Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
183. Mengungkap Fakta


__ADS_3

Sore itu, apa yang dijanjikan pihak kepolisian benar-benar menjadi kenyataan. Para penghuni rumah isolasi mendapat satu set home theater, meja billiar, dan satu alat olah raga fitness portabel. Tentu saja, hal itu disambut gembira oleh penghuni rumah isolasi. Mereka tak sabar menggunakan fasilitas yang disediakan oleh pihak kepolisian itu. Mereka sudah menunggu-nunggu fasilitas hiburan seperti ini. Saat mereka kuliah pun, jarang menikmati hiburan karena kesibukan kuliah. Ini adalah kesempatan untuk memanjakan diri.


Walaupun begitu, masih ada saja komentar negatif dari penghuni rumah isolasi.


“Aku rasa percuma saja fasilitas hiburan seperti ini apabila polisi tidak meningkatkan keamanan kita di sini. Justru huburan-hiburan seperti ini akan melengahkan kita untuk tetap waspada. Banyak bersenang-senang membuat kita lupa kalau ada seorang pembunuh di sekitar kita,” ucap Alex.


Dari semua penghuni, memang hanya Alex yang terlihat tidak begitu gembira dengan adanya fasilitas-fasilitas baru yang disediakan oleh pihak kepolisian. Ia hanya mendengkus. Parasnya terlihat dingin tanpa menunjukkan reaksi apa pun.


“Udah kamu nggak usah banyak bacot! Kalau kamu emang nggak suka, ya nggak usah nyinyir. Mending kamu mendekam aja di kamar,” ucap Rudi menanggapi perkataan Alex.


Rudi rupanya masih tersinggung dengan perkataan Alex saat makan siang tadi. Ia masih menyimpan rasa tidak nyaman di hatinya. Alex hanya menghela napas, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar. Ia tidak ikut bergabung dengan teman-temannya yang sudah mulai mencoba fasilitas hiburan itu.


Di ruang tengah, Lena dan Rasty memilih untuk menonton film yang lagi hits dan baru saja diputar di bioskop. Sudah sekian lama mereka tidak menikmati duduk santai sambil menikmati film. Keseharian yang disibukkan dengan tugas kuliah, membuat mereka lupa bagaimana cara membahagiakan diri sendiri. Mereka memilih film drama romantis yang membuat perasaan mereka berbunga-bunga. Keduanya begitu menikmati adegan demi adegan dengan saksama.


Sementara Rudi mencoba alat fitness yang baru dengan perasaan gembira. Rudi terbiasa olahraga. Rasanya alat fitness ini adalah alat yang tepat untuk mengolah otot-ototnya yang lama tak digerakkan.


“Ini nih yang namanya mantap! Bukan papan catur!” celetuk Rudi.


Sementara meja bilyard yang dipasang di salah satu ruang, sudah dicoba oleh Ferdy dan Adinda. Walau Adinda tak begitu bisa bermain bilyard, tetapi ia suka melihat Ferdy memainkannya.


“Kamu jago juga ya main bilyard? Sering main ini?” tanya Adinda.


“Nggak juga. Kamu kan tau, aku jarang keluar malam karena sibuk bekerja. Aku hanya coba-coba saja kok ini, dan ternyata bermain bilyard cukup menyenangkan, apalagi kalau ada yang menemani seperti dirimu,” rayu Ferdy pada Adinda.


“Gombal!”


Adinda tersipu mendengar ucapan Ferdy. Walau ia tahu itu hanya rayuan, entah mengapa ia merasa senang dirayu seperti itu. Di sisi terdalam, sebenarnya ia masih meragukan bagaimana perasaan Ferdy kepada dirinya sebenarnya, karena sepanjang yang ia tahu, Ferdy dekat dengan beberapa gadis-gadis cantik. Bahkan, Gilda pun sepertinya tertarik dengan Ferdy. Hal itulah yang membuat Adinda sedikit cemburu.


“Kamu mau mancoba?” tawar Ferdy sambil memberikan stik kepada Adinda. Gadis itu hanya menggeleng.


“Tidak, aku nggak bisa main kok. Tapi aku suka melihat kamu main,” ucap Adinda.


“Aku nggak bisa main kalau kamu terus melihatku seperti itu,” ujar Ferdy sambil tersenyum penuh arti.


“Jadi kamu nggak suka aku di sini?” tanya Adinda.


“Eh ... bukan seperti itu. Maksudku ... aku jadi malu kalau kamu melihatku bermain. Aku kan tidak pintar bermain bilyard. Jadi kurang percaya diri,” jawab Ferdy.


“Apa perlu kupanggil Gilda untuk menemani?” pancing Adinda.

__ADS_1


Ferdy tersenyum dan menggeleng.


“Jangan mulai. Kamu tahu, Gilda beberapa tahun lebih tua dari aku. Aku sama sekali tidak punya pikiran apa-apa terhadap dia. Kami memang sedikit akrab sejak dia mengundangku dalam acara TV yang ia pandu. Sebatas itu saja kok. Nggak ada hubungan lebih di antara kami,” ucap Ferdy.


“Bagaimana dengan teman sekerjamu yang naksir kamu itu? Kalian masih sering berhubungan?” tanya Adinda penuh selidik.


Ferdy mulai tak nyaman mendengar pertanyaan-pertanyaan Adinda yang membabi-buta seperti itu. Ia tahu Adinda cemburu. Ia menjadi hilang mood untuk bermain bilyard. Ia letakkan stik di atas meja bilyard, kemudian ia memilih untuk meninggalkan Adinda sendirian. Ia malas menanggapi perkataan gadis itu.


“Ferdy!”


Adinda semakin gusar. Ia merasa diabaikan begitu saja sehingga menyusul langkah Ferdy yang meninggalkannya. Ferdy berada di taman samping, menghindari Adinda. Namun, gadis itu tetap membuntuti.


“Maaf Gilda, aku mulai tak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaanmu. Ya, aku memang dekat dengan beberapa gadis. Tapi bukan berarti memacari mereka semua, atau bahkan meniduri. Jadi kuharap kamu bisa mengerti itu. Kamu tahu, saat ini aku menyukaimu, tetapi kamu terlalu berlebihan, dan itu membuatku nggak nyaman,” ucap Ferdy.


“Fer ... aku minta maaf, aku hanya .... “


“Ah, sudahlah!”


Adinda tiba-tiba merasa bersalah. Ia menyesal telah bertanya hal-hal yang sensitif pada Ferdy. Namun rupanya Ferdy menepis permintaan maafnya. Ia hanya bisa terdiam melihat pria muda itu kembali berjalan pergi meninggalkannya.


***


Dimas sudah berkali-kali menghubungi nomor telepon milik Gilda, tetapi sepertinya tak aktif. Ia ingin menanyakan kepastian acara bincang-bincang yang dipandunya. Dimas mulai kesal, tetapi kemudian ia hapal dengan karakter Gilda yang agak berbeda. Ia berpikir Gilda memang membatalkan acara bincang-bincang itu. Karena tidak ada kegiatan, malam itu ia berniat menghabiskan waktu di luar, sebelum besok pagi ia harus menggantikan Reno untuk bertugas.


Setelah melewati gerbang perumahan yang dijaga ketat oleh sekuriti, Dimas diizinkan masuk ke dalam kompleks perumahan elit di mana Gerry tinggal. Ia segera menuju rumah Gerry yang mewah. Rumah itu terlihat sepi, karena hanya ada seorang asisten rumah tangga yang menghuni. Asisten rumah tangga itu terkejut dengan kehadiran Dimas. Namun, karena ia tahu bahwa Dimas seorang polisi, ia mengizinkan Dimas untuk memeriksa isi rumah Gerry, bahkan ketika Dimas meminta izin untuk memeriksa kamar Gerry, asisten rumah tangga itu mengizinkan.


"Silakan saja, Pak. Saya nggak bisa nolak," ucap asisten rumah tangga itu.


Dimas segera masuk ke dalam kamar tidur pribadi milik Gerry yang terlihat lapang. Sebuah ranjang mewah berada di dalm kamar itu. Kondisinya sangat rapi dan wangi, karena asisten rumah tangga membersihkan setiap hari. Di dalam kamar itu terdapat TV dan perangkat permainan game model terbaru. Dimas berpikir, bahwa kamar ini dirancang agar penghuninya benar-benar merasa nyaman.


Ia memeriksa laci yang ada di sana. Tak ada barang yang menarik, kecuali sekotak kond*om yang telah terpakai sebagian. Dimas tersenyum kecil. Ada pula foto Alma dalam laci tersebut. Tak mengherankan, setahu Dimas, Gerry dan Alma sedang menjalin hubungan sebelum gadis cantik itu tewas secara mengenaskan.


Di dinding kamar banyak tergantung foto-foto Gerry saat masih kecil, bersama ayah dan ibunya. Gerry terlihat sangat berbeda saat masih kecil. Dia kelihatan sangat lucu dan menggemaskan. Walaupun begitu, ia tak melihat foto Ferdy di sini. Sebab, menurut keterangan Bu Delia, Ferdy diangkat menjadi anak angkat oleh keluarga Gerry.


Dalam sebuah album foto yang ia temukan di lemari pakaian, Dimas menemukan foto lama saat Gerry bersekolah di TK. Kembali ia menemukan foto sahabat-sahabat Gerry saat di TK. Selebihnya, tak ada yang aneh. Namun, ia juga menemukan foto Alma yang lain di album foto itu. Sayangnya, wajah gadis itu tampak dicoret-coret dengan tulisan spidol warna merah.


I Hate you! Mengapa kamu khianati aku demi dia?


Dimas merasa bingung. Mengapa ada tulisan seperti itu di wajah Alma? Apakah Alma pernah mengkhianati Gerry? Pertanyaan itu terbersit di benak Dimas. Siapa yang dimaksud ‘dia’ di situ? Apakah kematian Alma ada kaitannya dengan semua ini?

__ADS_1


Dimas semakin penasaran dengan penemuan foto itu. Ia semakin antusias mencari informasi terkait hubungan Gerry dan Alma. Ia mencari bukti-bukti lain yang menguatkan. Beberapa boneka yang ada di kamar itu, tertulis bahwa boneka itu diperuntukkan untuk Alma.


Happy Birthday, Alma!


Kalimat itu jelas tertulis di sebuah kartu, tetapi mengapa boneka itu berada di kamar Gerry? Apakah Gerry tak memberikan boneka-boneka itu kepada Alma?


“Sepertinya aku harus mencari informasi tentang Alma .... “


Dimas segera menyelesaikan penyelidikannya di kamar Gerry. Kini ia berniat untuk pergi ke kediaman Alma untuk lebih mengenali gadis itu lebih jauh. Ia melirik ke arah jam tangannya. Sayangnya sudah hampir pukul sembilan malam. Tentu bukan waktu yang pantas untuk bertamu. Dimas menghela napas.


“Pak, kopinya diminum,” ujar asisten rumah tangga yang tiba-tiba hadir di kamar itu.


“Oh, iya. Terima kasih!”


Dimas hanya tersenyum hambar. Untuk menghormati, dia segera minum kopi buatan si asisten rumah tangga. Ia duduk di kursi tamu sambil terus berpikir.


“Belum ada kabar dari Gerry, Mbak?” tanya Dimas kepada asisten rumah tangga.


“Belum Pak. Saya juga sedih. Sampai kini belum ada kabar dari Mas Gerry,” ucap asisten rumah tangga itu dengan sedih.


“Kalau Ferdy sering ke sini nggak?” tanya Dimas.


“Kalau Mas Ferdy kadang saja sih ke sini. Tapi akhir-akhir ini belum pernah ke sini.”


“Kalau Alma?”


“Mbak Alma sebelum meninggal sering main ke sini, bahkan menginap. Tapi sejak Mas Gerry marah-marah kepada Mbak Alma, Mbak Alma jadi jarang main ke sini.”


“Marah-marah? Apa penyebabnya?” desak Dimas.


“Wah saya juga kurang tahu sih, Pak. Nggak berani nguping kalau mereka bertengkar. Tetapi ... sepertinya sih, mengenai Mbak Alma yang selingkuh gitu. Saya juga kurang tahu sih Pak,” ucap asisten rumah tangga itu takut-takut.


“Selingkuh dengan siapa?”


“Wah, saya takut salah. Nggak berani saya, Pak!”


“Tenang saja Mbak. Soalnya ini penting agar kasus ini segera terselesaikan. Jadi sepengetahuan Mbak nya, Alma selingkuh dengan siapa?”


“Ehm ... setahu saya sih dengan .... “

__ADS_1


Asisten rumah tangga itu terdiam sejenak, sementara Dimas menunggu jawabannya dengan antusias.


***


__ADS_2