Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
365. Halusinasi


__ADS_3

Sebentar lagi hari mulai gelap. Rona merah sudah membayang di ujung-ujung langit. Angin dingin juga mulai menggigit kulit. Jendela-jendela yang terhubung dengan luar kastil mulai ditutup. Di dalam ruang baca yang lengang, Reno baru saja menyelesaikan lembar pertengahan buku tentang sejarah kastil tua yang ia baca, kemudian melipatnya sebagai tanda halaman terakhir yang dibaca. Ia melayangkan pandangan ke arah luar yang mulai gelap. Kekhawatiran mulai menyeruak dalam hatinya.Kegelapan selalu menebar ancaman yang datang tiba-tiba.


"Jadi begitulah ceritanya," ucap Juned yang duduk di hadapannya.


"Apa kau sudah menyelidiki lorong itu berakhir di mana?" tanya Reno sambil menatap mata Juned.


"Belum, Pak. Tetapi aku melihat cahaya terang di luar sana, serta kulihat banyak pepohonan. Aku melanjutkan untuk melangkah menyusur lorong, ternyata benar dugaanku kalau lorong itu tembus sampai ke hutan. Pintu lorong itu berbentuk jeruji besi yang terkunci, sehingga aku tak bisa keluar lewat sana," papar Juned.


"Apakah menurutmu kita perlu menyelidiki lorong itu. Jun? Apakah kamu menemukan hal yang janggal atau sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk?" tanya Reno lagi.


Juned mengangguk, kemudian mengeluarkan selembar kartu dari sakunya. Ia segera menyerahkan kartu itu kepada Reno. Tentu saja, Reno sangat mengenali kartu yang tak asing itu. Kartu yang diberikan Juned itu adalah kartu tanda anggota kepolisian, yang biasanya selalu dibawa anggota polisi sebagai tanda pengenal.


"Ini kan kartu anggota milik Niken?" tanya Reno sambil mengamati kartu yang diberikan Juned kepadanya.


"Iya benar sekali, Pak. Itu memang kartu anggota milik Niken. Rupanya ia sengaja menjatuhkan di dekat ujung lorong. Mungkin ia berharap ada orang yang menemukan. sehingga ada yang menolongnya. Kartu ini adalah petunjuk bahwa Niken mungkin berada tak jauh dari terowongan yang tembus sampai ke hutan itu," terang Juned.


"Bisa jadi, Jun. Ada dua kemungkinan terkait kartu ini. Sengaja dijatuhkan, atau tak sengaja terjatuh. Ada dua kemungkinan pula terkait nasib Niken hingga saat ini. Apakah masih hidup, atau sudah mati?" ucap Reno.


"Saya akan kembali turun ke bawah untuk menyelediki, tetapi hari sudah mau gelap. Mungin besok pagi saja saya bergerak ke sana dan memastikan bahwa Niken memang ada di sekitar sana atau tidak," kata Juned.


"Ya, kukira besok pagi saja kamu ke sana, tapi jangan sendirian. Kusarankan kamu membawa teman. Mungkin salah seorang tamu pria bisa kamu ajak. Asal jangan tamu wanita. Aku tidak percaya dengan semua wanita yang ada di sini," saran Reno.


Juned tertawa mendengar ucapan Reno seraya menimpali,"Masa iya saya mengajak tamu wanita turun ke dalam bawah tanah. Saya akan mengajak Jeremy. Dia pernah berpesan kepada saya untuk ikut menyelidik apabila turun ke bawah. Ia masih penasaran dengan keberadaan Stella, istrinya," ucap Juned.

__ADS_1


"Ya, sampai saat ini keberadaan Stella juga masih misterius. Semoga dia masih kita temukan dalam keadaan hidup. Aku kemarin sempat berkata pada Jeremy, mungkin Stella masih berada di bawah tanah, tapi kupikir aku harus merevisi ucapanku. Bisa jadi dia ada di tempat lain. Yang kukhawatirkan adalah...." Reno menghentikan kalimatnya sejenak.


"Stella sudah meninggal?"


"Ya, itu membuatku agak cemas. Karena secara logika, dia tidak akan bertahan hidup lebih dari tiga hari tanpa makanan dan minuman. Atau mungkin dia mendapat pasokan makanan dan minuman seperti Anjani dahulu, yang bersembunyi di dalam bawah tanah selama bertahun-tahun. Ia bertahan hidup karena pasokan makanan dari Helen. Nah, kalau memang Stella masih bertahan hidup, siapa yang menyediakan pasokan makanan untuknya?" ucap Reno.


"Besok saya akan cari tahu, Pak. Hal yang sama mungkin juga akan terjadi pada Niken. Ia akan mati karena kelaparan dan kehausan. Kita harus menemukan Niken segera," sambung Juned.


"Baik, Jun. Aku percayakan padamu untuk mencari jejak Niken. Aku tidak bisa beranjak dari kastil karena tempat ini terlalu berbahaya apabila ditinggal. Kuharap Dimas juga segera tiba di sini, dan membawa informasi penting yang kita butuhkan."


"Baik, Pak. Oya, Pak Reno sudah bertemu dengan Nadine hari ini?" tanya Juned.


"Nadine? Ada apa dengan Nadine?"


"Astaga! Mengapa dia bersikap seceroboh itu? Kita nggak mungkin mencari sekarang, karena sebentar lagi gelap. Pencarian di malam hari tidak efektif dan membahayakan. Mungkin sekalian kamu mencarinya besok," kata Reno.


"Baik Pak! Semoga tidak terjadi apa-apa malam ini!"


***


Suara burung gagak berkaok-kaok terbang melintas di atas hutan yang mulai gelap. Burung-burung lain pun mulai beterbangan pulang ke sarang. Hutan mulai menampilkan orkestra alam menjelang malam. Serangga beterbangan, sebagian lagi berderik-derik melengking memenuhi seluruh penjuru hutan. Bagi orang awam, orkestra alam itu tidak terdengar indah, tetapi menakutkan.


Niken mengangkat wajahnya yang sejak tadi terkulai lesu. Ia hanya pasrah melihat alam yang mulai redup di sekitarnya. Udara dingin juga mulai menggigit kulit. Dalam keputusasaannya, Niken berpikir bahwa mungkin ia akan mengakhiri hidup di dalam hutan ini. Ia ingin menangis, tetapi sepertinya itu sia-sia belaka. Air matanya seolah telah kering. Ia hanya bisa pasrah dengan apa yang akan menimpanya.

__ADS_1


Sekonyong-konyong, ia melihat sesosok pria yang mendekatinya, dalam bayangan kabur, antara kenyataan atau hanya ilusinya. Matanya serasa berkunang-kunang, tak bisa melihat dengan jelas siapa yang datang mendekat. Setelah cukup dekat, Niken kini dapat mengenali siapa yang sedang mendekatinya.


"Ramdhan," gumamnya lemah.


Sosok pria yang dikenali sebagai Ramdhan itu tak mengeluarkan sepatah kata apa pun. Ia hanya menyeringai melihat Niken yang begitu tersiksa, seolah menertawakan. Ia menatap tajam ke arah Niken dengan tatapan penuh dendam dan amarah. Niken teringat saat ia berbuat jahat kepada polisi itu. Namun, ia tidak menyangka kalau sosok itu akan hadir di hadapannya sekarang.


"Ja-jangan Ramdhan. Maafkan aku ... maafkan aku. Tolong lepaskan aku. Aku menyesal. Tolong aku, Ramdhan. Kumohon tolonglah aku," gumam Niken perlahan.


Sosok hitam di hadapan Niken itu tiba-tiba menyeringai, lalu menghambur hendak mencekik Niken. Wanita itu hanya bisa pasrah seraya menjerit. Lengkingannya memenuhi seisi hutan, mengejutkan binatang-binatang hutan yang pulang ke sarang.


"Tidaaak!"


Niken memejamkan mata, tetapi tak ada sesuatu yang terjadi. Padahal ia berpikir akan mati hari itu. Ia membuka mata perlahan, menatap sekitar. Bayangan hitam itu seolah menghilang, menyisakan kesunyian di sekelilingnya. Ia merasa bingung dengan apa yang terjadi. Apakah sosok Ramdhan tadi hanya halusinasinya semata?


"Tidak ... tidak. Apakah aku sudah gila?"


Rasa lelah dan putus asa yang dialami Niken telah sampai ke titik puncak, sehingga membuat wanita itu mengalami halusinasi. Rasa bersalahnya terhadap Ramdhan memicu pikiran-pikiran negatif yang diciptakannya sendiri. Ia melayangkan pandangan ke sekitar, tetapi hanya pohon-pohon yang mengepung. Ia merasa tersiksa dengan bayangan yang ia ciptakan sendiri.


"Lepaskan aku! Kumohon lepaskan aku!"


Niken mulai tertekan sehingga mulutnya meracau. Belum lagi ia mereda dengan perasaan gelisah yang ia alami, ia merasakan sesuatu merayap di kakinya. Seekor binatang melata dengan tubuh licin dan panjang. Niken menahan napas, tak berani bergerak. Betapa tersiksa dirinya sekarang ini.


***

__ADS_1


__ADS_2