Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
146. Tugas Berat


__ADS_3

Tap!


Miranti merasakan tepukan di pundaknya. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Ia membalikkan badan, menjumpai seorang gadis berdiri di belakangnya yang sedang tertawa.


“Rasty! Kamu mengagetkanku!” ucap Miranti.


“Sori ... sori, Mir! Habis kamu jalan seperti orang takut begitu. Nggak fokus. Emang apa yang sedang kamu pikirin? Kamu takut polisi bakalan mendatangimu dan bertanya seputar pembunuhan Jenny? Jangan takut. Kalau kita nggak salah kan nggak perlu setakut itu,” kata Rasty.


“Bukan itu sih. Ngomong-omong kamu kok ada di sini? Dari mana kamu?” tanya Miranti.


“Aku lagi males pulang. Di rumah, Mama nyalahin aku melulu. Keluar aja dibatasin. Boleh nggak aku mampir rumah kamu sebentar?” tanya Rasty.


“Boleh aja sih. Tapi rumahku nggak ada makanan enak seperti di rumahmu loh!”


“Halah! Biasa aja. Kan sudah biasa juga aku main ke tempatmu!”


Kedua gadis itu berjalan menyusuri gang menuju ke rumah Miranti yang sudah tak jauh. Sesampai di rumah Miranti, Rasty duduk di teras sambil mengamati koleksi tanaman hias milik ibu Miranti. Rupanya ibu Miranti cukup telaten merawat aneka bunga dan tanaman hias dalam pot-pot kecil yang disusun rapi di depan rumah.


Sementara, Miranti berganti baju. Sesaat kemudian ia keluar dengan sebotol air dingin dan sepiring pisang goreng yang masih hangat.


“Boleh nggak aku minta anakan tanaman ini?” tanya Rasty sambil memegang sebuah tanaman sebangsa keladi yang berdaun merah.


“Boleh aja sih. Tapi izin Ibuku dulu ya. Beliau yang rajin merawat. Aku nggak enak kalau langsung mengambilkan untukmu. Pasti dibolehin kok, tapi izin dulu ya!” jawab Miranti.


Rasty tersenyum senang. Ia melihat paras Miranti yang sedikit aneh sore itu. Nyaris tanpa senyum, diliputi kecemasan yang begitu kentara. Rasty mengernyitkan kening.


“Kamu ada masalah, Mir?” tanya Rasty mulai penasaran.


Rasty dan Miranti sudah berteman sejak lama, jadi Rasty sangat paham ketika Miranti sedang mempunyai masalah atau sedang memikirkan hal yang cukup serius.


“Eh, nggak kok!” jawab Miranti pendek.


“Jangan bohong! Wajahmu itu nggak bisa dusta. Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Ayo, ceritalah ke aku! Siapa tahu aku bisa bantuin kamu? Kita kan berteman udah lama," desak Rasty.


Rasty beralih duduk di kursi teras menemani Miranti yang sudah lebih dulu duduk di sana. Paras Miranti terlihat risau. Ia merasa ragu untuk menceritakan perihal pesan misterius yang baru saja ia terima. Sejujurnya, ia khawatir bahwa Rasty adalah pelaku dari rentetan pembunuhan yang terjadi.


“Ras, apa kamu masih menyimpan kebencian pada Jenny?” tanya Miranti kemudian.


Mendengar pertanyaan itu, kening Rasty berkerut. Ia tahu arah pembicaraan Miranti.

__ADS_1


“Kok kamu nanya begitu? Memangnya kenapa?” tanya Rasty sedikit sewot.


“Oh, nggak apa-apa! Aku hanya bertanya,” kilah Miranti.


“Hmm. Aku tahu arah pertanyaanmu, Mir. Rupanya kamu mencurigai bahwa aku yang melakukan pembunuhan terhadap Jenny kan? Denger ya, Mir! Berapa kali kukatakan, bahwa memang iya aku membenci Jenny karena dia telah merebut Rudi dariku, tetapi aku nggak senekat dan sebodoh itu untuk membunuh Jenny!” kata Rasty.


“Ma-maaf Rasty, bukan maksudku untuk menuduhmu, tetapi ....”


Miranti mengehentikan kalimatnya. Ia merasa ragu-ragu. Rasty segera paham apa yang hendak dibicarakan oleh Mairanti.


“Tetapi apa? Apa kamu punya bukti yang menguatkan bahwa aku membunuh Jenny?” desak Rasty.


“Bukan itu maksudku! Sejujurnya aku bingung banget dan tertekan, Ras! Kadang aku curiga padamu, aku curiga sama Lena, curiga sama Adinda, Rudi, Alex, dan curiga pada semuanya. Aku nggak bisa percaya siapapun. Aku merasa pembunuh itu seolah begitu dekat, melihat apa yang aku lakukan. Aku merasa sangat takut, Ras!” ucap Miranti dengan suara bergetar.


Rasty menghela napas. Ia mencoba memahami apa yang dikatakan Miranti. Siapapun pasti merasa tertekan dengan apa yang sedang terjadi. Sampai saat ini, pelaku pembunuhan masih menjadi misteri, sehingga mereka harus menebak-nebak siapa pembunuh yang sebenarnya.


“Oke, Mir. Aku paham apa yang kamu rasakan.”


“Ras ... “


“Iya, Mir?”


“Maukah kamu berjanji kepadaku?”


“Jika suatu saat nanti aku menjadi salah satu korban pembunuhan, aku ingin kamu menyampaikan sesuatu kepada .... “ Miranti menghentikan kalimatnya.


“Kepada siapa, Mir? Katakan kepadaku! Kamu bisa percaya sama aku. Nggak akan aku bilang ke siapa-siapa!” desak Rasty.


Miranti ragu-ragu. Ia menggelengkan kepalanya, urung menyampaikan pada Rasty, sehingga gadis itu makin penasaran.


“Mungkin tidak sekarang, Rasty. Maaf ya!”


***


Nayya mundur beberapa langkah, bersikap waspada. Sementara Gerry berdiri tak bergerak melihat sosok yang baru datang dengan tatapan marah.


“Kalian tidak ingat apa yang sudah kupesan pada kalian? Jangan bertindak bodoh. Kalian paham itu! Hari ini kalian bertindak bodoh!"


Sosok itu berkata dengan lantang, nyaris berteriak. Nayya merasa takut. Rupanya apa yang mereka lakukan memantik api amarah. Tiba-tiba, sosok itu melemparkan pistol kepada Gerry. Sementara ia sendiri memegang sebilah benda tajam. Gerry dengan sigap menangkap pistol yang dilemparkan sosok itu dengan tatapan heran. Sosok itu mendekati Gerry, kemudian melekatkan benda tajamnya ke leher Gerry.

__ADS_1


“Ada tugas untukmu, Ger!” kata sosok itu dengan tegas.


“Tugas? Tugas apa?” tanya Gerry dengan suara gemetar.


“Pertama, kamu harus membereskan segala kekacauan ini. Ruangan ini begitu berantakan dan tak sedap dipandang mata. Kamu harus membereskan semua kekacauan yang sudah kamu buat!”


“Biar aku yang membereskan! Kamu nggak usah khawatir!” Nayya menyela pembicaraan.


“Hmm. Rupanya kalian sudah saling mengerti ya? Bagus kalau begitu!” ucap sosok itu sambil menyeringai.


“Baiklah. Aku skip saja tugas pertama. Aku akan langsung tugas kedua yang harus kamu kerjakan. Tugas kedua ini bisa dibilang mudah, tapi bisa juga sulit. Yang jelas, kamu harus melakukan tugas itu, sebab kalau tidak, maka aku sendiri yang akan menghabisimu!” ujar sosok itu.


Gerry merasa bingung. Tugas apa gerangan yang hendak dibebankan kepadanya?


“Aku tidak perlu melakukan tugas itu!” tolak Gerry.


“Kalau begitu aku akan membunuhmu. Apakah kamu siap?” Sosok itu menekan benda tajam semakin kuat ke leher Gerry.


“Jangan! Jangan bunuh dia!” ucap Nayya.


Sosok itu memalingkan muka ke arah Nayya, sambil menyeringai.


“Hmm. Memangnya kenapa? Apakah dia kelihatan penting untukmu? Aku bisa saja membunuh pria ini di depan matamu sekarang, tetapi kelihatannya kamu sangat mengkhawatirkan dia,” ucap sosok itu.


“Oke ... oke. Aku akan lakukan tugas darimu. Lalu apa imbalannya setelah aku selesai melakukan tugasku? Apakah aku akan memperoleh kebebasan?” tanya Gerry tiba-tiba.


“Tentu. Mengapa tidak? Kalau kamu melaksanakan tugas itu dengan baik. Maka, kamu boleh pergi meninggalkan apartemen ini dengan catatan kamu tidak melapor semua yang kamu lihat pada polisi. Sebab aku akan membuatmu sangat menderita Ger! Bukan hanya kamu, tetapi seluruh keluargamu!”


Ancaman sosok itu mulai meruntuhkan keberanian Gerry. Ia tak mau mengambil risiko apapun. Ia mengamati pistol yang yang dilempar padanya, sambil menahan napas.


“Katakan, tugas apa yang harus kulakukan?” tanya Gerry dengan suara bergetar.


“Berjanjilah kamu akan melaksanakan tugas itu dengan baik. Berjanjilah seperti layaknya pria yang selalu menepati janjinya. Apakah kamu sanggup melakukan itu, Ger?” tanya sosok itu lagi.


“Aku akan melakukannya!” jawab Gerry lantang.


“Bagus. Aku tidak suka dikecewakan. Tugas ini terdengar mudah. Tugasmu adalah ....”


Sosok itu menghentikan kalimatnya sejenak. Suasana menjadi hening. Gerry menunggu perintah dengan was-was. Demikian Nayya. Ia turut penasaran dengan tugas yang hendak dibebankan pada Gerry.

__ADS_1


“Tugasmu adalah ... bunuh dia!” ucap sosok itu sambil menunjuk ke arah Nayya.


***


__ADS_2