
Adinda masuk ke dalam sedan putih dengan cepat. Ia merasa lega, karena akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang ia kenal.
“Makasih udah kasi aku tumpangan ya Rasty!” ucap Adinda.
“Kebetulan aja aku lewat dan lihat kamu menggalau di tepi trotoar. Makanya segera aku samperin,” kata Rasty sambil tersenyum.
Sedan putih itu meluncur ke keramaian jalan raya. Rasty menyalakan musik lembut sebagai teman mengendara. Siang masih menampakkan kegarangannya. Mentari merayap ke titik kulminasi.
“Ngomong-ngomong, ini mobil baru? Mobilmu yang biasanya mana?” tanya Adinda.
“Ini mobil Papaku, Din. Aku lagi bete di rumah. Habis dimarahin mulu sama Mama. Makanya aku kabur pake mobil Papa. Kebetulan Papa lagi di luar kota, so aku bisa jalan keluar,” ujar Rasty.
“Kenapa Mama kamu marah? Pasti gara-gara kamu pulang dini hari ya?”
“Iya sih. Awalnya karena masalah itu, tetapi akhirnya merembet kemana-mana. Mama ngomel macem-macem. Aku kan jadi nggak nyaman dengernya.”
“Wajar kali, Ras kalau ada orang tua yang bersikap seperti itu. Pasti Mamamu lagi mengkhawatirkan kamu. Apalagi setelah peristiwa pembunuhan kedua teman kita. Pasti Mamamu takut kalau kenapa-kenapa. Kamu harusnya bersyukur ada yang mengingatkan. Kalau aku gimana? Ortu jauh, nggak ada yang negur.”
“Iya juga sih. Cuman aku nggak suka cara negurnya. Dianggapnya aku ini seperti anak kemarin sore. Padahal kan aku sudah cukup dewasa. Aku berhak menentukan pilihan hidup sendiri,” terang Rasty.
Adinda tersenyum seraya berkata,” Kamu kan segala kebutuhan masih minta orang tua. Nggak boleh lah sok-sokan mandiri gitu.”
“Eh, Din. Sudah dengar kabar tentang Nayya belum? Semua lagi heboh dengan hilangnya Nayya loh. Jangan-jangan dia menjadi korban pembunuhan juga.” Rasty mencoba mengalihkan perhatian.
__ADS_1
“Aku lagi malas bahas masalah itu, Ras. Kalau pun memang Nayya menjadi korban juga, tentu ini sangat mengerikan. Nayya bukan termasuk dari 9 orang yang membuang jasad Jenny ke danau, tetapi mengapa dia juga ikut menjadi korban? Tentu ini masalah pribadi atau pembunuhan berantai. Ah, sudahlah! Mending kita tidak memikirkan itu,” kata Adinda.
“Sebenarnya polisi sudah mencari-cari aku juga, Din. Aku kemarin menerima surat panggilan dari kepolisian, hanya saja aku rahasiakan dari orang tuaku. Mereka bisa menghajarku kalau tahu ini semua. Aku nggak tahu kapan ke kantor polisi. Perasaanku nggak enak. Polisi sudah termakan omongan Rudi kalau aku sangat membenci Jenny. Opini sudah terbentuk kalau aku mempunyai alibi kuat untuk membunuh Jenny,” kata Rasty dengan nada putus asa.
“Lebih baik kamu katakan yang sebenarnya ke polisi, Ras!” ucap Adinda.
“Maksudmu, perbuatan kita bersembilan itu? Gila ah! Rudi dan yang lain-lain pasti akan marah kalau aku ngomong sebenarnya ke polisi. Kita kan udah janji untuk menutup rapat-rapat kasus ini!”
“Tapi menurutku, polisi nggak sebodoh yang kita kira, Ras. Cepat atau lambat mereka akan berhasil membongkar semua kebohongan kita. Kalau itu terjadi, maka kita semua akan dipenjara. Justru pengakuan ini akan menghindarkan kita dari sangsi yang lebih berat,” terang Adinda.
Rasty terdiam, mencoba mencerna perkataan Adinda. Parasnya terlihat galau. Ia hanya terdiam, tak memberi komentar apa pun.
Mobil mereka terus melaju menuju tempat kost Adinda. Rasty mengantar Adinda sampai di depan kost, kemudian langsung pergi begitu saja. Ia menolak saat Adinda menawari untuk singgah.
***
Segera ia bertindak cepat, mencari data pemilik mobil dari database yang ada di kepolisian. Mobil pertama tercatat atas nama Abraham Lorenzo, ayah Gerry Lorenzo yang saat ini berada di luar negeri. Sedang mobil kedua tercatat atas nama Wahyu Setiabudi. Belum diketahui pasti siapa Wahyu Setiabudi ini. Yang jelas, Dimas sudah mencatat nama-nama ini.
“Ada petunjuk baru?” tanya Reno, saat melihat Dimas yang serius melihat rekaman CCTV di layar komputer.
“Aku akan mengecek nama-nama pemilik mobil yang keluar dari kompleks perumahan pukul tiga pagi. Salah satunya adalah mobil milik orang tua Gerry. Pergi kemana mereka pukul tiga dini hari? Ini agak janggal. Nanti kita panggil Gerry lagi untuk menjelaskan masalah ini,” ucap Dimas.
“Hmm. Semoga ada titik terang. Saat ini aku masih berusaha melacak jejak keberadaan mahasiswi perempuan yang dilaporkan hilang oleh orang tuanya. Mahasiswi itu bernama Nayya. Terakhir, orang tuanya mengatakan bahwa Nayya keluar bersama Rudi. Tetapi Rudi bilang kalau Nayya sudah pulang lebih awal karena hendak berbelanja di supermarket. Faktanya, Nayya diculik sepulang berbelanja oleh mobil sedan putih. Sampai saat ini belum diketahui keberadaannya.”
__ADS_1
“Apa kamu sudah mengecek CCTV yang dipasang di depan supermarket?”
“Ya, aku sudah melihat rekaman CCTV di depan supermarket, tetapi tak ada yang aneh. Nayya keluar dengan barang belanjaannya, kemudian dia berjalan menyusuri trotoar ke arah kiri. Dugaanku, dia sedang mencari ojek atau taksi online. Setelah itu kamera CCTV tak menjangkaunya lagi. Hanya saja, kamera sempat menangkap sebuah mobil sedan putih yang lewat dengan kecepatan lambat setelah Nayya meninggalkan supermarket, seolah sedang membuntuti gadis itu,” terang Reno.
“Hmm. Apakah kamu mendapat rekaman lain?”
“Tadi pagi pengelola rumah sakit mengirimkan rekaman CCTV juga, saat terjadi pembunuhan Alma di kawasan parkir ruang bawah tanah. Tak terlalu jelas karena gelap. Yang jelas pembunuh itu memakai pakaian serba hitam, tak dapat dipastikan apakah dia pria atau wanita. Gerakannya cepat. Ia berhasil menyergap Alma tanpa perlawanan, kemudian membenturkan kepalanya pada kaca mobil. Dalam kamera CCTV, ia terlihat mengambil ponsel gadis itu, kemudian memotretnya beberapa kali. Ia juga melempar sesuatu di bawah mobil,” kata Reno.
“Jelas sekali pelaku itu seorang psikopat yang jiwanya sakit. Sempat-sempatnya dia memotret korban yang dibunuhnya. Kurasa sesuatu yang dilempar di bawah mobil itu adalah jam tangan pria yang kita temukan tempo hari. Ia berusaha mengecoh kita, seolah jam tangan itu adalah milik si pembunuh. Padahal bisa jadi jam tangan itu adalah jam curian,” timpal Dimas.
“Tepat seperti dugaanku. Kurasa jam tangan itu adalah jam tangan curian, entah milik siapa. Kalau dilihat dari harganya yang mahal, tentu bukan milik orang sembarangan. Dari model jam tangan sendiri, sepertinya milik anak muda, karena modelnya trendy.”
“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Dimas.
“Kita sudah melakukan panggilan pada Rasty, salah seorang mahasiswa yang katanya mempunyai dendam kesumat pada Jenny. Kita tunggu saja kehadirannya untuk dimintai keterangan. Kuharap dia mempunyai jawaban yang bagus agar bisa mengungkap kasus ini dengan cepat,” kata Reno.
“Kupikir kasus ini akan sedikit lama, karena masalahnya kompleks. Motif masih simpang siur, apakah ini dendam, cemburu, atau malah kegilaan seorang psikopat seperti di kastil tua. Kita belum bisa menebak. Sejauh ini korbannya adalag gadis-gadis cantik yang saling berkaitan. Mereka kuliah di kampus yang sama. Bahkan Nayya dan Jenny adalah pacar Rudi.Sedangkan Alma adalah pacar Gerry, sahabat Rudi. Sepertinya korban-korban dipilih dari lingkaran kehidupan orang-orang yang dekat dengan mereka. Semoga tidak ada korban setelah ini,” harap Dimas.
“Ada yang menarik, Dim. Kemarin, saat sebuah karung ditemukan di pinggir sungai berisi daging anjing, aku mengamati bahwa anjing yag dibantai itu adalah anjing jalanan. Terlihat dari bulunya yag tak terawat dan kotor. Mungkin pembunuh itu memerdaya dengan memberinya makanan atau apa. Yang jelas, anjing itu dipotong dengan potongan sangat rapi, seperti tukang daging profesional.”
“Itu menarik. Tak banyak orang yang mempunyai ketrampilan memotong daging. Ini bisa kita jadikan acuan selanjutnya!”
“Oke. Sekarang mari kita tunggu babak berikutnya! Semoga kita mendapat kabar baik setelah ini!”
__ADS_1
***