Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
277. Welcome, Gilda!


__ADS_3

Di dalam kamar yang terkunci, Gilda keluar dari kolong tempat tidur. Kali ini merasa makin gusar karena terkurung di dalam kamar. Berkali-kali ia berusaha membuka handle pintu, tetapi tetap tak terbuka. Tak mungkin juga ia berteriak minta tolong. Ia mengelurkan ponsel untuk menghubungi Wandi agar pria itu segera menyusul ke dalam untuk menjemput. Setelah beberapa kali memanggil, telepon baru di angkat.


"Lama banget sih ngangkatnya, Wandi! Sekarang kamu cepat masuk ke lewat gerbang depan. Bilang saja ke Pak Paiman kalau kamu akan jemput aku di dalam sini. Sepertinya aku mau keluar saja, karena firasatku nggak enak. Ini aku terkunci di dalam kamar. Ada yang iseng kunciin aku di dalam sini. Cepat ya Wandi!" ucap Gilda dengan cepat.


"Aduh, maaf Mbak. Aku ini lagi ada di kota. Aku kembali ke kota karena ditelepon sama bos besar karena harus antar kru liputan ke luar kota. Driver yang biasa ngantar lagi sakit, jadi mereka panggil aku. Aduh nggak bisa ditinggalin juga sih, Mbak. Habis Mbak Gilda juga nggak ada kabar, kirain bakalan nginep di rumah isolasi, jadi ya aku tinggal saja," jawab Wandi dengan polos.


"Aduh, Wandi gimana sih kamu? Kan kubilang tadi tunggu aku. Kurang jelaskah tadi bahasaku? Trus gimana ni aku? Kamu ini payah banget. Aku kan jdi tertahan di sini," omel Gilda.


"Ya habis gimana dong, Mbak. Saya kan juga nggak bisa nolak perintah bos besar. Yang gaji saya kan bukan Mbak Gilda. Saya juga kan takut dipecat." Wandi masih berkata dengan nada polos.


"Males banget ah sama kamu! Ya udah sana!"


Gilda makin kesal, segera mematikan telepon. Ia merasa sangat jengkel karena Wandi meninggalkan sendrian. Apalagi ia dalam keadaan terkunci. Tiba-tiba ia mendengar langkah kaki di luar, berhenti di depan pintu. Kali ini ia tak berniat untuk sembunyi di kolong ranjang. Ia malah berharap ada yang menemukannya agar ia bisa pulang ke kota.


Tak lama, pintu kamar terbuka. Terilhat sosok Reno dan Ammar yang berdiri di depan pintu, menatap dirinya dengan tatapan heran. Tentu saja itu semua hanya akting, karena sebenanya Reno sudah tahu kalau perempuan itu menyusup masuk.


"Gilda, kamu kok ada di sini?" tanya Reno.


"Eh, iya Pak. Aku terkunci di dalam kamar sini. Tapi ... sepertinya aku harus kembali ke kota saja, Pak. Pak Reno benar, sepertinya saya akan meliput nanti saja kalau semua sudah kelar. Kalau tidak merepotkan, boleh dong saya diantar ke kota."


Mulut manis Gilda mulai beraksi, tetapi segera ditepis oleh Reno. Ia sudah hapal kalau Gilda suka merayu dan bermulut manis kalau ada maunya. Kini, saatnya dia menjalankan rencananya. Reno hanya tersenyum penuh arti.


"Loh, katanya kamu mau meliput di sini. Kan sayang sudah terlanjur masuk tapi pulang ke kota. Kami nggak ada masalah kok. Liput saja apa yang kamu butuhkan. Kamar juga siap untuk kamu. Nggak ada loh jurnalis yang mendapat hak eksklusif seperti itu. Masa kamu lewatkan begitu saja?" ucap Reno.

__ADS_1


Gilda sedikit heran dengan perkataan Reno. Tumben sekali polisi ini bersikap lunak padanya, biasanya Reno bersikap tegas, bahkan melarang dia mendekati rumah isolasi. Namun mengapa sikapnya berubah?


"Pak Reno serius mambolehkan saya untuk meliput?" tanya  Gilda.


"Iya dong. Mana Wandi? Ajak sekalian dia menginap di sini!"


"Wandi ... kebetulan ada kerjaan lain di luar kota, Pak. Jadi saya saja yang sendirian di sini. Jadi beneran ya saya boleh meliput?" tanya Gilda sekali lagi.


"Sekarang gini saja, mending kamu ke kamarmu dulu. Masih ingat kan? Kamar itu masih sama dengan kamar yang dulu kamu tempati. Jadi segala kebutuhan harianmu juga disiapkan di sana. Kamu istirahat dulu di sana, dan nanti saat makan malam kamu boleh turun untuk bergabung bersama kami. Kalau mau wawancara dengan mereka, silakan saja!" terang Reno.


"Wah ... aku merasa terhormat sekali, Pak! Tapi ... sepertinya aku mau pulang saja deh, Pak. Perasaanku mendadak tak enak berada di rumah ini." Gilda mulai ragu.


"Tak ada tawaran dua kali, Gilda. Kalau kamu melewatkan tawaran ini, maka selamanya kami tidak akan memberikan kemudahan apa pun untuk peliputan beritamu. Kamu sendiri yang ingin masuk ke rumah ini, dan sekarang ketika kami memberi kesempatan, kau tolak begitu saja," lanjut Reno.


"Selamat datang di dunia nyata ya Gilda!" gumam Reno.


***


Setelah mendapat instruksi dari Reno dan Ammar, Dimas segera bergerak saat itu juga. Selepas dari rumah sakit, ia segera berkunjung ke Kampung Hitam untuk menjemput Ollan. Sesuai rencana, Ollan akan dipinjam beberapa hari untuk ikut tinggal di rumah isolasi, tetapi tentu saja dengan pengamanan yang cukup ketat.


Setelah memarkir kendaraan di tepi jalan, ia masuk ke dalam gang, mencari  tempat tinggal Raymond Brothers. Kedatangan Dimas disambut baik oleh Raymond yang memang selalu  berjaga di rumah dengan penuh tanggung jawab. Ia tidak mau ceroboh lagi meninggalkan Ollan, karena khawatir ia akan kabur lagi.


Ollan juga terkejut dengan kehadiran Dimas yang begitu tiba-tiba. Dimas melihat Ollan dalam keadaan sehat, walau parasnya terlihat sedikit murung. Namun itu bukan masalah besar. Dimas segera menyampaikan maksud keadatangannya pada Raymond.

__ADS_1


"Kami akan meminjam Ollan selama beberapa hari untuk membantu menangkap si pelaku. Mungkin setelah  itu dia tidak kami titipkan di sini lagi, langsung kami antar ke apartemennya sendiri. Kami tidak tega membiarkan dia berlama-lama di sini. Bisa mati membusuk dia nanti," ucap Dimas sambil tersenyum.


"Oh tentu, Pak. Silakan saja. Sebenarnya Ollan mulai kerasan kok tinggal di sini. Malahan dia berencana mau buka salon di sekitar daerah sini. Namun, kalau memang untuk urusan penyelidikan ya silakan saja,  saya kan juga tidak punya hak untuk menahan," ucap Raymond.


"Wah, saya mau diapain nih, Pak? Tapi bener kan habis itu saya akan dipulangin ke tempat saya sendiri. Di sini sih suka saya, Pak. tapi kan sepi nggak ada teman," timpal Ollan.


"Lho kan ada Bang Raymond?" canda Dimas sambil tersenyum.


"Bang Raymond sih baik, Pak. Tetapi kan nggak betah kalau surunh nunggu saya facial di salon atau shopping di mal," ucap Ollan sambil tersenyum malu.


Raymond dan Dimas tertawa mendengar ucapan Ollan.


Hari itu juga, Ollan berkemas untuk meninggalkan Kampung Hitam. Dia sangat gembira karena akhirnya akan menghirup udara bebas. Dimas belum memberitahu kalau dia akan ikut tinggal di rumah isolasi. Ada rasa haru juga ketika ia hendak meninggalkan rumah Raymond. Bagaimanapun juga, pria garang itu telah sangat baik kepadanya. Ia benar-benar sepenuh hati menjaga keselamatannya, dan Ollan baru menaydari kalau dibalik sikap tegas dan kasar Raymond adalah untuk kebaikannya sendiri. Matanya mulai berkaca-kaca meninggalkan rumah itu.


"Kamu kenapa nangis? Mau tinggal di sini lebih lama?" tanya Raymond.


"Eh, nggak Bang. Saya mau berterimakasih saja sedalam-dalamnya kepada Bang Ray dan teman-teman semua yang ada di sini, karena telah menerima kehadiran saya dengan begitu baik. Saya juga minta maaf banget kalau selama ini bawel dan merepotkan. Aduh kok jadi sedih ya," ucap Ollan.


"Ah udah sana! Nggak perlu basa-basi seperti itu! Kamu jaga diri ya Lan. Aku nggak mau juga mati terbunuh karena orang kayak kamu ini termasuk barang langka," canda Raymond sambil tersenyum.


Dimas tak membuang waktu lama lagi. ia membawa Ollan meninggalkan Kampung Hitam. Rencananya, malam itu juga mereka akan ke rumah isolasi.


***

__ADS_1


__ADS_2