
Di antara rerimbunan pohon-pohon teh yang tumbuh saling berhimpit, tubuh Edwin tersungkur begitu saja dalam keadaan lemah. Beberapa saat tadi, ia merasakan benturan hebat di kepalanya, sehingga mata berkunang-kunang dan membuatnya tak sadarkan diri. Ia membuka mata perlahan, mendapati dirinya terkepung pohon-pohon teh. Tak ada siapa pun di situ. Seingatnya, tadi ia sedang mencari botol minum yang terjatuh, kemudian kejadian berlangsung cepat.
Ia mencoba menengadahkan muka ke arah langit yang berwarna biru cerah, dengan tebaran-tebaran awan serupa kapas di sana-sini. Matahari bersinar terik, sehingga matanya terasa silau. Ia mencoba untuk berdiri, melihat sekeliling, tak ada siapa-siapa di situ. Mengapa ia ditinggalkan sendirian di tempat ini? Ia mencoba untuk berdiri, setelah berhasil menyeimbangkan posisi tubuhnya.
Sejenak ia teringat akan Rosita. Bukankah tadi ia pergi jalan-jalan bersamanya? Kemana dia pergi? Edwin mencoba berjalan menuju jalan setapak yang ada di situ. Namun, ia terkejut karena jalan setapak yang ada tampak berbeda dengan jalan setapak yang ia lalui tadi pagi. Mungkin ia dipindahkan ke bagian lain dari kebun teh. Jadi bagaimana ia harus menemukan jalan pulang? Suasana sekitarnya tampak asing.
"Aku ... aku harus menemukan kastil segera," gumam Edwin.
Ia tak mau ambil pusing di mana ia berada sekarang, yang jelas ia menuruti kata hati kemana ia harus melangkah. Tujuan utamanya adalah jalan raya, sebab dari jalan raya akan memudahkan jalan menuju kastil. Namun, ia tidak tahu arah jalan raya yang sebelah mana. Ia hanya menuruti langkah kakinya saja. Ia harus tetap waspada, bisa saja orang yang memukulnya tadi kembali kapan saja. Ia memilih untuk berjalan agak merunduk agar keberadaannya tak mudah diketahui.
Namun, beberapa saat ia berjalan, ia merasa semakin asing di tengah kebun teh itu. Ia tidak menemukan petunjuk apa pun yang bisa mengantarnya ke arah jalan raya, padahal cahaya matahari kian menyengat ubun-ubun. Ia kembali menengadahkan muka ke atas, kemudian berusaha mencari naungan, karena kulitnya terasa tersengat. Di ujung kelokan ia melihat sebuah pohon yang sepertinya cukup nyaman untuk digunakan bernaung. Setengah berlari ia mencapainya, kemudian duduk di bawah pohon.
Sementara, di tempat awal Edwin tergeletak tadi, sosok misterius sudah sampai di sana. Ia terlihat gusar, karena tak melihat lagi sosok Edwin. Padahal tadi ia hanya tinggal sebentar untuk mengurus Niken, kini tau-tahu Edwin sudah menghilang. Padahal ia tadi yakin kalau ia sudah memukul kepala pria itu kuat-kuat, tetapi mengapa ia masih bisa sadar, bahkan menghilang?
"Haaahh!"
Sosok itu berteriak untuk membuang rasa kesalnya. Sebenarnya ia hendak mencari keberadaan Edwin, tetapi ketika dilihatnya hari semakin siang, ia harus segera kembali ke kastil untuk merubah wujudnya. Ia harus bisa tampil biasa di hadapan penghuni lain, jangan sampai mereka menaruh curiga padanya. Kalau terlalu lama di luar, bisa-bisa yang lain bisa mencurigainya.
***
__ADS_1
Di dalam kastil, Reno tampak gelisah menunggu kedatangan paramedis yang telah dihubungi oleh Mariah. Ia berjalan mondar-mandir di bagian tengah kastil yang luas. Sejenak ia melihat berkeliling. Ia merasa hari ini kastil sedikit lengang. Ia hanya melihat Ryan yang tiba-tiba muncul dari dalam ruangan kamarnya, Ryan tampak salah tingkah bertemu dengan Reno.
"Pada kemana para penghuni kastil. Mengapa tampak sepi sekali hari ini?" tanya Reno.
"Eh ... kemana ya? Tadi saya sempat melihat Rosita dan Edwin keluar kastil pagi-pagi dengan mengenakan pakaian olahraga. Terus Mariah juga pergi ke kota kan? Jeremy ... mungkin di kamarnya, karena aku tidak melihat sejak pagi. Lalu ... Maya dan Lily aku kurang tahu juga kemana mereka. Nadine saat ini sedang berada di dalam kamar karena kurang enak badan. Ia butuh dokter. Kulihat lehernya belum kunjung sembuh," ucap Ryan.
"Maksudmu lehernya infeksi. Begitu?" tanya Reno.
"Sepertinya sih. Atau kalau tidak, saya boleh minta obat agar luka di lehernya itu lekas kering," kata Ryan.
"Baik, nanti aku mintakan paramedis. Ngomong-omong, kamu bilang Edwin dan Rosita keluar kastil? Mengapa mereka tidak izin kepadaku? Pada kemana meeka? Bukankah aku sudah mengimbau jangan kemana-mana. Pada keras kepala. Perasaanku jadi nggak enak .... "
Baru saja ia hendak keluar, ia melihat sosok Rosita dengan paras yang lesu, menundukkan kepala, berjalan dari arah jalan raya. Ia sendirian, tanpa Edwin bersamanya. Tentu saja hal ini membuat Reno bertambah heran dan penasaran. Ia mendekati Rosita untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
"Ada apa Ros? Mana Edwin?" tanya Reno.
Rosita hanya menggeleng. Ia tidak menjawab, tetapi parasnya menampakkan kesedihan yang mendalam. Ia berusaha tenang, tetapi parasnya tak dapat menutupi kegusarannya.
"Edwin menghilang," kata Rosita kemudian.
__ADS_1
"Menghilang bagaimana?" tanya Reno.
"Kami tadi pagi berjalan-jalan ke kebun teh untuk menikmati pemandangan. Nah, di tengah perjalanan kami kehilangan botol minum, padahal kondisi kami sangat haus. Edwin mencari botol minum itu, karena siapa tahu botol minum itu terjatuh saat perjalanan. Aku menungguinya di dekat bukit, tetapi aku menunggu sampai beberapa menit hingga setengah jam, Edwin belum kembali juga. Aku akhirnya memutuskan untuk mencarinya dan menelusuri jalan yang kami lalui tadi, tetapi Edwin tak ada. Firasatku langsung tidak enak dan aku berpikir yang bukan-bukan. Sampai saat ini Edwin belum berhasil saya temukan. Bahkan-bahkan tanda-tanda keberadaannya pun juga nggak ada," tutur Rosita dengan sedih.
"Astaga! Kita harus cari dia! Ayo antar aku ke tempat itu, Ros!" ajak Reno.
"Aku sudah mencarinya kemana-mana, Pak. Tetapi nggak ada hasil. Kurasa sia-sia saja kita mencari dia," ajak Rosita.
"Aku yakin Edwin masih berada di sekitar tempat itu. Aku khawatir dia tersesat atau entah kemana. Kondisi kastil sedang sepi, ada Ammar dan Juned di sana. Aku akan bantu kamu cari Edwin. Ayo Ros!" ajak Reno.
"Tapi .... "
"Sudahlah, Ros! Ayo! Waktu kita nggak banyak. Semakin kita menunda waktu, semakin berbahaya nasib Edwin. Segala sesuatu bisa saja terjadi. Kita nggak boleh mengulur-ulur waktu, Ros!"
Rosita terdiam sejenak. Dilihatnya Reno sudah berjalan mendahuluinya. Mau tidak mau, Rosita mengikuti langkah Reno berjalan menyusur jalan raya menuju kebun teh. Reno memeriksa setiap jengkal jalan yang dilalui mereka tadi, tetapi tanda-tanda keberadaan Edwin seolah tidak ada.
"Edwiiin!" teriak Reno.
Beberapa kali teriakan Reno tak terjawab, hingga Reno makin cemas. Namun, ua tidak patah semangat mencari Edwin, sampai ke tiap jalan setapak berukuran kecil. Ia khawatir, Edwin disembunyikan di balik rerimbunan pohon teh.
__ADS_1
***