
Malam mulai datang menyelimuti kastil dengan kegelapan di segala penjuru. Malam selalu menebar ketakutan bagi penghuni kastil. Mereka enggan berkumpul-kumpul, tetapi lebih memilih berdiam di dalam kamar. Baru beberapa hari di kastil, tetapi para penghuni sudah mulai jenuh. Apalagi di kastil muncul peristiwa-peristiwa yang tak diharapkan. Rupanya serentetan teror itu yang membuat cemas para penghuni, sehingga muncul pikiran untuk meninggalkan kastil. Terutama yang pernah mengalami trauma, tentu bukan hal mudah untuk melewati hari-hari di kastil yang penuh teror.
Di sebuah kamar, pasangan Nadine dan Ryan tampak gelisah. Nadine yang pernah merasakan sendiri bagaimana kuatnya tali menjerat lehernya, kini terlihat gundah. Nadine memegang lehernya yang terluka. Jeratan tali itu terasa sangat menyakitkan. Untunglah ada yang datang hari itu. Kalau tidak, mungkin ia sudah meregang nyawa di tiang gantungan.
"Kita harus pulang besok!" ajak Nadine.
Nadine dan Ryan hanya duduk di samping ranjang, sementara malam semakin menjelang. Nadine memilih untuk tinggal di dalam kamar, karena ia malas untuk keluar. Sayangnya malam uang mencekam ini tidak membuatnya mengantuk. Malahan Ryan tidak bisa tidur karena masih terpikir hal-hal buruk yang pernah terjadi di kastil. Namun, ia berusaha setenang mungkin, agar Nadine juga tidak terpengaruh.
"Aku mengerti kamu takut, Nadine. Tapi bukankah semua juga mengalami ini? Aku yakin kita bisa melewati ini. Si pembuat kekacauan itu akan ditemukan, dan kita semua akan pulang dengan selamat. Aku yakin tidak ada lagi yang meninggal. Semua akan baik-baik saja, Nadine."
Ryan berusaha menenangkan Nadine yang terlihat cemas. Bahkan Nadine tampak sudah mulai mengemasi pakaian yang ia simpan dalam lemari, karena ia sudah merasa tidak nyaman berada di dalam kastil. Ryan berpikir bahwa kastil ini bukan tempat yang ama bagi Nadine dan yang lainnya.
"Semua akan baik-baik saja? Seseorang hendak membunuhku, Rosita disekap di dalam loteng, Lidya dihabisi dengan cara sadis, Farrel dipenggal kepalanya, Stella dan Aditya sampai saat ini belum ditemukan, dan kamu bilang semua akan baik-baik saja? Tidak Ryan, Ini adalah sebuah awal. Mimpi buruk ini akan terus berlangsung. Ini bukan sesuatu yang baik-baik saja!" tukas Nadine.
"Baik. Aku mengerti Nadine. Kalau ada kesempatan untuk keluar dari kastil ini, pasti akan kulakukan sejak kemarin-kemarin, Nad. Cuman para polisi itu tentu tidak akan mengizinkan. Kita hanya bisa mengikuti proses penyelidikan ini hingga tuntas! " kata Ryan.
"Lalu apakah kita akan pasrah di sini sampai menunggu maut menjemput?" tukas Nadine.
"Tidak seperti itu Nadine. Tidak seperti itu. Ya, aku tahu sekarang ini kondisi tengah gawat karena ada seorang psikopat yang berkeliaran, mengintai kita satu-persatu dan akan menghabisi kita. Tapi aku yakin, sebentar lagi dia akan dibekuk polisi. Kamu jangan khawatir ya Nadine. Selama aku di sampingmu, aku akan selalu lindungi kamu," ucap Ryan sambil memeluk pundak istrinya.
Nadine menatap Ryan sedikit ragu, tetapi kemudian ia terlihat lebih tenang. Ia menghela napas, kemudian memasukkan kembali baju-baju yang sudah disusunnya ke dalam lemari.
Tok ... tok ... tok!
Tiba-tiba pintu kamar Nadine diketuk. Nadine menatap ke arah Ryan dengan cemas. Siapa yang malam-malam begini mengetuk pintu? Ryan memberi isyarat agar dengan jarinya, agar Nadine tidak bersuara. Ryan yang akan membuka pintu untuk memeriksa siapa yang mengetuk. Ryan bersikap waspada, berjalan berjingkat, menyiapkan diri apabila ada seseorang yang hendak berbuat jahat kepadanya.
Ia membuka pintu kastil perlahan, mendapati seorang perempuan jangkung di depan pintu. Wanita muda itu tersenyum. hingga membuat Ryan merasa lega. Ia menghela napas.
"Kukira siapa," kata Ryan.
"Maaf mengganggu kalian malam-malam. Apakah Nadine ada?" tanya wanita itu.
"Oh ya. Dia ada. Silakan masuk saja ke kamar, Mariah. Tidak apa-apa," ucap Ryan dengan ramah seraya membuka pintu lebar-lebar.
"Maaf Ryan, aku di luar saja. ada hal yang penting yang harus kubicarakan dengan Nadine," ucap Mariah sambil tersenyum.
Nadine yang saat itu berdiri di depan lemari juga merasa agak heran dengan kehadiran Mariah malam-malam begini, karena hal itu tidak lah seperti biasanya. ia melangkah mendekati pintu, kemudian berbicara dengan Mariah.
"Ada apa, Mariah?" tanya Nadine dengan paras penasaran.
"Mm, bisa nggak kita bicara di luar saja?" tanya Mariah.
"Baiklah," ucap Nadine.
Setelah minta izin kepada Ryan, Mariah dan Nadine berjalan menyusuri lorong kamar sambil mengobrol. Ryan hanya mengangguk, tetapi dalam hati ia mencemaskan istrinya. Namun karena ada Mariah yang menjemput, ia merasa sedikit lega.
"Kenapa Mariah? Sepertinya ada hal yang serius? Nggak biasanya kan?" tanya Nadine penasaran.
__ADS_1
"Malam ini ada sesuatu yang harus kita bicarakan, Nadine. Sengaja aku mengundang teman-teman kita di taman bunga samping, Malam ini kita harus tuntaskan, sebelum semuanya bertambah buruk," ucap Mariah dengan nada serius.
"Teman-teman? Maksudmu para penghuni kastil ini? Aku tidak paham, Mariah! Apanya yang bertambah buruk?"
"Nanti saja kita bicarakan di sana, Nadine!"
Kedua perempuan itu berjalan menuju halaman samping yang ditumbuhi banyak tanaman hias dan terdapat kursi-kursi taman yang membentuk lingkaran. Ternyata bukan hanya Nadine yang diminta hadir si tempat itu. Terlihat pula Rosita dan Lily yang sudah mengambil tempat di sana. Mereka semua tampak tegang. Mariah dan Nadine segera bergabung, tetapi belum ada sepatah kata pun terucap.
"Mana Maya?" tanya Rosita kemudian.
"Dia sedang membereskan sisa makan malam di dapur, dan akan menyusul sebentar lagi," jawab Mariah.
"Jadi apa yang hendak kalian bicarakan di sini? Mengapa tumben banget seperti ini?" tanya Nadine dengan tatapan heran.
Semua masih terdiam, tetapi berpaling ke arah Mariah, menunggu wanita itu untuk menjelaskan, apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Sesaat kemudian, Mariah mengembuskan napas, sembari melihat ke arah kastil.
"Kita tunggu Maya sebentar," ucap Mariah.
Setelah beberapa menit, terlihat Maya tergopoh-gopoh dari dalam kastil, dengan rambut yang tak rapi dan tangan yang basah. Bahkan celemek untuk memasak masih melekat di badannya.
"Maaf ... maaf aku terlambat! Jadi apa yang akan kita bicarakan di sini?" tanya Maya seraya mengambil tempat di salah satu kursi. Mariah menatap satu-persatu paras teman-temannya, kemudian memulai untuk berbicara.
"Sebelum aku berbicara, aku ingin bertanya. Kapan kita terakhir berkumpul seperti ini?" tanya Mariah.
"Nggak tau sih. Udah lama banget kali ya. Kita kan jarang ngumpul seperti ini. Kalaupun ngumpul pasti personelnya nggak lengkap karena kesibukan masing-masing. Makanya aku berinisiatif untuk mengadakan reuni ini, sekalian teman SMA kita, sambil mengajak pasangan masing-masing biar lebih akrab. Kapan lagi kita seperti ini kan?" terang Lily.
"Tapi ternyata enggak begitu kenyataanya!" bantah Mariah cepat.
"Maksudmu?" tanya Maya dengan gugup.
Ia khawatir Mariah akan membongkar rahasia pribadinya di hadapan yang lain. Degup jantung Maya berubah mengencang. Ia tahu bahwa Mariah adalah satu-satunya yang tahu tentang aib yang ia coba untuk sembunyikan.
"Maafkan aku. Kalau aku berpendapat, persahabatan kita selama ini hanya pura-pura belaka. Semua berusaha menonjolkan satu sama lain. Saling mengedepankan ego. Bahkan saling melirik pasangan yang lain. Persahabatan macam itu? Bahkan yang paling parah apabila ada salah seorang dari kita yang mengkhianati persahabatan, mencari cara agar kita semua binasa?" ungkap Mariah berapi-api.
Kali ini ia hampir tak dapat menahan emosinya.
"Tunggu ... tunggu Mariah! Aku nggak ngerti. Bagian mana yang kau sebut pengkhianatan di sini? Bagian mana yang kau sebut salah seorang dari kita hendak mencari cara agar kita binasa? Maaf, apakah aku melewatkan sesuatu?" tanya Lily penasaran.
"Kamu jangan pura-pura, Lily!" semprot Rosita.
"Pura-pura apa? Aku sama sekali nggak ngerti maksud kalian. Kalian pikir aku yang merencanakan semua ini? Sungguh jahat pikiran kalian. Aku tak akan setega itu. Apa untungnya aku melihat kalian semua binasa?" ucap Lily yang mulai terpancing emosi.
Maya dan Nadine yang melihat perdebatan itu hanya bisa terdiam dan saling memandang. Mereka bingung harus berkata apa. Suasana menjadi tegang. Mariah terdiam, karena ia juga sebenarnya tidak bermaksud menuduh Lily, tetapi di lain pihak, Rosita tampak getol menyudutkan Lily.
"Lalu buat apa kamu berpura-pura ke loteng dan menemukanku di sana? Bukankah kamu yang melempar gadis itu dari jendela? Lalu kamu turun, berpura-pura baik pada setiap orang?" Rosita terus menyerang Lily.
"Aku ... aku ke loteng? Kamu jangan gila ya Ros! Gadis apa? Siapa gadis yang kulemparkan dari loteng? Aku tidak paham maksudmu!" balas Lily.
__ADS_1
"Sudah cukup! Cukup! jangan ada perdebatan lagi. Kita di sini hendak meluruskan masalah, sekaligus meyelesaikan segala masalah yang pernah terjadi di masa lampau. Jadi kuharap kita semua bisa bicara dengan kepala dingin, dan tidak perlu ada emosi. Maafkan aku yang kelepasan tadi. Rosita, tahan amarahmu. Kita harus hentikan segala teror yang terjadi di kastil ini karena ini adalah masalah kita. Jadi kita yang harus selesaikan ini sendiri. Bukan polisi!" tandas Mariah.
"Masalah apa Mariah?" Nadine ikut buka suara.
"Oke ... aku akan ingatkan peristiwa saat kita masih berpakaian putih abu-abu. Saat kita merasa sok cantik dan konyol, membentuk Girl Squad dengan tujuan untuk gaya-gayaan. Ternyata grup itulah yang membawa petaka bagi kita, saat seorang gadis lugu muncul, meminta menjadi salah satu bagian dari kita. Kalian ingat itu? Bahkan Rosita mencibir dengan sangat keras. Nadine menertawakannya hingga menangis. Siapa lagi? Maya kau masih ingat? Gadis itu bernama Suci kalau kalian lupa. Ia mendapat tekanan secara psikis yang mungkin datangnya dari kita," terang Mariah.
"Astaga! Bukan maksudku menertawakan, tetapi ...." sela Nadine.
"Sudahlah , Nadine. Simpan saja pembelaanmu itu. Kita harus jujur pada diri kita sendiri, bahwa apa yang kita lakukan di masa lalu itu salah. Suci sempat depresi dan memutuskan untuk mengakhiri hidup. Akibatnya dendam Suci masih terasa hingga sekarang. Sayangnya, bukan Nadine yang membalaskan dendam itu. Omong kosong kalau arwah orang mati bisa bergentayangan dan membunuh orang. Itu hanya di film horor. Yang kita hadapi ini adalah seseorang yang misterius bermuka dua. Dia terlihat baik bersama kita, tetapi diam-diam juga bersahabat dengan Suci, merencanakan hal-hal jahat kepada kita. Aku bisa merasakannya," papar Mariah.
Semua wanita yang hadir di taman itu terdiam mendengar penuturan Mariah. Namun, masih tersimpan keraguan. Apakah benar analisis Mariah itu? Benarkah pelaku segala kekacauan di kastil ini adalah seseorang yang dekat dengan Suci?
"Apa kalian sadar, ketika dia mencoba mengingatkan kita bahwa dia akan kembali? Sebetulnya bukan Tiara yang kembali ke kastil ini, tetapi Suci! Atau lebih tepatnya dendam Suci yang dibalaskan oleh orang ini!" lanjut Mariah.
"Tunggu Mariah! Jangan kau lanjutkan analisismu yang ngawur itu! Apa buktinya kalau yang melakukan ini adalah teman dari Suci yang berada di antara kita? Lalu apa hubungannya Farrel dengan Suci? Mengapa dia dibunuh juga? Apakah kamu mengandalkan mata batinmu saja untuk menuduh seseorang? Kita tidak bisa melihat kasus ini setengah-setengah. Kita harus lihat lebih dalam, apakah semua ini memang dendam Suci yang tak terbalaskan?" tanya Lily.
"Firasatku mengatakan bahwa ..... "
"Aku tidak peduli firasatmu, Mariah! Jangan bicara firasat di sini! Tapi fakta. Kita semua sekolah tinggi-tinggi, dan hari gini kita masih bicara tentang firasat. Sebelum kau menuduh ini dan itu, kamu harus pake fakta Mariah. Jangan asal bilang si A si B. Tuduhanmu itu sangat jahat dan kamu bisa dituntut karena itu. Aku tahu kamu saat ini tengah mendakwaku, tetapi ya sudahlah! Itu hak kalian! Aku sama sekali tak tahu menahu tentang kasus ini!" ucap Lily tegas,
"Oke, sekarang aku akan mengajak kalian berpikir dengan logika. Kematian Suci yang tidak wajar, jelas membuat orang-orang terdekatnya sangat marah. Dan jangan dikira aku tidak tahu kalau salah satu dari kalian ada yang suka berkhianat, suka membeberkan rahasia dan aib grup kita pada Suci. Aku tahunya dari mana? Karena Suci sendiri yang pernah bilang kepadaku. Suci di sini memang lugu, tetapi nggak selugu dugaan kita. Kadang ia menertawakan aku di telepon, karena salah seorang member Girl Squad adalah seorang pembelot. Aku pernah memaksanya untuk berbicara siapa sebenarnya si pembelot itu, tetapi dia menolak. Ia bahkan pernah bilang bahwa ....."
Mariah mengehentikan kalimatnya sejenak, sehingga para wanita yang ada di situ menunggu dengan penasaran.
"Bahwa apa?" desak Rosita.
"Ia berkata bahwa kalau terjadi apa-apa dengan dirinya, maka Girl Squad harus bertanggungjawab. Dia juga pernah bersumpah akan menyimpan dendamnya pada Girl Squad hingga mati. Dan kalian juga tahu harus tahu ini!"
Tiba-tiba Mariah mengeluarkan secarik kertas dari kantung celananya. Kertas itu telah lecek, tetapi masih bisa dibaca tulisan di dalamnya.
"Itu apa?" tanya Maya dengan polos.
"Aku menemukan kertas ini baru kemarin. Kertas ini diselipkan begitu saja di bagian bawah pintu kamarku, dan dia tahu kalau aku lagi tak enak badan, sehingga aku seharian berada di kamar. Langsung kubuka kertas itu dan kubaca. Dengarkan! Aku membacanya untuk kalian!" kata Mariah sambil membuka kertas itu.
Semua masih menunggu dengan antusias. Mereka semakin penasaran mendengar cerita Mariah.
"Nanti akan tiba giliranmu, Ikan Besar. Kamu harus ikut bertanggungjawab atas kematiannya. Kalian semua harus bertanggungjawab. Arwah Suci akan bergembira melihat darah kalian tertumpah!"
Mariah membaca tulisan di kertas itu dengan lantang. Sontak, suasana menjadi tegang. Malam yang terasa mencekam , seolah semakin mencekam. Mereka merinding mendengar ancaman itu.
"Lalu apa hubungan Farrel dengan ini semua?" gumam Lily.
"Kalau menurutku, Farrel itu hanya pancingan atau mungkin dia berada di waktu dan tempat yang salah. Sama seperti Kara. Stella mungkin sudah ditangkap, atau malah dia pelakunya. Kita nggak pernah tahu. Bahkan kita juga tidak tahu kalau pelakunya saat ini sedang bersama kita. Lidya telah mati. Dia adalah urutan pertama karena kita tahu sendiri kalau Lidya ini paling keras terhadap Suci. Mungkin karena pertimbangan itu juga," urai Mariah.
Semua terdiam dan saling berpandangan dengan curiga. Kini mereka harus menebak-nebak, siapa di antara mereka yang ternyata adalah utusan Suci dari akhirat, yang mempunyai misi untuk menghabisi seluruh anggota Girl Squad?
***
__ADS_1