Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
180. Pelatihan Perlindungan Diri


__ADS_3

Semua penghuni rumah isolasi sudah berkumpul di halaman samping, menunggu Reno untuk memberikan pelatihan tentang pertahanan diri. Waktu sudah menunjuk pukul sepuluh lewat lima belas menit. Sinar matahari memancar agak terik, tetapi terbantu dengan angin yang bertiup sepoi, seolah meredam panas yang menjilat kulit.


Lena menyeka keringat yang sudah mulai menetes di keningnya. Parasnya mulai menunjukkan rasa bosan. Ia melihat ke arah teman-temannya yang lain. Sebagian dari mereka juga mulai bosan menunggu.


“Jadi nggak sih? Kalo nggak jadi aku mau balik ke kamar aja deh...” ucap Lena.


“Jadi, tapi kayaknya agak molor. Tadi kulihat kita kedatangan tamu.”


Rasty memberi tanggapan.


“Tamu? Siapa tamunya?” tanya Lena penasaran.


“Gilda Anwar. Kalian tau kan? Siapa sih yang nggak kenal dia. Dia kan jurnalis paling terkenal di kota ini. Aku cuman heran dan nggak nyangka aja, kok bisa-bisanya Pak Reno membiarkan rumah isolasi ini diliput oleh media. Nanti bukannya akan berakibat buruk?” Rasty berpendapat.


“Gilda? Iya sih. Kenapa pula dia ada di tempat ini! Nggak takut dibunuh apa!” celetuk Rudi sambil tersenyum sinis.


Saat mereka bertanya-tanya dengan maksud kedatangan Gilda, tiba-tiba Reno datang bersama Gilda dan Wandi. Paras Gilda masih menunjukkan kekesalan, tetapi ia berusaha tersenyum menghadap parai penghuni lain.


"Panjang umur, yang diomongin nongol," gumam Ferdy.


“Selamat pagi semua! Maaf ya, sudah buat kalian menunggu. Seperti yang sudah kita jadwalkan, pagi hari ini kita akan ada pelatihan tentang pertahanan diri. Namun, sebelum kita memulai itu, rupanya kita hari ini kedatangan tamu istimewa yang sudah nggak asing lagi tentunya. Walaupun kalian nggak kenal dia secara pribadi, pasti kalian sudah kenal sama wajahnya kan?” ucap Reno.


Semua penghuni mengangguk-angguk. Ya, siapa yang tidak kenal dengan Gilda Anwar? Jurnalis itu terlampau sering muncul di layar televisi. Popularitasnya sudah mirip selebriti papan atas.


“Jadi ... apakah perlu aku mengenalkan diri lagi?” tanya Gilda.


“Kurasa mereka sudah tahu dirimu, Gilda. Jadi nggak perlu. Oya, Gilda bukan hanya menjadi tamu kita, tetapi dia akan menjadi salah satu bagian dari rumah ini. Gilda akan tinggal di sini sampai kita selesai menjalankan isolasi. Selama dia di sini ia akan meliput kegiatan kalian dan akan mengumpulkan berita. Jadi jangan heran kalau dia akan bertanya-tanya,” tambah Reno lagi.


Mendadak paras penghuni rumah isolasi menjadi tak nyaman. Mereka tidak suka ditanya-tanya, apalagi kalau sudah berujung ke hal pribadi. Kehadiran Gilda membuat perasaan tidak enak, tetapi mereka tidak punya pilihan lain selain menerima. Mereka hanya mengiyakan, walaupun ada yang mengganjal di benak mereka.


“Baiklah kalau begitu, kalian boleh istirahat atau melihat-lihat sekitar dalam rumah. Aku akan memberikan sedikit pelatihan untuk mereka, dan aku yakin kamu nggak akan tertarik.”


Reno mempersilakan Gilda untuk meninggalkan tempat, sementara ia bersiap memberikan pelatihan untuk para penghuni rumah isolasi itu. Ia memberikan penjelasan singkat tentang cara membela diri sederhana apabila bertemu seseorang yang mungin mengancam jiwa.


Reno memberikan contoh gerakan sederhana bagaimana cara melepaskan diri dari genggaman tangan apabila ada seseorang yang tiba-tiba merangkul dari belakang. Ia juga menyarankan untuk menendang bagian lutut, atau menyerang area di antara telinga dan leher, dan menyerang hidung. Bahkan Reno juga memperagakan bagaimana cara mencolok mata, dengan Rudi sebagai model peraganya. Jika lawan mulai mencekik, ia juga mempraktikkan bagaimana cara terbaik untuk melepaskannya. Hal terakhir, Reno menyarankan untuk memanfaatkan barang yang dipunyai seperti gunting atau bahkan lipstik.


Semua mendengar dengan antusias. Mereka berpikir bahwa pertahanan diri memang penting dipelajari, karena kejadian tak terduga kadang datang tiba-tiba. Setelah Reno selesai memperagakan, semua bertepuk tangan. Walau pelajaran kali ini cukup singkat, tetapi bermanfaat. Terutama untuk para gadis, sebab kadang ada saja yang berniat kurang ajar terhadap mereka.


“Setelah ini bisa langsung dipraktikkan ya. Jadi kalau pembunuh itu menyergap dari belakang, kalian tahu harus melakukan apa,” kata Reni.

__ADS_1


“Tapi pembunuhnya kan ikut pelatihan ini juga, Pak?” celetuk Alex.


Pertanyaan Alex itu memang sederhana, tetapi cukup menarik perhatian. Semua mata langsung tertuju padanya. Mendengar itu, Reno hanya tersenyum.


“Tak masalah. Kita lihat saja nanti apakah pembunuh itu bisa menerapkan teori yang sudah kuperagakan hari ini. Oke, silakan semua istirahat sembari nunggu makan siang!”


***


Setelah memberikan pelatihan singkat kepada para anak muda penghuni rumah isolasi, Reno beristirahat sejenak di dalam kamar. Ia baru saja menerima gambar kiriman dari Pak Andika, terkait gambar logo yang dipakai wanita yang menyewa mobil itu. Sekilas. Gambar dari Pak Andika tak begitu jelas, karena hanya digambar ala kadarnya. Namun, setelah ia amat-amati, ia baru sadar gambar logo itu.


“Ini kan logo ...?” Reno mulai menebak-nebak.


Sebelum dia memastikan lebih lanjut, ia harus mendalami gambar itu lebih dalam, apakah memang ada hubungannya logo itu dengan si pembunuh. Bagaimanapun, ia tetap simpan gambar logo itu untuk dikaji lebih jauh.


“Kalau ini memang gambar logo itu, maka dugaanku selama ini tidak meleset!” gumamnya.


Drrrttt ... drrrtt!


Reno segera mengangkat panggilan telepon itu, karena panggilan itu berasal dari Dimas. Ia tahu, Dimas akan membawa informasi tambahan.


“Gimana Dim?” tanya Reno.


“Ren, tahu nggak, hari ini aku membuka arsip-arsip milik anak-anak itu, dan aku menemukan sebuah foto lawas milik Gerry. Kamu tahu, ternyata sebagian dari anak-anak itu berteman sejak saat di TK. Aku mengenali wajah-wajah mereka,” ucap Dimas.


Reno menyangsikan apa yang dilihat oleh Dimas.


“Iya sih berbeda. Tapi tetap bisa lah dikenali. Nah, maka itu aku mau kunjungi TK ini, dan menanyakan tentang masa lalu mereka di masa kecil. Siapa tahu info ini bermanfaat. Sebab kalau kuanalisa, motif dari pembunuhan ini bukan hanya soal asmara, tetapi mungkin juga dendam lama. Semuanya bercampur aduk. Aku mau mencoba mengurainya satu-satu,” kata Dimas memberi penjelasan.


“Jadi siapa saja yang berasal dari TK yang sama?” tanya Reno.


“Aku belum yakin. Nanti kukabari lagi setelah aku bertemu dengan orang yang bisa memberi keterangan pada foto ini. Oya, tadi aku juga sempat melihat-lihat media sosial milik Jenny, Miranti, Alma dan Nayya. Ada sesuatu yang mengejutkanku di sini,” kata Dimas.


“Apa itu?”


“Ternyata di akun media sosial Jenny dan Nayya ada foto seseorang yang sama. Ternyata, mereka pernah dekat dengan orang ini. Hanya saja, aku tidak menemukan foto ini di media sosial milik Alma dan Miranti. Mungin Alma dan Miranti dibunuh karena alasan lain. Entahlah!”


“Oke, oke, aku tunggu kabarmu saja selanjutnya. Di sini aku juga sudah mencatut satu nama yang kucurigai sejak lama, tapi aku belum bisa memastikannya. Nanti saja kuberitahu kalau kita bertemu,” ucap Reno.l


“Siap!”

__ADS_1


***


Di lorong kota yang agak gelap, seorang wanita muda berjalan dengan sembunyi-sembunyi, takut ketahuan orang lain. Lorong itu, walau siang hari memang terkesan gelap karena sinar matahari terhalang oleh gedung-gedung tinggi di sekitarnya. Di sekitar situ hanya ada beberapa gelandangan yang tidur di samping-samping gedung, sehingga suasana menjadi kumuh.


Wanita itu menengok ke kiri dan ke kanan. Memastikan semua aman. Ia berhenti di depan sebuah tempat sampah besar, kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik tas besar yang dibawanya. Ternyata, ia mengeluarkan sebuah rambut palsu berwarna merah. Ia masukkan rambut palsu itu ke dalam tong sampah.


“Aku tidak mau berurusan dengan polisi karena ini. Aku tidak mau!”


Wanita itu bergumam. Setelah ia membuang rambut palsu itu, parasnya terlihat lebih lega. Setelah dirasa aman, ia meninggalkan tempat sampah itu dengan langkah tergesa. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba ia merasa ada sebuah benda tajam menempel di punggungnya.


“Jangan berteriak, atau belati ini akan merobek punggungmu!”


Tiba-tiba ia mendengar suara berat seorang pria di belakangnya. Ia ketakutan setengah mati. Tak menduga kalau ada yang membuntutinya. Ia tak berani menoleh karena ancaman benda tajam yang menempel di punggung. Ia hanya mengangguk lemah.


“Kumohon jangan bunuh aku. Ambil saja uang dan barang berhargaku!”


Gadis itu memohon pada penodong yang ada di belakangnya, karena ia mengira yang menodongnya adalah penjahat yang ingin merampok.


“Gadis bodoh! Aku tidak butuh uangmu! Kamu harus ikut kami sekarang!” bentak suara berat di belakangnya.


“I-ikut kemana? Aku ... aku tidak mengerti apa-apa,” ucap gadis itu takut-takut.


“Jangan berlagak sok tak bersalah. Pikirmu aku tak tahu apa yang sudah kamu lakukan? Kalau kami mau, sudah kulaporkan perbuatanmu pada polisi. Tapi kini kami membutuhkanmu. Aku janji kamu akan tetap selamat kalau mau menuruti perintah kami. Jalan!”


Suara berat di belakang gadis itu memerintahkan untuk jalan, sehingga tak ada pilihan lain untuknya kecuali menuruti perintah seseorang yang menodongnya. Ia belum berani berbalik ke belakang untuk melihat siapa sebenarnya sosok yang mengancam dirinya dengan sebilah belati di punggungnya.


“Bersikaplah biasa dan jangan terlihat panik agar orang tak curiga!”


Sosok di belakang gadis itu memberi perintah. Mereka berjalan keluar lorong, menuju sebuah trotoar lebar di kawasan perkantoran yang cukup sibuk siang itu. Karena saking sibuknya, banyak yang tidak menyadari bahwa gadis yang sedang berjalan itu sedang ditodong dari belakang. Mereka menuju sebuah tempat parkir, di mana sebuah mobil usang warna krem terparkir di sana.


“Masuk!” perintah si penodong.


Awalnya gadis itu merasa ragu-ragu, tetapi toh ia tak punya pilihan. Ia masuk ke dalam mobil, ternyata di dalam mobil ada dua pria lain yang sudah menunggu. Mereka duduk di kursi belakang. Gadis itu sedikit takut, karena tampang mereka menyeramkan.


“Jangan takut, kami tidak akan melukaimu kalau mau bekerjasama dengan kami. Jadi lebih baik kamu rileks saja. Tenang, rahasiamu juga aman bersama kami. Polisi juga tidak bakalan tahu, dan mungkin kamu bisa bebas dari jerat hukum, tetapi kamu harus memberikan satu informasi penting kepada kami!” ucap sosok penodong yang duduk di samping gadis itu.


“Aku ... aku nggak tahu apa-apa. Nggak ngerti kalian ngomong apa!” ucap gadis itu cepat.


“Jangan pura-pura! Mari kita bicarakan saja di tempat lain agar kamu bisa lebih santai!”

__ADS_1


Mobil itu kemudian melaju membelah sibuknya jalan raya, menuju tempat lain di sisi lain kota.


***


__ADS_2