Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
199. Ancaman


__ADS_3

Gerry menatap tajam ke arah Ferdy. Keduanya saling berhadapan. Ferdy sepertinya merasa terpojok. Penghuni lain juga menatap tajam ke arah dirinya, seolah menyalahkan Ferdy. Ya, Ferdy memang bersalah. Ia mendadak panik melihat segenap pasang mata yang mengancam dirinya.


“Jadi bagaimana, Fer? Kamu pikir aku akan mati terbakar di dasar jurang itu? Kamu salah, sepupu palsu! Kamu salah! Karena rupanya Tuhan masih sayang padaku dan menyelamatkanku dari kejahatan berencanamu itu. Kamu tahu, ini adalah momen yang amat menyenangkan bagiku. Aku bisa membongkar semua rahasiamu. Kini apa yang hendak kamu jelaskan?” cecar Gerry.


“Kamu ... kamu nggak mungkin masih hidup. Nggak ada seorang pun bisa hidup dari jurang itu!” ucap Ferdy lantang.


“Itu pikiran bodohmu, Fer! Kamu hanya menggunakan logika dalam berpikir, tetapi kamu melupakan ada kekuatan yang lebih dahsyat daripada itu. Cinta, kasih sayang, dan kepedulian. Itu semua nggak kamu punyai dan telah mati di hatimu. Hatimu sakit, dan kamu berubah menjadi monster pembunuh mengerikan. Sekarang kamu akan berkata apa? Semua kedok dan topengmu telah tersingkap. Semua kejahatan dan kelicikanmu sudah terbongkar!” Gerry masih terus mencecar.


Ferdy semakin panik mendengar itu. Matanya memerah menahan marah, gerahamnya menyatu saling merapat. Namun, ia sepertinya tak dapat lolos dari mereka semua. Dalam keadaan terjepit seperti itu, ia nekat melakukan sesuatu yang di luar dugaan.


Tiba-tiba, ia mengeluarkan sebilah benda tajam yang ia curi dari dapur, kemudian ia tarik paksa lengan Adinda yang duduk di sebelahnya, sehingga gadis itu terkejut. Dalam waktu sepersekian menit, Ferdy meletakkan benda tajam itu ke leher Adinda. Gadis itu sontak merasa takut. Parasnya memucat.


“Jangan ada yang mendekat! Kalau satu langkah saja kalian mendekat, maka tak segan-segan aku menggorok urat leher gadis ini!”


Ferdy mengancam dengan tatapan nanar. Adinda semakin ketakutan. Semua yang hadir di ruang tamu sontak juga kaget. Mereka tidak menduga kalau Ferdy akan senekat itu. Mereka hanya bisa tercekat, tetapi bingung harus berbuat apa. Mereka mengkhawatirkan keselamatan Adinda.


Reno dan Dimas yang melihat itu juga sama sekali tidak menyangka kalau Ferdy akan melakukan hal itu. Reno maju selangkah, sambil mengisyaratkan Ferdy untuk tenang. Pria muda itu terlihat panik, sambil menekan pisau ke leher Adinda.


“Jangan gegabah, Fer! Adinda tidak ada sangkut-pautnya dengan ini semua. Lepaskan dia! Kamu menyukai gadis ini kan? Lepaskan dia. Kalau kamu sayang dia, kamu harus melepaskan dia,” bujuk Reno.


“Lep-lepaskan aku, Fer. Kumohon. Aku nggak mau mati,” tangis Adinda.


“Diam! Diam kalian semua! Aku nggak segan-segan bunuh gadis ini. Cukup lah kalian berpura-pura di belakangku. Ya, aku memang sakit hati dengan kalian semua. Sejak kecil tak ada yang menyukaiku. Kalian semua mengejek aku karena aku hanya anak seorang tukang daging di pasar. Jangan kira aku bisa melupakan penderitaan itu. Kini aku mengerti, bahwa rasa sakit itu memang harus dibayar. Jenny ... ya aku memang menyukainya. Tapi saat dia bilang tak bisa meninggalkan Rudi, aku sangat sakit hati, padahal dia tengah mengandung anakku. Alma sama juga dengan Jenny, ia lebih memilih Gerry daripada aku. Aku lelah! Aku lelah dipermainkan. Lalu Nayya bahkan menampik rasa yang aku punya pada dirinya. Satu-satunya yang kuharapkan adalah Vera. Tetapi aku tak benar-benar menyukainya. Adinda ... ya Adinda! Dengar Dinda, aku pun tak terlalu menyukaimu, jadi aku tak akan menyesal kalau saat ini aku memotong lehermu!” ucap Ferdy di antara napasnya yang naik-turun.


Adinda semakin ketakutan. Air matanya luruh, tetapi ia tak bisa bergerak. Selain cengkeraman lengan Ferdy yang kuat, ancaman pisau masih ia rasakan menempel kuat di lehernya.

__ADS_1


“Lepaskan dia, Fer! Ini nggak adil buat dia. Kalau kamu mau dihargai sebagai manusia, kamu harus bertindak layaknya manusia. Mereka sama sekali tak ada maksud mengejekmu. Yang mereka lakukan adalah kenakalan anak-anak di masa kecil. Jangan anggap serius!” Reno masih berusaha membujuk.


“Aku tidak butuh mendengar kata-katamu! Kamu tidak merasakan yang aku alami. Kamu nggak paham bagaimana rasanya saat kamu harus menyendiri di kamar mandi sekolah sementara teman-temanmu terus-terusan mengejek. Sakit itu masih kurasakan hingga sekarang. Kemudian kedua orangtuaku meninggal, dan aku diasuh oleh keluarga Gerry. Ya, mereka memang baik, tetapi aku tetap bukan bagian dari mereka. Aku adalah anak yang berbeda!” ucap Ferdy dengan penuh emosi.


“Tidak Fer! Kamu salah. Papa dan Mama sangat sayang padamu juga, tapi kamu salah mengartikan. Papa dan Mama tahu kamu sering curi uang di kamar Mama, dan bahkan barang-barang pribadiku, tetapi kami diam, karena kami sayang padamu. Jadi beginikah balasanmu? Kamu sudah mengecewakan kami ....” Gerry ikut menambahkan.


“Sudahlah! Aku tidak mau mendengar penjelasan apa pun lagi. Biarkan aku pergi bersama gadis ini. Aku tidak menyerahkan diriku pada kalian! Tidak akan! Aku bosan menjadi pecundang. Aku mau jadi pemenang!” pekik Ferdy.


“Dengan cara seperti ini, kamu sudah menjadi pecundang, Fer!” ucap Dimas.


“Aku tidak peduli. Aku mau pergi! Buka pintu itu, cepat! Jangan coba-coba ikuti aku! Aku bersumpah akan memotong lehernya kalau kalian mendekatiku! Cepat!”


Semua masih dalam keadaan tegang. Reno memberi isyarat pada Pak Paiman untuk membuka pintu depan, karena memang sejak tadi dikunci. Di bagian lain, rupanya Wandi cukup sigap. Ia merekam semua kejadian dengan sebuah kamera. Kejadian di ruang tamu itu bisa menjadi sumber berita yang paling dramatis.


“Bagus. Sekarang berikan kunci mobilmu, Dimas! Sekarang!” gertak Ferdy.


“Jangan bodoh, Fer! Kamu sedang berhadapan dengan polisi sekarang ini!” Dimas menolak perintah Ferdy segera.


“Baik. Kalau begitu aku tidak akan main-main lagi!”


Kali ini Ferdy menekan pisau makin kuat ke leher Adinda, sehingga gadis itu menjerit kesakitan. Ia merasakan tajamnya pisau mulai mengiris kulitnya.


“Ti-tidak! Jangan Ferdy! Komohon ... jangan!” pinta Adinda.


“Kalau kamu mati, yang salah polisi itu karena keras kepala. Jadi silakan kalian buat pilihan. Melihat gadis ini mati atau menyerahkan kunci mobil?” ucap Ferdy.

__ADS_1


Dimas terdiam. Sepertinya memang ia dihadapkan pilihan sulit. Ia mengalihkan pandangan ke arah Reno, seolah minta pendapat. Reno mengisyaratkan Dimas agar memberikan saja kunci mobil itu. Ia yakin, bahwa Ferdy tak akan bisa lari jauh.


“Oke, aku akan berikan kuncinya! Jangan sakiti Adinda!"


Dimas merogoh saku celana, mengambil kunci mobil.


“Serahkan pada Pak Paiman, dan biar Pak Paiman yang menyerahkan padaku!”


Ferdy memberi instruksi. Dimas tak punya pilihan lain. Ia menyerahkan kunci kepada Pak Paiman, lalu pria paruh baya itu memberikan kunci pada Ferdy. Segera saja Ferdy merebut kunci dari tangan Pak Paiman, lalu mulai bergerak mundur kembali.


“Jangan ada yang bergerak kalau kalian tak ingin melihat gadis ini mati!” ancam Ferdy.


Ferdy bergerak menjauh melewati teras. Sementara Reno dan Dimas berjalan selangkah demi selangkah mengikuti langkah Ferdy yang makin menjauh.


“Yang lain tetap di sini saja. Jangan sampai Ferdy berbuat nekat!” perintah Dimas.


Alex, Lena, dan Rasty hanya bisa mengangguk. Mereka seperti kehilangan kata-kata melihat semua kejadian itu di depan matanya. Mereka tak menyadari kalau selama ini mereka berinteraksi dengan seorang pembunuh yang bisa menghabisi kapan saja.


Ferdy telah sampai di halaman depan yang banyak ditumbuhi pohon, sementara Dimas dan Reno segera bergerak mengikuti dengan perlahan, agar Ferdy tak berbuat nekat.


“Panggil beberapa personel polisi yang terdekat untuk ke sini. Dia harus segera diringkus! Cepat!” bisik Reno kepada Dimas.


Dimas mengangguk, kemudian segera melaksanakan perintah Reno. Perlahan, Ferdy sudah mendekat sampai ke arah jalan raya. Reno berharap, bantuan segera datang sebelum Ferdy bergerak menjauh dari lokasi kejadian.


***

__ADS_1


__ADS_2