Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
182. Interogasi Tak Resmi


__ADS_3

Di sebuah kamar sempit di rumah kecil yang pengap, seorang gadis duduk di sebuah kursi dengan paras ketakutan, sementara beberapa laki-laki berwajah sangar mengelilinginya. Ia tak berani menatap mata mereka, hanya bisa menunduk, berharap bisa keluar dari rumah kecil yang tak rapi itu. Sayangnya, keinginannya itu tak bisa terlaksana segera. Para pria ini sedang menunggu keterangan darinya.


“Jadi kamu sudah lama mengenal dia?” tanya salah seorang pria berwajah sangar itu.


Dia adalah Raymond, pimpinan dari Raymond Brothers. Ia telah memimpin para anggotanya untuk memburu si pembunuh Tari. Rupanya ia telah mengawasi gerak-gerik gadis itu sejak lama.


“Aku ... aku sebenarnya tak terlalu mengenalnya. Kumohon lepaskan aku saja! Aku nggak ngerti apa-apa,” pinta gadis itu.


“Jadi buat apa kamu sewa mobil putih itu untuk dia? Mengapa kamu mau melakukan hal itu? Apa dia menjanjikan sejumlah uang?” desak Raymond.


Gadis itu hanya tertunduk lesu. Ia hanya menggeleng. Ia enggan untuk berbicara. Ia memilih untuk bungkam, tak berbicara sepatah kata pun.


“Kalau kamu bungkam, maka dengan senang hati kami akan menahanmu di sini sampai semua jelas. Kamu tahu, kejahatannya telah di luar batas. Dia telah bunuh adik teman kami yang tak tahu apa-apa. Dan sekarang dia dalam incaran polisi. Coba sekarang pakai nuranimu! Katakan sejelas-jelasnya pada kami!” cecar Raymond.


“Aku ... aku nggak bisa! Aku takut .... “


“Apa yang kamu takutkan?”


“Aku takut akan menjadi sasaran pembunuhan dia selanjutnya. Aku baru menyadari kalau dia banyak membunuh orang, tetapi aku sudah terlambat mengetahui dan sudah kepalang basah. Ia mengancam akan membunuhku apabila aku mengatakan pada orang lain. Aku tidak berani .... “


“Aku akan menjamin keamananmu! Kamu tak perlu takut. Kami sudah tahu identitas pelaku pembunuhan itu secara jelas, jadi tak ada alasan lagi untuk mengelak. Yang kami butuhkan adalah informasi keberadaannya sekarang. Kami sudah menelusuri seluruh penjuru kota, tetapi belum berhasil menemukannya. Katakan kepadaku! Di mana dia sekarang!” paksa Raymond.


Paras gadis itu tetap dirundung rasa cemas mendalam. Ia terus menggeleng. Sebulir air mata jatuh menuruni pipinya yang lembut. Sebenarnya, Raymond merasa iba pula pada gadis yang dimanfaatkan oleh si pembunuh ini. Namun, ia membutuhkan informasi penting darinya, untuk mengungkap keberadaan pembunuh Tari.


“Katakan pada kami, dan kujamin kamu akan aman. Aku sendiri yang akan menjamin keamananmu!”


Raymond melunakkan suaranya agar gadis itu tak semakin tertekan. Tak lama, ia menyuruh para temannya untuk menyingkir, agar Raymond bisa berbicara berdua dengan gadis itu. Mungkin ia merasa tertekan karena dikelilingi oleh para pria bertampang sangar itu.


Gadis itu masih terdiam, ketika Badi tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Ia melihat gadis yang duduk di kursi itu dengan tatapan heran. Badi baru saja tiba dari luar, mengantar Nayya pulang ke rumah keluarganya.


“Siapa dia, Ray?” tanya Badi.


“Ini gadis yang telah diperalat si pembunuh itu untuk menyewa mobil putih yang dipakai untuk melakukan banyak tindak kejahatan. Aku sedang bertanya tentang keberadaan si pembunuh yang tiba-tiba menghilang,” jawab Raymond.


“Oh, jadi ... jadi dia memanfaatkan orang lain untuk melakukan kejahatan?” tanya Badi lagi.


“Ya, dan kita akan mengehentikannya sekarang juga! Oya, bagaimana dengan Nayya? Apakah kamu sudah mengantar ke rumah keluarganya?” tanya Raymond.

__ADS_1


“Sudah. Dia sangat gembita bisa bertemu keluarganya kembali. Aku juga senang melihatnya bahagia seperti itu Ray,” jawab Badi sambil tersenyum.


“Jadi ... apakah Nayya akan kembali ke rumah ini atau tetap mau bersama keluarganya?” tanya Raymond.


“Kupikir, biar saja ia pulang bersama keluarganya Ray. Dia lebih bahagia di sana. Dia berjanji tidak akan membocorkan identitas pelaku pembunuhan itu pada keluarganya atau siapa pun. Untuk keamanannya, aku yang akan sering-sering kunjungi dia untuk memastikan keamanannya,” ucap Badi.


Raymond manggut-manggut, ia tidak berkomentar apa-apa lagi. Namun, sebenarnya ia tahu bahwa Badi diam-diam menyukai Nayya. Hal ini terlihat dengan penampilan Badi yang berubah lebih rapi, dengan kumis yang cambang yang dicukur. Raymond tidak mau mengungkit hal itu. Ia juga turut senang apabila ternyata Badi menemukan seseorang yang disukainya.


Raymond kembali fokus kepada gadis yang duduk di depannya. Di balik kesedihannya, gadis itu memiliki paras yang cantik. Raymond merasa iba, tetapi ia tetap harus menanyai keberadaan sosok pembunuh pada gadis itu, sebab ia yakin gadis ini pasti tahu di mana posisinya sekarang.


“Kami masih menunggu jawabanmu!” ucap Raymond.


“Aku ... aku tidak tahu pasti dia berada di mana .... “


“Kapan kalian terakhir bertemu?”


“Sudah cukup lama. Waktu itu, dia berpamitan kepada saya, katanya dia bakalan lama tidak bertemu saya lagi, tetapi dia tidak menjelaskan akan pergi kemana. Namun, beberapa hari kemudian dia menjelaskan bahwa dia sedang dalam panggilan kepolisian untuk isolasi atau apa, saya juga kurang mengerti. Yang jelas, dia sudah tak lagi menghubungi saya setelah itu,” ucap gadis itu dengan nada sedih.


“Apa? Isolasi? Wah, kalau benar itu terjadi, berarti dia sedang berada di suatu tempat rahasia dan di bawah penjagaan kepolisian. Akan susah kalau kita mencari atau menculiknya. Badi, coba kamu cari informasi terkait isolasi yang dilakukan kepolisian ini. Aku yakin, ini adalah masalah rahasia kepolisian, tetapi mungkin ada orang lain yang tahu tentang ini!”


Raymond menoleh ke arah Badi. Ia ingin segera bergerak cepat untuk mencari si pembunuh di tempat isolasi, tetapi ia belum mengetahui di mana sebenarnya si pembunuh itu diisolasi. Ia merasa agak kesal, padahal pada awalnya ia ingin menyelesaikan hal ini sendiri, tetapi rupanya polisi telah bertindak lebih cepat terlebih dahulu, dengan mengisolasi si pembunuh di suatu tempat.


“Aku pikir nggak mungkin kalau keluar kota, karena koordinasi akan sedikit sulit. Kupikir hanya di sekitar kota ini saja. Carilah informasi dari siapa saja yang mungkin tahu akan hal ini!”


Badi hanya mengangguk, kemudian keluar dari kamar itu. Raymond kembali mengalihkan pandangannya kepada gadis itu.


“Kamu yakin tidak tahu di mana lokasi isolasi itu?” tanya Raymond.


“Tidak ... tidak. Dia sama sekali tak mengatakan di mana lokasi isolasi itu. Kata dia, bahkan dia sendiri juga tidak tahu, karena polisi tidak memberi tahu sebelumnya. Jadi dia menurut saja kemana polisi itu akan membawa dia pergi,” terang gadis itu.


Raymond manggut-manggut. Ia membiarkan gadis itu di dalam kamar sendirian. Sebenarnya ia ingin melepas kembali gadis itu, tetapi ia akan meminta pertimbangan kepada anggota yang lain.


“Kamu di sini dulu. Kami tidak akan berbuat jahat kepadamu, jadi jangan bertindak bodoh. Aku akan segera kembali!”


Raymond keluar kamar, kemudian mengunci gadis itu di dalam kamar sendirian.


***

__ADS_1


Di sisi lain kota, jauh dari kebisingan dan hiruk-pikuk kota, Gerry tampak sudah mulai pulih dari luka-luka yang dideritanya. Ia sudah mulai belajar berjalan di sekitar rumah kecil dekat ladang jagung itu. Ratri, si gadis kecil itu membantunya untuk belajar berjalan, sementara pak tua yang menolongnya juga tampak gembira melihat perkembangan Gerry yang semakin membaik dari hari ke hari.


“Mungkin beberapa hari kamu bisa pulang,” ucap Pak Tua itu.


“Tapi aku tidak ingin pulang, Kek,” jawab Gerry.


“Tidak ingin pulang? Apa maksudmu?” tanya Pak Tua dengan heran.


“Aku tidak akan pulang sampai bertemu dengan orang yang sudah memperlakukan aku sehingga aku menjadi seperti ini. Aku akan meminta pertanggungjawaban atas semua yang telah dilakukannya kepadaku,” ucap Gerry sambil menahan amarah.


“Kamu ingin membalas dendam atau gimana?” tanya Pak Tua lagi.


“Ya, bisa dikata seperti itu. Aku ingin dia merasakan penderitaan yang aku rasakan,” ucap Gerry.


Kakek tua itu tersenyum, sambil menghirup kopi panas yang ia taruh di dalam mug aluminiun. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Aku paham, bahwa mungkin kamu sangat sakit hati dengan semua yang telah terjadi padamu. Tetapi, kupikir balas dendam bukanlah hal yang baik untukmu. Mungkin kamu akan puas karena membalas sakit hati yang kamu rasakan, tetapi kamu harus mempertimbangkan beberapa hal. Aku mengkhawatirkan kondisi fisikmu yang masih lemah dan tentu saja kondisi emosianalmu. Mangapa tidak kamu serahkan pada polisi saja semua ini? Kamu datang saja ke kantor polisi dan memberi tahu semua yang telah terjadi,” saran Pak Tua.


“Aku hanya merasa hukuman penjara tak adil baginya, Kek. Dia pantas mati karena memang itulah balasan setimpal untuknya. Ia telah banyak membunuh orang, dan mungkin itu tidak akan berhenti. Dia telah membunuh sahabat-sahabatku, dia juga telah membunuh polisi dan dia juga membunuh gadis yang kucintai, Alma,” ucap Gerry dengan nada geram.


“Aku paham perasaanmu. Aku tidak bisa mencegahmu untuk melakukan apa pun yang kamu suka. Namun, saranku, tetaplah berpikir dengan kepala dingin, sebab kadang emosi bisa mengalahkan akal sehat. Kamu tahu, aku pernah pula muda sepertimu. Jadi aku pasti tahu apa yang kamu rasakan. Kadang kita bertindak tanpa berpikir apa yang akan terjadi ke depannya,” ucap Pak Tua itu.


Gerry mengangguk-angguk. Ia berusaha memahami apa yang dikatakan kakek tua itu. Yang dikatakannya memang ada benarnya. Untuk berhadapan langsung dengan sosok pembunuh itu sepertinya adalah hal yang tidak mudah, mengingat kondisi tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih. Namun, kalau ia mengingat segala sesuatu yang telah dilakukan oleh pembunuh itu, darahnya terasa mendidih.


Kemudian ia teringat akan Nayya yang masih disekap dalam apartemen. Ia berharap gadis itu bisa menyelamatkan diri atau setidaknya ada orang yang menolongnya. Ia tak bisa bayangkan apabila gadis itu ikut pula menjadi korban kebiadaban sosok pembunuh itu.


“Terima kasih Kek, sudah memberikan aku pencerahan,” gumam Gerry kemudian.


Pak Tua itu hanya manggut-manggut, kemudian menghabiskan sisa kopi dalam mug-nya. Ia melirik ke arah Ratri yang sedang asyik bermain. Cucu kesayangannya itu seolah tak peduli dengan warna-warni dunia yang mengelilinginya. Ia asyik dengan dunianya sendiri.


“Nanti apabila kamu akan meninggalkan tempat ini, kamu boleh lupakan aku, tetapi jangan lupakan dia,” ucap Pak Tua itu sambil mengarahkan pandangan ke arah Ratri.


“Aku tidak akan melupakan kalian. Aku berjanji. Kalian adalah keluargaku sekarang,” ucap Gerry.


Kakek tua itu tersenyum. Gerry membalas senyuman penuh kedamaian itu. Seulas senyum yang lebih sejuk dari embun. Senyum yang begitu tulus tanpa embel-embel apapun. Berbeda dengan senyum-senyum palsu penuh kemunafikan yang sering ia temui di sekitarnya. Gerry merasa damai berada di tempat ini.


Langit mulai terlihat mendung . Udara dingin bertiup menerpa rumah kecil dekat ladang jagung itu. Daun-daun beterbangan tak tentu arah. Pak Tua itu mengisyaratkan agar Ratri segera masuk. Gerry juga segera masuk ke dalam rumah, ketika angin mulai berembus agak kencang.

__ADS_1


***


__ADS_2