Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
110. Identifikasi


__ADS_3

Langit sore berubah menjadi merah, ketika mobil yang ditumpangi Reno dan Dimas meluncur membelah permukiman padat penduduk. Mereka memasuki jalan kecil beraspal, dengan rumah-rumah saling berhimpitan. Kabel-kabel listrik tampak bergelantungan tak teratur, padahal banyak anak main layang-layang di pinggir jalan.


Suasana permukiman padat masih ramai, banyak orang menjalankan aktivitas di luar. Reno memarkir mobil di pinggir jalan. Ia masih kesulitan mencari alamat Jenny Veronica Lubis yang ditengarai dibunuh beberapa hari lalu. Reno menunjukkan alamat itu pada seorang anak kecil berusia sekitar 10 tahun, tetapi ia menggeleng.


“Alamatnya agak susah dicari,” keluh Reno.


“Coba kita tanya pada ibu itu!” ujar Dimas sambil menunjuk pada seorang wanita yang sepertinya pulang berbelanja.


Mereka segera menanyakan alamat yang dimaksud. Ibu itu mengernyitkan dahi, mengingat-ingat sesuatu, kemudian ia tersenyum.


“Oh Mbak Jenny, yang mahasiswa itu? Yang suka pakai baju seksi itu?” kata ibu itu.


“Minta tolong bisa ditunjukkan alamatnya, Bu?” tanya Reno.


Ibu itu mengangguk, kemudian mengisyaratkan agar Reno dan Dimas mengikutinya menyusuri jalan. Mereka masuk ke sebuah gang sempit yang diapit rumah-rumah berjejal. Gang itu berliku, agak panjang.


“Rumahnya ada di ujung gang sana, Pak. Yang catnya warna hijau. Tapi kayaknya orangnya sih nggak ada. Hanya ada neneknya saja,” terang ibu itu.


Reno dan Dimas mengucap terima kasih. Mereka segera menuju rumah yang dimaksud. Sebuah rumah kecil, dengan pintu tertutup. Seperti tak berpenghuni, karena terasnya tampak kotor dan berdebu.


Reno mengetuk pintu beberapa kali, sampai seorang wanita tua membuka pintu. Ia mengenakan kacamata tebal, dengan gurat-gurat keriput di parasnya.


“Mau ketemu siapa, Pak?” tanya wanita tua itu.


“Maaf Ibu, kami ingin bertemu dengan Jenny. Apakah benar ini rumahnya?” tanya Reno.


“Iya benar. Tapi Jenny tidak ada, Pak. Sudah beberapa hari ini pamit liburan ke luar kota bersama teman-temannya. Saya sendiri juga belum dapat kabar apa-apa. Ada apa ya, Pak?” tanya wanita itu mulai penasaran.


“Boleh kami masuk, Ibu?” tanya Reno meminta izin.

__ADS_1


“Oh ya, silakan!”


Reno dan Dimas masuk ke ruang tamu sempit, dengan satu set kursi tamu zaman dahulu. Wanita tua itu menatap mereka dengan penasaran. Ia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Jenny. Sebenarnya, Reno tidak tega memberitahukan kondisi Jenny untuk saat ini. Namun, sebagai seorang polisi ia mempunyai kewajiban umtuk menyampaikan yang sebenarnya pada keluarga korban.


Setelah menguatkan hati, Reno menceritakan bahwa mereka menemukan sesosok mayat yang mengapung di danau. Setelah dicek sidik jari, kemungkinan besar itu adalah jasad dari Jenny. Mereka meminta wanita tua itu untuk mengidentifikasi apakah benar sosok itu benar-benar Jenny.


Sore itu juga, nenek Jenny ikut ke rumah sakit tempat jasad Jenny diotopsi. Setelah melihat ciri-ciri yang ditunjukkan, nenek Jenny memastikan bahwa jasad yang mengapung itu memang Jenny, cucunya. Sontak tangisnya pecah. Ia tak menyangka kalau hal sangat buruk menimpa pada cucunya. Reno dan Dimas berusaha menenangkan, tetapi tak ada yang bisa dilakukan. Mereka membiarkan wanita tua itu memuaskan kesedihannya.


“Mungkin kita tunda dulu wawancaranya. Biarkan nenek itu mengurus kepulangan jenazah cucunya untuk dimakamkan,” bisik Dimas.


“Iya. Lebih baik begitu. Untuk saat ini, kondisi neneknya masih terpukul. Mungkin kita bisa mencari informasi dari tempat lain saja dulu,” kata Reno.


Berita kematian Jenny ini segera menyebar, karena identitasnya sudah diketahui. Apalagi nenek Jenny sudah mengurus kepulangan jenazah cucunya untuk dimakamkan. Para tetangga langsung melayat ketika mendengar bahwa Jenny telah meninggal. Persiapan pemakamam segera dilakukan dengan bergotong-royong, mengingat nenek Jenny tinggal sendirian.


Seperti biasa, Gilda Anwar dari Channel-9 langsung berburu berita begitu mengetahui identitas mayat gadis yang terapung di danau beberapa hari lalu. Ditemani Wandi, ia segera meluncur ke rumah nenek Jenny yang sudah dipadati pelayat. Ia ingin mewawancari nenek Jenny.


Sayangnya kedatangan Gilda Anwar tak disambut baik oleh masyarakat sekitar, mengingat nenek Jenny masih dalam keadaan berkabung, jadi belum bisa ditemui. Secara tegas, Bapak RT setempat mengusir Gilda Anwar yang dianggap tidak mempunyai empati di saat-saat seperti ini.


“Pemirsa, akhirnya misteri identitas mayat wanita yang terapung di danau beberapa hari kemarin mulai terkuak. Polisi berhasil mengidentifikasi bahwa mayat wanita itu adalah Jenny Veronica Lubis, berusia 20 tahun, yang tinggal di dalam gang ini. Sampai saat ini polisi belum menginformasikan motif pembunuhan dan juga belum menetapkan tersangka di balik pembunuhan sadis ini. Kita akan ikuti terus perkembangan kasus ini secara eksklusif di Channel-9. Gilda Anwar melaporkan,” ucap Gilda Anwar dengan penuh percaya diri.


Braaak!


“Sial!” umpat Rudi sambil memukul meja. Ia kebetulan menonton siaran televisi di ruang tengah.


Segera ia matikan siaran itu. Perasaannya tidak tenang. Ia tidak menyangka kalau jasad Jenny akan mengambang dan ditemukan. Ini artinya, kasus penyelidikan akan segera dimulai. Parasnya terlihat cemas.


“Kamu kenapa, Rud?” tanya Nayya yang tiba-tiba datang sambil membawa dua gelas kopi.


Rencananya mereka hendak nonton film bersama-sama, tetapi mendadak Rudi berubah cemas. Nayya penasaran dengan sesuatu yang barusan terjadi, karena beberapa saat sebelumnya mereka masih bercanda-canda.

__ADS_1


“Oh, nggak apa-apa,” jawab Rudi.


Ia berusaha menenangkan pikiran, tetapi sepertinya gagal. Ia masih terlihat gugup dan panik. Nayya makin heran dengan perubahan sikap Rudi.


“Kita jadi nonton?” tanya Nayya.


“Kupikir aku akan menundanya dulu, Nayya. Maaf ya. Aku mau istirahat saja. Kepalaku pusing. Bisa nggak kamu pulang saja,” pinta Rudi.


“Kok mendadak gitu? Kamu nggak apa-apa kan? Kalau memang sakit, biar kupanggilkan dokter,” kata Nayya.


“Aku nggak apa-apa, Nayya. Kamu pulang saja ya? Maaf, pikiranku lagi kacau hari ini. Please, kamu pulang aja ya?”


Nayya tidak punya pilihan lain selain meninggalkan Rudi yang telihat kacau. Ia merasa khawatir, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya mengangguk, kemudian meninggalkan Rudi dalam kegelisahan yang dialaminya.


Sepeninggal Nayya, Rudi benar-benar merasa tidak tenang. Ia mondar-mandir dan gelisah. Belum lagi tenang pikirannya, teleponnya bergetar karena ada panggilan masuk dari Gerry. Segera ia angkat panggilan itu.


“Mamp*us kita, Rud! Kamu lihat siaran TV nggak? Polisi sudah mengenali jasad Jenny. Sebentar lagi kita semua akan dipanggil ke kantor polisi dan dimintai keterangan. Gimana ini?” ucap Gerry di seberang.


“Mungkin kita harus tenang, Ger. Nggak boleh panik. Kita jawab jujur saja, bahwa kita buang mayat itu ke danau. Bagaimana?”


“Gila apa! Nggak ah! Aku nggak mau ikut-ikut. Membuang mayat Jenny ke danau itu kan idemu. Kamu lah yang harus bertanggung jawab!” tolak Gerry.


“Tapi kan kalian semua setuju malam itu?”


“Pokoknya aku nggak mau terlibat lagi. Titik! Udah itu semua urusanmu! Kamu juga udah bawa masalah ke rumahku. Ngapain kamu bawa-bawa Jenny segala?” geram Gerry.


“Ger, nggak bisa gitu kamu. Pokoknya akan aku seret nama kalian semua!”


Rudi segera menutup telepon. Pikirannya makin kacau. Polisi jelas akan mencarinya, karena ia yang terakhir terlihat bersama Jenny malam itu.

__ADS_1


***


__ADS_2