Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
342. Kasak-kusuk


__ADS_3

Saat mengetahui bahwa pintu tingkap tertutup. sontak Jeremy berubah panik. Ia menatap ke arah Reno dengan tatapan gelisah. Namun, polisi itu tidak mau terpengaruh dengan kepanikan yang ditunjukkan oleh Jeremy. Ia segera memutar otak agar bisa keluar dari ruang bawah tanah. ia mencari-cari alat apa yang ia bisa gunakan untuk membuka tingkap dari dalam ruang bawah tanah secara paksa. Namun, setelah beberapa lama mencari-cari, ia tidak menemukan alat yang cocok untuk membuka tingkap.


"Kita harus bersabar di sini dulu. Tak mungkin kita mengandalkan orang lain menemukan kita. Bagaimanapun kita harus berusaha sendiri agar bisa keluar dari tempat ini. Sayangnya tidak ada alat yang cocok untuk membuka tingkap sialan ini! Kita harus memikirkan sebuah cara," ucap Reno.


"Tapi ... tapi bagaimana caranya? Aku sama sekali tidak punya bayangan apapun," timpal Jeremy dengan gugup.


"Aku tidak menyuruhmu untuk membayangkan, Jer! Kita harus berusaha. Kuncinya adalah tenang, Di saat seperti ini rasa gugup dan panik sama sekali nggak menolong, yang ada malah membuat semua menjadi berantakan. Kita harus cari cara agar kita bisa keluar dari sini," lanjut Reno.


"Baik Pak. Aku menurut saja. Aku sama sekali nggak bisa mikir sekarang. Di satu pihak aku masih kepikiran Stella dan sekarang kita terperangkap dalam ruang sialan ini. Sungguh apes bukan?" keluh Jeremy.


"Seingatku, memang ada jalan rahasia yang menghubungkan dengan ruang baca, tetapi memang jalan itu tak bisa dilewati dari arah ruang bawah tanah. Pintu rahasia itu hanya bisa dibuka dari ruang baca. Lagipula aku juga tidak tahu lorong mana yang harus dilewati agar kita sampai di ruang baca" terang Reno.


"Jadi kita menunggu sampai ada orang yang membuka tingkap itu?" tanya Jeremy dengan nada putus asa.


"Kamu mempunyai cara yang lebih baik?" Reno balik bertanya.


"Bagaimana kalau Pak Reno menunggu di sini saja? Aku akan mencari Stella ke dalam sana. Sungguh, aku nggak bisa tenang kalau belum bisa menemukan Stella. Daripada aku duduk diam di sini, lebih baik aku mencari keberadaan istriku," kata Jeremy.


"Hmmm. Baiklah. Silakan cari istrimu. Tapi jangan kesana dengan tangan kosong. Bawa ini!"


Reno mengeluarkan sebuah pistol dari pinggangnya, kemudian menyerahkan pistol itu kepada Jeremy. Tentu saja hal ini sangat mengejutkan Jeremy, karena ia tidak pernah menggunakan senjata seperti ini seumur hidupnya, Ia agak gugup menerima pistol itu.


"Kamu bisa cara pakainya?" tanya Reno.


"Ti-tidak, Pak. Ini pertama kali saya melihat pistol dengan mata kepala sendiri," ucap Jeremy.


"Akan kuajarkan bagaimana cara untuk menggunakan pistol seperti ini," kata Reno.


"Tunggu! Tunggu Pak! Tiba-tiba aku punya ide. Pistol ini ada pelurunya kan? Bagaimana kalau kita ledakkan saja pistol ini di dekat tingkap. Aku yakin suara letusan ini akan menarik perhatian yang lain untuk membuka tingkap. Mereka akan datang dan membuka tingkap, untuk memeriksa suara ledakan dari ruang bawah tanah. Bagaimana?" usul Jeremy.


Sebelum mengiyakan usulan Jeremy, Reno memikirkan terlebih dahulu akibat positif ataupun negatif dari usulan  Jeremy. Memang ada baiknya ia mempertimbangkan usulan itu. Kalau hanya menunggu seseorang membuka tingkap, tentu akan memerlukan waktu lama.Mungkin, usulan Jeremy bisa menjadi pertimbangan.


"Boleh kita coba!"


Jeremy menyerahkan pistol itu kembali kepada Reno. Mata Jeremy tampak berbinar-binar penuh harap. Ia sangat berharap kali ini ada orang yang mendengar suara ledakan pistol, sehingga menarik perhatian yang lain. Reno bersiap dengan pistolnya, naik ke anak tangga paling atas, kemuduan mengarahkan mulut pistol ke atas.


"Bersiaplah! Mungkin agak nyaring suaranya," ucap Reno.


Jeremy mengangguk Ia menunggu di bawah tangga dengan penuh harap. Reno mulai menarik pelatuk pistol secara perlahan, siap memuntahkan peluru di dalamnya.


Dor!


Suara letusan terdengar nyaring, membahana di seluruh ruangan bawah tanah. Suara letusan itu bahkan menembus tingkap, teredengar di area dapur, saat  Maya sedang menyiapkan bahan-bahan makanan untuk persiapan makan siang nanti. Maya sedikit tidak yakin dengan pendengarannya, tetapi jelas-jelas ia mendengar suara letusan yang arahnya dari ruang bawah tanah.


Belum lagi hilang rasa penasaran Maya, Ryan tergopoh masuk ke dapur dengan paras bingung. Ia medapati Maya yang juga terlihat bengong di depan meja, tak tahu apa yang harus dilakukan.


"May, kau dengar tadi suara letusan? Aku tadi di ruang baca bersama Nadine, tiba-tiba terdengar suara letusan yang cukup jelas. Suaranya cukup menggema, sepertinya dari ruang bawah tanah. Apa kamu dengar juga suara itu?" tanya Ryan.


"Iya Ryan, aku ... aku mendengar itu. Cukup jelas. Tapi nggak tahu juga asalnya dari mana. Ya, mungkin dari ruang bawah tanah, tetapi kulihat tingkapnya tertutup. Biasanya kalau tingkap tertutup, tak ada orang yang masuk ke dalam sana kan? Aku khawatir tadi aku salah dengar," ucap Maya.


Belum lagi mereka memutuskan langkah apa yang hendak dilakukan, tiba-tiba Juned juga muncul di dapur. Hanya saja, ia terlihat dari halaman belakang, sambil menenteng tas kopor yang cukup besar. Juned menemukan tas kopor besar itu di gazebo dekat kolam renang. Rupanya tas itu adalah milik Niken yang ditinggal saat polisi wanita itu berhasil dilumpuhkan oleh si penjahat.

__ADS_1


"Aku mendengar suara letusan pistol. Apa kalian baik-baik saja?" tanya Juned.


"Kami baik-baik saja, tetapi sepertinya ada sesuatu yang terjadi di bawah tanah, karena suara letusan itu berasal dari ruang itu," jawab Ryan.


Juned segera memeriksa tingkap ruang bawah tanah, tetapi mengapa tingkap ini tertutup. padahal ada orang dibawahnya. Ia membuka tingkap itu perlahan, kemudian melongokkan kepala ke dalam ruang bawah tanah. Dalam kegelapan ruang bawah tanah, lamat-lamat Juned meliha dua sosok manusia sedang berdiri di bawah tangga.


"Juned! Ini aku"


Suara Reno jelas terdengar jelas  di telinga Juned. Dalam waktu singkat, kehadiran Juned merupakan berkah bagi Reno dan Jeremy. Mereka segera menaiki  tangga menuju ke dapur, sedangkan Juned yang tidak tahu-menahu, menatap heran, karena ia sama sekali tidak menyangka kalau dua orang itu berada di bawah tanah.


***


Mariah berjalan tergesa ke sebuah kamar di lantai dua. Ia mengetuk pintunya, menunggu seorang wanita membuka pintu dan menyambut kehadiran Mariah dengan sedikit terkejut. Mariah, seperti biasa menampakkan wajah gelisah. Ia berharap agar kunjungannya ke kamar lantai dua itu tidak diketahui oleh orang lain.


"Mariah? Tumben? Kamu nggak apa-apa?" tanya perempuan yang tak lain adalah Rosita itu.


"Ada yang ingin kubicarakann denganmu, Ros! Kamu ada waktu? Atau kamu sedang istirahat?" tanya Mariah.


"Hmm .... "


Rosita menggumam, sambil menatapa ke arah Mariah dengan heran. tak biasa Mariah bersikap seperti ini. Rosita menduga ada hal yang sedang mengganggu pikiran Mariah.


"Ada Edwin sedang istirahat di dalam. Bagiamana kalau kita bicara di lain tempat saja?" tanya Rosita.


"Kita ke taman samping saja. Di sana cukup lengang!"


Kedua wanita itu sepakat mencari tempat lain untuk mengobrol agar lebih leluasa. Mariah sepertinya hendak berbicara mengenai suatu hal penting dengan Rosita. Mereka segera turun menuju ke taman samping. Di taman samping, memang suasananya cukup ideal digunakan untuk menyendiri. Di sana ditumbuhi banyak tanaman hias yang cukup rimbun dan beberapa pohon yang besar, sehingga cukup tersembunyi dari pandangan dari luar. Selain itu, di taman samping juga terdapat kursi taman yang memadai, sehingga sangat tepat digunakan untuk relaksasi yang sifatnya pribadi.


Mariah dan Rosita memilih sebuah bangku taman yang agak sunyi. Mereka duduk bersebelahan, dibalik rumpun bunga yang agak tinggi, sehingga tak begitu terlihat dari arah kastil.


"Suci? Apakah kamu memikirkan lagi tentang Suci lagi?" tanya Rosita.


Mariah mengangguk, kemudian menatap ke dalam-dalam ke arah Ros. Bahkan ia belum memberitahu Rosita tentang apa yang membuatnya gundah, tetapi Rosita sudah menebak dengan benar.


"Dari mana kamu tahu kalau aku sedang memikirkan perihal Suci?" tanya Mariah heran.


"Bukan hanya kamu saja yang seperti itu, Mariah. Aku juga. Aku mulai gelisah saat Lidya terbunuh waktu itu. Aku merasa seperti dikejar-kejar bayangan Suci. Aku merasa gadis itu muncul di setiap mimpiku. Kamu tahu nggak, pada saat aku ke loteng, dan ada yang menyekapku di sana. Awalnya aku mendengar suara denting musik yang nggak asing di telingaku. Aku tahu, suara denting musik itu sama dengan musik yang disukai oleh Suci. Aku merasa ... merasa Suci tengah kembali dan menghantui kita. Tidakkah kamu melihat itu di mata batinmu, Mariah?" tanya Rosita.


"Bukan ... bukan, Ros. Pelaku segala kejahatan ini bukan arwah Suci. Kalau arwah Suci yang melakukan ini, pasti aku sudah tahu duluan. Kita tahu bahwa salah seorang dari kita, pasti ada yang dekat dengan Suci. Tidakkah kau merasa seperti itu, Ros? Firasatku mengatakan kalau Suci dekat dengan salah seorang dari kita," kata Mariah.


"Maksudmu ... maksudmu, dia mengkhianati Girl Squad, gitu? Kira-kira siapa orangnya, Mariah? Apa dia orang yang sama yang mengajak Suci untuk berfoto bersama kita saat SMA dulu? Jadi seseorang ini akan mengkhianati grup kita? " Banyak pertanyaan terlontar dari mulut Rosita.


"Tidak hanya itu, Ros. Malah firasatku, ini akan lebih buruk lagi. Salah seorang dari anggota grup kita ini akan menghabisi kita semua. Dia akan menjadikanku sasarannya. Padahal aku tidak pernah jahat pada Suci. Yang aku lakukan waktu itu hanya main-main. Rupanya itu yang tidak bisa Suci maafkan hingga di hari kematiannya. Jujur, saat di hari pemakamannya pun aku tidak berani datang. Aku takut, Ros!" ucap Mariah.


"Tidak ada seorang pun yang datang di hari pemakaman Suci. Aku pun ingat itu. Aku juga ingin menghapus kenangan buruk itu. Tetapi ternyata sampai sekarang peristiwa itu makin membekas. Kalau memang ada yang seseorang yang ingin membalaskan dendam Suci, siapa yang melakukan ini? Apa kamu curiga pada seseorang? Karena setahuku, masing-masing dari kita tak ada yang peduli dengan gadis itu?" tanya Rosita.


Mariah mengernyitkan dahi. Ia pun bingung dengan perkara ini. Jelas sekali si pengkhianat ini melakukannya secara diam-diam.


"Ada yang bermuka dua, Ros. Dia berpura-pura baik di depan kita, dan dia akan menusuk kita di belakang. Reuni ini salah sejak awal dan aku berpkir bahwa pelakunya adalah .... "


Rosita terdiam. Ia tidak berani melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Lily? Kamu berpikir bahwa pelakunya adalah Lily? Bukankah dia yang merencanakan reuni ini?" tanya Mariah.


"Iya, Mariah. Mengapa aku berpikir kalau Lily adalah pelaku dari semua ini?" Rosita menjawab dengan suara perlahan.


"Kalau begitu sama, Ros. Aku juga berpikir ini semua adalah rencana Lily yang baru terlaksana. Mengapa dia memilih kastil ini sebagai tempat reuni? Karena ia pernah berkunjung ke sini sebelumnya, sehingga ia tahu seluk-beluk kastil ini," ucap Mariah.


"Mariah, apa semua ini kamu bilang ke suamimu?" tanya Rosita.


"Tidak Ros! Aku terlalu pengecut untuk mengakui kesalahanku di masa lalu. Biar kita selesaikan sendiri saja masalah ini. Kita harus ingatkan yang lain untuk waspada agar tidak jatuh korban lain. Karena si pembunuh itu tidak hanya mengincar kita, tetapi semua! Semua yang ia anggap bersalah. Bahkan Farrel yang nggak ada hubungannya dengan kasus ini pun, ia penggal kepalanya. Sungguh ini biadab, Ros!" papar Mariah.


"Aku paham, Mariah. Ia juga melemparkan gadis malang itu dari atas loteng ketika ia tak sengaja memergok si pembunuh yang sedang menangkapku," gumam Rosita.


"Jadi bagaimana? Kita adakan pertemuan tertutup tanpa melibatkan Lily atau bagaimana?" tanya Mariah.


"Bagaimana kalau .... "


Ucapan Rosita terputus ketika tiba-tiba tedengar suara menegur dari arah lain. Rosita dan Mariah masih memasang tampang tegang, sebab mereka tidak menyangka kalau yang baru saja tiba di taman itu adalah Lily.


"Hey kalian! Kok kalian menyendiri di situ? Lagi gosipin apa?"


Lily tampak tersenyum cerah, melangkah mendekati Rosita dan Mariah yang parasnya terlihat tegang. Lily merasa heran melihat paras kedua temannya itu.


"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Lily.


"Oh, tidak ... tentu saja tidak, Ly. Aku baru saja mau masuk kastil, karena aku teringat tadi meninggalkan pekerjaan yang harus kuselesaikan. Maaf Ly," ucap Mariah.


Mariah tak berkata apa-apa lagi, dia  melangkah pergi meninggalkan Rosita dan Lily yang masih berdiri, saling berhadapan. Rosita merasa canggung, berdiri di depan Lily. Padahal sebenarnya mereka adalah teman yang cukup akrab, tetapi sepertinya kali ini Rosita seperti kehilangan seluruh kata-kata.


"Kamu ... kamu nggak apa-apa, Ros?" tanya Lily.


"Eh, iya Ly. Aku tidak apa-apa. hanya merasa sedikit lelah saja hari ini. Aku mau masuk saja. Kamu mau masuk atau tetap di sini?" tawar Rosita.


"Aku ingin menyendiri di sini sebentar," ucap Lily.


"Baik Lily, hati-hati ya!"


Tak lama, Rosita juga mengikuti langkah Mariah. Ia segera masuk ke dalam kastil, tanpa menoleh lagi kebelakang, Langkahnya agak tergesa, tanpa mempedulikan Lily yang masih berdiri di taman samping dengan perasaan agak heran. Ia merasa ada yang aneh dengan teman-temannya.


***


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2