Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
363. Pengakuan


__ADS_3

Dobrakan ketiga dari sosok yang berada di luar bilik, rupanya tak juga membuat pintu terbuka. Untuk beberapa lama, suasana menjadi hening. Ryan masih menunggu dengan gelisah. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi kepadanya. Kayu di tangannya sudah ia siapkan. Namun, suasana masih hening. Sepertinya sosok yang di luar bilik mulai frustasi sehingga tak tedengar lagi dobrakan. Mungkin ia sudah pergi meninggalkan pondok.


Justru hal ini membuat Ryan semakin khawatir, karena ia tidak mengetahu secara pasti keberadaan sosok yang sedang memburu dirinya. Apakah dia sedang menunggu di luar sana atau malah meninggalkan pondok tua itu? Ia beranikan diri untuk keluar dari tempat persembunyian, mengendap perlahan ke arah pintu bilik. Suasana terasa lengang, tak ada tanda-tanda sosok itu berada di situ.


"Mungkin dia telah pergi," gumam Ryan.


Ia tak mau menunggu berlama-lama di dalam bilik. Ia harus benar-benar memastikan keberadaan si sosok yang tiba-tiba menghilang, bagai raib ditelan bumi. Perlahan. ia geser kembali meja besar yang menghalangi pintu. Ia berniat membuka pintu bilik dengan sangat hati-hati. Ia khawatir kalau-kalau sosok itu sudah menunggunya di luar dan siap menerkam saat ia lengah. Ia sudah mempersiapkan dirinya kalau hal itu terjadi. Di tangannya tergenggam erat potongan kayu.


Setelah meja bergeser, ia membuka pintu bilik perlahan. Namun, sesuatu yang diharapkannya tidak terjadi. Paras Ryan berubah panik. Pintu bilik yang tadinya tak ada kunci dan sangat mudah dibuka, kini malah tak bisa dibuka dari dalam. Ryan berusaha membuka, tetapi pintu seolah terasa seperti macet, seolah terkunci. Padahal tadi ia yakin, tak ada kunci pada pintu itu. Pintu itu kini hanya membuka sedikit, dengan celah yang sempit.


"Sial!" Ryan merutuk keras.


Sontak hal itu membuat Ryan sedikit panik. Namun, ia harus berusaha keluar dari bilik dalam pondok itu. Kalau ia terkurung di dalam sini maka mungkin dia akan mati membusuk. Pondok ini terletak jauh di dalam hutan, tentunya jarang ada orang masuk ke dalam hutan tanpa ada maksud tertentu. Ia mengitari bilik itu, mencari celah untuk keluar. Walaupun pondok itu terlihat reyot, tetapi struktur bangunannya masih terlihat kuat. Tentu bukanlah hal mudah untuk lolos dari bilik ini.


"Tenang ... tenang. Aku nggak boleh panik. Cari akal ... cari akal agar bisa keluar dari tempat ini," gumam Ryan.


Ia kembali memeriksa pintu pondok yang tertutup rapat itu, sebab dia yakin bahwa pintu itu tidak ada kuncinya, lalu mengapa tak bisa dibuka seperti ini? Ryan mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Pintu bilik ini tidak didesain menggunakan kunci. Lagipula, struktur bangunannya yang sudah tua memang tidak cocok kalau pintu ini dipasang kunci. Ia melihat bahwa di luar ada seutas tali yang bergelantung. Kini ia mengerti, rupanya sosok itu mengikat pegangan pintu bagian luar sehingga pintu tak bisa dibuka dari dalam.


"Aku harus mencari cara untuk melepas tali itu," gumam Ryan.


Ia mengeluarkan jari-jarinya dari celah yang terbuka sedikit, tetapi sayangnya tidak bisa menjangkaunya. Ikatan tali pada pegangan pintu itu cukup kuat sehingga pintu hanya bisa bergerak sedikit. Kembali Ryan mengintip kondisi luar pondok dari celah itu. Sepertinya sosok hitam itu sudah tidak ada, karena ia tak mendengar suara apa pun. Suasana begitu senyap.


Setelah berkali-kali mencoba dan gagal, akhirnya Ryan memutuskan untuk duduk sebentar sambil berpikir cara lain. Ia tidak boleh panik dan harus dalam keadaan tenang. Ia duduk di sebuah kursi usang sambil menarik napas dalam-dalam.

__ADS_1


"Aku tahu ... aku tahu kamu yang melakukan ini," gumam Ryan.


Sepertinya ia tahu pelaku dari semua kekacauan yang berlaku.


***


Mariah masih merasa gelisah dalam kamarnya ketika Ammar masuk. Ia melihat istrinya sedang memandang kosong ke depan cermin rias, seperti ada yang dipikirkannya. Kedatangan Ammar membuat Mariah sedikit tersentak, tetapi ia tetap bergeming.


"Mariah, kamu nggak apa-apa?" tanya Ammar sambil memegang pundak Mariah.


"Aku ... aku hanya sedikit lelah. Cuaca sangat panas hari ini, sehingga aku membuat aku benar-benar merasa kehabisan energi," jawab Mariah.


"Kamu sudah menemui Dimas?" tanya Ammar sambil menatap bayangan Mariah yang terpantul di cermin.


"Ya, aku bertemu dengannya," jawab Mariah pendek.


Mariah hanya menggeleng. Ia sebenarnya mengetahui bahwa salah seorang dari temannya adalah pelaku dari kekacauan ini, tetapi keegoisan dirinya membuat ia masih tutup mulut hingga saat ini, bahkan pada suaminya sendiri. Mariah memilih untuk menutup rapat-rapat segala rahasia kelam yang ia alami di masa lampau. Ammar tahu bahwa istrinya sedang tidak jujur. Ia sangat berpengalaman membaca raut muka seseorang, apalagi Mariah adalah istrinya. Ia sangat tahu kalau ada sebuah rahasia besar yang sedang disembunyikan Mariah.


"Aku suamimu, Mariah," gumam Ammar perlahan.


Mariah memalingkan muka ke arah Ammar dengan tatapan sedih. Perkataan Ammar tadi membuat Mariah merasa semakin merasa bersalah. Ia ingin bicara, tetapi ada keraguan yang menggumpal, Ia merasa bingung.


"Ap-Apa maksudmu, Ammar?" tanya Mariah.

__ADS_1


"Sekarang mari kita bicara sebagai suami-istri. Jangan kau anggap aku ini seorang polisi yang akan menginterogasimu, Mariah. Aku ini suamimu, pendamping hidupmu. Aku bertanggungjawab penuh atas keselamatanmu. Aku tak akan biarkan siapa pun menyakitimu," ucap Ammar dengan nada serius.


Mariah hanya terdiam. Kepalanya tertunduk, tak berani menatap Ammar yang menatap tajam kepadanya. Ammar mengusap rambut perempuan itu, kemudian mengangkat wajahnya. Kini mereka saling bertatapan. Mariah sangat mengenali tatapan suaminya yang begitu tajam, seolah merobek-robek hatinya.


"Tatap mataku, Mariah. Apakah kamu masih meragukanku sebagai suamimu?"


"Aku tidak pernah meragukanmu, Ammar," gumam Mariah.


"Kalau begitu jujurlah padaku. Katakan apa yang membuatmu merasa gelisah, dan biarkan aku ikut menanggung rasa gelisahmu. Kalau ada memang ada yang bermaksud tidak baik padamu, marilah kita hadapi ini bersama-sama. Jangan sendirian. Kamu mempunyai aku sebagai suamimu. Kamu masih percaya aku kan?" tanya Ammar lagi.


Mariah mengangguk. Ammar memeluk istrinya yang sedang dilanda galau. Mariah memeluk Ammar dengan erat sembari berbisik di telinga Ammar.


"Aku takut ... takut sekali," bisik Mariah.


"Aku ada di sampingmu, dan kamu nggak perlu merasa takut, Mariah. Bicaralah padaku apa yang sedang kau rasakan. Aku akan mendengarnya. Kamu tak perlu merasa gelisah seperti itu," gumam Ammar sambil membelai rambut Mariah.


"Berjanjilah satu hal, Ammar. Berjanjilah!"


"Aku akan berjanji. Janji tentang apa yang harus kutepati?"


"Jangan pernah meninggalkanku. Jangan pernah ...."


"Kamu tahu aku nggak akan pernah meninggakanmu, Mariah. Dan akan selamanya begitu," bisik Ammar.

__ADS_1


Mariah mendesah lega. Segala beban berat yang memenuhi rongga dadanya perlahan terkikis. Ia menatap wajah suaminya yang menatap lembut kepadanya. Setelah membulatkan tekad, ia menceritakan semua yang ia rasakan dan alami kepada Ammar.


***


__ADS_2