Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
362. Unsolved


__ADS_3

Dimas duduk sambil bertopang dagu, mengamati deretan lembar-lembar kertas yang sudah ia susun di atas meja. Ia kembali memutar otak untuk mencari siapa sebenarnya dalang segala kekacauan ini. Waktu terus berjalan, dan ia merasa belum mendapat progres yang signifikan. Paling lambat malam ini, ia harus memperoleh satu nama tersangka, kemudian ia akan segera kembali ke kastil. Ia sadar, menentukan satu nama itu bukan perkara mudah, karena butuh kecermatan dan keakuratan data pendukung.


"Aku tidak bisa mengandalkan kartu-kartu keluarga sialan ini! Pasti ada hal lain yang pernah terjadi. Setidaknya sepuluh tahun terakhir ini!" rutuk Dimas.


Ia kembali mencari berita-berita lama yang mungkin ada kaitannya dengan keluarga-keluarga para wanita itu. Bukan tidak mungkin, ada sesuatu yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Dari luar, mereka tampak seperti keluarga normal pada umumnya, tak ada kejanggalan. Namun, ia yakin pasti ada sesuatu yang tersembunyi, yang dirinya tidak tahu. Dari keempat keluarga itu, ia tidak melihat langsung ayah mereka. Hal ini mengindikasikan bahwa keluarga tersebut adalah orang tua tunggal. Dimas semakin penasaran untuk menelisik lebih jauh.


"Baiklah, berita apa yang paling populer sepuluh tahun terakhir ini. Siapa tahu, ada kaitannya dengan keluarga-keluarga ini," gumam Dimas.


Untuk memuaskan rasa penasaran yang melanda, ia bergerak menuju ruang arsip di mana tersimpan kasus-kasus penting dalam kurun waktu 10 terakhir di kota itu. Semua kasus besar dan misterius yang pernah terjadi di kota, semua akan terekam dalam dokumen-dokumen di dalam ruang arsip.


Ruang arsip terletak di bagian belakang gedung kepolisian yang jarang dikunjungi. Ruang itu dalam keadaan terkunci dan tidak sembarang orang bisa memasuki ruangan itu. Dimas mempunyai akses berupa sebuah kartu elektronik yang terbaca melalui sensor di pintu. Dimas dianggap mempunyai kepiawaian menangani kasus, sehingga ia mempunyai akses ke dalam ruang arsip dengan mudah. Selain Dimas, Ammar dan Reno juga mempunyai akses untuk masuk ke dalam ruang arsip.


Di dalam ruang yang tak seberapa besar itu, berderet lemari-lemari arsip yang disusun berdasarkan tahun. Dimas mengunci pintu dan menyalakan lampu, agar tidak orang yang mengganggu. Ia mulai memeriksa lemari-lemari arsip itu satu-persatu. tak disangka, di kota yang terlihat tenang itu, banyak menyimpan kasus pembunuhan yang mengerikan. Dimas membuka lemari yang berisi kumpulan kasus-kasus sepuluh tahun lalu. Ia tak sengaja menemukan arsip mengenai hilangnya para penulis di kastil tua sepuluh tahun silam. Lalu, dokumen-dokumen lain juga terlihat di lemari itu. Seolah, kasus pembunuhan lain beruntun mewarnai kota dalam kurun satu dasawarsa terakhir.


Tiba-tiba, Dimas menemukan sebuah arsip kasus yang sangat menarik hatinya. Waktu terjadinya kasus itu hampir bersamaan dengan kasus hilangnya para penulis di kastil tua. Arsip itu bertuliskan UNSOLVED di sampul map. Dimas semakin penasaran, ada kasus apa rupanya hingga kasus itu tak terpecahkan? Tak banyak kasus yang tak bisa dipecahkan, tetapi kasus ini membuat Dimas sangat tertarik.


Perlahan ia membuka map berisi dokumen kasus itu. Ia menemukan foto seorang pria tampan dalam format hitam putih, beserta kronologis sebuah kejadian. Ia membaca dengan saksama. Rupanya kasus tak terpecahkan itu adalah kasus menghilangnya seorang pria pengusaha bernama Irawan Hartono. Pria itu menghilang, setelah diketahui terakhir kali berada di sebuah terminal bus antar kota. Menurut keterangan saksi. Irawan Hartono menghilang setelah bertemu dengan seorang gadis misterius. Belakangan, diketahui, bahwa gadis misterius itu bernama Vivian. Anehnya, kedua orang itu menghilang secara misterius, dan sampai saat ini tak diketahui keberadaannya. Sehingga, polisi menyatakan bahwa kasus ini sebagai UNSOLVED.

__ADS_1


Dimas mengernyitkan kening membaca kasus ini. Ia teringat akan suatu hal yang tidak asing baginya.


"Irawan Hartono ... Irawan Hartono. Hmm, nama ini seperti tak asing. Siapa ya?"


Dimas berusaha mengingat-ingat. Sejenak kemudian, parasnya berubah. Ia teringat bahwa nama Irawan Hartono ini berkaitan dengan salah satu wanita yang sedang ia selidiki.


"Astaga! Bukankah Irawan Hartono adalah ayah dari ...."


Dimas menutup arsip itu cepat-cepat. ia segera kembali ke kantornya untuk mencocokkan nama Irawan Hartono dengan data yang ada di kartu keluarga. Nama Irawan Hartono memang tak dicoret dari kartu keluarga karena keberadaannya sampai sekarang tak diketahui rimbanya. ia membuka-buka data keluarga, sampai ia terhenti pada sebuah kartu keluarga yang memuat nama Irawan Hartono.


"Tak salah lagi! Pasti dia terlibat dengan ini semua!"


***


Menyadari itu, ia urung untuk bertindak bodoh. Ia segera mencari tempat perlindungan yang sekira aman dari kejaran si sosok hitam. Harapan terakhirnya adalah bilik di ujung ruangan. Ia segera masuk ke dalam bilik yang kotor dan berdebu itu, sembari menutup pintu. Sialnya. pintu bilik tak mempunyai kunci. Namun, Ryan tak hilang akal. Ia segera menarik meja yang cukup besar yang ada di situ, untuk digunakan mangganjal pintu agar si sosok itu tak bisa masuk.


Braaak!

__ADS_1


Hampir saja Ryan terlambat, karena tiba-tiba sosok itu menggebrak pintu. Untung saja, pintu sudah dalam keadaan terganjal. Si sosok tampak berusaha membuka pintu, tetapi kesulitan karena terganjal oleh meja yang cukup berat dan besar. Ryan melihat berkeliling, berharap menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk perlindungan diri. Bukan tidak mungkin sosok itu berhasil mendobrak pintu bilik.


"Sial!" rutuk Ryan.


Tiba-tiba, di lantai yang begitu kotor, Ryan melihat sebuah potongan kayu. Ia segera meraih potongan kayu itu untuk dijadikan senjata apabila ia diserang. Memang kelihatannya tidak meyakinkan karena kayu itu terlihat agak rapuh, tetapi ini jauh lebih baik daripada melawan sosok gila itu dengan tangan kosong.


Kini, ia mencari tempat berlindung, sambil menunggu segala kemungkinan yang terjadi. Dalam bilik itu terdapat lemari kayu yang telah usang. Di bagian belakangnya sedikit berongga, sehingga memungkinkan Ryan untuk bersembunyi di sana. Ia tidak mau membuang waktu. Ia segera meringkuk di belakang lemari sembari menunggu.


Braak!


Lagi-lagi terdengar pintu didobrak, tetapi pintu seolah bergeming tak bergerak. Bagaimanapun juga, Ryan tak boleh lengah. Ia masih menunggu sosok itu masuk dengan tetap bersiap. Ia menggenggam erat potongan kayu di tangannya, sambil matanya menatap tajam ke arah pintu. Ia menunggu dengan cemas. Detak jantungnya berdegup kencang. Ia tidak pernah merasa setegang ini dalam hidupnya.


"Ayo Bangs*at! Mari kita selesaikan ini!" gumam Ryan pelan.


Braak!


Sekali lagi pintu didobrak!

__ADS_1


***


__ADS_2