
Warga kota mendadak heboh. Dalam berita breaking news yang sedang disiarkan oleh Channel-9. Dalam berita tersebut menyebutkan bahwa saat ini sejumlah orang tengah menghadapi ancaman pembunuhan serius di sebuah tempat yang tak disebutkan secara pasti lokasinya. Dalam acara itu, tampak Gilda Anwar tampil penuh percaya diri, berdiri di depan sebuah pusat perbelanjaan, menyiarkan secara langsung.
Siaran televisi itu langsung disiarkan, memotong sebuah acara yang mempunyai rating cukup tinggi. Tentu saja hal itu sangat mengejutkan. Tak biasanya acara favorit seperti ini dipotong mendadak. para penonton televisi di kota itu mendengar berita yang disampaikan Gilda dengan antusias.
"Kami baru saja mendapat informasi tentang sejumlah orang yang saat ini berada di sebuah tempat yang dirahasiakan, mereka tengah menhadapi ancaman pembunuhan yang serius. Diketahui orang-orang ini tengah mengadakan reuni SMA di tempat tersebut. Sampai sejauh ini, belum diketahui pasti bagaimana kondisi mereka, tetapi dapat dipastikan ada dua orang terbunuh di tempat itu. Sampai saat ini, kepolisian sudah diterjunkan ke tempat itu. Channel-9 akan terus meng-update berita seputar kejadian mengerikan itu. Tetap ikuti dan jangan kemana-mana!"
Berita itu cukup menghebohkan, karena Gilda sengaja menyajikan berita secara terpotong-potong, membuat penonton berita membuat spekulasi sendiri-sendiri. Mereka mempertanyakan di mana lokasi tempat yang dikatakan sebagai lokasi pembunuhan itu? Warga kota mulai menjadikan berita ini bahan obrolan di mana-mana, mulai dari cafe-cafe hingga tempat keramaina. Malam itu juga, berita telah menyebar ke seluruh penjuru kota. Pasalnya, mereka trauma dengan banyaknya kasus pembunuhan yang terjadi belakangan. Mereka berasumsi bahwa lokasi yang tidak disebutkan tadi berada di dalam kota, sehingga sang psikopat dikhawatirkan bisa menebar teror lain kepada warga kota.
Akibat berita yang disiarkan oleh Channel-9 itu, telepon di kantor kepolisian tak henti-henti berdering. Telepon berdatangan dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat awan sampai kalangan wartawan, mempertanyakan kebenaran berita terkait dua pembunuhan yang terjadi di sebuah tempat yang dirahasiakan. Tentu saja, telepon-telepon itu membuat pihak kepolisian kewalahan dan kebakaran jenggot. Jelas ada orang dalam yang sengaja membocorkan rahasia.
Dimas yang sedang mencari berkas-berkas pun juga dibuat meradang dengan adanya berita itu. Ia merasa bahwa apabila berita itu tak dibendung, maka akan menjadi bola liar yang tak terkendali dan merugikan pihak kepolisian. Dimas tak habis pikir, siapa yang telah menyebarkan berita ini? Ia begitu marah, sampai-sampai ia keluar dari ruangannya. Ia segera menemui para polisi lain.
"Kita harus segera mengadakan siaran pers terkait ini, malam ini juga! Kalau ditunda, maka akan kota ini akan kacau, dan mereka akan mencoba mencari kebenaran sendiri!" saran Dimas.
Saran Dimas segera disetujui oleh pihak kepolisian. Bahkan Dimas ditunjuk sebagai juru bicara kepolisian untuk menerangkan kasus ini kepada publik. Dimas sama sekali tak keberatan. Malam itu juga, pihak kepolisian mengirim undangan kepada beberapa stasiun televisi untuk menyiarkan siaran secara langsung mengenai pernyataan kepolisian terkait berita yang meresahkan ini. Hampir semua stasiun TV diundang, hanya Channel-9 yang tak mendapat undangan, karena saluran itu dianggap menyiarkan berita yang belum pasti kebenarannya.
Di saat warga kota sibuk dengan berita itu, Niken sudah melaju meninggalkan kota, menuju kastil tua. Ia menyetir mobilnya sendiri, sambil mendengarkan siaran radio terkait persiapan konferensi pers tentang kasus ini. Ia tersenyum sinis, menertawakan kepanikan kepolisian dalam menghadapi kasus ini.
"Mampuslah kalian semua! Jangan pernah main-main dengan Niken!" gumamnya.
Kesibukan pun terjadi di lobby kantor kepolisian. Para jurnalis dari berbagai media sudah berkumpul untuk mendengar langsung pernyataan polisi seputar kejelasan kasus yang sedang terjadi. Dimas menyiapkan kata yang tepat untuk menghadapi publik dan para pencari berita. Yang jelas, ia tak ingin menebar kecemasan, dan ia juga ingin publik mempercayai kepolisian, bahwa kasus ini akan dapat diselesaikan dengan mudah oleh pihak kepolisian.
Jam sembilan tepat, podium telah disiapkan. Dimas menaiki podium dengan penuh percaya diri, sementara puluhan blitz kamera menyala, menyorot kepada dirinya. Ia ingin tampil meyakinkan di hadapan publik, sekaligus berusaha membuat ketenangan di masyarakat.
"Selamat Malam. Kami dari pihak kepolisian ingin melakukan klarifikasi sekaligus keterangan mengenai berita yang telah beredar di kalangan masyarakat. Seperti yang kita tahu, satu jam tadi salah satu saluran berita terkemuka di kota ini menyiarkan tentang kasus pembunuhan yang menimpa beberapa orang yang tengah mengadakan reuni. Saya tegaskan, bahwa saat ini kondisinya tidak seburuk yang kalian bayangkan. Semua orang yang ada di tempat rahasia itu dikabarkan selamat. Saya sarankan kepada seluruh warga kota untuk tidak panik karena masalah ini bisa kami atasi dengan cepat dan tepat. Semua kami pastikan aman dan terkendali. Yang dapat kami katakan, bahwa lokasi mereka jauh dari kota, jadi tak perlu dicemaskan, semua akan baik-baik saja. Silakan kalian semua untuk kembali beraktivitas seperti biasa. Maaf, untuk sementara kami tidak melayani pertanyaan apa pun terkait kasus ini, karena kami sedang fokus untuk menyelesaikan kasus ini. Kami mohon doanya agar diberi kemudahan menyelesaikan kasus ini. Terima kasih!"
Setelah berkata demikian, Dimas turun dari podium. Para wartawan seakan tidak puas dengan penjelasan Dimas. Mereka memberondong dengan beragam pertanyaan. Namun, sesuai dengan keterangan Dimas tadi, pihak kepolisian tidak akan melayani pertanyaan apa pun. Dimas meninggalkan ruangan konferensi pers, sementara para pencari berita terus memanggil namanya. Dimas merasa pusing. Ia segera masuk ke dalam kantornya, untuk rehat sejenak. Setelah ini, ia akan menanyai Gilda, siapa sebenarnya yang membocorkan kasus ini, sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat.
"Siapa pun yang membocorkan rahasia itu, harus mendapat hukuman yang setimpal," gumam Dimas.
Ia tak mau menunda-nunda lagi. Segera ia hubungi nomor telepon Gilda, tetapi tak diangkat. Ia merasa sedikit geram, karena Gilda memberitakan sebuah peristiwa yang dapat memicu keresahan di masyarakat. Ia masih terus menghubungi nomor Gilda, tetapi sepertinya jurnalis wanita itu masih berkutat dengan kesibukannya, sehingga panggilan Dimas tak terangkat. Ia merasa kesal, mengapa harus dihadapkan lagi-lagi dengan Gilda? Mengapa perempuan itu tak jemu-jemu membuat masalah?
***
Suasana sepi menyelimuti kastil. Mobil ambulans masih terparkir di halaman depan, menunggu kedatangan Reno dan tim medis dari dalam hutan yang sedang mengevakuasi jenazah Farrel. Kesepian yang meraja, membuat para penghuninya memilih untuk berdiam di kamar. Edwin tampak dengan sabar menunggui Rosita yang malam itu sudah tertidur dengan pulas. Edwin menatap wajah istrinya, tak ingin mengganggu. Ia sadar, bahwa sang istri saat ini membutuhkan banyak istirahat agar ia bisa meluapakan segala trauma yang telah menimpanya.
Sementara di kamar Nadine, Ryan rupanya mulai kelelahan. Ia menggelar karpet di sebelah ranjang Nadine, untuk merebahkan diri di sana. Sebenarnya Nadine menawari untuk tidur satu ranjang dengannya, tetapi Ryan menolak. Ia memilih untuk tidur di bawah, agar Nadine tidak terganggu. Ryan memang sangat mencintai istrinya, sehingga ia rela mengorbankan kenyamanan tidurnya, agar sang istri bisa beristirahat dengan nyaman.
Suasana sepi itu rupanya dimanfaatkan oleh Jeremy dan Adtya untuk menyelinap menuju ruang bawah tanah. Mereka mengendap melewati dapur, untuk melihat keadaan, karena biasanya Mariah masih bekerja di malam hari. Namun, kali ini suasana terlihat aman. Mereka sudah sampai di pintu masuk ruang bawah tanah, bersiap menjelajah ke ruang bawah tanah. Namun, baru selangkah mereka masuk, sudah disambut suasana yang menggidikan.
__ADS_1
Ruang bawah tanah itu terlihat gelap, berbau anyir mirip darah, dan bercampur hawa pengap yang menyesakkan dada. Belum lagi, suara-suara misterius yang tak dapat dijelaskan dari lorong-lorong gelap di dalam sana. Kadang seperti tetesan air, kadang seperti langkah manusia, dan kadang seperti suara rintihan. Aditya merasakan bulu kuduknya merinding. Ia merasa seperti terjebak dalam sebuah frame di film horror.
"Bagaimana? Masih mau lanjut?" tanya Jeremy.
"Aku bukan penakut, Jer! Mari kita obrak-abrik ruang bawah tanah ini!" jawab Aditya dengan penuh percaya diri..
Jeremy tersenyum kecil. Keduanya mulai turun, selangkah demi selangkah. Mereka masih tetap waspada, karena mereka tak tahu apa yang sebenarnya menunggu di depan sana. Mereka tampak tegang, melihat beragam alat penyiksaan yang berada di ruangan itu. Mereka merasa takjub melihat semua benda-benda peninggalan kolonial itu. Bayangan-bayangan buruk mulai bermunculan di kepala, membayangkan bagaimana sadisnya peyiksaan di ruang bawah tanah ini.
"Tempat ini menyeramkan. Aku tidak yakin kita bisa menemukan sesuatu yang menarik di sini," gumam Aditya sambil menelan ludah.
"Diamlah, Dit! Aku sedang fokus mencari keberadaan Stella. Kalau kamu takut, kamu boleh kembali. Aku tidak pernah memintamu untuk masuk bersamaku di sini!" ucap Jeremy.
Aditya hanya menghela napas. Kenyataannya, memang ruangan bawah tanah ini begitu menyeramkan. Mereka kini berada di sebuah lorong gelap dan lembap. Bilik-bilik yang berpintu baja berjajar di samping kiri dan kanan, menambah suasana menjadi lebih misterius.
"Mungkin Stella ada di salah satu bilik ini. Menurut kabar, Nadine juga ditemukan di dalah satu bilik di lorong ini. Aku yakin, Stella juga tak akan jauh-jauh dari tenpat ini," kata Jeremy.
"Kau yakin akan masuk ke dalam lorong ini?" tanya Aditya.
"Kenapa Dit? Kau takut?"
Aditya menggeleng cepat. Ia tidak mau terlihat pengecut di hadapan Jeremy. Ia tidak lagi berkomentar apa pun. Jeremy mulai melangkah masuk, diikuti Aditya di belakangnya. Mereka terus berjalan, sampai menemukan percabangan lorong. Ada dua lorong membentang di sisi kiri dan kanan, sehingga mereka harus memutuskan, lorong sebelah mana yang harus mereka telusuri.
"Aku ... aku ikut kamu saja ya, Jer!" Aditya sedikit takut.
"Hmm, mengapa tidak kau coba ke kiri? Mungkin kamu bisa menemukan sesuatu di sana?" tanya Jeremy.
Eh, apakah kita akan berpisah di sini?" tanya Aditya.
"Mungkin, Dit! kalau kau mau, tunggui saja aku di sini, atau kau bisa kembali ke atas duluan. Aku mungkin akan memeriksa setiap bilik yang ada di lorong ini, dan tentu itu akan membutuhkan waktu yang agak lama. Bagaimana? Apa kamu tetap mau ikut atau naik ke atas?" Jeremy memberikan tawaran kepada Aditya.
Sebenarnya Aditya ingin ikut Jeremy, tetapi ia mulai ragu. Ia mulai berpikir bahwa Jeremy mungkin termakan oleh ambisinya, sehingga bertindak bodoh. Ia tidak mau ikut bertindak konyol. Menyusuri sebuah lorong yang gelap dan asing, tanpa persiapan apa pun, jelas merupaka sebuah kekonyolan.
"Maaf, Jer. Sepertinya aku harus naik. Semoga kau berhasil menemukan Stella-mu!" ucap Aditya.
"Tak apa, Dit. Aku berterima kasih kau sudah menemaniku sejauh ini. Aku tidak boleh mundur. Aku tahu mungkin kamu berpikir kalau aku nekat atau gila, tetapi aku melakukan ini sebagai rasa tanggung jawab sebagai suami. Aku tidak boleh menyerah begitu saja," ucap Jeremy.
"Oh,, tentu Jer. Aku paham kok! Kuharap kau berhati-hati. Firasatku tiba-tiba buruk, tetapi lupakan saja, Jer.
"Aku pergi, Dit! Kamu yang harusnya jaga diri!"
__ADS_1
Aditya membiarkan Jeremy menyusur lorong itu sendirian, sementara ia berniat kembali ke atas, karena rasa penasarannya cukup terpuaskan dengan apa yang ia telah lihat di dalam ruang bawah tanah. Ia terpaksa mundur, untuk kembali ke atas. Perlahan ia melihat bayangan Jeremy menghilang ditelan kegelapan. Ada rasa khawatir, tetapi ia segera ia tepis. Ia percaya bahwa Jeremy akan baik-baik saja.
Aditya melangkah kembali menuju pintu keluar ruang bawah tanah. Sekali lagi, ia harus melewati bilik-bilik yang menyeramkan. Ia melangkah dengan waspada, sementara di belakangnya ia mendengar seperti suara logam yang dipukul-pukulkan ke pintu baja.
Teng ... teng ... teng!
Aditya membalikkan badan, ia mengira Jeremy sedang mengetuk-ngetuk pintu baja. Namun, ia tak mendapati siapa pun di belakangnya. Padahal. suara itu begitu jelas terdengar. Bulu kuduknya meremang seketika. Siapa yang mengetuk-ngetuk pintu baja? Ia berpikir, mungkin ia salah dengar atau semua itu hanya halusinasinya semata.
Ia mempercepat langkah, agar segera sampai ke tingkap, tempat keluar dari ruang bawah tanah. Perasaannya makin tak nyaman berada di ruang bawah tanah ini. Tiba-tiba ia mendengar seperti suara langkah kaki dibelakangnya. Buru-buru ia membalikkan badannya, tetapi lagi-lagi ia tidak bisa menemukan siapa pun.
"Si-siapa di situ? Jer? Apakah itu kamu?" panggil Aditya.
Namun, panggilan Adit menguap begitu saja, seperti tak ada orang di lorong itu. Padahal beberapa detik sebelumnya jelas ia mendengar suara langkah kaki. Kali ini Aditya benar-benar direjam rasa takut. Ia kembali mempercepat langkah menuju atas.
Bruuk!
"Lepaskan aku! Lepaskan!"
Aditya tiba-tiba merasakan seperti ada yang mengait kakinya, sehingga ia kehilangan keseimbangan, dan jatuh tersungkur. Dalam gelapnya lorong, ia mencoba merayap untuk menjauh, tetapi ia merasakan ada yang menyeret kakinya ke belakang. Aditya makin panik. Ia berusaha melepaskan diri, tetapi sepertinya sangat sulit. Ia merasakan tubuhnya ditarik ke dalam sebuah bilik yang tiba-tiba pintunya terbuka. Ia ingin menggerakan kaknya, tetapi rasanya tak sanggup. Ada sesuatu yang seperti mencengkeram. Dalam kegelapan lorong, sayup-sayup ia melihat sosok hitam di belakangnya dengan membawa sebuah tongkat logam!
***
__ADS_1