Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
232. Intai


__ADS_3

Di sebuah pusat perawatan kulit di pusat kota, terdengar suara tawa riang dari para wanita yang sedang merawat diri. Tempat itu adalah tempat mewah, langganan para artis dan pejabat untuk bercengkrama sambil memamerkan harta bendanya yang bergelimang. Atas ajakan seorang teman perempuan, akhirnya Ollan berhasil keluar dari tempat kost. Ia merasa girang bukan kepalang. Langsung manfaatkan waktu dengan melakukan perawatan kulit muka.


Ternyata, di sana ia bertemu dengan beberapa artis lain dan Rianti Tobing yang juga sedang mengantre untuk melakukan perawatan muka. Rianti terkejut melihat keadaan Ollan yang begitu tiba-tiba, bersama teman perempuannya.


"Ollan!" sapa Rianti.


"Eh, Bu Rianti!" jawab Ollan.


Untuk sejenak ia seperti merasa canggung, karena sudah seharusnya ia tak boleh bertemu siapa pun. Ollan berusaha tak mengobrol, melainkan langsung melewati begitu saja tempat duduk Rianti, seraya mencari tempat paling ujung. Hal ini agak mengherankan, karena biasanya Ollan banyak bicara. Rianti mendekati Ollan yang mengabaikannya.


"Kamu ... kamu baik-baik saja kan?" ucap Rianti seraya mengambil tempat di sebelah Ollan.


"Oh, iya kok Bu. Aku baik-baik saja," jawab Ollan dengan dingin.


"Aku turut sedih mendengar berita bahwa seseorang berniat membunuhmu di villa suamiku. Aku beberapa hari ini sangat mengkhawatiran keadaanmu, Lan. Tapi syukurlah, kamu kelihatan sehat. Jadi gimana? Semua beres aja kan?" tanya Rianti.


"Aku baik saja kok, Bu, Tak perlu mengkhawatirkan kondisiku karena ada yang sudah mengurusi. Maaf, kurasa nggak usah nanya-nanya lagi kalau hanya sekedar berbasa-basi ya Bu," kata Ollan sedikit ketus.


"Kamu kenapa, Lan? Kamu pasti marah dengan suamiku karena kudengar kamu diberhentikan oleh dia. Kamu tahu Lan, aku sangat sedih mendengar itu, dan aku bukanlah dia. Jadi kamu nggak usah sangkut-pautkan. Aku akan kenalkan kamu dengan salah satu teman, kudengar dia membutuhkan seorang manajer. Kalau kamu mau aku akan .... "


"Tidak usah, Bu! Aku bisa berusaha sendiri!" potong Ollan.


"Kok kamu gitu sih, Lan?" ucap Rianti dengan nada kecewa.


Ollan tidak menjawab. ia masih sangat hati dengan perlakuan Henry kepadanya beberapa waktu lalu. Ya, memang Henry pernah menolongnya dari keterpurukan, tetapi bukan berarti dia berhak sepenuhnya atas hidupnya. Ia merasa selama ini mirip seorang budak yang diperintah kesana-kemari mengikuti kemauan Henry. Kini, ia tak mau lagi menggantungkan hidup pada Henry dan keluarganya. Ia ingin menunjukkan pada mereka bahwa ia juga bisa berdiri di atas kakinya sendiri.


"Maafkan aku, Bu. Aku nggak bisa," ucap Ollan.


Ollan kemudian bangkit dari tempat duduknya, kemudian memberi isyarat kepada teman perempuannya untuk pergi meninggalkan salon saat itu juga. Teman perempuan Ollan tampak heran, tetapi ia mengikuti saja kemauan Ollan. Mereka melangkah meninggalkan salon, diiringi tatapan sedih dari Rianti.

__ADS_1


***


Dimas memarkir kendaraan di depan sebuah rumah kos sederhana di kawasan padat penduduk yang ditempati Olan sementara ini. Seperti biasa, suasana terlihat ramai, tak peduli apakah itu pagi, siang, atau malam, karena memang kawasan itu cukup dekat dengan pusat bisnis. Tak jauh dari gang itu, adalah kawasan perkantoran dan pertokoan.


Namun, Dimas harus menelan kekecewaan karena ia mendapati bahwa kos Ollan kosong. Rasa khawatir langsung menjalar, karena Ollan tak ada di tempat.


"Tadi dijemput sama temannya, Pak!" kata penjual rokok yang mangkal di depan kos.


"Laki atau perempuan, Pak?" tanya Dimas.


"Saya lihat sih perempuan, Pak!" jawab si tukang rokok.


Dimas semakin khawatir. Ia keluarkan ponsel untuk menghubungi Ollan, tetapi ponsel Ollan sengaja dinonaktifkan. Dimas memutuskan untuk menunggu sesaat di tempat itu, siapa tahu Ollan akan kembali dalam waktu tak terlalu lama. Sambil menunggu, ia memesan secangkir kopi hitam di warung depan kos Ollan. Dari tempat itu, ia bisa melihat dengan leluasa siapa saja yang keluar-masuk rumah kos Ollan.


Tak beberapa lama, ia melihat seorang perempuan muda mendatangi kos Ollan, bersama seorang pria dengan pakaian biasa. Namun, terlihat mereka celingak-celinguk di depan kos, seperti sedang mencari sesuatu. Ollan sangat kenal siapa mereka, dan ia hanya mengamati dari dalam warung gerak-gerik dua orang itu.Ia menundukkan muka, karena ia sangat malas berhubungan dengan mereka berdua.


Dua orang itu masih mondar-mandir di sekitar kost Ollan. Namun, mungkin karena apa yang dicari tidak ada, mereka terlihat kecewa kemudian memutuskan pergi dari sana. Dimas hanya melihat gerak-gerik mereka sambil menyeruput kopi hitamnya. Ia menghela napas lega ketika dua orang sudah tak terlihat.


Namun, Dimas masih merasa cemas karena sampai setengah jam berlalu Ollan belum menampakkan batang hidungnya. Ia berharap agar tak terjadi hal buruk terhadap Ollan. Sampai kopi di cangkirnya habis pun, ia belum mendapati Ollan kembali ke kamar kost. Rasa khawatir semakin hebat. Ia segera membayar kopi, dan berlalu dari kost Ollan.


***


Di sebuah resto kecil yang cukup elegan dan bersih, Riky menghabiskan makan siangnya dengan perasaan sedikit tegang. Hari ini cukup melelahkan, karena ia telah membuat janji dengan sutradara yang akan menggarap proyek film baru. Hanya saja, sutradara itu masih sibuk dengan kegiatan syuting, sehingga tidak bisa diganggu sampai dengan jam sembilan malam. Riky menarik napas, karena begitu penat dengan rutinitas itu.


Kembali ia keluarkan sebuah foto dari dalam kantongnya. Sebuah foto gadis kecil yang menatap tajam ke arahnya. Ia menyeringai kecil, sambil bergumam,"Kamu sudah mati ... kamu sudah mati. Jangan tatap aku seperti itu. Kamu sudah mati!"


Tiba-tiba, seorang pria tinggi dan tampan mendekati mejanya, duduk di hadapan Riky tanpa izin. Sorot matanya memancarkan kemarahan. Riky sangat terkejut, buru-buru ia simpan foto itu di dalam kantung bajunya.


"B-bang .... "

__ADS_1


Riky terkesiap, karena tak menyangka akan kehadiran pria tinggi yang tak lain adalah Faishal. Ia mengurungkan makan siangnya, karena mendadak ia kehilangan nafsu. Ia gugup melihat kedatangan Faishal, tak berani menatap mata aktor gagah itu.


“Aku menunggu janjimu,” ujar Faishal.


“J-janji apa, Bang?” tanya Riky takut-takut.


“Jangan suka berkelit! Dan jangan anggap aku bodoh, Rik!”


Faishal bangkit dari tempat duduknya, kemudian mencengkeram kerah leher Diky. Matanya menatap tajam ke arah Riky. Tentu saja, Riky merasa gemetar. Ia tak mampu berkata apa-apa.


“Selesaikan atau kubuat kau menyesal!” ucap Faishal.


“I-iya Bang, berilah aku sedikit waktu, aku pasti akan selesaikan,” ucap Riky.


“Aku tak mau terlalu lama menunggu lagi, Rik. Kau hanya janji, janji, dan janji selama ini. Aku juga sudah terdesak. Selesaikan sampai besok, kalau tidak maka aku tak akan segan-segan memasukanmu dalam kantong mayat! Camkan itu!”


Faishal melepaskan kerah baju Riky segera, sementara Riky menahan napas. Ia melirik ke samping kiri-kanan, takut kalau-kalau ada pengunjung resto itu. Namun, sepertinya tak ada yang peduli. Mereka sedang menikmati makan siang masing-masing.


“Sepertinya Faishal harus mati .... “ gumam Riky.


***


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2