
Reno memalingkan muka ke arah suara yang tengah memanggil namanya. Ia melihat Riky yang tiba-tiba saja berdiri di lorong. Reno tak menyangka kehadiran Riky yang begitu mendadak. Sosok Riky berdiri tegak, dengan sikap yang begitu tenang. Reno segera bersikap biasa saja, seolah tak ada apa pun yang terjadi.
"Kenapa pintu kamarnya, Pak?" tanya Riky penasaran.
"Oh, aku nggak tahu juga. Kunci kamarku tiba-tiba saja macet, tapi nggak apa kok. Pintu kamar di sini sudah tua dan sering macet. Kamu tidak tidur?" tanya Reno penuh selidik.
"Aku tadi hendak ke toilet, tapi tiba-tiba saja lihat Pak Reno yang mengutak-atik pintu kamar. Jadi saya kesini, siapa tahu Pak Reno butuh bantuan," ucap Riky.
Reno menggeleng, mengisyaratkan bahwa semua baik-baik saja. Riky mengangguk, kemudian berlalu dari hadapan Reno. Setelah Riky menghilang dari pandangan, ia kembali fokus dengan pintu di hadapannya. Ia masih merasa gelisah karena belum mendapat jawaban dari Ollan yang berada di dalam kamar. Belum lagi terbuka, tiba-tiba ia melihat kembali Riky setengah berlari mendekati Reno.
"Ada apa?" tanya Reno.
"Aku ... aku melihat seperti ada sosok manusia di dekat kamar mandi, berpakaian serba hitam. Pak Reno harus periksa. Mungkin itu orang yang mempunyai niat jahat!" ucap Riky terburu-buru.
"Mungkin itu Pak Paiman sedang patroli. Kamu nggak usah khawatir."
Reno berusaha menenangkan, tetapi Riky menggeleng cepat.
"Bukan ... bukan! Kurasa bukan Pak Paiman. Kalau Pak Paiman pasti aku mengenalnya. Sosok itu mencurigakan, seperti mengendap. Kurasa ia punya niat tak baik, Pak!"
Reno mengernyitkan dahi, berusaha mencerna perkataan Riky. Dari arah ruang makan tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan melengking seorang perempuan. Suara teriakan itu cukup nyaring, sehingga kedua pria itu terkejut. Reno segera bergegas menuju arah suara, dengan Riky mengekor di belakangnya.
Di ruang makan, terlihat Laura berdiri dengan paras ketakutan sambil menunjuk ke arah sosok polisi yang terbaring tak sadarkan diri di lantai. Reno terperanjat melihat pemandangan itu, ia tidak menyangka kalau polisi yang bertugas jaga malam itu terbaring dalam keadaan tak sadar. Ia segera mengecek kondisi polisi yang tak sadar karena terbius itu.
"Coba cek ruang tengah dan beranda depan!" perintah Reno kepada Riky.
"Ba-baik!"
Riky segera pergi menuruti perintah Reno. Sementara, teriakan Laura tadi mengagetkan penghuni rumah isolasi yang lain. Mereka berdatangan ke ruang makan, melihat apa yang terjadi. Yang pertama kali datang adalah Ammar. berikutnya adalah Henry, disusul Rianti, kemudian Guntur yang datang belakangan. Mereka semua terkejut melihat sosok polisi yang terbaring di lantai ruang makan. Tak lama, Pak Paiman juga turut hadir di tempat itu.
__ADS_1
Tubuh polisi itu segera diangkat ke atas sofa, berusaha untuk disadarkan. Rianti mengambil segelas air untuk polisi yang tak sadarkan diri itu, kemudian Reno memercikan sedikit air di muka si polisi agar segera sadar.
"Toni ... Toni! Sadar!" ucap Reno.
Sepertinya usaha Reno belum membuahkan hasil. Ammar mengambil alih, menepuk-nepuk pipi polisi itu sambil memanggil namanya. Namun, usaha itu juga belum berhasil.
Di beranda depan, ternyata Riky juga menemukan sosok polisi lain yang juga dalam keadaan tak sadar. Mereka segera membawa tubuh polisi itu ke atas sofa di ruang tengah. Semua berkumpul di situ, berusaha membuat para polisi penjaga itu kembali sadar.
"Mereka dibius!" gumam Reno.
"Dibius? Kok bisa, Pak? Ada yang membawa cairan obat bius, gitu?" tanya Henry.
Reno menggeleng, kemudian memberi isyarat pada Ammar untuk menjaga dua polisi yang sedang tak sadar itu. Tiba-tiba ia teringat akan Ollan yang belum ditemukan. Ia kembali menuju kamar yang ditempati Ollan, dan mengetuk pintu kamar dengan keras, sambil memanggil-manggil nama Ollan.
"Ollan! Ollan!"
"Mengapa kau tidak buka pintunya? Aku kira kau sudah mati!" ucap Reno.
"Ma-maaf, Pak. Aku sangat takut tadi. Aku bersembunyi di kolong ranjang dan nggak berani keluar. Ada seseorang yang terus mengintaiku di jendela kamar. Ia berusaha merusak jendela dan memecahkan kaca, tetapi tidak berhasil. Aku sama sekali tak berani bergerak, sehingga aku hanya meringkuk di kolong ranjang," ucap Ollan.
"Astaga! Tapi kamu nggak apa-apa kan?" tanya Reno.
Ollan menggeleng lemah. Peristiwa yang ia alami di kamar Reno barusan membuatnya sangat syok. Ia masih gemetar dan tak tahu harus bagaimana. Reno segera menenangkan Ollan, agar pria itu tak bertambah panik.
"Sekarang kau istirahat saja, Ollan. Besok pagi-pagi, kamu boleh meninggalkan rumah isolasi ini. Kamu jangan khawatir," ucap Reno.
"Benarkah, Pak?"
Reno mengangguk. Ollan bernapas lega mendengar ucapan Reno. Baginya , tak ada tempat yang lebih nyaman daripada apartemennya sendiri. Ia merasa, semua tempat yang ai tempati berubah menjadi mimpi buruk. Ia ingin segera kembali ke apartemen, menikmati ranjang busanya sendiri.
__ADS_1
***
Langit ufuk timur terlihat memerah, pertanda matahari sebentar lagi terbit. Dimas masih terbaring di atas tempat tidurnya dengan gelisah. Ia menatap langit-langit kamarnya, sambil mengurai beberapa rentetan kejadian yang muncul tiba-tiba dalam otaknya. Pagi ini juga, ia harus pergi ke rumah isolasi, untuk melaporkan hasil-hasil temuannya. Tentunya, hal sepenting ini tak bisa dibicarakan lewat telepon, karena ia membawa bukti-bukti yang menguatkan.
Untuk lebih menguatkan, ia pergi ke kantor polisi untuk membongkar lagi arsip dan biodata sosok yang ia anggap sebagai dalang dari segala kekacauan ini. Ia tahu, selama ini arsip itu hanya dibaca sekilas, karena memang sangat tebal. Ia berniat menelusuri profil dan data sosok ini dengan lebih mendalam. Sambil membuka-buka catatan profilnya, barulah Dimas manggut-manggut.
"Kini semuanya masuk akal. Ya, pembunuhan ini saling berkaitan satu sama lain. Daniel adalah pembuka, dan aku yakin, si pembunuh itu masih memburu korban-korban lain yang dianggap bersalah dalam hidupnya," gumamnya.
Ia melihat deretan foto-foto pribadi sosok itu, bahkan ia sempat mencari di internet, kalau-kalau ada informasi yang tak ia tahu sebelumnya. Pencariannya membuahkan hasil. Sebuah arsip berita sepuluh tahun lalu membuatnya begitu tercengang. Sosok itu ternyata pernah dirawat di sebuah rumah sakit khusus untuk menangani orang-orang yang bermasalah kepribadiannya. Atau dengan kata lain, ia mempunyai gangguan mental. Ia diberitakan pernah mengamuk di rumah sakit itu, dan hendak melukai salah seorang pasien.
Dimas memeriksa catatan diagnosis dari dokter yang menyebutkan bahwa orang ini menderita depresi akut, takut kehilangan yang berlebihan, sehingga bisa bertindak nekat yang membahayakan jiwa orang lain untuk mempertahankan hal-hal yang dianggap penting dalam hidupnya. Bahkan dalam catatan rekam medisnya, orang ini berusaha melukai pasien lain di rumah sakit karena mempertahankan hal yang sepele. Seorang dokter pernah memergoki sosok itu hendak memotong jari-jari penghuni rumah sakit yang lain. Tentunya hal itu sangat mengerikan. Dimas sempat heran, lalu mengapa orang seperti ini dibiarkan berkeliaran?
"Ia dinyatakan sembuh beberapa bulan setelah perawatan secara intensif, dan sahabatnya menjamin bahwa dia akan baik-baik saja. Keluarga sudah lepas tangan, jadi sahabatnya yang mengurusinya."
Dimas semakin antusias membaca catatan dokter itu. Ia benar-benar ingin tahu latar belakang si sosok yang dicurigai sebagai pembunuh ini. Dimas kembali berpikir, jadi siapa sahabat si sosok ini sebenarnya? Ia terus menelusur kembali data-data yang tertumpuk dalam arsip tebal itu.
Tiba-tiba sebuah foto hitam putih menunjukkan sosok itu di masa remaja sedang berfoto berdua dengan sahabatnya sambil tersenyum bahagia. Dibalik foto itu tertera tulisan 'Best Friend Forever'. Walaupun itu foto lama, Dimas segera mengenali siapa sebenarnya sahabat yang dimaksud.
"Oh, Tuhan! Jadi begitu ceritanya! Aku harus segera ke rumah isolasi, sebelum semua isi rumah itu akan dihabisinya!"
***
__ADS_1