
Kegelisahan makin merayap di seluruh penjuru-penjuru kastil. Suasana makan malam menjadi lengang, nyaris tak terdengar suara percakapan di antara penghuninya. Mereka hanya terdiam, saling memandang satu sama lain dengan penuh rasa curiga. Maira yang biasanya berceloteh juga tenggelam dalam khayalannya. Tak ada seorang pun yang membuka obrolan.
Tak seperti biasa, menu makan malam kali ini Helen menghidangkan sea food. Bagi pecinta makanan laut, tentu mereka akan gembira, tetapi bagi yang alergi tentu akan menjadi mimpi buruk. Mereka memilih untuk tidak menyentuh makanan.
Adrianna misalnya.
Wanita muda itu memilih diam, sambil menatap semua penghuni yang begitu menikmati makan malamnya. Ia hanya minta dibuatkan omelette telur isi sayuran oleh Helen. Aroma udang membuat isi perutnya bergolak. Hanya satu yang diinginkan saat ini, segera kembali ke kamar.
Setelah makan malam, Ammar sudah bersiap di meja kerja milik Anggara Laksono. Malam ini adalah giliran Aldo Riyanda, pria muda pendiam yang menyimpan banyak misteri. Selama ini Aldo Riyanda dikenal sebagai penulis cerita motivasi yang cukup cerdas. Banyak pelajaran hidup ditulis dalam karyanya yang nyaris tak dibumbui adegan romance. Pria tampan itu tak banyak mengumbar kehidupan pribadi di depan umum. Ia hanya ingin dikenal karena karya bukan karena sensasi kehidupan pribadi.
“Duduklah,” sapa Ammar Marutami.
Paras muka Aldo Riyanda terlihat tenang, tak ada kekhawatiran yang ia tunjukkan. Bahkan dengan penuh percaya diri, ia silangkan kaki sambil bola matanya menelusur ke seluruh penjuru ruangan. Selama di kastil, baru pertama kali ini ia masuk ke ruang kerja Anggara Laksono. Tak menyangka, arsitek bangunan ini begitu eksotis. Aldo Riyanda berdecak kagum.
“Baru pertama kali ini kita bertatap-muka secara dekat seperti ini, Aldin. Eh, itu nama aslimu kan?”
“Tepat. Nama asliku adalah Aldin Riyanda. Bertahun-tahun aku menggunakan nama Aldo Riyanda sebagai nama pena. Nyatanya nama itu membawa banyak peruntungan dalam dunia literasiku,” jawab Aldo Riyanda.
“Pilihan nama yang bagus.”
“Darimana kamu tahu nama asliku? Seingatku aku tak memberi tahu siapa pun.”
__ADS_1
“Satu tahun lalu aku membaca sebuah jurnal kesehatan populer dari seorang dokter muda bernama Aldin Riyanda. Ketika aku lihat foto dalam jurnal, baru aku menyadari bahwa itu dirimu. Sungguh tak habis pikir bagaimana seorang dokter kemudian beralih profesi menjadi seorang penulis. Dari segi finansial, tentu saja posisi dokter lebih menjanjikan daripada penulis.”
“Ini tentu saja tak ada hubungannya dengan pendapatan. Ini masalah kepuasan hati yang tak bisa diukur dengan materi. Menjadi penulis menjadikanku seperti Tuhan. Aku berhak menentukan nasib karakter yang akan aku buat. Aku sangat puas menjadi orang lain dalam karakter novelku,” ucap Aldo dengan penuh percaya diri.
“Bagaimana bisa kamu berada dalam kastil ini?”
“Aku baru saja menyelesaikan tulisanku ketika pintu apartemen diketuk. Seorang petugas ekspedisi mengirim sebuah undangan dari seseorang yang namanya tak asing. Siapa yang tak mengenal Anggara Laksono? Aku mengambil kesempatan berharga itu. Tak menyangka karyaku disukai oleh seorang milyuner seperti dia.”
“Hmm. Memang kedengarannya gila. Paman Anggara mengundang para penulis terkenal hanya untuk menjadi saksi kematiannya. Ini sungguh tidak masuk akal! Menurutmu, apa motif dibalik semua pembunuhan ini? Ada seseorang yang kamu curigai di sini?” tanya Ammar Marutami.
“Semua mempunyai alasan yang kuat untuk melakukan pembunuhan ini. Termasuk diriku sendiri. Aku besar dari keluarga yang broken-home. Ibuku meninggal karena bunuh diri di depan mata dan kepalaku. Ayahku pergi entah kemana. Selama bertahun-tahun aku tinggal bersama kakek di sebuah tanah pertanian. Peristiwa itu sungguh menyisakan trauma kelam dalam hidupku,” terang Aldo Riyanda.
“Aku turut bersimpati. Mungkin hal itu pula yang mempengaruhi kepribadianmu yang pendiam, tetapi sebetulnya kamu merencanakan sesuatu dalam diam. Ada luka yang kamu pendam dalam-dalam. ”
“Kamu mengenal secara pribadi sosok Yoga dan Karina?”
“Yoga, aku baru mengenalnya sebentar. Tak banyak bicara, hanya sekedar tahu saja. Lagipula ia jarang berinteraksi dengan kami. Tapi kurasa dia agak berandalan. Aku yakin dia mempunyai banyak kekasih di luar sana. Sedangkan Karina, aku sangat menyayangkan dia mati setragis itu. Dia begitu cantik dan pintar. Entah alasan apa seseorang tega menghabisinya. Mungkin ini semacam iri dengki atau dendam pribadi. Entahlah. Aku tak berani menduga-duga!”
“Pendapatmu sangat menarik, Aldo. Kematian mereka berdua sungguh tiba-tiba tanpa ada unsur benang merah yang menghubungkan. Seolah mereka berdua dipilih secara random oleh si pembunuh. Mungkin pelakunya adalah seorang yang sakit jiwa atau depresi. Atau malah mesin pembunuh seperti Jason Vorhees di film Friday The 13th. Banyak sekali dugaan-dugaan dalam catatanku, sayangnya tak ada benang merah yang menghubungkan,” kata Ammar.
“Apa kamu mencurigaiku?”
__ADS_1
“Mungkin saja. Latar belakang keluarga yang kelam kadang memicu seseorang mempunyai naluri membunuh. Tapi terlalu dini untuk mengatakan dirimu sebagai tersangka. Kadang seseorang membunuh tanpa disertai alasan yang jelas, hanya sebagai kepuasan semata. Inilah yang kusebut sebagai psikopat sejati.” Ammar menerangkan dengan terperinci.
Tak banyak yang dibicarakan oleh kedua pria itu. Informasi-informasi mendasar sudah tercatat dalam buku agenda Ammar. Aldo Riyanda dipersilakan keluar ketika jarum jam mulai merapat di angka sebelas malam.
Kembali Ammar Marutami diguncang kegelisahan. Ia merasa tak mempunyai alasan yang kuat untuk menjadikan Aldo Riyanda sebagai seorang tersangka. Walaupun begitu, ia tetap mencatat Aldo sebagai pribadi yang cerdas dan mungkin penuh tipu daya. Dalam sejarah kasus yang pernah ia tangani, banyak orang jenius membunuh untuk memperolah kepuasan batin. Kadang mereka membutuhkan pengakuan atas kejahatan yang dilakukan.
Sementara penghuni lain bersiap ke peraduan, Maira Susanti masih terjaga di ruang baca. Ia begitu asyik membaca sebuah novel yang sangat mengejutkan. Sebuah novel teka-teki pembunuhan berjudul ‘Topeng Sang Pembunuh’ tulisan dari sang maestro Michael Smith Artenton. Novel itu menjadi salah satu koleksi novel yang disusun dalam rak-rak kumpulan buku fiksi favorit Anggara Laksono.
Novel itu adalah novel bergenre detektif pertama yang pernah dibacanya. Alurnya yang memukau, membuat Maira terus terpicing membaca lembar demi lembar novel tanpa bergeming. Menurutnya, Michael begitu cerdas meramu kasus pembunuhan itu menjadi rangkaian kalimat yang mendebarkan.
Seketika ia terkejut!
“Astaga! Alur cerita novel ini hampir sama dengan kisah pembunuhan yang telah terjadi. Sepuluh bintang televisi diundang dalam mansion mewah. Pembunuhan pertama ditenggelamkan dalam kolam renang, pembunuhan kedua dilakukan dengan menikam perut berkali-kali, pembunuhan ketiga dilakukan dengan cara penggal kepala. Jelas ini sesuai sekali dengan kejadian di kastil ini! Bagaimana ini bisa terjadi?” pikir Maira.
Makin penasaran, ia membuka-buka lembar selanjutnya dengan cepat. Ia ingin tahu apa yang akan terjadi dengan pembunuhan keempat. Jantungnya berdegup kencang, tak menyangka akan menemukan kesamaan isi novel Michael dengan peristiwa pembunuhan yang sedang terjadi.
Jantungnya terasa hendak berhenti berdetak ketika ia membaca dengan saksama bahwa pembunuhan keempat dilakukan di sebuah ruang baca dengan cara dijerat lehernya!
“Di sini? Astaga!”
Tiba-tiba lampu kastil padam!
__ADS_1
***