
Halaman kantor polisi mendadak dipadati oleh para jurnalis dan awak media yang sedang berburu berita. Siang ini, rencananya pihak kepolisian akan menggelar jumpa pers terkait dua pembunuhan yang terjadi di ranah hiburan dalam sepekan terakhir. Kejadian pembunuhan itu menyita perhatian masyarakat kota, karena para korban merupakan para tokoh publik yang ternama.
Konferensi pers dilaksanakan di sebuah ruangan luas yang masih berada di dalam kompleks kantor polisi berlantai tiga itu. Para awak media sudah sabar menanti, berjejal memenuhi ruangan. Beberapa dari mereka bahkan berniat menyiarkan secara langsung acara konferensi pers tersebut. Mereka telah siap dengan perlengkapan siaran, plus reporter yang berdandan cantik.
Tak lengkap apabila acara konferensi pers tersebut tak dihadiri oleh Gilda Anwar, reporter Channel-9 yang namanya tak asing di dunia siaran. Ia bahkan sudah menunggu acara itu sejak pagi. Walau siang kali ini terasa agak panas, ia masih terlihat cantik dengan rambut yang ditata rapi dan setelan blazer warna hitam yang terkesan elegan. Wandi, sang partner juga sudah menyiapkan perlengkapan untuk siaran langsung.
Para awak media itu terlihat gelisah ketika hari semakin beranjak siang. Belum ada seorang polisi pun yang hadir menampakkan diri, padahal waktu sudah merapat di pukul satu. Jam makan siang hampir berakhir. Mereka berharap agar polisi segera mengumumkan kejelasan berita yang simpang siur di masyarakat.
Di kalangan publik sendiri, berita sudah tersiar bahwa tewasnya artis berinisal AW karena dibunuh oleh pacarnya. Spekulasi berkembang, membuat publik menebak-nebak, siapa sebenarnya AW ini? Hal ini disebabkan ada beberapa artis yang mempunyai inisial AW.
Pukul satu lebih lima belas menit, Reno didampingi Dimas memasuki ruangan yang sudah dipadati para pencari berita. Belum lagi konferensi dimulai, mereka sudah diberondong banyak pertanyaan oleh para wartawan itu. Mereka saling berebutan menyodorkan alat perekam kepada Reno. Sayangnya, polisi itu tetap santai berjalan menuju meja yang sudah disediakan, tanpa menggubris pertanyaan-pertanyaan itu.
Reno duduk bersebelahan dengan Dimas, sementara para wartawan sudah bersiap dengan peralatan rekam. Blitz kamera tak henti-henti berkelebat, mengambil gambar kedua polisi yang hendak menyampaikan kabar penting itu. Kedua polisi itu masih bergeming beberapa saat, hingga Reno akhirnya buka suara.
“Oke, saya ucapkan selamat datang pada rekan-rekan media yang saat ini telah menyempatkan hadir dalam acara konferensi pers pada siang hari ini. Saya lihat, kalian sangat bersemangat ya mengikuti kasus ini. Seperti yang kalian semua ketahui bahwa saat ini kota kita kembali diguncang dua pembunuhan yang mengejutkan sepanjang pekan ini.
Pembunuhan pertama, tentu kalian juga paham, bahwa seorang sutradara terkenal negeri ini, Daniel Prawira ditemukan terbunuh di kamar mandi studio film dalam keadaan terjerat oleh kabel di lehernya. Catatan otopsi menyebutkan bahwa korban tidak mengalami kekerasan secara fisik, jadi kemungkinan korban disergap secara tiba-tiba. Korban tersungkur, dan dijerat hingga tewas karena kehabisan udara. Tak ada barang hilang, jadi dapat dipastikan motif pembunuhan bukan karena harta benda, tetapi karena ada motif lain yang melatarbelakangi. Sampai saat ini, kami tengah mendalami kasus ini, dan sampai saat ini belum ada yang kami nyatakan sebagai tersangka.
Untuk kasus pembunuhan kedua, tadi malam terjadi pembunuhan seorang artis muda dengan inisial AW. Saya yakin walau saya tidak menyebut nama artis itu, kalian juga sudah pada tahu. Kan biasa para wartawan suka mencari-cari berita sebelum kami mengungkap fakta. Jadi lebih baik saya tidak menyebut nama yang bersangkutan. Yang jelas, korban kali ini masih berhubungan dengan korban pertama, yaitu Daniel Prawira. Artis muda ini sering berperan dalam film yang disutradarai oleh Daniel Prawira.
Untuk lokasi pembunuhan dapat saya sampaikan bahwa korban dibunuh di lokasi perkebunan durian milik Daniel Prawira di selatan kota. Ia meninggal dengan cara digantung di atas pohon. Sampai sejauh ini kami juga masih mengungkap motif dibalik dua pembunuhan ini. Ada dugaan pembunuhan kedua ini masih ada korelasi dengan pembunuhan pertama. Nah, untuk itu. saya mohon kerja sama rekan-rekan wartawan untuk mendukung kami dengan cara memberitakan berita berdasar fakta, dan tidak mengada-ada.
__ADS_1
Kami beri kesempatan kepada rekan-rekan apabila ada yang ingin ditanyakan!”
Sontak para wartawan berlomba-lomba mengajukan pertanyaan kepada Reno dan Dimas. Berbagai pertanyaan saling tumpang-tindih, sehingga suara di gedung pertemuan itu terdengar berdengung. Namun, Reno dengan sabar menjawab pertanyaan para wartawan itu. Kebanyakan mereka bertanya tentang identitas korban yang diidentifikasi dengan nama AW itu, serta kemungkinan motif serta orang-orang yang mungkin dijadikan tersangka.
Gilda yang begitu antusias langsung merangsak maju untuk mendapatkan kesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan Reno. Namun, kesempatan itu pupus karena seorang polisi penjaga tak mengizinkan. Mereka diminta tertib dalam mengajukan pertanyaan, serta Reno tak menerima wawancara secara pribadi.
Dalam waktu singkat, stasiun-stasiun TV langsung memberitakan keterangan resmi dari polisi itu melalui program ‘Breaking News’. Hampir semua channel berita menyiarkan siaran pers dari pihak kepolisian, sehingga para warga kota langsung mengetahui perkembangan kasus yang menghebohkan itu.
Laura Carmellita sedang mengaduk kopi untuk Henry Tobing di ruang tengah ketika siaran berita menayangkan tentang kasus pembunuhan artis berinisial AW. Pada akhirnya, mereka mengurungkan niat untuk menghadiri pemakaman Daniel Prawira, karena Laura merasa harus menolong Henry Tobing yang kondisinya kurang stabil. Mereka tercengang melihat berita yang tersiar di TV. Melihat dari deskripsi yang digambarkan polisi, mereka yakin korban pembunuhan itu adalah Anita Wijaya.
“Astaga! Benarkah Anita yang jadi korban pembunuhan? Tadi pagi aku sudah melihat berita mengenai ini, tetapi belum yakin. Masa iya Anita terbunuh?”” ucap Laura.
“Sepertinya iya. Siapa lagi yang selalu berperan dalam film garapan Pak Daniel kalau bukan dia? Semua ciiri-ciri yang disebutkan oleh polisi mengarah kepadanya,” ucap Henry.
“Kita nggak benar-benar kenal dia, Laura. Kadang seseorang mempunyai kehidupan pribadi yang sengaja disembunyikan. Kurasa Anita pun juga begitu. Ia sengaja dibunuh, dan aku menduga pembunuhan ini masih berkaitan dengan pembunuhan Pak Daniel,” ucap Henry.
“Siapa pelakunya ya Bang kira-kira?” tanya Laura.
Tiba-tiba ia melirik ke arah Henry Tobing dengan tatapan curiga.
“Bu-bukan Abang kan?” tanya Laura sedikit gugup.
__ADS_1
“Aku? Kamu jangan becanda, Laura! Kamu pikir aku punya motif apa? Jangankan membunuh manusia, membunuh semut pun aku tak tega. Kamu tak perlu takut Laura. Aku bukan seorang pembunuh,” ucap Henry.
“Syukurlah!” Laura bernapas lega.
Henry Tobing bangkit dari tempat duduknya, melangkah menuju jendela kaca. Ia melihat ke arah luar. Terlihat jalanan yang cukup lengang. Ia menghela napas dalam.
“Hari ini sungguh melelahkan,” ucap Henry sambil menarik napas panjang.
“Itu karena Abang punya masalah dengan istri Abang,” sambut Laura.
“Bukan ... bukan masalah itu. Banyak berita yang membuatku pusing. Aku kadang butuh sesuatu untuk meredakan rasa tertekan berlebihan. Apa kamu mempunyai makanan yang bisa membuat suasana hati jadi lebih baik?” tanya Henry.
“Cokelat, Bang! Abang mau?”
Henry mengangguk. Laura segera pergi ke kulkas yang ada di ruang makan, kemudian memberikan sebatang cokelat bermerk ‘Silver King’ kepada Henry.
“Wah kamu suka cokelat juga?” ucap Henry.
“Iya, Bang. Tapi bukan sembarang merk. Merek ini aku udah lama konsumsi .... “
Henry mengambil sebatang cokelat pemberian Laura, dan segera membuka kemasannya. Ia begitu antusias menerima pemberian dari Laura itu.
__ADS_1
***