Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
218. Berita TV


__ADS_3

Hari sudah menjelang pagi. Hujan memang tidak jadi turun, sehingga cuaca menjadi gerah. Reno dan para polisi lain sudah menyusur pondok, kebun, bahkan sampai ke dalam hutan. Sayangnya mereka kehilangan jejak. Sosok pembunuh itu berhasil meloloskan diri dari kejaran Reno dan kawan-kawan.


Rasa lelah menyelimuti wajah-wajah polisi itu. Sementara jenazah Anita sudah dievakuasi ke rumah sakit dengan mengunakan ambulans. Para awak media sudah menunggu kedatangan ambulans itu di depan jalan masuk perkebunan. Mereka bertanya-tanya, siapa yang berada di dalam ambulans itu. Pihak kepolisian memilih bungkam dengan apa yang terjadi. Tak ada seorang pun yang bersedia dimintai keterangan.


Para awak media berulang kali mengambil gambar ambulans, walau hanya sekilas. Ambulans itu langsung bergerak menuju rumah sakit, sementara para awak media juga segera menyusul ke sana. Gilda dan Wandi juga tidak tinggal diam melihat itu. Gilda sangat berambisi untuk mendapatkan informasi tentang siapa yang sebenarnya berada dalam ambulans.


“Cepat Wan! Kita ke rumah sakit sekarang!” ucap Gilda.


Hingga pagi menjelang, saat matahari mulai menampakkan diri di ufuk timur, suasana kota dihebohkan dengan berita yang masih simpang-siur. Beberapa siaran televisi menayangkan berita pembunuhan itu, namun sampai saat ini mereka masih belum mengumumkan identitas si pembunuh yang dirahasiakan. Rencananya, pihak kepolisian akan memberikan pernyataan resmi di hadapan media jam satu siang nanti.


Walaupun media tidak menyampaikan identitas jelas siapa yang terbunuh, mereka sudah menduga bahwa yang terbunuh di kebun durian itu adalah seorang artis muda berinisial AW. Ini karena di waktu bersamaan, ada laporan bahwa artis itu menghilang selepas makan malam yang diselenggarakan oleh Govind Punjabi.


Berita itu cepat menyebar ke seluruh kota, juga di kalangan selebritas. Mereka bertanya-tanya siapa sosok yang terbunuh tersebut. Di gedung studio film sendiri tampak sedikit lengang, karena pagi ini rencana akan dilaksanakan pemakaman Daniel Prawira. Mereka akan menghadiri prosesi pemakaman sutradara terkenal itu.


“Siapa sih yang terbunuh?” pada akhirnya Guntur membuka suara, setelah menyeruput teh di meja kerjanya.


“Kata media sih artis berinisial AW. Apakah itu Anita Wijaya? Padahal tadi malam kan kita baru ketemu di acara makan malam. Aku sempat menghubungi lewat telepon genggamnya, tetapi memang nomor itu tidak aktif. Masa iya korbannya Anita Wijaya?” jawab Riky.


“Kalau benar itu Anita yang jadi korban, wah tentu akan sangat mengerikan sekali Belum kelar kasus Daniel Prawira, muncul lagi korban baru. Jangan-jangan, nanti ada korban baru .... “


Widya juga ikut mengobrol bersama Riky dan Guntur. Mereka duduk di mengelilingi sebuah meja di sudut ruangan studio.


“Wah, pembunuhan berantai dong!” ucap Guntur.

__ADS_1


“Sepertinya sih gitu. Jadi serem ya kalau kita diburu oleh seseorang yang pengen bunuh kita. Mudah-mudahan jangan aku deh. Aku kan bukan siapa-siapa. Hanya tukang rias biasa,” kata Widya.


“Ayo kita main tebak-tebakan! Siapa yang terbunuh berikutnya?” kata Riky.


“Aku maunya sih Renita Martin. Dia pedas sekali kalau bicara dan sok belagu amat. Tapi jangan Mas Faishal Hadibrata doong!” ucap Widya sambil tersenyum.


“Hmm, mengerikan sekali sih. Siapa ya kira-kira yang bunuh mereka? Apakah salah seorang dari kita?” tanya Guntur curiga, sambil melihat paras Riky dan Widya secara bergantian.


“Bisa iya bisa tidak! Udah lah yuk kita bersiap-siap ke pemakaman Pak Daniel. Paling tidak kita harus memberikan penghormatan terakhir pada beliau!” ajak Riky kepada teman-temannya.


Mereka segera menyetujui ajakan Riky tersebut. Masing-masing membubarkan diri dan segera bersiap untuk menghadiri pemakaman sutradara terkenal itu. Mereka berencana untuk naik dalam satu mobil, dengan Riky sebagai pengemudinya.


Pemakaman sendiri rencana akan dimulai pukul sembilan, dan hanya dihadiri oleh kalangan terbatas di dunia hiburan beserta keluarga dekat. Mereka sengaja memakai baju serba hitam untuk menghadiri pemakaman Daniel Prawira.


***


Dalam berita TV sudah tersiar berita mengenai terbunuhnya artis belia berinisial AW. Laura mendengarkan berita itu baik-baik. Ia tidak berani menyimpulkan apa pun. Diseruputnya gelas jus yang tergenggam di tangannya sambil menatap tajam ke arah televisi.


Ia hampir terlonjak ketika pintu depan tiba-tiba diketuk. Laura melihat ke arah jam dinding yang masih menunjuk pukul delapan. Siapa yang mengetuk pintu sepagi ini? Laura mematikan televisi, kemudian beranjak ke depan untuk melihat siapa yang datang.


Dari balik kelambu ia melihat sebuah mobil di seberang jalan. Sementara di depan pintu seorang pria berusia 40-an mengetuk pintu. Laura menghela napas. Sebenarnya ia tak ingin membuka pintu, tetapi bagaimana ia bisa menghindar?


“Bang Hen .... “ ucap Laura sambil membuka pintu.

__ADS_1


Henry Tobing sudah berdiri di depan pintu rumah Laura dengan paras gusar. Pertengkarannya dengan Rianti tadi malam membuat ia malas pulang ke rumah. Tadi malam ia menghabiskan waktu di sebuah kelab malam sambil minum minuman keras. Aroma alkohol bahkan masih tercium di mulutnya. Kali ini, ia sengaja mendatangi rumah Laura untuk sekedar meredakan pikirannya yang lagi kacau.


“Boleh aku masuk?” tanya Henry.


“Bukan tidak boleh, Bang. Tetapi ini akan menjadi masalah besar kalau istri Abang tahu. Pandangan istri Abang ke saya sudah sangat buruk, dan saya nggak mau memperburuk lagi. Maaf, tapi saya tidak bisa memasukkan Abang ke dalam rumah,” ucap Laura tegas.


“Oke ... oke, aku mengerti. Aku pergi saja! Perset*an kalian semua!” ucap Henry dengan nada kesal.


Laura sebenarnya merasa tak enak mengucapkan kalimat itu. Ia menduga bahwa Henry sedang ada masalah, sehingga pikirannya tidak tenang. Ia merasa sedikit iba kepadanya. Henry melangkah meninggalkan teras rumah Laura, tetapi tiba-tiba Laura memanggil.


“Bang!”


“Ada apa, Laura? Kamu tidak ingin ada masalah kan? Lebih baik aku pergi saja!” ucap Henry.


“Abang ada masalah?” tanya Laura.


“Masalahku banyak, Laura! Banyak!” ucap Henry setengah berteriak.


Untuk sesaat, Laura bingung harus melakukan apa. Rasanya tidak mungkin ia harus memasukkan laki-laki ke dalam rumahnya, apalagi ia tinggal sendirian. Namun, di sisi lain ia merasa iba melihat kondisi Henry yang berantakan. Pada akhirnya, ia memberi isyarat pada pria berusia empat puluhan itu untuk masuk ke dalam rumahnya.


“Masuklah, Bang! Kita bicarakan di dalam. Mungkin secangkir kopi bisa meredam emosi,” ucap Laura lembut.


***

__ADS_1


__ADS_2