
Dokter Dwi membersihkan luka di leher Elina dengan hati-hati, kemudian membalut dengan perban bersih. Senjata tajam itu sempat menyayat kulit luar, untungnya tidak sampai ke dalam. Bagaimanapun, luka itu tak dapat dibiarkan. Dokter Dwi tetap merawat, agar lukanya tidak infeksi.
Elina dalam keadaan setengah sadar, menahan nyeri di lehernya. Tak lama, ia meneteskan air mata. Wajahnya terlihat cemas.
“Kamu nggak apa-apa kan?” tanya dr. Dwi.
“Aku takut Dokter. Aku mengkhawatirkan Aldo. Sebentar lagi kami akan menikah, kemudian muncul tragedi mengerikan ini. Apa yang harus kami lakukan sekarang?” ucap Elina setengah tersendat.
“Sabarlah! Aku yakin psikopat gila itu akan tumbang. Aku yakin, kejahatan akan tumbang pada akhirnya!”
“Siapa yang melakukan perbuatan sekejam itu? Berarti dia pula yang membunuh para penghuni kastil ini,” gumam Elina.
“Serius kamu belum tahu pelaku dari segala kekacauan ini?” tanya dr. Dwi.
“Belum. Dia mengenakan jubah dan topeng. Aku sama sekali tak punya bayangan sama sekali. Kalau saja kita tahu, pasti bisa lebih waspada.”
“Sebenarnya aku tahu siapa pembunuh itu dan motif mengapa dia melakukan perbuatan nekat ini.”
“Oya? Dari mana kamu tahu, Dokter?”
“Ingat! Aku disekap di ruangan ini lumayan lama bersama perempuan tua itu!” dr. Dwi menunjuk ke arah tubuh Anjani yang tergeletak di lantai.
“Siapa perempuan tua itu?”
“Itu adalah ibu dari pelaku psikopat itu. Rupanya segala pembunuhan itu adalah perintah darinya karena dendam yang sengaja ditimbun selama puluhan tahun. Sayangnya, dia membalaskan dendam pada orang-orang yang tak bersalah. Korban yang berjatuhan sebelumnya sama sekali tak ada hubungannya dengan dendamnya, tetapi nafsu membunuh begitu kuat. Dia membunuh hanya untuk kesenangan,” ungkap dr. Dwi.
“Astaga! Manusia macam apa yang tega melakukan perbuatan biadab itu!”
“Itu nyata Elina! Dia Kita harus menghentikan pergerakannya agar korban tidak semakin banyak, termasuk kita juga harus melindungi tunanganmu.”
“Dokter, aku penasaran. Siapa sebenarnya pelaku itu? Apa aku mengenalnya?” tanya Elina antusias.
Dokter Dwi terdiam sejenak, kemudian menatap Elina. Sejenak kemudian dia mengangguk.
“Siapa dia, Dokter?” desak Elina.
__ADS_1
Dokter Dwi menyebutkan sebuah nama yang tak asing di telinga Elina, sehingga gadis itu terperanjat. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala.
“Anda yakin, Dokter?” tanya Elina sekali lagi.
Dokter Dwi mengangguk pelan seraya berkata,”Bahkan aku menatap wajahnya. Dia seperti iblis yang haus darah. Selama ini dia bersembunyi dalam topengnya yang palsu.
“Kita harus segera naik, Dokter! Kita harus beritahu yang lain tentang ini semua!” ucap Elina bersemangat. Ia mulai bangkit dari tempat duduknya.
“Tunggu! Sebelum kita naik, aku akan mencari seseorang yang juga disekap bersamaku. Kuharap dia masih selamat. Firasatku mengatakan dia masih disekap dekat-dekat bilik ini. Aku akan selamatkan dia juga. Tak bisa meninggalkan dia sendirian,” ucap dr. Dwi.
“Ada orang lain yang disekap bersamamu, Dokter?”
“Iya. Dia adalah istri dari Detektif Ammar, Mariah Alray. Awalnya psikopat itu hendak mengambil matanya dan akan diberikan ke ibunya. Tetapi jelas itu tak mudah dilakukan. Aku menolak, dan Mariah juga jelas berontak. Kini dia disembunyikan di salah satu bilik di bawah tanah ini,” ucap dr. Dwi.
“Ini benar-benar gila! Baik Dokter. Aku ikut Anda saja mencari wanita itu. Kasihah juga dia dipisahkan dengan suaminya. Kuharap da masih baik-baik saja,” ujar Elina.
“Baiklah. Kalau begitu mari kita telusuri ruang bawah tanah ini!”
***
“Kak Hans. Bisa kita bicara sebentar?” tanya Antony.
“Apa yang hendak kamu bicarakan, Ton? Bukankah kamu seharusnya sudah kembali ke kota siang ini? Tak baik berada di kastil ini berlama-lama,” ucap Hans seraya memalingkan badannya.
“Nah itu masalahnya, Kak. Mobil kami sengaja disabotase oleh seseorang yang aku juga nggak tau siapa. Jadi rencana kami untuk pulang mungkin tertunda. Aku kesini hanya untuk mengingatkan bahwa kastil ini memang berbahaya Kak, Banyak kejadian aneh yang kami alami selama di hutan.”
Hans tersenyum sinis, kemudian berkata,”Kamu telat, Tony. Sebelum kamu mengingatkan, sudah banyak kejadian mengerikan terjadi di kastil ini. Orang yang mati tenggelam di kolam renang, wanita yang jasadnya dimakan anjing, pria yang kepalanya terpenggal, kemudian gadis muda kepalanya pecah karena yang terjun dari atas loteng. Lalu beberapa hari kemarin, seorang lagi tewas di cabik-cabik benda tajam di kamarnya. Kurang mengerikan apa coba?”
Wajah Antony seketika memucat. Ia sama sekali tak menyangka kalau dalam kastil terjadi banyak kejadian yang mengerikan. Ia terdiam, tak mampu berkata-kata apa-apa lagi.
“Tapi dirimu tak perlu risau, yang penting kamu menjaga diri dengan baik. Di mana teman-temanmu?” tanya Hans kemudian.
“Kurasa mereka menunggu di luar, Kak. Aku ... aku harus segera keluar untuk memberitahu mereka. Ini sungguh mengerikan.”
“Kalau menurutku, kamu nggak perlu bikin mereka panik dengan ceritamu. Simpan saja cerita itu, tapi kamu harus lindungi mereka, karena sampai saat ini psikopat masih berkeliaran dan dia juga tak pernah pilih-pilih korban. Kusarankan untuk berjaga-jaga dan tidak tidur. Memang berat, tetapi ini urusannya adalah nyawa. Apabila kita lengah, kita dapat dibantai kapan saja!” ucap Hans.
__ADS_1
“Sungguh, aku sama sekali nggak menyangka ini terjadi. Ini ... ini seperti film, dan aku kejebak di dalamnya!” gumam Antony.
“Selamat datang dalam mimpi buruk, Tony!” seringai Hans.
Tok ... tok ... tok!
Tiba-tiba pintu kamar Hans diketuk dengan agak keras. Hans mengernyitkan dahi, mencoba menerka si pengetuk pintu.
“Siapa lagi yang mengganggu istirahatku?” gerutu Hans.
“Biar aku yang buka pintunya, Kak!”
Antony bergegas membuka pintu kamar, mendapati sosok Dimas di depan pintu. Polisi itu sepertinya hendak menyampaikan hal penting.
“Maaf mengganggu. Kamu penghuni kastil ini?” tanya Dimas.
“Sepertinya untuk sementara iya. Ada yang bisa kami bantu?” tanya Antony.
Sementara itu, Hans juga muncul dari dalam kamar untuk menemui Dimas. Pria itu heran, karena belum pernah melihat Dimas sebelumnya. Ia langsung mengambil alih pembicaraan.
“Siapa Anda? Sepertinya aku tak pernah melihat!” tanya Hans.
“Aku Dimas. Aku dan Reno, rekanku sedang menyelediki sebuah kasus pembunuhan yang berhubungan dengan kastil ini. Kami mengindikasi bahwa kondisi kastil saat ini sedang tidak aman, jadi kami sebisa mungkin akan melindungi semua penghuni di sini. Untuk itu, aku minta nanti semua penghuni berkumpul di ruang tengah selepas makan malam. Ada yang perlu kami sampaikan, juga kemungkinan siapa pelaku yang terlibat dalam kasus pembunuhan berantai ini,” ucap Dimas.
“Polisi? Anda polisi? Darimana Anda tahu ada kejadian di kastil ini?” tanya Hans.
“Kami polisi, dan tentu saja kami bisa mencium hal-hal yang tak diketahui orang awam. Darimana kami tahu tentu bukan urusan kalian. Jadi sebaiknya kalian nanti datang setelah makan malam, karena banyak yang hendak kami sampaikan,” ucap Dimas.
Hans mendongakkan kepala. Sikapnya terlihat angkuh, tetapi ia tak membantah ucapan Dimas. Ia membiarkan polisi itu berlalu dari hadapannya.
“Apakah aku juga harus datang? Aku sama sekali tidak tahu-menahu kasus ini, Kak,” ucap Antony.
“Tak perlu. Kehadiranmu juga tidak berpengaruh apapun. Lebih baik kamu bersama teman-temanmu yang lain. Aku mepunyai firasat malam ini akan terjadi hal buruk. Kita semua harus waspada!”
***
__ADS_1