Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
331. Tabrakan


__ADS_3

Matahari kian menepi di langit barat ketika Jeremy berjalan menyusuri jalan setapak menuju air terjun. Semangat seakan terlecut untuk mencari istrinya. Ia merasa iri  dengan Ryan dan Edwin karena istri-istri mereka ditemukan dalam keadaan selamat. Sedangkan sampai kini keberadaan Stella masih misterius. Jeremy bertekad mencari keberadaan sang istri, bagaimanapun caranya.


Cuaaca yang sedikit berawan, membuat udara tak terlalu panas. Ia merasa bersyukur, karena cuaca yang panas akan semakin membuat perjalanannya bertambah sulit. Ia hanya membawa bekal sebotol air dan roti isi. Ia harus sedikit berhemat.


"Stelaaaa!!" teriak Jeremy.


Kini, ia telah sampai ke area air terjun. Tampak di hadapannya, gejolak air yang jatuh dari atas tebing, menimpa bebatuan besar, menimbulkan suara gemuruh. Ia melayangkan pandangan ke sekeliling sambil meneriakkan nama Stella. Firasatnya mengatakan bahwa Stella masih hidup. Ia tidak pernah berpikir bahwa Stella telah mati. Ia tahu Stella adalah perempuan tangguh yang sering ikut berpetualang di alam. Ia tak akan mati begitu saja, pikir Jeremy.


Kicau burung bersahut-sahutan di ranting pohon, ketika Jeremy merasa sedikit lelah. Ia menyempatkan diri untuk sekedar duduk sambil menikmati pemandangan di sekitar air terjun yang memukau. Sembari duduk, ia masih merasa tak habis pikir dengan raibnya sang istri yang begitu tiba-tiba. Ia sangat berharap sang istri tidak bernasib sama dengan Lidya atau Farrel.


Setelah beristirahat sejenak dan membasahi kerongkongan, ia berniat melajutkan perjalanan ke arah pondok yang letaknya berada dalam hutan. Ia lah yang pertama kali menemukan pondok di tengah hutan itu, dan menemukan sosok Nadine yang terluka dalam pondok. Maksud hati ingin menolong, tetapi malah sang istri yang raib. Namun, ia tidak menyesali apa yang ia lakukan.


Ia terus berjalan, sampai ke pondok yang tampak senyap. Ia hendak masuk ke dalam pondok, namun tiba-tiba ia merasakan pundaknya ditepuk dari belakang.


"Jangan kamu masuk ke dalam sana!" perintah sosok yang menepuk pundaknya.


Jeremy membalikkan badan, mendapati Pak Reno yang sudah berdiri di belakangnya. Jeremy terkejut, ia memang tahu kalau Pak Reno masih berada di hutan, tetapi tidak menyangka kalau akan bertemu di pondok ini. Pak Reno terlihat waspada sambil mengamati sekitar.


"Mengapa kamu ke hutan seorang diri, Jer? Tidakkah ada orang di kastil yang memperingatkanmu?" tanya Reno.


"Ma-maaf, Pak. Saya kesini untuk mencari keberadaan istri saya. Menunggu dari pihak kepolisiam sangat lamban, sehingga saya berinisiatif untuk mencari sendiri. Aku nggak perlu izin siapapun untuk ini," ucap Jeremy.


"Aku tahu itu, Jer. Tapi tetap saja berbahaya berada di hutan ini sendirian. Stella tetap akan kami cari. Kuharap kau bisa bersabar, karena kau tahu sendiri, kondisi sekarang serba sulit. Hmm, lalu bagaimana kodisi kastil, apakah semua baik-baik saja tanpaku?" tanya Reno.


Jeremy menggeleng cepat. Matanya menerawang, berusaha mengumpulkan serpihan-serpihan peristiwa yang terjadi di kastil. Entah bagaimana ia harus memulainya.

__ADS_1


"Semuanya kacau. Kacau sekali, Pak!" kata Jeremy.


Reno penasaran mendengar penjelasan Jeremy. Tak menyangka kalau kastil dalam keadaan kacau tanpa dirinya. Reno mengajak Jeremy duduk di sebuah batu besar di bawah pohon besar. Daun-daun pohon yang tumbuh melebar, sedikit bisa menaungi mereka dari jilatan sinar matahari yang siang ini membakar tanpa ampun.


"Apa yang terjadi di kastil?" tanya Reno.


"Seharian ini banyak yang terjadi di sana. Awalnya, Rosita menghilang tanpa sebab pada saat ia memasak. Lalu, sikap Pak Ammar begitu aneh pagi ini, seperti ada yang disembunyikannya. Kemudian ia pergi ke bawah tanah dan menemukan Nadine dalam keadaan tergantung.  Ia tidak tewas, tetapi kondisinya lemah.Tak lama berselang, Rosita juga ditemukan di loteng dengan keadaan setengah telanjang. Agak siangan sedikit, Nadine hendak dibunuh oleh seseorang, dan orang itu kabur melalui jendela," terang Jeremy sambil berusaha mengingat setiap detail peristiwa yang terjadi.


"Astaga! Jadi pembunuh itu sekarang berada di dalam kastil?" tanya Reno.


"Entahlah! Aku tak peduli. Yang jelas sekarang aku akan mencari keberadaan istriku. Maaf Pak! Kalau Bapak masih mau di sini silakan, tetapi aku harus segera mencari keberadaan Stella," ucap Jeremy.


"Tunggu sebentar Jer, kamu bilang Nadine ditemukan di dalam ruang bawah tanah. Bukankah kamu bilang bahwa kamu terakhir bertemu dengan Nadine dan Stella di pondok ini. Lalu tadi kamu bilang kalau Nadine ditemukan tergantung di ruang bawah tanah. Hmm, dengarkan  aku, Jeremy. Sepertinya kok tidak mungkin si pembunuh meninggalkan Stella di dalam hutan, sementara Nadine digantung di ruang bawah. Apakah sudah ada yang menanyai Nadine terkait hal ini?" selidik Reno.


"Bisa jadi Jeremy. Mengapa tidak kau tanyakan dulu perihal ini pada Nadine? Mungkin dia tahu keberadan Stella Apakah dia dibawa ke kastil di kastil secara sendirian.atau bersama-sama. Ingat Jer! Hutan ini sangat luas. Sepertinya kamu nggak mungkin mencari Stella dalam satu hari. Padahal kamu juga nggak ada gambaran mau mencari Stella di mana kan? Kita takut boleh, tetap tetap gunakan akal sehatmu, Jer!" ujar Reno.


Jeremy terdiam, mencoba mempertimbangkan apa yang dikatakan Reno. Ia khawatir apabila sudah mengaduk-aduk isi hutan, ternyata sosok yang dicari tidak ada. Sejenak kemudian, Jeremy hanya terdiam sambil menimbang-nimbang perkataan Reno. Rasanya untuk kembali ke kastil sudah kepalang tanggung.  Reno tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Jeremy.


"Kita akan kembali ke kastil sama-sama. Kita tunggu dulu  bantuan dari Dimas. Dia sedang pergi ke kota kan?"


Jeremy mengangguk. Keduanya duduk di bawah pohon sambil menunggu kedatangan tim medis yang sedianya akan datang bersama Dimas.


***


Ramdhan merasa panik. Mobil yang dikendarai olehnya kini oleng ke kanan dan ke kiri, seolah tanpa kendali. Sisi kanan dan kiri tampak jurang menganga. Peluh dingin menetes di kening Ramdhan, tapi tak berani sedikit pun ia usap. Untuk saat ini, ia harus fokus mengendalikan kendali mobil.

__ADS_1


Beberapa ratus meter di depan, Ramdhan tahu ada sebuah tikungan tajam yang cukup berbahaya. Ia menelan ludah. Mungkin ia tak akan berhasil melewati tikungan itu, bahkan mungkin saja riwayatnya akan tamat berakhir di jurang yang curam di sisi tikungan.


"Aku akan mati ... aku akan mati. Ibu, maafkan anakmu," gumam Ramdhan.


Ia ingin menangis, tetapi ia berusaha menguatkan hati. Tikungan itu makin dekat, sementara laju mobil juga semakin tinggi. Dari arah berlawanan, rupanya sebuah mobil lain juga melaju dengan kecepatan sedang. Rupanya itu adalah mobil yang dikemudikan oleh Dimas. Ia tengah melakukan perjalanan ke kota untuk menginformasikan perihal kejadian yang terjadi di kastil.


Dimas  terkejut dengan mobil yang oleng, terlihat tidak stabil. Dimas mengenali mobil itu sebagai mobil kepolisian yang dikemudikan oleh Ramdhan. Sontak ia terkejut. Ia merasa ada yang tak beres dengan mobil yang melaju kencang menuju tikungan berbahaya.


"Astaga! Bukankah itu mobil yang dikemudikan Ramdhan? Mobil itu harus dihentikan!" gumam Dimas.


Mobil Ramdhan makin mendekati tikungan dengen kecepatan tinggi. Ramdhan tahu bahwa rem tidak berfungsi, tetapi tetap saja ia tekan pedal rem kuat-kuat, berharap ada keajaiban. Sementara di  dalam mobil yang berlawanan, Dimas segera berinisiatif. Ia tahu, apabila mobil Ramdhan melewati tikungan, maka mobil itu akan langsung terjun ke jurang sedalam lebih dari sepuluh meter. Tentu, itu akan berakibat fatal bagi Ramdhan.


"Ini tidak boleh dibiarkan! Tidak!" ucap Dimas..


Ia tidak punya waktu lagi. Ia berharap kali ini keputusannya benar. Ia membanting setir tiba-tiba, menghalangi jalur mobil yang dilewati oleh Ramdhan. Dimas mengorbankan mobilnya untuk ditabrak oleh mobil Ramdhan, daripada mobil Ramdhan harus terjun ke jurang.


"Astaga! Apa-apaan ini!"


Ramdhan juga tidak menyangka ketika sebuah mobil tiba-tiba menghalangi jalan. Padahal sebelumnya, Ramdhan yakin bahwa ia akan berakhir di dalam jurang bersama mobilnya. Mobil Ramdhan melaju, sehingga benturan tak dapat dihindarkan. Moncong mobil Ramdhan menghantam bagian samping mobil Dimas.


Braaak!!


Benturan kedua mobil secara keras itu membuat kedua mobil berguling-guling ke aspal.  Kondisi mobil kini ringsek dan mengeluarkan asap!


***

__ADS_1


__ADS_2