Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
289. Si Penyusup


__ADS_3

Dalam keremangan cahaya lampu yang menerangi lorong, Ollan merasa ragu untuk melangkah. Namun, ia harus beranikan diri. Ia percaya bahwa Reno akan melindunginya jika terjadi apa-apa. Seperti pesan Reno, ia melangkah dengan santai, tetapi tetap saja jantungnya berdegup kencang. Ia takut ada sesuatu terjadi. Sementara, Reno mengawasi dari balik pintu, berharap cemas.


Ollan melangkah dengan hati-hati, kemudian terhenti sejenak. Ia mendengar ada langkah kaki mendekat. Sontak ia merasa gugup. tetapi ia coba menenangkan diri. Langkah itu mendekat, dan ia mengetahui kalau ternyata yang berjalan mendekat itu adalah Laura. Paras Ollan masih terlihat cemas dan gugup, sehingga Laura juga sedikit heran.


"Kamu kenapa, Lan? Kok seperti gugup gitu?" tanya Laura.


"Oh, nggak! Aku ... aku mau ke ruang tengah sebentar. Ka-kamu kok belum tidur?" tanya Ollan.


"Aku habis bantuin Bu Mar beres-beres di meja makan. Ini aku mau ke dapur. Siapa tahu masih ada yang perlu dibantu," ucap Laura.


Ollan mengangguk sambil berusaha tersenyum. Ia gagal menyembunyikan rasa cemasnya, sehingga sangat mudah terbaca oleh Laura. Namun Laura tidak berniat bertanya lebih jauh. Ia meninggalkan Ollan, melangkah menuju dapur. Ollah menghembuskan napas lega. Ia kembali melangkah mendekati kamar Reno.


Sesampai di depan kamar, sesuai pesan Reno, ia memalingkan muka ke kanan dan kiri. melihat situasi apakah cukup aman atau tidak. Setelah dipastikan tak ada siapa pun di sekitar situ, ia membuka pintu kamar Reno dengan hati-hati. Begitu masuk, ia langsung mengunci pintu cepat-cepat, sambil bernapas lega.


"Akhirnya!" gumam Ollan.


Ia melihat kamar Reno sedikit lebuh lapang daripada kamar yang ditempatinya. Di kamar itu juga dilengkapi dengan meja kerja dan kursi. Ia juga melihat jendela kaca yang terhubung dengan beranda samping. Ia memastikan jendela itu dalam keadaan terkunci, jangan sampai ada penyusup yang memanfaatkan kelengahannya.


Setelah memastikan semua dalam keadaan beres, ia mencoba berbaring. Lampu ia biarkan menyala, karena ia masih merasa khawatir dengan keadaan sekeliling. Bagaimanapun, rasa gelisah masih tetap melanda hatinya. Ternyata di dalam kamar Reno tak membuatnya lebih nyaman, ia masih merasa gelisah, kalau-kalau si pembunuh itu menyusup ke dalam kamarnya.


Kini, Ollan malah mengkhawatirkan Reno yang sedang berada dalam kamarnya. Ia berharap agar tak terjadi apa-apa dengan polisi itu. Malam kian merayap, senyap makin meraja. Ollan masih memicingkan mata, tak dapat sedetik pun matanya terpejam.


Tok ... tok ... tok!


Tiba-tiba ia mendengar pintu kamarnya diketuk. Jantung Ollan bergemuruh seketika. Ia tak mau lagi mengulang peristiwa yang sudah-sudah. Kadang orang yang berniat jahat pura-pura mengetuk pintu, kemudian menyerang tiba-tiba. ia hanya terdiam ketika pintu kamar berkali-kali diketuk.

__ADS_1


"Pak Reno! Apa Anda di dalam?"


Ollan mendengar sebuah suara memanggil. Suara itu terdengar asing, yang jelas itu adalah suara seorang pria. Pasti orang itu belum tahu kalau Pak Reno sudah bertukar tempat dengan dirinya. Ia menduga, suara itu berasal dari salah seorang polisi yang bertugas jaga di luar. Lebih baik ia tidak menanggapi. Namun, kalau ia tidak menanggapi mungkin akan menimbulkan kecemasan. Ia merasa bimbang, haruskah ia membuka pintu kamar itu?


"Pak Reno. apa Anda baik-baik saja?"


Suara di luar terus memanggil. Ollan tak mau polisi yang di luar itu panik. Ia segera membuka pintu kamar dan melongokkan kepala sedikit. Polisi yang berada di luar tampak kaget melihat kepala Ollan yang menyembul dari balik pintu.


"Kamu ngapain di sini?" tanya polisi itu.


"Ma-maaf, Pak. Pak Reno menyuruh saya di dalam sini untuk perlindungan," bisik Ollan.


"Mana Pak Reno sekarang?"


"Wah, saya tidak bisa memberitahukan. Mungkin sedang patroli atau bagaimana. Maaf ya Pak! Saya tidak bisa lama-lama!" ucap Ollan sambil menutup pintu kamar.


"Hardi?" panggil polisi itu kepada temannya yang lain yang juga bertugas malam itu.


Sayangnya panggilannya tak berbalas. Polisi itu mulai waspada karena panggilannya tak berbalas, dan ia juga tak melihat rekan kerjanya. Ia mulai memeriksa sekeliling ruang tengah. Rekan kerjanya bertugas di ruangan ini, tetapi mengapa tiada bersua? Ia melangkah menuju beranda depan, tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti. ia melihat rekan kerjanya tergeletak di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Astaga!"


Polisi itu segera mengecek kondisi rekan kerjanya yang tak sadarkan diri. Kondisinya baik, hanya saja ia dalam keadaan tak sadar, seperti terbius. Ia merasa heran, karena beberapa menit lalu ia masih mengobrol dengan rekan kerjanya itu. Jadi mengapa ia bisa tak sadarkan diri seperti ini? Polisi itu langsung waspada. ia mengeluarkan pistol dari ikat pinggangnya seraya menatap sekeliling dengan waspada.


Ia tinggalkan rekan kerjanya, kembali masuk ke dalam ruang tengah. Ruangan ini terasa sangat lapang, tetapi begitu sunyi. Di ruangan ini terdapat tangga yang menghubungkan lantai dua, tempat kamar para wanita. Ia berjalan dengan hati-hati menuju ruang makan. Tadi ia sempat mendengar suara langkah kaki di ruangan itu. Namun, begitu ia masuk ke dalam ruang makan, suara itu seolah menghilang.

__ADS_1


Firasatnya tak enak seketika. Ia masih penasaran dengan keberadaan Reno yang masih belum ia temukan. Malah ia bertemu dengan Ollan di kamar Reno. Sedangkan Ammar masih berada di kamar, karena kondisinya belum memungkinkan. Sementara, Pak Paiman bertugas patroli di area luar sekitar rumah isolasi. Polisi itu sedikit gelisah, karena rekan kerjanya tak ada. Ia berbalik arah menuju ruang tengah, namun tiba-tiba ia mencium sebuah aroma aneh. Dalam hitungan detik, ia merasakan ada sesuatu yang membekap mulutnya. Aroma itu bagai mencekik leher, sehingga dalam hitungan detik ia pun jatuh limbung tak sadarkan diri!


***


Di dalam kamar Ollan, Reno juga ikut gelisah. Ia waspada, karena sosok pembunuh itu akan mendatangi kamar Ollan. Ia sudah menyiapkan senjata, berjaga-jaga atas segala kemungkinan yang akan terjadi. Namun, suasana masih tetap senyap, seolah tak terjadi apa-apa. Ia khawatir, pembunuh itu tahu bahwa ia sudah bertukar kamar. Sampai jarum jam merapat di angka 12 malam, tak ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu.


Reno merasa bosan menunggu. Ia segera bertindak. Perlahan ia membuka pintu kamar Ollan, melongok di luar kamar. Lorong sekitar kamar juga terlihat sepi. Ia heran, kemana dua polisi yang ia tugaskan untuk berjaga? Bukankah seharusnya ia berpatroli di sekitar kamar juga? Reno tak bisa menunggu. Ia bergerak cepat keluar kamar, menyusuri lorong dengan pistol tergenggam di tangan.


Langkah pertama, ia mengecek dahulu keadaan Ollan untuk memastikan keselamatannya. Sesampai di depan kamar, ia mengetuk perlahan sambil memanggil pelan.


"Ollan ... Ollan! Buka pintunya! Ini aku, Reno!" ucap Reno.


Sayangnya suara Reno tak berbalas. Di dalam kamar nyaris tak terdengar suara apa pun. Ia meragukan kalau Ollan sudah tertidur. Instingnya menggeliat. Ia berusaha membuka pintu kamar itu, tetapi tentu saja terkunci dari dalam. Ia mencoba menghubungi Ollan lewat ponsel, tetapi juga tak ada jawaban, karena ponsel Ollan dimatikan.


"Gawat!" gumamnya.


Reno menggunakan semua ketrampilan yang dimilikinya untuk membuka pintu  yang terkunci dari dalam. Ia pernah belajar ketrampilan itu saat belajar di akademi kepolisian. Sayangnya, hal itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Lagipula, Reno tidak siap dengan peralatan yang bisa dipakai untuk membuka pintu.


"Pak Reno? Ada apa, Pak?"


Tiba-tiba Reno mendengar sebuah suara memanggilnya dari arah lorong yang menghubungkan dengan dapur.


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2