Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XXV. First Interview


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang dikatakan Ammar Marutami, penyelidikan dilanjutkan dengan wawancara secara pribadi guna memperoleh informasi lebih rinci. Sebenarnya keputusan ini sangat disayangkan oleh Hans, tetapi tetap saja ia tak bisa mengelak, harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan.


Ammar Marutami telah siap di ruang kerja milik Anggara yang luas. Ia duduk di belakang meja kayu yang kokoh, dengan lemari ukiran antik di bagian belakangnya. Sementara tak banyak ornamen menghiasi ruang kerja milik Anggara, hanya beberapa lukisan realisme karya beberapa pelukis terkenal. Seperangkat sofa klasik juga menghiasi ruang kerja, dilengkapi dengan alat gramaphone tua, menambah suasana menjadi semakin klasik.


Yang mendapat kesempatan duluan wawancara adalah Adrianna Chen. Sesuai dengan kesepakatan, maka wawancara akan dilaksanakan berdasar alfabet. Tentunya, ini bukan semacam wawancara kerja, melainkan interogasi yang mungkin akan membawa sedikit nuansa ketegangan.


Adrianna dengan penuh percaya diri duduk di sofa yang ada di ruang kerja. Ia berusaha menampakkan raut muka nyaman, walaupun sedikit terlihat tegang. Mendapat kesempatan pertama wawancara tentu menjadi beban tersendiri untuknya. Terlihat Ammar masih sibuk menulis, sehingga Adrianna harus menunggu sebentar.


“Apa kamu gugup?” tanya Ammar sambil meletakkan pulpen.


“Sedikit. Ini adalah pertama kali dalam hidup ketika seorang polisi mewawancaraiku. Biasanya hanya wartawan yang mengejar untuk bertanya tentang gosip-gosip seputar hidupku. Tapi kurasa ini akan sedikit berbeda.”


“Tak perlu tegang,. Santai saja. Kalau kamu butuh minum sesuatu, kamu bisa meminta Helen untuk membuatkan teh atau apa pun yang membuatmu nyaman.”


“Tidak. Terima kasih. Untuk saat ini aku cukup nyaman.” Adrianna mulai menebar senyumnya.


Ammar melangkah mendekati jendela, kemudian menatap Adrianna tajam. Wanita bermata sipit itu menahan napas, berharap agar ia bisa menjawab pertanyaan Ammar dengan tenang.


“Kita kemarin sempat mengobrol sebentar di kebun teh sebelum menemukan jasad Karina. Kupikir aku tidak akan menyaimu banyak hal. Bisa kamu ceritakan mengenai kedekatanmu dengan keluarga Anggara?” tanya Ammar.


“Aku hanya mendengar nama Anggara Laksono di berita televisi, tak pernah mengenalnya secara langsung. Ya, kupikir dia cukup populer karena kekayaannya. Aku mendapat undangan untuk menghadiri ulang tahunnya. Aku pikir, pasti akan sangat spesial. Tak pernah menyangka aku akan masuk dalam daftar penulis favorit Anggara. Sayangnya mimpi buruk terjadi,” terang Adrianna.


“Kamu menulis novel bergenre romantis dan konflik rumah tangga?” tanya Ammar.


“Iya. Itu spesialisku. Aku ingin menulis genre lain tetapi ... kupikir lebih baik aku tidak mecoba sesuatu yang bukan bidangku. Tak terlalu suka tantangan. Aku sudah merasa nyaman dengan apa yang kulakukan,” kata Adrianna dengan penuh percaya diri.


“Siapa penulis yang paling dekat denganmu di kastil ini?”


“Aku tidak yakin. Mungkin Tiara karena aku sering ngobrol dengannya. Dia wanita baik dan polos. Sedangkan dengan yang lain, biasa saja.”


“Cornellio Syam? Kamu menyukainya?”

__ADS_1


“Dia sangat asyik orangnya. Aku menikmati setiap obrolan dengannya. Dia cerdas dan berpenampilan sempurna, kupikir aku hanya sebatas mengaguminya saja.”


“Bisa kamu ceritakan sedikit tentang riawayat keluargamu?”


“Aku adalah anak sulung dari empat bersaudara. Papaku adalah pengusaha berdarah China, menikahi ibuku yang pribumi. Tak pernah terbayangkan untuk menjadi penulis, tetapi memang aku suka menulis dari kecil. Sayangnya rumah tangga orang tuaku berantakan dan berujung pada peceraian. Beberapa cerita di novelku terinspirasi dari kisah keluargaku.”


“Kisah yang menarik, Adrianna. Setidaknya sekarang keluargamu bangga kamu telah menjadi penulis yang cukup populer.”


“Sejujurnya aku jarang berkomunikasi dengan keluargaku. Aku menjalani hari-hariku sendiri, bahkan ketika aku gagal menikah dengan seorang sutradara muda, aku tak bercerita pada keluargaku. Sungguh, aku masih terpukul karena itu,” papar Adrianna.


“Oke. Kamu boleh menyimpan air matamu sejenak. Kalau kamu mempunyai kesempatan untuk bisa menebak siapa pelaku pembunuhan ini? Siapa menurutmu yang paling mungkin?”


“Well. Aku tidak pandai menebak. Tetapi aku mungkin berharap kalau pelakunya adalah Maira.”


“Kamu tidak menyukainya atau punya alasan tersendiri?”


“Ya, aku tidak terlalu menyukai Maira karena semua juga tahu dia seperti apa. Tipikal wanita angkuh, sombong dan merendahkan orang lain. Di samping itu, kulihat Maira punya sedikit masalah kejiwaan. Seperti tekanan pribadi, aku tidak tahu itu apa. Menurutku ia berpeluang besar menjadi pelaku pembunuhan berantai ini karena masalah psikologis”


Adrianna tersipu mendengar pujian itu. Percakapan itu berlanjut selama setengah jam kemudian, sebelum Ammar mengucapkan terima kasih karena Adrianna sangat kooperatif dalam proses penyidikan. Wanita itu mampu menjawab semua pertanyaan dengan lancar. Ammar tak menangkap kegugupan atau kegelisahan. Semua pertanyaan dijawab dengan penuh percaya diri.


Ammar mencatat semua jawaban Adrianna dalam lembar tersendiri, kemudian memutar otaknya lagi. Kans Adrianna sebagai pelaku pembunuhan mungkin kecil, mengingat keterlibatannya dengan keluarga Anggara juga dapat dikatakan nihil. Bahkan ia tak mengenal Yoga dan Karina secara pribadi.


“Kita lihat saja nanti ...,” gumam Ammar Marutami.


Karena benang merah tidak juga terhubung antara kasus Anggara, Karina dan Yoga membuat Ammar sedikit tertekan. Ia meneguk sedikit kopi latte yang dihidangkan Helen tadi pagi. Sudah mulai dingin, tetapi terasa manis di lidah.


Mengapa Helen selalu menyajikan kopi dengan rasa yang selalu manis?


Perlahan muncul di pikirannya, pembunuhan ini bisa jadi dilakukan lebih dari satu orang dengan motif berbeda, atau bisa jadi kolaborasi antara dua orang dengan maksud tertentu. Ammar menghembuskan napas. Kepingan-kepingan puzzle kasus ini masih berserak. Mungkin butuh waktu tidak sebentar untuk menyatukan kepingan-kepingan itu.


Sementara Adrianna keluar dari ruang kerja dengan perasaan puas karena telah menjawab semua pertanyaan dengan baik. Ia melangkah dengan penuh percaya diri melalui koridor, ketika suara Maira menyapanya.

__ADS_1


“Kamu sudah selesai?” sapa Maira.


Adrianna menghentikan langkahnya. Merasa sedikit malas untuk berbicara dengan Maira.


“Tentu saja. Tak semengerikan yang kau pikirkan,” jawab Adrianna.


“Apakah kamu merayu polisi itu?” tanya Maira.


“Merayu? Bukankah kamu yang lebih pandai dalam urusan itu, Maira. Maaf, itu bukan gayaku. Aku tidak mengobral murah harga diriku untuk sesuatu yang lain. Mungkin kita punya pandangan berbeda mengenai ini, tetapi tentu saja aku tak seperti yang kamu lihat!” cibir Adrianna.


“Aku lihat kamu mulai merayu Cornellio Syam!”


“Terima kasih sudah memata-mataiku, Maira. Ada baiknya kamu segera memikirkan dengan posisimu yang genting. Kondisi psikologis yang kamu alami akan memberatkanmu sebagai tersangka pembunuhan ini. Kuharap kamu punya alasan bagus di depan Ammar agar kamu tak terlalu tersudut!”


“Alasan bagus? Kamu tahu aku ahli di bidang itu, Adrianna!”


“Tentu saja, Maira. Siapa yang tidak bertekuk-lutut melihat lekuk tubuhmu? Maaf. Aku harus menyegarkan diri. Aku agak lelah. Semoga berhasil!”


Adrianna meninggalkan Maira yang terlihat gusar. Berbincang Maira sudah barang tentu akan menyita waktu berharganya. Ia memutuskan untuk kembali ke kamar untuk berbaring sebentar sambil menunggu waktu makan malam.


Di dalam kamar, ia tidak melihat keberadaan Tiara yang belakangan ini harus menumpang tidur di kamarnya karena trauma akan penemuan potongan kepala Yoga.


Adrianna berdiri di depan cermin rias, menatap pantulan wajahnya yang mempesona. Tipikal gadis Asia yang sebenarnya, dengan mata sipit dan kulit cemerlang bak porselen Tiongkok.


Ia ingin menyegarkan diri dengan aromaterapi dari semprotan parfum lembut yang tersimpan rapi dalam kotak riasnya. Di dalamnya terdapat berbagai alat rias premium berharga jutaan rupiah. Pendapatannya sebagai seorang penulis kelas satu turut juga mendongkrak gaya hidupnya.


Ia membuka kotak rias, tetapi sayang ia tak mendapati parfum kesayangannya. Padahal, ia yakin selalu menyimpan dengan benar parfum itu. Sebotol parfum dengan aroma lembut perpaduan aroma buah dan bunga keluaran brand ternama.


“Ada yang mengambil parfumku tanpa izin. Tapi siapa? Tiara?”


***

__ADS_1


__ADS_2