
Sirene ambulans kembali meraung-raung ketika mobil putih berlambang palang merah itu meninggalkan Dimas dan Rasty di pinggir jalan. Paras Rasty masih diliputi rasa khawatir luar biasa. Ia terus menatap kepergian mobil putih yang membawa Rudi ke rumah sakit. Dimas hanya menghela napas, sembari menepuk pundak gadis itu.
“Dia akan baik-baik saja. Kupastikan ia akan segera ditangani oleh petugas media. Kamu nggak perlu cemas berlebihan. Rudi akan kembali pulih,” ucap Dimas.
Rasty mengangguk perlahan. Ia berharap apa yang dikatakan Dimas itu benar. Ia sebenarnya tidak tega melihat Rudi dalam keadaan sekarat seperti itu.
“Pak Dimas harus bisa menemukan pelakunya. Harus!” ucap Rasty dengan geram.
“Jangan khawatir. Nama tersangka sudah kukantongi, tinggal memperkuat bukti saja. Aku pastikan dia akan segera tertangkap dalam dua atau tiga hari ini. Semoga dia tidak membuat ulah lagi,” kata Dimas.
“Tapi kenyataannya sekarang dia membuat ulah, Pak!”
“Aku paham, Ras! Kuharap peristiwa yang menimpa Rudi ini adalah yang terakhir. Mari kita kembali ke rumah. Aku ingin mengumpulkan para penghuni rumah siang ini juga. Ada hal penting yang ingin kudiskusikan, sekaligus memancing si pembunuh itu. Aku ingin tahu reaksinya saat aku mengungkapkan alasan-alasan kecurigaanku,” kata Dimas.
“Apakah Bapak mencurigai aku sebagai tersangka juga?” tanya Rasty ingin tahu.
“Awalnya iya, karena kamu mempunyai motif kuat dalam pembunuhan Jenny. Semua juga paham kalau kamu tidak menyukai Jenny karena telah merebut Rudi darimu. Namun, setelah penyelidikan lebih lanjut, kami sebenarnya telah mencoretmu dari daftar tersangka. Namun tak apa, aku benar-benar ingin melihat reaksi si pembunuh ini,” ungkap Dimas.
“Terima kasih, Pak. Terima kasih sudah mengeluarkan namaku dari daftar tersangka. Aku memang membenci Jenny dulu, tetapi aku bukan pembunuh. Aku tidak senekat itu pada Jenny. Bahkan saat kematian Jenny, aku turut sedih. Bagaimanapun, kami sesama perempuan. Tentu dapat saling merasakan perasaan masing-masing,” terang Rasty.
“Oke. Kalau gitu mari kta sekarang masuk!” ajak Dimas.
Rasty mengangguk. Keduanya kembali menyusuri jalan setapak kecil menuju rumah isolasi. Rasty berjalan dengan perasaan enggan. Menurutnya, rumah isolasi itu berasa ada yang kurang kalau tak ada Rudi. Namun, ia tetap harus menerima kenyataan yang telah terjadi. Mau tidak mau, ia harus bisa menerima keadaan yang berlaku.
Mereka sudah hampir tiba di gerbang utama rumah, ketika tiba-tiba Pak Paiman tergopoh menyambut mereka dengan paras cemas. Di tangannya ada sebuah gembok.
“Pak Dimas! Gawat Pak!” ucap Pak Paiman terburu-buru, berkejaran dengan napasnya.
“Gawat kenapa, Pak?” tanya Dimas.
“Tadi saya baru mengecek gembok pintu depan, ternyata ada yang merusaknya. Entah siapa saya tidak tahu. Kejadiannya pas kita kerja bakti di areal belakang. Sebab tadi pagi saya sendiri yang mengunci gembok itu. Sepertinya ada penyusup ini Pak. Saya kok ragu anak-anak bisa membobol gembok seperti ini,” cerita Pak Paiman.
“Penyusup? Pak Paiman yakin?” tany Dimas.
“Jadi gini, tadi saya mengecek gembok itu secara langsung, tetapi gembok itu masih utuh. Tetapi ketika saya membuka pintu untuk petugas paramedis, saya baru sadar bahwa gembok itu telah rusak. Mungkin kita perlu waspada, Pak. saya khawatir kalau si penyusup itu berada di dalam rumah.”
“Oke ... oke. Nanti kita akan cek apakah memang benar ada penyusup dalam rumah. Sekarang saya mau fokus untuk menyelidiki tentang racun yang tiba-tiba berada dalam air minum,” ucap Dimas seraya melangkah masuk ke area halaman.
Setelah masuk ke dalam, Dimas segera mengumpulkan semua penghuni ke ruang tamu. Ia benar-benar berniat ingin mengusut peristiwa yang baru saja terjadi di rumah isolasi. Ia segera memerintahkan semua penghuni duduk di sofa ruang tamu, sementara dia sendiri berdiri sambil mondar-mandir dengan gelisah. Tampak hadir pula Gilda di situ, tetapi ia tidak duduk bersama penghuni lain. Ia hany berdiri di dekat jendela sembari menunggu apa yang akan disampaikan oleh Dimas.
“Siapa lagi yang kita tunggu?” tanya Adinda sambil melihat ke arah penghuni lain.
__ADS_1
Terlihat Lena yang duduk dengan cemas. Ia merasa semua sedang menghakimi perbuatannya. Sementara di sisi lain, ada Rasty yang menampakkan kesedihannya. Alex dan Ferdy juga terlihat di situ, tetapi mereka tampak biasa saja, tanpa ekspresi apa pun.
Semua tidak menyangka, kalau rumah isolasi ini kini penghuninya makin berkurang. Setelah Miranti tewas di kamarnya, kini giliran Rudi yang sedang berjuang untuk hidup di rumah sakit. Kejadian-kejadian beruntun tersebut itu semakin membuat mereka dicekam rasa cemas dan takut. Mereka tak mau bernasib serupa dengan Miranti atau pun Rudi.
“Maaf, aku mengumpulkan kalian di tempat ini, karena kurasa ini perlu kita lakukan. Seperti yang sudah kita alami pagi tadi, kita melihat sendiri bahwa pembunuh itu menggunakan cara licik untuk meracuni Rudi. Ya, kini kalian bisa tahu sendiri bahwa pembunuh ini menghalalkan segala cara untuk memenangkan ambisinya. Sekarang mari kita runtut urutan kejadian tadi pagi. Aku mau minta keterangan dari kamu Adinda. Terutama tentang air yang kamu ambil dari dapur, apakah ada yang mencurigakan?” tanya Dimas.
“Tidak Pak. Saya bangun pagi hari ini karena saya tahu bahwa akan ada acara kerja bakti. Saya tidak pergi ke dapur sama sekali. Setelah sarapan saya kembali ke atas, dan saya baru kembali ke dapur ketika hendak berangkat. Saya lihat ada botol-botol minum yang sudah disiapkan di meja dapur, segera saja saya ambil beberapa dan saya masukkan ke dalam tas. Saya tidak punya pikiran apa-apa, karena saya pikir Bu Mariyati sudah menyiapkan untuk kami. Itu aja sih.”
Adinda menerangkan, sementara yang lain menyimak dengan penuh perhatian. Dimas mengangguk-angguk mendengar keterangan dari Adinda.
“Kalau kamu Rasty? Dari botol minum yang kamu bawa, kurasa tidak mengandung racun, karena tadi kulihat Gilda minum dari botol yang kamu bawa. Apakah ada hal lain yang mencurigakan?”
“Sama seperti Adinda, Pak. Saya juga nggak milih botol-botol mana yang harus saya bawa. Saya asal ambil saja, dan tidak menaruh rasa curiga sedikit pun,” tambah Rasty.
“Lena?”
Dimas berkata sambil menatap tajam ke arah Lena. Gadis itu tampak terkejut dan tergagap. Ia terlihat cemas.
“Aku nggak ngerti bagaimana ada racun di botol minum yang saya bawa, Pak. Sungguh bukan aku yang menaruh racun di situ. Aku hanya berpikir, bagaimana jika aku yang minum air itu, tentu akan bernasib sama dengan Rudi. Sama seperti Rasty dan Dinda, aku ... aku hanya mengambil begitu saja botol yang ada di meja. Namun, aku mengambil urutan terakhir dan tersisa tiga botol di atas meja, jadi kuambil semua.” Lena menjelaskan.
“Jadi total ada berapa botol yang kalian lihat di meja itu?” tanya Dimas.
“Mungkin saya yang ambil pertama kali. Di sana saya lihat ada enam botol minuman. Saya ambil 2 botol dan saya masukkan begitu saja ke dalam tas,” ucap Adinda.
“Bukankah seharusnya botol minuman itu tinggal dua?” tanya Dimas.
“Iya seharusnya tinggal dua. Tetapi saya lihat di meja dapur itu ada 3 botol. Saya pikir, botol itu memang harus dibawa ketiga-tiganya, jadi saya masukkan tiga botol minum ke dalam tas,” ucap Lena.
“Kalau begitu total ada 7 botol dong. Kalian yakin, jumlah botol awalnya ada 6?” tanya Dimas.
“Iya Pak, saya yakin nggak salah hitung. Memang ada 6 botol pada awalnya. Saya ambil dua, jadi tinggal empat. Iya kan, Ras? Kamu lihat ada empat botol nggak?” tanya Adinda sambil menoleh ke arah Rasty.
“Iya aku lihat ada 4, aku ambil dua jadi tersisa dua botol,” jawab Rasty.
“Tapi ... tapi kulihat tersisa ada 3 botol di meja. Jadi botol milik siapa yang satu lagi?” ucap Lena.
Dimas manggut-manggut mendengar penjelasan mereka. Kini ia mempunyai gambaran tentang asal-muasal minuman misterius itu. Ia menduga ada yang menyelinap ke dapur, kemudian menaruh botol minuman berisi racun ke atas meja. Namun, bisa saja di antara mereka ada yang berbohong. Dimas akan menyelidiki hal ini lebih lanjut.
“Aku akan mencari tahu tentang botol minum yang satu lagi itu, karena memang kulihat kemasannya sedikit berbeda. Botol yang berisi racun itu kemasannya agak kusam dibanding yang lain, seperti botol air yang sudah lama dipakai. Mungkin kita tanya Bu Mariyati tentang hal ini,” kata Dimas.
“Aku tidak melihat Bu Mariyati dari pagi tadi. Kemana ya?” tanya Alex.
__ADS_1
“Mungkin lagi di lantai atas,” jawab Ferdy.
“Hmm. Nanti aku akan bertanya pada Bu Mariyati. Yang jelas siapa pun pelakunya, aku pasti akan tahu. Kita lihat dalam dua atau tiga hari ini. Jangan dikira kami diam dan tak tahu siapa yang bertanggungjawab akan ini semua. Aku sudah mengantongi namanya, tinggal sedikit bukti. Kita juga masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui jenis racun yang dipakai untuk meracuni Rudi. Nanti aku akan buka semua tabir gelap dari semua ini,” ucap Dimas.
Semua terdiam mendengar perkataan itu. Namun muncul pula perasaan lega, karena paling tidak semua teka-teki ini akan terjawab. Bagaimanapun, paras tak dapat dibohongi. Saat ini si pembunuh yang ikut duduk dalam pertemuan itu, tengah menunjukkan kecemasan luar biasa. Ia berusaha tenang, tetapi perkataan Dimas sungguh membuatnya khawatir apabila kedoknya terbongkar. Apalagi dilihatnya sekilas, Dimas tampak melirik tajam ke arahnya, seolah dia tahu apa yang sudah dilakukannya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki Pak Paiman yang tergesa masuk ke dalam ruang tamu. Parasnya tampak cemas. Semua yang ada di ruangan itu menatap lelaki paruh baya itu dengan heran, sambil bertanya-tanya apa gerangan yang telah terjadi.
“Maaf ... maaf kalau saya mengganggu. Gawat Pak! Ini gawat!” kata Pak Paiman.
“Ada apa lagi, Pak?” tanya Dimas.
“Rumah ini memang kedatangan seorang penyusup dari luar. Saya lihat kunci gembok gerbang depan dirusak, kemudian tadi barusan saya mencari istri saya, ternyata dia dikunci di balkon atas,” kata Pak Paiman dengan terburu-buru.
“Astaga! Pak Paiman yakin kalau memang penyusup dari luar yang melakukan itu?” tanya Dimas.
“Ya, itu benar!”
Tiba-tiba terdengar suara Wandi yang tiba-tiba muncul pula di ruangan itu. Paarsnya tampak menahan kegeraman.
“Saat kalian tadi pergi ke area belakang rumah, aku sempat memergoki seorang pria asing sedang berusaha membuka pintu kamar di lantai bawah. Waktu aku tegur, dia kabur sambil memukul mukaku. Aku berhasil mengejar, ternyata dia bersembunyi di balkon. Aku kunci dia di balkon, tetapi rupanya balkon dibuka oleh Bu Mariyati, sehingga Bu Mariyati yang kini dikunci di balkon sana,” kata Wandi menerangkan.
“I-iya batul, Pak. Tadi istri saya juga cerita seperti itu. Ada seorang laki-laki nggak dikenal menguncinya di balkon,” tambah Pak Paiman.
“Lalu apa tujuan dia masuk ke dalam rumah ini?” tanya Dimas.
“Waktu aku tanya, katanya dia sedang mencari seseorang, dan tidak ada maksud jahat. Tetapi pertanyannya mengapa masuknya secara diam-diam? Mungkin saat ini dia ada di lantai dua atau entahlah. Rumah ini luas, jadi bisa jadi dia ada di mana saja,” Wandi menerangkan.
“Hmm. Berarti posisi dia sekarang ini masih di sekitar sini ya? Ini benar-benar nambah pekerjaan. Kalian tidak usah panik. Agar lebih aman, kalian jangan menyendiri. Jangan lupa kunci kamar-kamar kalian. Sepertinya kita kedatangan tamu misterius hari ini,” ucap Dimas.
“Aku ... aku izin ke atas dulu, pintu kamarku belum dikunci,” ucap Gilda.
Gilda yang sedari tadi diam menjadi penasaran. Ia berniat kembali ke kamarnya, karena ia lupa mengunci pintu kamar. Ia meninggalkan ruang tamu itu, untuk kemudian naik ke lantai dua. Ia merasa gelisah, karena seperti yang dikatakan Wandi tadi tadi, bahwa kemungkinan pria misterius itu masih di lantai dua.
Setelah sampai di kamar, ia segera mengecek pintu. Ia memang tidak mengunci pintu, sehingga hal itu membuatnya sedikit khawatir. Benar saja, ia mendapati pintu kamarnya sedikit terbuka. Sontak ia merasa was-was, takut kalau pria misterius itu menyelinap ke dalam kamarnya.
Perlahan ia membuka pintu kamar dengan waspada, berharap tidak ada oranga sing bersembunyi di kamarnya. Kini ia masuk ke dalam kamarnya yang sepi sambil melayangkan pandangan berkeliling. Sepertinya kamar tampak lengang, tak ada yang mencurigakan. Gilda sedikit bernapas lega. Ia berniat memeriksa lemari pakaian, jangan sampai ada orang yang bersembunyi di lemari itu.
Ia membuka lemari itu perlahan. Baju-bajunya tergantung rapi, ada pula beberapa baju Miranti di situ. Gilda memang menempati kamar yang biasa digunakan Miranti dahulu. Ada beberapa barang milik Miranti yang masih ada di situ. Setelah ia memeriksa dalam lemari, ia memastikan kalau lemari dalam keadaan aman. Gilda kembali bernapas lega.
Kini, ia memeriksa setiap celah yang ada di kamarnya. Namun, sepertinya semua aman. Hanya satu yang ia belum ia periksa, yakni kolong tempat tidur. Perlahan Gilda menundukkan badannya untuk mengecek kolong. Ia kembali was-was, takut kalau-kalau memang ada seseorang yang bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.
__ADS_1
Ia melongok ke kolong, dan ia pun bisa bernapas lega karena tidak ada yang masuk ke dalam situ. Ia perlahan bangkit, kemudian ia berniat untuk keluar kamar lagi, karena ia sudah memastikan semua aman. Namun, tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan dengan kasar membekap mulutnya. Gilda tak sempat berteriak, ia hanya merasakan kuatnya tangan itu menariknya kembali ke dalam kamar!
***