terlebih dahulu mobilnya ke sebuah kedai kopi kekinian di pinggir jalan yang dilaluinya. Ia hanya ingin mendinginkan otaknya yang terasa mendidih, karena dibebani banyak pikiran. Mungkin segelas es kopi kekinian akan membantunya untuk sedikit rileks, sambil mendengarkan musik lembut yang diputar.

__ADS_1


Sembari meenunggu pesanan tiba, ia mulai mencorat-coret hal-hal apa saja yang sekiranya penting dalam kasus terbaru ini. Ia mulai menggunakan sketsa secara kasar, dengan menggambar kastil di sebuah kertas. Satu-persatu, ia menulis siapa saja yang mulai terlibat di sana. Ia menuliskan nama Mariah dalam huruf besar, kemudian menuliskan nama yang lain-lain.


Peristiwa di kastil diawali dengan pembunuhan sebagai pembuka kasus. Menurut informasi yang telah dihimpun, pada hari pertama di kastil, sudah dihebohkan dengan peristiwa terbunuhnya Lidya, salah seorang tamu yang ditemukan tewas di toilet kolam renang dalam keadaan mengenaskan. Laporan forensik menyatakan bahwa wanita itu beberapa kali ditikam di bagian dada dan perut, sehingga ia tewas karena kehabisan darah. Sampai saat ini belum ada petunjuk yang signifikan, kecuali petunjuk-petunjuk kecil yang didapat di lapangan, maupun petunjuk dari para saksi.


Dalam kasus Lidya, orang yang terakhir bertemu dengan dia adalah Aditya, suami Lidya, yang saat itu pergi ke dalam kastil untuk mengambil krim tabir surya.  Ternyata pembunuhan Lidya itu berlanjut ke hal-hal yang berbau teror. Tak ada yang menyangka kalau rencana bersenang-senang di air terjun, malah menjadi serangkaian teror. Diawali dengan menghilangnya Nadine saat hendak buang air kecil. Kemudian Nadine ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri di sebuah pondok di tengah hutan oleh Jeremy. Tak lama istri Jeremy, Stella, juga menyusul ke pondok, sehingga Jeremy meminta Stella untuk menunggui Nadine, sementara dia mencari pertolongan di sekitar air terjun. Sayangnya, ketika Jeremy turun untuk mencari pertolongan, kedua perempuan itu malah menghilang. Sampai sekarang keberadaan Stella belum diketahui secara pasti.


Teror berikutnya adalah menghilangnya Maya dan Farrel. Maya sempat menghilang dan berhasil kembali ke kastil. Menurut pengakuan Maya, ia sempat dipukul oleh sosok yang tak dikenal, kemudian ditinggal begitu saja di dalam hutan, sampai ia memutuskan untuk kembali ke kastil. Namun, nasib malang dialami oleh Farrel. Potongan kepala Farrel sengaja diletakan di depan pintu kamar Mariah, sehingga menambah suasana kastil makin panik dan mencekam.


Satu-persatu teror pun dimulai. Awalnya penemuan sosok gadis yang bertugas membersihkan kastil, Kara dalam keadaan mengenaskan. Gadis muda itu terbunuh dengan cara dilempar dari atas menara loteng. Lalu beberapa saat kemudian, Nadine ditemukan dalam keadaan tergantung di ruang bawah tanah, tetapi untunglah nyawanya masih bisa diselamatkan. Beberapa saat berselang, Rosita juga ditemukan di atas loteng dalam keadaan setengah telanjang dan disekap di  atas sana. Lalu kejadian teror berlanjut dengan terkuncinya kamar Nadine, dan ternyata di dalam kamar perempuan itu ada seseorang yang hendak membunuh Nadine. Sayangnya si sosok itu berhasil kabur dengan cara memecah jendela. Semua peristiwa itu terjadi dalam jangka waktu berdekatan,s eolah si pembunuh tak memberi jeda sedikit pun atau kesempatan untuk bernapas. Semua terjadi begitu cepat.


Dimas menulis semua kronologi itu dalam sebuah catatan, sambil mengumpulkan bukti-bukti yang ia dapat, teramsuk foto lama milik Mariah. Sepertinya sosok Suci adalah sosok kunci yang bisa mengungkap kasus ini. Sayangnya, gadis itu telah meninggal, dan menyisakan sejumlah misteri baru. Kalau dilihat dari perkembangan kasus, sepertinya ada seseorang yang hendak membalaskan dendam Suci, tetapi sampai kini belum diketahui siapa orang tersebut. Semua masih terlihat samar-samar.


Setelah membasahi kerongkongannya dengan segelas kopi dingin, Dimas melanjutkan perjalanan ke kantor. Ia akan kembali membongkar arsip lama, dan mencobe mengorek tentang segala sesuatu yang mungkin tersembunyi, atau memang sengaja disembunyikan. Tak butuh waktu lama, sepuluh menit kemuudian ia telah sampai ke kantornya. Ia segera masuk ke dalam, tetapi tak disangka ketika ia baru membuka pintu, ia melihat ada seorang wanita duduk di kursi tunggu, tersenyum manis kepadanya.


"Gilda," gumam Dimas.


***


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2