Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
230. Teka-teki Keempat


__ADS_3

Gerimis mulai turun, satu-persatu titik-titik air membasahi bumi. Udara semakin dingin mencengkeram kulit. Beberapa orang menunda untuk keluar rumah, tetapi sebagian lain tetap melanjutkan aktivitas seperti biasa. Cuaca di luar terlihat redup, langit berwarna kelabu. Walau hujan tak begitu deras, hujan seperti ini akan berlangsung lama. Reno duduk di ruang makan sambil menatap jendela yang berembun karena hujan di luar. Ia masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan dari  dua kasus pembunuhan yang terjadi. Samai saat ini, belum ada titik


terang, dan itu membuatnya sedikit kalut.


Ia memang sudah terbiasa menangani pembunuhan berantai seperti ini, tetapi tetap saja setiap kasus mempunyai titik yang menegangkan. Hal ini disebabkan dia harus berlomba dengan waktu. Semakin lama ia mengambil keputusan, maka korban akan makin banyak berjatuhan. Ia menghela napas, sembari menghirup cokelat panas. Udara dingin seperti ini paling nyaman adalah minum sesuatu yang terasa hangat di kerongkongan.


Ia mendengar pintu ruang tamu terbuka, kemudian dilihatnya Silvia dengan rambut dan baju basah. Wanita muda itu rupanya kehujanan saat beraktivitas di luar. Keduanya telah berjanji untuk makan siang di rumah hari ini. Namun, Silvia rupanya juga sedang beraktivitas di luar, sehingga ia datang agak terlambat.


"Maaf, aku terjebak hujan. Aku sudah mencari taksi tetapi rupanya tak beruntung. Hampir tiga puluh menit aku baru mendapatkan taksi. Maaf, membuatmu menunggu," ucap Silvia.


Reno menatap lembut paras istrinya, kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Ia paksakan juga untuk tersenyum, tak ingin mengecilkan hati pasangannya itu.


"Aku tak akan bosan menunggumu, Sil!" kata Reno dengan lembut.


Silvia menatap ke arah meja makan yang kosong, hanya ada dua gelas air putih dalam gelas, dan setangkai mawar merah.


"Ki-kita akan makan siang kan?" tanya Silvia dengan heran.


Mereka sudah berjanji akan makan siang di rumah, tetapi ia berpikir bahwa Reno akan memesan makan siang di luar, tetapi nyatanya ia hanya menemukan  sebuah meja makan yang kosong.


"Tentu kita akan makan siang, dan alasannya juga sama. Hujan ini mengakibatkan pengantaran menjadi lambat. Mungkin kita harus bersabar sebentar, sembari menikmati air putih ini," senyum Reno.


Silvia tersenyum, kemudian menempatkan di kursi di seberang Reno. Ia mengambil setangkai mawar merah yang memang khusus disiapkan untuknya. Ia membaca selembar kartu bertuliskan kalimat romantis di dalamnya. Ia tak menyangka kalau Reno mempunyai jiwa romantis seperti ini. Menurutnya, agak terlalu aneh.


Tok ... tok ... tok!


Tiba-tiba terdengar suara pintu depan diketuk. Reno memalingkan muka ke arah ruang depan. Siapa yang hujan-hujan begini bertamu? Silvia juga terlihat heran, ia bangkit hendak membuka pintu, tetapi dicegah segera oleh Reno.


"Tak usah dibuka!"


"Mungkin makanan kita telah datang .... "

__ADS_1


"Maafkan aku Silvia, aku baru memesan makanan sepuluh menit lalu, dan tidak mungkin datang secepat itu. Kurasa itu bukan pengantar makanan," ucap Reno.


Silvia urung membuka pintu. Reno bangkit kemudian melangkah ke ruang depan untuk melihat siapa yang mengetuk pintu. Ia mengintip dari balik korden untuk melihat siapa yang datang, tetapi ia tak melihat siapa pun di luar. Reno merasa heran. Segera ia buka pintu, memang tak ada siapa-siapa di sana.


Namun, Reno mendapati sebuah paket yang dibungkus kertas koran, tanpa nama atau petunjuk apa pun. Ia segera membawa paket itu ke dalam. Silvia yang mengetahui itu terlihat heran. Ia juga ingin tahu apa yanga da dalam paket itu.


"Dari siapa?" tanya Silvia.


"Entahlah. Paket ini datang begitu aja, dan kutemukan di depan pintu. Seseorang mengirim paket itu tanpa ingin diketahui identitasnya," ucap Reno.


"Hmm, apakah itu pengagum rahasiamu?" goda Silvia.


"Mungkin," ucap Reno sambil membuka bungkusan paket yang baru diterima. Ia menemukan sebuah kotak kecil seperti tempat bekas cincin. Sayangnya, isi di dalamnya bukan cincin seperti yang ia kira hanya selembar kertas dengan tulisan ketik. Silvia juga penasaran dengan isi tulisan yang ada di kertas itu.


Hermaphrodite kembali ke istana dewa-dewa, menghilang bersama sang penegak. Kisah baru kembali dibuka, saat  ratu kegelapan akan binasa. Dua siang dua malam, saat pertengahan gelap, dalam tunggangan, kesepian dan merana. Maka dewi kegelapan akan kehilangan jemarinya.


"Astaga," desis Reno.


"Ini ... ini adalah ancaman pembunuhan berulang Sil. Aku tidak bisa menjelaskan secara lengkap kepadamu sekarang. Setiap kali ada pembunuhan, pasti sebelumnya akan muncul pesan seperti ini. Maaf Sil, sepertinya kita harus menunda makan siang kita hari ini, aku harus segera kembali ke kantor dan bergerak cepat. Kalau aku terlambat, maka satu nyawa lagi akan hilang," ucap Reno.


Ada raut kekecewaan di wajah Silvia, tetapi ia tak bisa menolak. Ia hanya mengangguk perlahan. Reno bergerak cepat, merapikan diri, mencium kening Silvia seperti biasa, kemudian segera pergi meninggalkan wanita itu sendirian.


***


Sejak kejadian percobaan pembunuhan itu, Ollan masih merasakan trauma yang mendalam. ia tak berani kembali ke apartemennya karena ia berpikir bahwa si pembunuh itu mungkin masih akan mengincarnya. Kini, ia menyewa sebuah kamar kos kecil yang ramai dihuni. Ia tak ingin bersendirian. Kamar kos itu terletak di sebuah gang kumuh di pinggiran kota. Di dalam kamar kos itu, ia tak berani keluar, hanya berdiam di kamar.


Kadang ia keluar sebentar untuk memeriksa keadaan. banyak orang lalu-lalang di depan gang, karena di depan kost nya terdapat warung kopi. Kalau malam, banyak pria yang nongkrong di warung itu sampai larut malam. Ollan sedikit tenang, paling tidak ia merasa lebih aman di komunitas seperti itu, daripada berada di lingkungan artis seperti yang biasa ia jalani.


Ollan memberanikan diri untuk keluar teras, menikmati gerimis yang turun sore itu. Ia sudah membuang nomor teleponnya yang lama, dan mengganti dengan nomor baru. ia berharap, si pembunuh itu tidak lagi mengiriminya pesan-pesan ancaman. Ia ingin hidup tenang tanpa ancama dari siapa pun.


Untuk kebutuhan makan, ia juga tak berani pergi jauh-jauh. Ia hanya memesan dari warung depan atau kadang ia memesan via layanan online. Pendek kata, ia ingin mengasingkan diri beberapa saat. Namun, perasaan was-was masih menghantui.

__ADS_1


Ollan sedang memainkan ponsel ketika pintu kamarnya diketuk. Ia terhenyak. Seingatnya, tidaka da yang tahu ia berada di kost ini selain pihak kepolisian. Bahkan yang mencarikan tempat ini adalah Dimas. Polisi itu sengaja memilih tempat di tengah pemukiman agar aman. Jadi siapa yang mengetuk pintu?


Ollan beranjak untuk membuka pintu dengan perasaan setengah hati. Namun, ia berusaha tenang dan tidak gugup. Saat pintu dibuka, ia melihat seorang wanita muda beramput pendek tersenyum padanya.


"I-ibu Niken?" sambut Ollan.


"Nggak usah terlalu formal Ollan, aku kesini untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Aku harap, kamu betah berada di tempat ini. Tempat ini jelas beda dengan apartemenmu, tetapi tempat ini lebih aman. Asal kau tidak macam-macam, kamu pasti nggak kenapa-kenapa. Kami sudah menghubungi RT setempat, dan mereka akan mengamankanmu apabila terjadi apa-apa. Jadi kamu nggak usah khawatir Ollan ... "


"Iya Bu. Tetapi jujur aku masih trauma dengan kejadian yang menimpa kemarin. Aku khawatir, keberadaanku diincar oleh seseorang. Ibu yakin nggak ada yang ngikutin?" tanya Ollan.


"Kurasa tidak, Ollan. Kamu tak perlu khawatir .... "


Rupanya apa yang dikatakan Niken itu tidak sepenuhnya benar. Karena tak jauh dari rumah kos itu, ada sepasang mata mengintai dari sebuah mobil.


"Oh, jadi ada di sini...." gumamnya.


***


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2