
Dalam gelap yang menyelimuti, Pak Paiman berusaha meraih senternya yang menggelinding. Sosok itu rupanya tak berniat untuk berurusan dengan Pak Paiman. Ia lebih memilih bergerak cepat menuruni tangga. Pak Paiman tak membiarkan ia lolos begitu saja.
“Tolooong! Kejar! Dia lari ke lantai bawah!” pekik Pak Paiman.
Ia bangkit, kemudian mengejar sosok yang sudah menghilang di pekatnya malam. Pak Paiman menoleh ke kanan-kiri, sosok itu benar-benar tak ada. Dari arah lorong dapur, ia melihat Alex tergopoh lari menghampiri.
“Ada apa, Pak?” tanya Alex.
“Mas Alex, tadi lihat ada orang berpakaian hitam nggak? Tadi ketangkap basah di ruang CCTV, terus lari ke bawah begitu melihat saya. Aduh, lari kemana ya tuh orang? Pengen kuhajar saja rasanya!” gerutu Pak Paiman sambil matanya melongok ke segala arah.
“Orang berpakaian hitam? Wah saya baru keluar kamar mandi. Dari tadi pagi perut saya terasa nggak enak. Jadi saya nggak lihat apa-apa, Pak.”
Tak lama, beberapa penghuni juga terbangun dengan teriakan Pak Paiman. Ferdy dan Rudi juga segera datang ke situ. Mereka bertanya-tanya, mengapa Pak Paiman berteriak di dini hari seperti ini. Sayangnya, Dimas tidak terbangun , karena lelap tertidur. Sedangkan dari lantai atas, ada Rasty yang juga terbangun. Ia hanya melihat dari lantai atas, tidak berniat turun, karena hanya memakai kimono tipis untuk tidur.
“Ada apa sih?” tanya Rasty dari atas.
“Udah tidur aja lagi! Nggak ada apa-apa!” jawab Rudi.
Rasty merasa sedikit kesal dengan jawaban Rudi. Ingin rasanya turun ke bawah untuk nimbrung bersama mereka, tetapi sayang ia merasa malu karena pakaian tidur yang dikenakannya terlampau tipis. Ia hanya melihat para pria yang sedang mengobrol serius di bawah.
“Jadi gimana kejadiannya Pak?” tanya Rudi penasaran.
“Ya tadi saya kan sedang patroli. Nah, pas di lantai dua, di ruang CCTV saya ... saya melihat ada orang berpakaian hitam. Dia tampaknya juga kaget melihat saya, sehingga dia dorong saya ke samping. Trus dia lari ke bawah, dan sekarang nggak tahu kemana. Jangan-jangan, orang ini yang selama ini mengambil barang-barang di gudang!” Pak Paiman mulai bercerita.
“Memang apa yang hilang, Pak?” tanya Ferdy.
“Beberapa baju berkebun dan sarung tangan. Memang kurang ajar pencurinya! Gara-gara dia, aku sekarang jadi susah untuk merawat tanam-tanaman itu. Kalau ketahuan, akan kukasi pelajaran dia!”
Pak Paiman masih menggerutu. Para pria muda itu berusaha menenangkan, sambil memegang pundak pria paruh baya itu.
“Sabar, Pak! Sabar. Sekarang mending Pak Paiman kembali ke rumah saja. Bapak pasti cape. Biar kami yang jagain sampai pagi. Kami pasti juga nggak bisa tidur habis ini. Gimana, kalian mau nggak?” tanya Rudi.
“Okelah. Kayaknya aku juga nggak bakalan tidur lagi!” jawab Ferdy.
“Aku juga insomnia selama di sini. Sepertinya juga nggak bisa tidur,” tambah Alex.
Pak Paiman mengangguk-angguk. Dalam hatinya masih menyimpan rasa penasaran yang mendalam. Ia bertanya-tanya siapa yang sebenarnya telah mencundanginya? Atas saran dari para anak muda itu, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke pondok di belakang rumah utama.
Rasty yang sedari tadi melihat para pria muda dari atas hanya bisa tersenyum kecil.
__ADS_1
“Kenapa Ras? Kamu mau gabung juga sama kita?” tanya Ferdy.
Rasty hanya mencibir, kemudian berlalu. Ia memilih masuk ke dalam kamar dan melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda. Sementara para anak muda yang terbangun itu memilih untuk bercengkrama di teras depan menikmati udara dini hari yang masih bersih dan segar di tenggorokan. Agar suasana lebih santai, mereka membuat kopi untuk menemani ngobrol hingga pagi menjelang.
***
Fajar menyingsing menyapa rumah isolasi di atas bukit itu. Burung berkeciap menyambut datangnya pagi. Penghuni rumah isolasi satu-persatu mulai terbangun. Diawali dengan Bu Mariyati yang bangun paling pagi. Seperti biasa, wanita itu segera menyiapkan sarapan, karena jadwal sarapan adalah pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Ia tidak mau terlambat menyiapkan. Oleh karena itu, ia memilih menu-menu sederhana untuk sarapan.
Pak Paiman masih terbaring di sofa usang, dengan napas naik-turun. Tidurnya sangat lelap. Rupanya ia kelelahan setelah semalam ia berhasil dipecundangi oleh sosok berbaju hitam di lantai dua. Bu Mariyati tak berniat membangunkan suaminya. Ia langsung beranjak ke dapur untuk bekerja.
Di sisi lain rumah, Dimas sudah menempel beberapa jadwal harian di tempat strategis seperti di ruang makan, ruang tamu, dan beberapa tempat lain. Ia sengaja membuat jadwal itu, agar kegiatan para penghuni lebih terarah.
Melihat jadwal sudah tertempel, para penghuni mulai berkerumun untuk membaca susunan jadwal itu. Mereka berharap agar jadwal berisi hal-hal menyenagkan dan tidak membuat bosan.
“Jadwal pertama pagi ini adalah senam pagi, dan akan dimulai pukul 06.00. Jadi kusarankan kalian segera bersiap-siap!” perintah Dimas.
“Yah, kok senam sih?” gerutu Rasty.
“Kenapa emang? Kan senam itu menyehatkan. Daripada kamu ngorok di kamar kan mending gerak badan. Lumayan bisa membakar kalori dan bonus sehat pula,” kata Adinda.
“Masih ngantuk tau. Tadi malam sih kamu nggak kebangun waktu ada kejadian dengan Pak Paiman.”
“Emang ada apa dengan Pak Paiman?” tanya Adinda.
“Makanya bangun! Jangan molor!”
Rasty berkata sambil berjalan pergi ke kamar meninggalkan Adinda. Gadis itu makin penasaran dengan keterangan Rasty. Ia berjalan menuju ke kamarnya untuk bertukar baju. Sementara yang lain juga sudah bersiap-siap berganti baju untuk mengikuti senam pagi yang dipimpin langsung oleh Dimas.
Acara senam pagi sendiri langsung diadakan di halaman depan. Tak memakai musik, hanya menggunakan hitungan.
Rasty terlihat kurang antusias mengikuti kegiatan senam itu. Ia masih ogah-ogahan untuk bergerak. Sedangkan yang lain terlihat cukup semangat. Terutama Lena. Parasnya terlihat sangat cerah mengikuti gerakan demi gerakan yang diperagakan oleh Dimas. Polisi itu sengaja tidak membuat gerakan yang rumit, tetapi gerakan yang sederhana tetapi tetap menyehatkan.
Selama senam pagi berlangsung, mata Ferdy tak lepas memandang Adinda yang mengenakan kaos lengan pendek dan celana training warna biru cerah. Gadis itu juga mengenakan topi, agar rambutnya yang indah tidak tergerai. Ia tampak cantik, tak heran kalau Ferdy mengagumi diam-diam.
“Lihat terusss!” ledek Rudi.
“Lihat apa?” Ferdy pura-pura tidak tahu.
“Halah! Jangan pura-pura. Aku loh tahu kamu lagi lihat siapa!”
__ADS_1
Ferdy tidak menanggapi. Ia pura-pura tidak mendengar, sembari terus melakukan gerakan-gerakan sesuai arahan Dimas. Ia merasa sangat bersemangat pagi itu, mengingat ia jarang gerak badan karena sibuk bekerja. Olahraga pagi seperti ini benar-benar membuatnya merasa segar, dan seolah memompa energi positif ke seluruh tubuh.
“Satu ... dua ... tiga ... empat! Putar badan ke samping!”
Dimas memberi aba-aba dengan lantang. Sekitar satu jam mereka berolahraga, sampai tubuh basah karena keringat. Dimas mengakhiri kegiatan senam pagi dengan gerakan pendinginan. Setelah selesai, mereka terduduk karena lelah. Semua menyelonjorkan kaki, sembari menikmati angin pagi yang bertiup sepoi. Sementara dari arah dapur, sudah tercium aroma masakan dari Bu Mariyati.
“Habis ini boleh langsung makan nggak sih?” tanya Rudi dengan napas terengah.
“Kalau sesuai jadwal, habis senam pagi adalah bersih diri. Itu artinya kita harus mandi dulu. Kalau langsung makan habis senam kayaknya kurang layak deh. Badan masih keringatan masa mau langsung makan. Tunggu keringlah, atau mandi dulu biar wangi. Biar yang melihat juga tidak terganggu,” jawab Adinda.
“Huh!” gerutu Rudi.
***
Sejak pagi, Nayya sudah siap dengan mengenakan pakaian pemberian dari Badi. Pakaian itu adalah peninggalan dari Tari. Walau ia kurang suka dengan modelnya, tetap saja ia bersyukur karena mendapat pakaian yang bersih dan wangi. Nayya mengenakan dengan suka-cita. Apalagi, seperti yang telah dijanjikan oleh Badi, bahwa hari ini mereka akan berkunjung ke rumah Nayya.
“Lebih baik sarapan dulu sebelum berangkat. Jangan sampai merepotkan orang rumah,” saran Badi.
“Aduh nggak deh, Bang! Aku sudah nggak sabar untuk pulang ke rumah. Aku yakin ibuku nggak merasa repot kalau aku makan di rumah. Malahan beliau senang karena aku sudah pulang. Abang nggak usah sarapan juga, nanti sarapan di rumahku saja ya,” ucap Nayya.
“Nggak Nay! Aku nggak mau bertemu dengan keluargamu!” jawab Badi tegas.
“Kenapa Bang? Abang kan sudah bantu aku. Biar keluargaku berterima kasih pada Abang!”
“Nggak usah Nay! Aku ... aku ... tidak pantas berada di antara keluargamu,” ucap Badi lirih.
Badi memang merasa minder dengan statusnya selama ini. Ia hanya merasa sebagai sampah masyarakat yang terbuang. Ia tidak ingin membuat Nayya malu karena mempunyai teman seperti dirinya. Ia memilih untuk tidak bertemu keluarga Nayya, serta mengabaikan segala rasa terima kasih yang mungkin akan diterimanya.
“Abang nggak boleh bicara begitu lah. Abang kan sudah tolong aku. Abang harus mau memenuhi undanganku yah. Harus Bang. Nanti aku akan merasa bersalah seumur hidup kalau Abang tidak mau masuk ke dalam rumahku. Apalagi aku juga masih ingat kebaikan Tari padaku. Dia mengorbankan nyawanya demi aku. Mau ya, Bang?” paksa Nayya.
Badi hanya terdiam. Ia tak berani mengiyakan. Rasa malu dan tidak percaya diri bercokol di hatinya. Namun, karena Nayya mendesaknya, maka ia tak punya pilihan lain selain mengangguk perlahan untuk menyetujui ajakan Nayya.
Undangan dari Nayya itu membuatnya segera pergi ke kamar untuk bertukar baju yang lebih layak, untuk menghormati si tuan rumah. Bagaimanapun, ia juga harus tampil layak di depan pengundangnya. Ia harus menjauhkan kesan sangar yang melekat pada dirinya.
Diam-diam, ia ambil pisau cukur. Di depan sebuah cermin, pria itu mencukur cambang dan kumisnya yang berantakan agar terlihat rapi. Ia tidak mau terlihat mirip berandalan yang tak terawat. Ia juga memilih kemeja dan celana yang cukup rapi, bukan pakaian ala kadarnya seperti yang ia biasa pakai. Pendeknya, ia ingin tampil lebih rapi di depan keluarga Nayya.
Mungkin ini pengalaman pertama dalam hidupnya. Ia merasa seolah akan bertemu seorang presiden. Jadi ia ingin menampilkan segala sesuatu yang terbaik yang ada pada dirinya.
Ia melihat pantulan bayangannya di cermin. Ia seperti terlahir kembali sebagai makhluk berbeda. Ia tersenyum geli melihat perubahan pada dirinya. Namun, ia sadar bahwa penampilannya yang sekarang membuatnya tampil lebih mirip sebagai manusia yang sesungguhnya.
__ADS_1
***