
Setelah Dimas menyebutkan nama Nadine, semua mata mengarah padanya. Namun, seperti yang dikatakan Dimas, bahwa si pelaku ini adalah pemain drama yang hebat. Saat yang lain menatap penuh amarah, ia tampak dingin seolah merasa tak bersalah. Nadine berusaha tersenyum seraya berkata.
"Aku? Kurasa ... kurasa Anda salah, Pak Dimas. Aku tidak seperti yang kau sangkakan. Aku tidak mengenal Suci dengan baik. Aku di sini adalah korban. Anda ingat, aku hampir dibunuh dua kali, bahkan sampai sekarang bekas luka di leher masih membekas. Bagaimana mungkin Anda menuduhku sebagai seorang pembunuh?" tanya Nadine.
Mendengar pembelaan Nadine, sekali lagi Dimas tersenyum. Polisi itu sudah menduga bahwa Nadine akan mengelak, dengan mengeluarkan jurus tak berdosanya. Walaupun begitu, Dimas dapat menangkap getaran rasa takut dalam gerakan bibir Nadine. Ia memang tak pandai membaca mimik wajah seseorang seperti Ammar, tetapi ia tahu kalau Nadine sedang berdusta.
"Baiklah, aku akan mengurai satu-persatu mulai dari awal. Kita mulai dari Lidya. Pembunuhan terhadap Lidya sangat mudah kamu lakukan saat semua sedang beristirahat, kamu menyelinap keluar dari kamar tanpa sepengetahuan siapa pun. Setelah semua selesai, kamu bersikap berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa, dengan aktingmu yang begitu memukau, kamu berhasil menipu semua orang seolah sangat takut dengan kejadian ini, bahkan kamu pura-pura ingin kembali ke kota. Bukanlah itu adalah akting yang begitu sempurna? Namun itu tidak cukup. Keesokannya, ketika rombongan pergi ke hutan, mereka kehilangan tanda penunjuk arah. Tentunya, tanda-tanda itu sudah kamu hilangkan di malam sebelumnya. Jujur saja, kamu sudah pergi ke kastil ini sebelumnya kan? Mariah mempunyai buku daftar tamu yang pernah mengunjungi kastil ini sebagai tempat wisata, dan cerobohnya kamu menulis nama aslimu di situ. Bahkan kamu mencuri denah ruangan yang kami simpan dengan baik di lantai tiga, itulah mengapa kamu sangat menguasai area bawah tanah tanpa tersesat sedikit pun. Bahkan area hutan sekitar sini pun juga kau kuasai dengan baik," ucap Dimas.
"Ini salah ... ini salah. Bukan hanya aku yang pernah mengunjungi kastil ini. Lily juga, Rosita juga, lalu mengapa kau tuduhkan semuanya padaku?" sergah Nadine.
"Aku belum selesai Nadine. Sekarang mari kita kembali ke peristiwa saat kamu berjalan beriringan dengan Ryan dan Adit mencari lokasi air terjun. Kamu pura-pura hendak buang air kecil, padahal kamu sudah menyiapkan diri hendak kabur untuk menghabisi korbanmu. Kamu mengarang cerita bahwa kamu dibius oleh seseorang, padahal kami tidak menemukan sedikit pun bekas pembiusan pada dirimu. Ini agak janggal bukan? Kamu memperkuat dugaan bahwa kamu memang benar-benar diculik dengan membantai seekor binatang hutan dan meneteskan darah di sekitar, serta merobek pakaianmu sendiri, kemudian kamu pergi ke pondok itu, pura-pura terbaring agar bisa ditemukan orang lain. Padahal tubuhmu tidak ada luka sedikit pun. Kamu yakin, kalau kamu menghilang tentu akan dicari. Kebetulan yang menemukanmu pertama kali adalah Jeremy dan Stella. Namun, setelah Jeremy pergi, kamu mungkin telah membunuh Stella juga, hanya saja kami belum menemukannya hingga saat ini. Lalu. secara diam-diam kamu mengintai Maya dan memukul kepalanya, kemudian membawa ke tempat lain. Sayangnya, di waktu yang hampir bersamaan kamu juga melihat Farrel yang sedang dalam perjalanan menuju kastil. Kamu langsung meringkusnya, dan mengeksekusi dengan sebuah kapak yang tak bisa kami temukan keberadaannya. Kamu telah buang alat bukti itu kan?" tuduh Dimas menajam, sambil menyorotkan pandangan ke arah Nadine.
"Itu tidak benar!" Nadine menggeleng-gelengkan kepalanya, tetapi Dimas tidak peduli.
"Kamu kembali ke kastil melalui terowongan rahasia di bawah kastil, lalu meletakkan potongan kepala Farrel di depan kamar Mariah. Setelah memastikan semua aman, kamu naik ke loteng dan menyiapkan rencana selanjutnya. Kamu bertahan di loteng hingga pagi menjelang. Kami menemukan bekas makanan di loteng yang tentu saja bukan ulah tikus atau sejenisnya. Di loteng, kamu menyalakan kotak musik sehingga menarik perhatian Rosita yang sedang memasak, sampai kamu berhasil meringkusnya. Sayangnya, sebelum kamu membunuh Rosita, kamu terpergok oleh Kara yang hendak membersihkan loteng. Tentu saja hal itu membuatmu panik, sehingga kamu terpaksa mengeksekusi Kara yang tidak bersalah, dengan menukar pakaian Kara dengan pakaian Rosita agar orang mengira bahwa Rosita telah terbunuh! Pembelaan apa lagi yang ingin kau katakan?" cecar Dimas.
__ADS_1
Nadine masih bergeming, seolah merasa tak bersalah. Ia hany menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah menganggap apa yang disampaikan hanyalah omong-kosong belaka.
"Kurang ajar dirimu! Aku akan balas dirimu!"
Tiba-tiba Rosita tak dapat menguasai diri, bergerak hendak menyerang Nadine, tetapi dicegah oleh Lily yang duduk di sampingnya. Paras Rosita dipenuhi amarah, teringat bagaimana ia disekap di atas loteng dan dimasukkan ke dalam kardus dalam keadaan tidak sadar, serta bagaimana pakaiannya dilucuti.
"Tenang, Ros! Tenang! Nanti akan ada hukuman setimpal buat Nadine!. Aku akan lanjutkan. Setelah berhasil mengeksekusi Kara, Nadine kembali ke ruang bawah tanah untuk menyiapkan drama penggantungan dirinya. Ia sengaja memancing Bang Ammar dan Juned agar bisa melihatnya berkelebat. Setelah yakin, baru dia menggantungkan diri dengan bantuan sebuah kursi. Aku bisa melihat kursi yang terbalik berada di bilik itu, sepertinya kamu tendang setelah dirimu tergantung. Benar kan? Kamu sengaja pancing mereka agar bisa segera menolong. Sebab, kalau mereka tidak ada, kamu tidak akan berani menggantung dirimu sendiri" cecar Dimas lagi.
Nadine hanya terpekur, terdiam tak berbicara. Parasnya tak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak!" pekik Nadine dengan gugup.
"Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata saat kamu pura-pura terbaring, kamu leluasa berkeliaran di malam hari saat Ryan tertidur di lantai. Mungkin kamu menaruh sesuatu di minumannya atau entahlah, karena Ryan mengatakan bahwa ia tidak pernah tidur senyenyak itu sebelumnya. Itulah sebabnya kamu dapat menyekap Aditya dan membunuhnya. Tapi aku menduga, bahwa Ryan tahu semua kejahatanmu. Pernah suatu kali aku menanyakan keberadaanmu, dan Ryan bilang bahwa kamu sedang istirahat di kamar. Padahal saat itu kamu tengah membuntuti Rosita dan Edwin di kebun teh. Kamu tahu pasangan itu pergi ke kebun teh karena tanpa sengaja Lily bercerita kepadamu. Benar kan? Ya, Ryan tahu sebenarnya kamu telah melakukan kejahatan tetapi karena rasa cinta yang begitu besar kepadamu, ia merahasiakannya. Bahkan ia terpaksa mengakhiri hubungannya dengan Maya demi kesetiaan kepadamu. Bagaimana kau membantah itu, Nadine?" lanjut Dimas.
"Cukuuup! Itu tidak benar!"
__ADS_1
"Aku lanjutkan lagi. Saat ini Ryan masih menghilang, dan entah kemana dia pergi, mungkin kamu telah bunuh orang yang telah mencintaimu dengan tulus itu. Kami tidak pernah mengatakan bahwa Ryan berada di hutan, lalu mengapa kamu meminta mencari Ryan di hutan? Bukankah ini janggal? Kamu dengan mudah keluar-masuk kastil lewat terowongan itu, menyekap Niken. dan mengikatnya di sebuah pohon, dan membantai anjing-anjing di sekitar kastil. Lily juga pernah memergokimu, tetapi kemudian kamu mengejarnya sehingga ia bersembunyi dalam kamar. Dan pagi itu, kamu mendatangi kamar Mariah, lalu menjebaknya. Kami tidak tahu di mana dia sekarang, dan nanti kamu harus menunjukkan di mana Mariah berada. Malangnya, Jeremy yang sedang menemani Juned pun kamu sergap tanpa ampun. Kuharap kamu tidak membunuhnya," ucap Dimas.
"Lalu buat apa aku melakukan itu semua? Apa untungnya?" tanya Nadine.
"Aku sudah jelaskan tadi, Motif dari semua ini adalah demi Suci Andriani. Kamu cukup dekat dengan dirinya kan? Aku menemukan kalung dengan inisial Suci Andriani di kamarmu. Kamu juga berbohong saat aku tanya aktivitas satu jam sebelum Mariah menghilang. Kamu bilang di kamar kan? Padahal waktu itu aku sedang memeriksa kamarmu. Selain itu, aku juga banyak tahu tentang keluargamu dan keluarga Suci. Walau kamu rahasiakan, kami tetap tahu. Latar belakang keluarga kalian hampir sama sehingga menimbulkan rasa empati dan persaudaraan yang erat di antara kalian. Bahkan kamu rela membalaskan dendam untuk Suci. Asal kamu tahu, bahwa kami sudah mengamankan ibu kamu yang terbukti membunuh ayah kamu dan Vivian, pacarnya, serta menanam jasadnya di kebun belakang. Sungguh mengerikan. Kami terpaksa mengirim adik kamu ke Dinas Sosial. Sungguh malang nasibnya mempunyai keluarga pembunuh seperti kalian! Ini sama persis dengan Tiara. Ya, itulah sebabnya kamu mengagumi Tiara. Aku tahu kamu membaca novel karya Michael Smith, sehingga kamu bisa meniru pembunuhan yang dilakukan oleh Tiara!"
"Tidak! Kami ini korban! Kami tidak bersalah!"
"Cukup semua pembelaanmu, Nadine. Semua sudah jelas terbongkar dan kamu tidak bisa mengelak. Sekarang kamu tidak bisa pergi kemana-mana karena .... "
Praaang!
Belum selesai kalimat Dimas, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kaca jendela yang tiba-tiba pecah. Tiga buah benda berasap tiba-tiba terlontar dari luar, jatuh di ruang baca. Angin dari luar masuk ke dalam ruang baca seketika lilin-lilin yang ada di ruang baca padam!
"Bom molotov! Tiarap!" pekik Dimas
__ADS_1
***