
Niken menjerit tertahan melihat jasad tergantung di atas pohon itu. Tentunya, bukan karena ia merasa ngeri. Ia sudah terbiasa melihat jasad dengan berbagai keadaan, tetapi ia sangat terkejut kali ini karena yang menggantung di atas sana adalah jasad Anita, gadis belia yang menjadi tanggungjawabnya. Ia begitu terpukul, bibirnya gemetar, karena tak menyangka Anita akan berakhir dalam keadaan seperti itu.
“Periksa sekitar tempat ini cepat!” perintah Reno.
Kesibukan langsung terasa di sekitar pondok itu. Reno langsung menghubungi kantor pusat untuk meminta tambahan personel. Ia akan menyusur sekitar pondok, dan akan mengerahkan anjing pelacak. Ia yakin bahwa si pembunuh Anita masih belum terlalu jauh meninggalkan tempat itu. Dalam gelap malam seperti ini, tentu tak mudah berjalan di alam terbuka.
Sementara, Niken masih dalam keadaan terpukul. Ia berjongkok membelakangi jasad tergantung itu, sambil menangis. Melihat itu, Reno mendekati Niken, kemudian memegang pundaknya. Ia memberikan selembar tisu kepada polisi wanita itu.
“Sudahlah! Itu bukan salahmu kok,” ucap Reno menenangkan.
“Tidak, Pak! Anita mati karena salahku. Itu semua salahku! Aku lalai dalam bertugas sehingga tak berpikir kalau si pembunuh itu menggunakan waktu yang hanya sepuluh menit itu untuk beraksi. Aku bahkan tak dapat memaafkan diriku sendiri, Pak!”
Niken berkata dengan sedih. Reno hanya menghela napas dan mengangguk-angguk. Ia membiarkan Niken tenggelam dalam penyesalannya. Reno tak boleh terlalu fokus pada wanita muda itu. Ia segera melakukan sesuatu yang bisa ia lakukan. Polisi sudah memasang garis kuning, dan paramedis sudah dihubungi untuk mengevakuasi jasad Anita.
“Kamu boleh pulang duluan dan beristirahat. Biar kami yang menangani ini semua,” kata Reno.
“Sudah kuduga Pak Reno akan berkata begitu. Aku merasa tak ada gunanya dalam kasus ini. Tidak, Pak! Aku nggak akan pulang. Aku berjanji akan tangkap pembunuh itu degan caraku sendiri,” geram Niken.
“Apa yang kamu akan lakukan? Jangan nekat, Niken! Yang kita hadapi ini adalah seseorang yang berbahaya. Apapun yang kamu lakukan harus berkoodinasi dengan kamu agar kami bisa bantu apabila terjadi apa-apa,” ucap Reno.
Niken terdiam sambil merenung. Ia masih belum bisa berpikir secara jernih. Tapi dalam hati ia bertekad untuk menangani kasus ini, dengan atau tanpa dukungan Reno.
Setelah memastikan kondisi Niken stabil, Reno memeriksa area sekitar pondok itu sambil menunggu personel polisi yang lain. Di dalam pondok terlihat sangat kotor dan berantakan. Sepertinya, pondok lama tak ditinggali, sehingga sarang laba-laba menempel di mana-mana. Selain itu, tikus dan berbagai hewan kecil bersliweran, seolah tak takut dengan kehadiran manusia. Tak ada penerangan sama sekali, sehingga ia harus memaksimalkan penggunaan senter.
Ia menemukan tali tambang dalam sebuah kotak kardus, sisa tali yang dipakai si pembunuh untuk menggantung Anita. Juga ada bekas bungkus coklat merk Silver King, dan sebuah puntung rokok. Namun, sepertinya puntung rokok itu sudah lama. Ia juga menemukan alat-alat perkebunan seperti cairan dan semprotan pestisida, masker, sarung tangan serta alat makan minum. Reno berpikir bahwa Daniel tidak pernah ke tempat ini. Mungkin hanya penjaga suruhan sutradara itu saja yang datang untuk merawat kebun.
Setelah petugas polisi berhasil menurunkan jasad Anita, Reno segera mengecek kondisinya. Ia membuka sapu tangan warna merah yang menutup mataya. Terlihat mata Anita yang terbuka. Reno menghela napas. Ia tak tega melihat kondisi itu, kemudian berusaha menutup matanya. Mulut Anita menganga, dengan sumpalan kertas di dalamnya.
Reno mengambil kertas itu, seperti biasa kertas itu berisi tulisan misterius. Reno membaca perlahan dan berusaha memahami artinya.
Saat sebuah bintang meredup, maka tiga siang tiga malam Hermaphrodite akan binasa. Saat Venus menampakkan diri, maka waspadalah dengan sesuatu yang melimpah. Di dalam sebuah ruang hampa udara, tanpa kawan dan handai taulan. Tubuhnya meringkuk beku, sedingin es di Siberia.
“Astaga!”
Reno mendapati tulisan aneh itu seperti sebuah teka-teki lagi, seperti kertas yang ia temukan dalam genggaman tangan Daniel Prawira saat sutradara tua itu ditemukan tewas di toilet. Rupanya, si pembunuh itu sudah menentukan terget berikutnya, dan meninggalkan petunjuk bagi polisi. Rupanya dia sengaja bermain-main dalam kasus ini.
__ADS_1
Reno meletakkan kertas itu ke dalam kantung plastik kecil, kemudian memeriksa keadaan jasad Anita. Ia melihat luka memar di kepala seperti bekas pukulan. Untuk lebih memastikan, ia menunggu laporan dari tim forensik. Petugas paramedis mengevakuasi jasad itu ke dalam ambulans untuk selanjutnya diperiksa secara intensif.
Beberapa saat kemudian, para anggota dari kepolisian mulai berdatangan. Mereka segera menyisir lokasi di sekitar dengan sigap, menembus perkebunan yang gelap. Beberapa anjing pelacak juga didatangkan untuk mengendus jejak pelaku yang diperkirakan belum terlalu jauh. Sorotan senter menerangi seantero perkebunan. Mereka tengah memburu si pelaku pembunuhan keji itu.
Suasana malam yang gelap tanpa bintang dan sedikit berawan adalah perpaduan sempurna untuk lolos dari pengejaran. Apalagi kilat sudah mulai berkelebat. Reno khawatir hujan akan segera turun. Tentu itu hal ini akan menyulitakn pengejaran.
***
Wandi terbangun dari tidurnya ketika ponsel berbunyi nyaring. Dilihatnya sang istri masih terbaring pulas di sampingnya dalam keadaan miring membelakangi. Ia meraih ponsel tersebut dan mendapati nomor Gilda sedang memanggil. Ia menduga, kalau wanita itu memanggil pasti akan memberinya pekerjaan atau ada kejadian penting yang perlu diliput.
Ia sebenarnya merasa malas, tetapi ia tak ingin Gilda mendampratnya. Perintah Gilda adalah sabda yang harus ia patuhi. Ia tidak bisa mengelak darinya.
“Wandi! Cepat bersiap! Kita akan memburu berita bagus malam ini!” perintah Gilda di seberang.
“Berita apa Mbak? Ini sudah lewat tengah malam ....”
Wandi menguap, kemudian merapikan rambutnya dengan tangan. Istrinya terbangun mendengar Wandi menerima telepon dari seseorang di malam buta seperti ini. Paras wanita itu terlihat kesal.
“Ini berita bagus, Wandi! Beberapa menit lalu sirine mobil polisi meraung-raung menuju arah selatan kota. Sepertinya ada kejadian di sana. Kita harus mengikuti mereka sebelum stasiun TV lain mendapatkan beritanya!” ucap Gilda.
“Nggak ada tapi-tapian, Wan! Yang jelas kamu harus tiba di sini dalam waktu sepuluh menit!”
Wandi hanya terbengong, antara sadar dan tidak sadar, karena ia masih baru saja membuka mata. Melihat sang suami terlihat cemas, istri Wandi langsung merebut ponsel suaminya. Ia rupanya tersulut emosi karena ada seorang wanita yang menelepon suaminya di larut malam seperti ini.
“Tolong sopan sedikit ya! Jam berapa ini? Ini adalah waktu istirahat dan kamu sedang menelepon suami orang. Nggak bisa besok apa? Tidak! Suami saya tidak akan pergi malam ini!” ucap istri Wandi dengan nada meletup-letup.
“Maaf, ini siapa ya?” tanya Gilda di seberang.
“Saya Mardiyah, istrinya! Saya tidak mengizinkan suami saya keluar malam ini!”ucap Mardiyah dengan ketus.
“Oh, ibu ini istrinya. Maaf ya Bu, suami ibu boleh saja tidak meliput malam ini. Nanti saya akan bikin laporan kepada atasan saya dan mengatakan kalau suami ibu lalai dalam tugas. Hukumannya yah ... paling nggak surat peringatan lah ya. Tapi bisa jadi langsung dipecat sih. Tergantung kebijaksanaan. Ibu mau suaminya jadi pengangguran?” ucap Gilda.
Mendengar ucapan Gilda yang provokatif itu, Mardiyah berpikir sejenak. Sejatinya, ia adalah wanita kampung biasa yang tak mengerti aturan perusahaan dan segala macamnya. Ia takut, kalau-kalau suaminya benar-benar dipecat, tentu keluarganya akan berada dalam kesulitan. Bagaimanapun, ia merasa sangat cemburu dengan Gilda yang selalu berduaan dengan suaminya.
“Sudahlah, Bu. Malu .... “
__ADS_1
Wandi menenangkan istrinya yang masih gusar.
“Sudah Bapak diam saja! Biar aku yang memberi pelajaran wanita ini!” ketus Mardiyah.
“Ya sudah Bu, kalau dalam waktu sepuluh menit Wandi belum hadir, maka saya akan berangkat sendiri, dan saya akan catat ketidakhadiran Wandi sebagai pelanggaran. Selamat malam!”
Gilda menutup telepon. Kini yang merasa bingung adalah Mardiyah. Ia galau, apakah ia membiarkan suaminya pegi atau menahannya di rumah.
“Aku harus pergi, Bu! Mbak Gilda itu lumayan nekat. Kalau kita membuat masalah, takutnya malah terseret-seret. Lebih aku datang memenuhi perintahnya” ucap Wandi.
Mardiyah tak bisa mencegah. Suaminya bangkit dari tempat tidur, ke kamar mandi sebentar, kemudian berganti pakaian. Walau merasa kesal, Mardiyah tak bisa berbuat apa-apa. Yah, bagi dia, Wandi adalah sosok suami sempurna. Wandi selalu memberi nafkah padanya lebih dari cukup. Tentu kalau Wandi sampai kehilangan pekerjaan, maka situasi akan sangat berbahaya. Ia merelakan kepergiannya, walau ia harus mengorbankan perasaan.
***
Reno dan beberapa anggota polisi segera menjelajah perkebunan yang lebat mirip hutan tersebut. Mereka melacak jejak si pembunuh dengan bantuan penciuman para anjing yang berjumlah empat ekor itu. Mereka berlarian masuk ke dalam hutan, menembus semak dan belukar, sehingga kadang para polisi itu kewalahan.
Sementara Niken memutuskan untuk tidak ikut. Bersama para polisi lain, ia menunggu di dalam mobil. Kepala Niken terasa pening. Ia masih belum memaafkan dirinya sendiri atas kematian Anita. Dalam hati ia bersumpah untuk meringkus sendiri si pembunuh itu dengan tangannya.
“Anjing-anjing terus masuk ke dalam kebun. Kukira dia akan membawa kita sampai ke hutan!” ucap salah seorang polisi.
“Kita ikuti saja kemana mereka pergi!”
Setelah menerjang semak dan pepohonan, para anjing itu menuntun mereka di pinggir sungai. Anjing itu menyalak bersahut-sahutan, seolah hendak menyeberang, tetapi tidak bisa karena terhalang air sungai.
“Di sini ada sungai. Apakah mungkin si pembunuh itu menyeberang sungai? Coba cek, apabila dia memang menyeberang sungai, kemana tembusnya kebun durian ini? ” tanya Reno.
“Di seberang sungai ini bukan lagi wilayah kebun, tetapi masuk ke wilayah hutan kota dekat kawasan pergudangan. Kalau pembunuh itu sampai di tepi jalan raya, maka ia akan semakin mudah kabur karena ia bisa menumpang mobil atau memanggil taksi online dari situ,” terang salah seorang anggota polisi.
Reno segera mengambil sikap. Ia segera menghubungi unit patroli lain yang berada dekat kompleks pergudangan agar bersiaga, siapa tahu melihat seseorang dengan gerak-gerik misterius.
“Jadi bagaimana? Apakah kita akan menyeberang, Pak?” tanya petugas polisi itu.
“Hmm. Ya, kita akan menyeberang, tetapi tidak perlu semua. Aku meminta dua di antara kalian saja untuk menyeberangi sungai ini. Sepertinya dia sedang bergerak menuju jalan raya. Semoga dia belum bergerak jauh, sehingga kita bisa mengejar!”
***
__ADS_1